Sakitnya Menikah Denganmu

Sakitnya Menikah Denganmu
Bab 10. Merubah Penampilan.


__ADS_3

Hendrik berjalan ke arah Sitnya, lalu memegang kedua pipi Sintya dengan lembut. "Maafkan aku, kita nggak bisa bersama lagi. Semua yang pernah terjadi di antara kita anggap semua sudah selesai. Mulai sekarang kita jalanin takdir kita masing-masing," ucap Hendrik lembut.


"Dia nggak cocok buat kamu! Lihatlah penampilan dia," Sintya menunjuk ke arah Kirana dengan tatapan benci. "Akulah satu-satunya perempuan yang cocok untuk jadi istrimu," Sintya mulai terisak dan memeluk erat pinggang Hendrik. Seakan-akan nggak mau di pisahkan.


Kirana membuang muka agar tak melihat hal yang membuatnya sakit. Meskipun itu Hendrik lakukan untuk terakhir kalinya dengan Sintya. Tapi rasa cintanya yang terlalu dalam pada Hendrik tak bisa membuatnya menerima hal itu dengan mudah.


"Aku harus bertanggung jawab atas perbuatanku pada Kirana sekarang. Meskipun sebenarnya aku juga masih cinta dan mau memberimu kesempatan. Tapi semua itu sepertinya sudah terlambat." Hendrik berusaha melepaskan tangan Sintya yang masih melingkar di pinggangnya.


"Belum ada yang terlambat, Mas. Kita bisa memulainya dari awal jika kamu mau," Sintya mengenggam tangan Hendrik.


"Apakah kamu mencintainya seperti kamu mencintaiku, Mas?" kali ini Sintya sengaja ingin membuat Kirana sakit hati.


"Nggak, aku hanya cinta sama kamu. Kalau dengan Kirana, aku hanya kasihan padanya."


Degh.


Ucapan itu bagai pisau belati yang kini menghujam Kirana berulang kali. Sakit tapi tak berdarah. Satu kenyataan pahit yang harus Kirana dengar, bahwa Hendrik mau menikah dengan Kirana hanya karena rasa kasihan dan tanggung jawab saja. Rasa cintanya masih sepenuhnya pada Sintya.


Kirana segera menghapus air mata yang kini mulai berjatuhan dengan jari lentiknya. Lagi-lagi dia tak mau terlihat lemah di hadapan Sintya.


"Hei, kamu dengar kan barusan? Mas Hendrik nggak cinta sama kamu! Dia cintanya sama aku saja! Jadi aku harap lebih baik kamu mundur aja dari sekarang. Dari pada pernikahanmu nanti nggak bahagia sama sekali." Sintya berucap dengan bangganya.


"Itukah jawabanmu, Mas?" Kirana menatap Hendrik dengan mata berkaca.


"Kamu ngapain masih tanya lagi sih? Apa kamu sekarang sudah tuli?" sinis Sintya sembari berkacak pinggang.


"Aku mau dengar jawaban langsung dari Mas Hendrik. Kalau memang Mas Hendrik mau kembali lagi denganmu, silahkan. Aku yang akan pergi." Kirana berkata dengan tegas.


"Aku tunggu jawabanmu paling lambat nanti malam, Mas. Jika lewat dari itu kamu masih belum kasih aku jawaban, aku anggap kamu lebih pilih Sintya."

__ADS_1


Lalu Kirana berjalan keluar dari ruangan Hendrik dengan perasaan yang amat sangat terluka. Bahkan saat Kirana pergi tadi, Hendrik sama sekali tak berusaha menahan Kirana.


Semua karyawan di lantai bawah yang melihat Kirana turun dengan tergesa-gesa apalagi di tambah dengan mata yang sembab, membuat mereka berbisik-bisik lagi.


"Jelas pilih Mbak Sintya lah, kan lebih cantik," celetuk salah satu dari mereka.


Hal itu semakin membuat hati Kirana terluka.


"Mungkin sebaiknya, mulai sekarang aku memang harus mulai bisa merawat dan mempercantik diri. Agar mereka juga bisa menghargai aku. Karena cantik dari hati saja ternyata itu nggak cukup. Meskipun Mas Hendrik pada akhirnya nanti tetap memilih Sintya, setidaknya aku sudah bisa menghargai diriku sendiri." tekad Kirana sambil mengotak-atik ponselnya.


Sambil duduk di bawah pohon dekat rumah makan milik Hendrik, Kirana sibuk mencari klinik kecantikan yang terbaik di kota Surabaya melalui aplikasi IG. Setelah puas mengscroll dari atas sampai bawah, akhirnya Kirana menemukan satu klinik kecantikan yang lumayan terkenal. Meskipun harga perawatannya lumayan mahal, itu bukan masalah bagi Kirana. "Bukankah untuk bisa tampil cantik secara jasmani itu memang mahal biayanya?" batin Kirana sembari tersenyum getir.


Beberapa menit kemudian dengan memesan taksi online, Kirana telah sampai di klinik yang dia inginkan.


Disana Kirana benar-benar minta tolong pada dokter kecantikkan itu untuk bisa membuat Kirana tampil glow up.


Setelah beberapa treatmet yang di lakukan selama 4 jam, akhirnya Kirana mendapatkan hasil yang sangat memuaskan. Bahkan semua karyawan di klinik itu menatap kagum pada Kirana.


"Halo," sapa Kirana datar.


"Kamu dimana? Kenapa nggak ada di kos? Sekarang aku ada di depan kamar kos-mu."


"Aku lagi keluar. Ada apa malam-malam datang ke kos ku?" selidik Kirana masih dengan nada jutek.


"Ada yang mau aku bicarakan sama kamu. Bisa kita bertemu sekarang?"


"Bicara di telpon aja kan bisa?"


"Nggak bisa, Ran. Kita harus bicara secara langsung. Biar nggak ada salah paham lagi nantinya," Hendrik terus memohon agar Kirana sudi menemuinya malam ini.

__ADS_1


"Okeh, kita ketemu di rumah makan dekat kos ku aja. Tunggu aku tiga puluh menit lagi."


"Kamu di mana sekarang? Biar aku jemput kamu aja ya," pinta Hendrik.


Namun panggilan itu segera di putus oleh Kirana tanpa menjawab dulu pertanyaam dari Hendrik.


Cukup lama bagi Hendrik menunggu Kirana datang. Dia terus saja mondar-mandir di sepanjang jalanan trotoar depan rumah makan sembari memperhatikan kalau-kalau ada mobil taksi online yang berhenti.


Kejadian tadi siang cukup membuat Hendrik kembali merasa bersalah pada Kirana. Tidak seharusnya Hendrik berbicara seperti itu pada Sintya di depan Kirana. Apalagi Kirana sedang hamil muda, pasti perasaannya lebih sensitif. Hal itu baru ia ketahui setelah ia sempat bertemu dengan sahabatnya sore tadi.


Tiba-tiba ada mobil bertuliskan satu nama taksi online yang berhenti tepat di depan Hendrik berdiri. Tapi, tak kunjung ada yang keluar dari dalam mobil itu. Akhirnya Hendrik kembali melanjutkan jalannya lagi menuju ke parkiran mobilnya.


"Mas!"


Hendrik segera menoleh ke sumber suara yang sangat ia kenal. "Kirana?" Hendrik berlari kecil ke arah Kirana berdiri.


"Ini betul Kirana kan?" tanyanya sekali lagi sembari memegang bahu Kirana dan memperhatikan penampilan Kirana dari atas kepala sampai ujung kaki.


"Kok, kamu jadi ...."


"Jadi cantik maksudmu?" potong Kirana dengan wajah datarnya.


"Bukan gitu, Ran. Maksud aku kamu malam ini kelihatan lebih cantik lagi."


"Dasar laki-laki. Apa semu laki-laki seperti ini ya?" gumam Kirana merasa jengkel.


"Ayok kita ngobrol sambil makan di dalam," Hendrik mengandeng tangan Kirana.


"Aku bisa jalan sendiri," Kirana menjauhkan tangannyaa dari Hendrik.

__ADS_1


"Lagian nanti kalau Sintya lihat kamu dekat sama aku, apa dia nggak marah? Bukankah tadi siang kamu lebih pilih dia daripada aku?"


"Ini yang mau aku bahas sama kamu di dalam nanti, Ran."


__ADS_2