
Hingga pukul 22.00 malam, pesan Kirana belum juga dibaca oleh Richard. Membuat Kirana menjadi cemas.
"Tan, Kak Richard kok belum baca pesan Kirana ya? Terus kita bagaimana besok? Apa jadi pindah atau bagaimana?"
"Mungkin Richard masih menangani pasien yang akan melahirkan, Ran. Kita tunngu aja sampai besok malam.
Yang penting besok pagi kita sekalian bawa baju-baju kita. Jadi begitu dapat kabar dari Richard, kita bisa langsung pulang ke apartemennya. Tapi kalau misal sampai besok kita nggak dapat balasan dari Richard, terpaksa kita bermalam di hotel satu atau dua hari sambil cari kontrakan yang lain," tutur Tante Linda panjang lebar.
"Baiklah kalau gitu, Tan. Sekarang kita pulang yuk. Kita beresin baju-baju kita," ajak Kirana kemudian.
Mereka berjalan turun ke bawah pelan-pelan. Lantaran Kirana sudah semakin kepayahan untuk berjalan cepat. Sedangkan Tante Linda juga sudah tua.
Tapi saat mereka baru masuk ke dalam mobil, ponsel Kirana kembali berdering. Ia segera mengeluarkan ponselnya dari dalam tas.
"Kak Richard?" seru Kirana.
Tante linda menengok sekilas. "Angkat saja, Ran. Siapa tau dia mau jawab soal apartemen itu."
Kirana menganggukkan kepalanya.
"Halo, Kak," sapa Kirana ramah.
"Hai, Ran. Maaf ya kalau ganggu kamu malam-nalam begini. Karena aku baru saja selesai menangani beberapa pasien yang melakukan operasi sesar hari ini," ujarnya kikuk.
"Nggak apa, Kak. Lagian aku juga baru pulang ini," Kirana kembali keceplosan.
"Pulang dari mana, Ran? Ini sudah malam loh." terdengar suara khawatir dari seberang sana.
"Dari acara keluarga Kak. Ini juga sama Tanteku kok. Oh iya, ada apa Kak?" Kirana juga masih belum ingin memberitahu Richard soal tokonya.
"Syukurlah kalau kamu nggak sendirian. Jujur aku khawatir kalau kamu keluar malam-malam begini." Richard menarik nafas. "Jadi gini, aku mau ngasih kabar kalau kalian bisa tinggal di apartemenku kapanpun. Atau kalau mau malam ini juga bisa. Nanti aku akan titipkan kuncinya di resepsionis. Bagaimana?" tawar Richard.
"Tapi kami belum merapikan baju-baju yang akan kami bawa, Kak. Jadi sepertinya besok malam saja kami pindah kesananya," tolak Kirana.
Tapi Tante Linda justru terlihat setuju dengan saran dari Richard. "Ran, malam ini saja kita pindahannya. Tante punya firasat nggak bagus kalau menunggu besok pagi."
"Tante yakin?" tanya Kirana pada Tante Linda tanpa mematikan panggilannya.
__ADS_1
Tante Linda menganggukkan kepalanya dengan sangat yakin.
"Okelah, Kak. Kata Tante Linda, kita pindah kesananya malam ini aja. Tapi beneran nggak ngerepotin Kak Richard kan?"
"Nggak, Ran. Kalian kesini aja langsung ya. Kalau soal baju kalian jangan khawatir. Di sana ada baju Mamaku yang bisa kalian pakai,"
Lalu panggilanpun terputus. Kirana juga segera menyalakan mesin mobilnya lalu mulai berjalan ke arah alamat apartemen Richard.
Tiga puluh menit kemudian, mereka telah sampai. Bahkan Richard pun telah menunggu mereka di lobi.
"Ran!" panggil Richard kala melihat Kirana mulai masuk ke dalam Lobi.
"Kak!" Kirana membalas lambaian tangan Richard.
"Kenalin Kak, ini Tante Linda," Kirana mengenalkan Tante Linda pada Richard.
Mereka saling berjabat tangan, terlihat Tante Linda sangat menyukai sikap ramah dan sopan yang Richard tunjukkan.
"Kalau gitu, sekarang kita naik ke atas aja yuk. Kalian pasti capek sekali kan?" ajaknya sambil menggandeng tangan Tante Linda.
Apartemen Richard berada di lantai 7 sesuai dengan bulan kelahiran Kirana. Bahkan kamarnyapun ia sengaja mencari nomor 0025.
Kirana menggedikkan bahunya. "Mana aku tau, Kak. Mungkin itu tanggal lahir pacar Kakak?" sahut Kirana asal.
"Tepat! Sayangnya dia sudah jadi milik orang," tukasnya sambil melirik Kirana.
Tante Linda yang melihat itu, segera menengahi. "Kalau jodoh nggak bakal kemana nak, Richard. Yakin aja kalau memang dia jodohmu, dia akan bersatu sama kamu. Tapi jika memang dia bukan jodohmu, maka doakan agar dia bahagia hidup dengan pasangannya saat ini.
Jangan pernah kamu mendoakan yang jelek-jelak pada wanita yang pernah ada di hatimu itu. Ya, meskipun saat ini cintamu bertepuk sebelah tangan."
Ucapan Tante Linda menusuk tepat pada sasarannya. Richard menjadi salah tingkah sendiri akhirnya.
"Nah, ini kamar kalian," tutur Richard sambil membuka pintu apartemennya.
"Wah, ini bagus sekali kamarnya Nak Richard. Berapa kami harus bayar sewanya tiap bulan?" tanya Tante Linda was-was.
Richard terkekeh geli. "Kenapa harus bayar sih, Tan? Kalian bisa tinggal di sini gratis kok. Jadi jangan mikirin uang sewa lagi ya.
__ADS_1
Karena Tante sudah aku anggap sebagai Mamaku sendiri. Masa sama Mama sendiri harus perhitungan sih?" selorohnya.
"Makasih ya, Kak. Tapi aku tinggal di sini cuma sampai uang tabunganku terkumpul, dan bisa beli rumah sendiri. Nggak enak kita kalau lama-lama numpang tinggal di sini."
"Iya, aku nggak bakal ngelarang kamu. Okelah kalau begitu aku pamit dulu ya. Kalian kalau perlu apa-apa bilang saja sama aku.
Baju ada di kamar utama. Kalau mau masak, semua bahan sudah terisi lengkap di dapur dan kulkas."
"Astaga, Kak. Kamu sudah menyiapkan semua seakan-akan sudah yakin banged kalau aku bakal pindah kesini?" tanya Kirana tak percaya.
"Iya, dong. Aku harus yakin dulu, soal hasilnya gimana, ya terserah Tuhan aja." Richard mengedipkan satu matanya ke arah Kirana.
Kemudian ia benar-benar pamit pulang.
"Ran, Richard sepertinya suka sama kamu, ya?" goda Tante Linda kala mereka mulai masuk ke dalam kamar utama.
Kirana enggan menanggapi ucapan Tante Linda, ia justru mengalihkan dengan bertanya hal yang lain.
"Besok pagi kita pulang dulu untuk ambil baju ya, Tan. Nggak enak Kirana kalau harus pakai baju Mamanya Kak Richard."
"Ya sudah, tapi kita lihat situasi sekitar dulu ya sebelum masuk ke dalam rumah. Takutnya Hendrik sudah ingat alamat rumah Tante."
"Iya, Tan."
...****************...
Pagi-pagi sekali mereka berdua sudah bangun, dan bersiap akan menuju ke rumah Tante Linda.
Sepanjang di perjalanan, Tante Linda terus terlihat cemas. Hingga membuat Kirana juga ikut merasa khawatir.
Empat puluh lima menit kemudian, mobil mereka sudah memasuki area perumahan Tante Linda. Namun dari jauh, Kirana sudah dapat melihat mobil yang sangat dia kenal.
"Mas Hendrik?" pekik Kirana tertahan, sambil menghentikan laju mobilnya.
Tante Linda melihat sekitar. "Mana dia, Ran?"
Kirana menunjuk ke arah depan. "Itu di sana ada mobil Mas Hendrik sedang parkir, Tan."
__ADS_1
"Tuh kan benar firasat Tante dari semalam. Ternyata benar Hendrik sudah tau alamat Tante. Untung aja semalam kita sudah pindah ke apartemen Richard ya, Ran."