Sakitnya Menikah Denganmu

Sakitnya Menikah Denganmu
Bab 80.


__ADS_3

Kirana membuang nafas kasar. "Iya, pakai uangku aja kalau gitu. Toh yang kita undang kan juga karyawanku semua."


"Tony juga boleh datang kan, Ran? Dia kan sudah baik, mau pinjamin aku uang? Masa nggak kita undang?"


"Aku nggak mau dia datang. Urusan pinjam uang itu kan antara kamu dan dia. Jadi jangan paksa aku untuk melihatnya lagi, Mas," tolak Kirana dengan sangat tegas.


Hendrik terpaksa mengalah. Karena ia tak mau kembali bertengkar dengan Kirana saat ini. Masa baru aja baikan, sudah mau bertengkar lagi?


"Kamu nggak pulang? Aku mau istirahat soalnya. Besok pagi aku mau ke toko buat mengundang anak-anak." ketus Kirana tanpa melihat ke arah Hendrik.


"Berarti acaranya di undur lusa aja ya? Kan aku belum beres-beres rumahnya?"


"Hem!"


"Jangan marah dong, Sayang. Aku minta maaf deh, kalau sudah bikin kamu bete," ujarnya seraya mengecup kening Kirana. "Aku pamit pulang dulu ya. Besok pagi kamu mau di antar atau gimana?" sambungnya sambil menggunakan jaketnya.


"Aku berangkat sendiri aja. Kan kamu juga mau beres-beres rumah katanya?" gerutunya lalu menarik selimut menutupi wajahnya.


"Oke lah, aku pulang ya. Selamat malam istriku."


Kirana mengabaikan Hendrik yang akan pamit pulang. Hatinya masih jengkel lantaran Hendrik masih menjalin komunikasi dengan orang yang sudah membuatnya pergi dari apartemen saat itu.


"Seperti nggak ada temen yang lain lagi aja. Huh!" batinnya kesal.


Keesokan paginya Kirana kembali datang ke toko bunga LiNa Florist. Semua karyawan menyambutnya dengan suka cita. Karena selama menjadi atasan Kirana selalu bersikap adil pada semua karyawannya. Bahkan ia juga tak pelit saat memberikan bonus penjualan.


Beberapa menit sebelum buka toko, Kirana menggunakan kesempatan itu untuk mengumpulkan semua karyawannya. Ia ingin mengundang secara langsung agar mereka bisa hadir di acara syukuran yang akan dia adakan besok.

__ADS_1


Kirana memperkirakan acaranya akan berlangsung sampai jam makan siang saja. Jadi toko akan tetap bisa buka namun jam operasionalnya terpotong. Begitu juga untuk toko cabangnya.


"Sil, kamu tau nggak di mana cari orang yang mau beres-beres rumah? Soalnya dari tadi aku cari di online, semuanya pada nggak bisa kalau hari ini," titah Kirana sambil duduk di meja kasir.


"Beres-beres rumah yang mana, Kak?"


"Rumah yang bakal aku dan Mas Hendrik tempati besok. Sekarang sih Mas Hendrik lagi bersih-bersih di sana, cuma aku kasian aja kalau dia beresin semua sendiri. Dia kan juga harus kerja ngojol."


Mata Sisil membeliak. "Hah? Mas Hendrik masih kerja ngojol, Kak? Memangnya Kakak nggak ingin ngasih kerjaan ke Mas Hendrik sebagai pengawas di toko cabang? Kan lumayan tuh, Kak. Kakak di sini, Mas Hendrik di sana," celoteh Sisil tanpa jeda.


"Nggak lah! Biarin aja dia kerja ojol. Aku pengen tau seberapa berjuangnya dia untuk aku dan calon anaknya. Lagian kalau aku kasih dia kerjaan, terus dia jadi merasa tersinggung gimana? Toh kerjaan sebagai ojol juga nggak buruk-buruk amat kan?" tolak Kirana tegas.


Padahal di lain sisi, Kirana tak ingin Hendrik terlibat dalam dunia bisnisnya.


"Kak, gimana kalau aku aja yang bantuin Mas Hendrik beres-beres rumah? Kan mumpung Kakak ada di sini, jadi kan pengawas toko nggak kosong?" usul Sisil sambil memainkan matanya genit.


"Siap, Bos! Di mana alamatnya?"


"Ini sudah aku pesenin ojol. Bentar lagi ojolnya dateng," Kirana menunjukkan ponselnya ke arah Sisil.


[Mas, ini Sisil lagi perjalanan kesana, dia aku suruh buat bantuin kamu bersih-bersih biar cepat kelar. Soalnya tar sore aku mau cari beberapa perabotan juga. Biar besok pas ada acara, setidaknya rumah nggak kosong melompong gitu.] pesan terkirim dan langsung berubah centang dua biru.


[Tapi aku nggak ada uang, Sayang. Beli perabotannya nanti aja ya. Tunggu aku punya uang.]


[Nggak apa pakai uangku dulu aja. Lagian aku sedang hamil. Mana bisa aku tidur di kasur lipat? Susah buat aku berdirinya, Mas.]


[Mau aku temenin beli perabotnya?]

__ADS_1


[Iya, nanti kalau sudah selesai sekalian aja kamu anter Sisil ke toko. Abis itu kita berangkat dari sini.] pesan terkirim dan hanya di baca saja oleh Hendrik.


Pukul 12.30 siang, Kirana memilih untuk istirahat di lantai atas. Di mana banyak sekali kenangan bersama Tante Linda di atas sana.


Tapi ia tak mau berlarut dalam kesedihan. Toh Tante Linda sudah istirahat dalam damai saat ini.


Tanpa terasa jam di dinding sudah menunjukkan pukul 16.00 sore. Harusnya Sisil sudah kembali ke toko. Karena dia berangkat dari pukul 09.00 pagi. Tapi kenapa hingga jam segini dia belum balik? Toh yang di bersihin di sana juga bukan rumah gedong? Dan dua orang juga yang beresin, masa harus selama ini?


Kirana mulai mengambil ponselnya dan mencoba menghubungi Sisil dan Hendrik secara bergantian. Namun tak ada satupun dari mereka yang menerima panggilan itu.


"Ini pada kemana sih? Atau mereka sedang perjalanan kesini ya? Makanya aku telpon nggak ada yang dengar? Ya sudah aku tunggu tiga puluh menit lagi aja deh. Kalau sampai tiga puluh menit lagi mereka belum sampai, berarti ada sesuatu yang terjadi. Tapi semoga aja firsatku yang salah." gumam Kirana sambil berjalan mondar-mandir di dalam ruangan kerjanya.


Karena terlalu cemas, akhirnya Kirana memilih turun lagi ke bawah untuk membantu bagian kasir. Ia ingin mengalihkan pikiran buruknya ke hal yang positif.


"Nggak mungkin lah kalau Mas Hendrik berbuat yang aneh-aneh sama Sisil di belakangku. Apalagi Sisil nggak mungkin tega menghianatiku kan? Karena selama ini aku selalu memperlakukannya dengan baik." lagi-lagi Kirana mencoba mensugesti dirinya sendiri.


Tepat pukul 17.00 akhirnya yang di tunggu-tunggu datang juga. Kirana segera berjalan pelan ke arah mereka. Terlihat sekali wajah Hendrik dan Sisil yang nampak kelelahan.


"Kok kalian lama sekali sih? Memangnya banyak banged ya yang harus di beresin? Perasaan kemarin yang aku lihat tinggal bagian belakang aja deh yang masih kotor," cecar Kirana sambil melipat tanganya di dada.


"Tadi soalnya Sisil aku tinggal ambil orderan, Sayang. Makanya dia lama beresin rumahnya. Maafin aku ya," Hendrik mengandeng tangan Kirana agar masuk ke dalam, Karena saat ini mereka sedang jadi pusat perhatian beberapa pengunjung toko.


Kirana mengikuti ajakan Hendrik, namun matanya tak lepas dari Sisil.


"Kamu sendiri kenapa juga ambil orderan? Sudah tau kerjaan di rumah belum beres. Kok aneh banged sih kamu itu, Mas?" omel Kirana lagi.


Sementara Sisil hanya diam menundukkan kepalanya. Padahal biasanya dia paling bawel.

__ADS_1


__ADS_2