Sakitnya Menikah Denganmu

Sakitnya Menikah Denganmu
Bab 17. Kecewa


__ADS_3

"Nggak, Ran. Aku beneran mau ngecek rumah makan. Seharian kemarin kan aku nggak kesana sama sekali."


Kirana akhirnya mau percaya dengan ucapan Hendrik. Meskipun di hatinya masih ada keraguan. Ia kini sangat merasa terganggu sebenarnya dengan kehadiran Judika, dan dua keponakan Hendrik.


Awalnya Hendrik hanya mengatakan kalau mereka hanya sekedar menghadiri pernikahan mereka kemarin. Tapi nyatanya yang ada adalah mereka bertiga akan ikut tinggal di Surabaya atas permintaan Bu Mery.


Di tambah lagi dengan adanya permintaan beli apartemen dan mobil baru. Membuat Kirana benar-benar kecewa.


"Ya sudah, tapi nanti kamu jemput aku ya kalau sudah selesai urusan di rumah makan. Terus abis itu kita langsung ke rumah sakit buat USG sekalian periksa kandunganku," pinta Kirana.


"USG? Buat apa? Penting kah USG itu?" Hendrik mengerutkan dahinya.


"Penting banged lah. Jauh lebih penting dari pada beli apartemen dan mobil!" ketus Kirana dengan lirikan mautnya.


"Itu lagi yang di bahas. Bisa nggak sih kamu dewasa dikit? Toh ini kan juga masih rencana, belum terjadi juga," sahut Hendrik.


"Kalau aku nggak marah-marah pasti sudah terjadi kan?" bantah Kirana tak terima.


Hendrik yang merasa akan terjadi peperangan lagi, akhirnya memilih diam.


"Kenapa diam? Bener kan yang aku bilang?" tuduh Kirana dengan mata menyipit.


Hendrik menarik nafas dalam-dalam agar tak ikutan emosi. "Yok, kita berangkat sekarang aja. Mas Johan pasti sudah nungguin kamu kan?" Hendrik mengandeng tangan Kirana agar secepatnya jalan keluar.


Selama di dalam mobil, Kirana enggan mengajak bicara Hendrik. Begitupun dengan Hendrik. Bagi Hendrik saat ini lebih baik ia diam saja, dari pada mengajak Kirana bicara tapi akhirnya malah mendengar Kirana kembali mengamuk.


"Kamu kok diam aja sih, Mas? Aku ikut kamu ke rumah makan aja deh kalau gitu." Kirana berucap tiba-tiba hingga membuat Hendrik terkejut dan menginjak rem mendadak.


Dugh!


Kirana membentur ke dashboard, tapi untung tidak terlalu keras.

__ADS_1


"Aduh! Kamu kenapa malah ngerem mendadak gitu sih, Mas? Bahaya banged tau! Coba kalau di belakang kita ada mobil yang jalannya kenceng. Kan bisa jadi kecelakaan beruntun," omel Kirana sembari terus mengelus keningnya yang memerah sedikit.


"Kamu juga ngapain sih ngagetin aku!" protes Hendrik tak terima di salahkan.


"Hah? Hanya karena aku bilang mau ikut ke rumah makan itu aja kamu jadi kaget, Mas? Jangan-jangan kamu lagi nyembunyiin sesuatu ya?" Kirana menatap Hendrik penuh selidik.


"Nggak ada! Sudah, kamu jangan mikir aneh-aneh. Kita juga sudah hampir sampai rumah Mas Johan. Nggak baik buat orang yang hamil muda terlalu lama duduk di dalam mobil."


"Ck! Bisa aja alasanmu itu, Mas. Awas aja ya kalau sampai aku tahu kamu nyembunyiin sesuatu di belakangku."


"Apa susahnya sih buat kamu percaya aja sama aku? Yang penting aku tetap tanggung jawab sama kamu. Kamu nggak kelaparan dan nggak kekurangan apapun."


Tiba-tiba ponsel Hendrik berbunyi, menandakan ada satu pesan yang masuk.


Kirana melirik ke arah Hendrik, berharap Hendrik segera mengeluarkan ponselnya dari dalam saku celananya. Tapi itu tidak di lakukan hingga mereka berhenti di depan rumah Johan.


"Mas, tadi sepertinya ponselmu bunyi. Pesan dari siapa itu? Sini coba aku lihat?" Kirana menegadahkan telapak tangannya. Dia ingin sekali melihat itu pesan dari siapa. Karena perasaannya benar-benar penasaraan saat ini.


"Hai, Ran. Kok nggak langsung masuk sih? Yok buruan masuk, ada yang mau aku bicarain sama kamu," tiba-tiba Johan menarik tangan Kirana untuk segera ikut masuk ke dalam.


"Nanti kan juga bisa ngobrol lagi sama Hendrik. Sedangkan kalau sama aku kan jarang. Siapa tau ini juga jadi pertemuan terakhir kita," ucap Johan memotong kalimat Kirana.


Degh!


Kirana terkesiap saat mendengar kalimat Johan barusan. Untuk memastikan pendegarannya dia memilih bertanya ulang ke Johan. "Mas tadi bilang apa? Pertemuan terakhir kita? Jangan ngaco deh Mas kalau ngomong. Kita pasti bakal bisa sering-sering ketemu kok meskipun sekarang aku sudah nikah."


********


Kirana akhirnya berhasil juga dibawa masuk oleh Johan sebelum ia melihat pesan di ponsel Hendrik. Hal itu mampu membuat Hendrik bernafas lega. Andai Kirana melihat itu pesan dari Judika, pasti ia akan membatalkan masuk ke rumah Johan, dan kembali mengamuk seperti tadi pagi.


Hendrik memang sudah janji akan mengantarkan Judika hari ini untuk mencari apartemen. Tapi hanya untuk sewa aja, karena kalau harus beli baru itu juga cukup berat buat Hendrik. Apalagi Judika juga minta di belikan mobil.

__ADS_1


Hal ini di lakukan Hendrik tanpa sepengetahuan dan ijin dari Kirana. Jadi nanti kalau Kirana tanya Judika pindah kemana, Hendrik akan mengatakan kalau Judika kos di tempat yang dekat dengan kampusnya.


Kirana juga pasti nggak akan minta di tunjukkan di mana kos Judika. Karena Kirana benar-benar sudah muak sama adik iparnya itu.


Setelah memastikan Kirana sudah masuk dan tak keluar lagi. Hendrik kembali melajukan mobilnya ke arah apartemennya guna menjemput Judika.


[Gua, dah di bawah! Turun lu sekarang!] pesan terkirim ke ponsel Judika.


Tak lama kemudian, terlihat Judika turun seorang diri. Kemudian masuk ke dalam mobil Hendrik.


"Mana si Musa sama Alfan? Kok mereka nggak ikut turun?"


"Masih tidur mereka. Dahlah, kita jalan sekarang aja. Biar cepet dapet apartemennya juga. Udah nggak betah gua tinggal bareng sama istri lu yang kaya mak lampir itu! Baru juga jadi istri lu, udah belagu banged." gerutu Judika sambil menyalakan rokoknya.


"Ini nggak boleh, itu nggak boleh. Mama aja nggak memperlakukan gua kaya gitu. Lah ini orang lain dah berani ngatur-ngatur hidup gua! Salah banged pilih istri lu, Bang!" sambungnya lagi.


Hendrik enggan menanggapi omelan dari adiknya itu. Sudah cukup baginya berdebat dengan Kirana tadi pagi.


"Lu beliin gua apartemen yang baru kan, Bang?" tanya Judika sembari memainkan ponselnya.


"Nggak. Gua hanya mampu sewain lu aja. Kalau beli baru, saat ini gua belum ada duitnya."


"Ah elah, ini pasti gara-gara mak lampir itu kan?" tuduh Judika.


"Bukan. Ini murni ide dari gua! Sudah yang penting kan lu bisa tinggal di apartemen sendiri bareng sama Musa dan Alfan."


"Apa? Bareng Musa dan Alfan juga? Gila aja, nggak mau lah gua. Suruh aja Musa dan Alfan kos di tempat yang lain. Jangan gabung ma gua!" tolak Judika cepat.


"Bagaimanapun mereka masih ponakan lu. Nggak kasihan lu sama ponakan sendiri?"


"Kagak! Kan bukan gua yang ngajak mereka ke Surabaya. Jadi ngapain gua harus tanggung jawab atas hidup mereka?"

__ADS_1


"Ini permintaan dari Mama. Lu jangan banyak protes."


"Okeh, asal lu beliin gua ponsel logo apel di gigit yang terbaru itu. Gimana, mau nggak?" tawar Judika dengan senyum liciknya.


__ADS_2