
"Oke, Mas! Aku siap untuk kamu laporkan. Semoga kamu nggak akan menyesali perbuatanmu malam ini.
Dan satu lagi, tolong ingat kalimatku ini. Kamu sudah membuat aku dan anak dalam kandunganku kecewa! Jangan harap aku bisa memberimu maaf dan kesempatan lagi nantinya."
"Kamu lah yang membuatku kecewa, Ran! Kamu! Bukan aku! Jadi jangan memutar balikkan fakta!" bentaknya dengan sangat lantang dan mata melotot.
Tangan Kirana mengepal kuat. Ingin rasanya Kirana menampar mulut laki-laki yang sempat ia cintai ini. Namun, hal itu ia urungkan.
"Fakta? Fakta apa yang aku putar balik? Kamu sendiri aja nggak mau dengar fakta yang sesungguhnya dari aku. Tapi ya sudahlah, aku capek ngadepin kamu, terutama keluargamu!" gusar Kirana lalu melangkah masuk ke dalam kamar, meninggalkan Hendrik yang kini mulai melampiaskan kekesalannya dengan meninju dinding.
Ponsel Kirana berdering. Ternyata taksi online yang ia pesan sudah datang dan menunggu di depan.
"Maaf, Pak. Tolong langsung masuk ke dalam aja ya. Bilang aja mau antar Pak Robert ke rumah sakit."
Biarpun Kirana sedang kecewa dan marah, tapi hal itu tak bisa membuatnya tega terhadap kondisi papa mertuanya yang sedang butuh di tolong, untuk segera di bawa ke rumah sakit.
Siapa tau, saat kondisi papa mertuanya sudah membaik nanti, bisa ia jadikan sebagai saksi, jika bukan dirinya yang membuat papa mertuanya terjatuh.
Beberapa menit kemudian Hendrik membuka pintu kamar, dan berbicara di ambang pintu. "Maaf aku terpaksa harus menguncimu di dalam rumah ini, sampai aku pulang dari rumah sakit nanti. Berdoalah semoga papa masih bisa di selamatkan. Agar hukumanmu tak terlalu berat nanti."
"Kamu nggak bisa mengunci aku seperti seorang penjahat, Mas! Belum terbukti jika aku pelakunya!" tolak Kirana sambil berjalan ke arah Hendrik.
Namun langkah kakinya kalah cepat dengan Hendrik yang sudah berlari menuju pintu depan lalu menguncinya dari luar.
Terlihat mobil taksi online itu berjalan menjauh meninggalkan Kirana seorang diri di dalam rumah.
Tetesan air mata terus membasahi pipi mulusnya. Namun ia segera sadar, bahwa menangis tidak akan menyelesaikan masalahnya. Ia harus kuat, dan cari jalan keluar sekarang.
Langkah kakinya menuju ke dapur, ia ingin mengisi perutnya yang sempat tertunda tadi. Setelah selesai makan, ia mencoba menghubungi beberapa temannya yang jadi pengcara. Ia berharap temannya itu bisa memberi solusi. Syukur-syukur bisa membantunya untuk menuntut balik orang-orang yang sudah memfitnahnya malam ini.
Tapi baru saja mengetikkan sesuatu untuk dikirim ke teman pengacaranya itu, perut Kirana terasa kencang seperti orang yang sedang kontraksi. Ia merintih menahan sakitnya itu.
__ADS_1
Akhirnya ia mencoba menghubungi beberapa karyawan tokonya. Kebetulan jam sudah menunjukkan jam tutup toko.
Sembari menunggu datangnya beberapa karyawannya yang akan membantunya keluar dari rumah itu, Kirana menyiapkan tas yang akan dia bawa. Kebetulan kontraksi yang ia rasakan juga sudah mulai mereda.
"Bu... Bu Kirana! Ini kami sudah di depan," panggilnya.
Kirana berjalan menghampiri. Ia membuka gorden, agar terlihat oleh karyawannya. "Tolong kalian dobrak pintu ini, ya. Saya terkunci dari luar soalnya."
Mereka saling pandang satu sama lain. Mungkin mereka antara takut dan binggung saat Kirana mengatakan terkunci dari luar.
"Ayo cepat dobrak pintunya! Perut saya sakit lagi ini," pintanya seraya merintih memegangi perutnya.
"Tapi kami takut di kira mau merampok, Bu."
"Cepat! Ini saya yang perintahkan kalian. Apa kalian mau saya melahirkan di sini?" bohong Kirana. Padahal dirinya juga tidak yakin jika akan melahirkan malam ini.
"Maaf, Bu. Kalau gitu Bu Kirana menjauh dari pintu ya. Kami akan mulai mendobraknya."
Brugh!
Brugh!
Brugh!
"Terimakasih kalian sudah membantu saya. Sekarang kalian boleh pulang. Saya akan pesan taksi online aja untuk pergi ke rumah sakitnya."
"Kami antar saja, Bu. Kebetulan kami bawa mobil toko," tawar salah satu dari mereka bertiga.
"Kalau saya naik di depan, lalu yang dua lagi mau naik kemana?"
"Kami berdua bisa duduk di bak belakang, Bu. Kami kan laki-laki. Jadi bukan masalah. Lagian kalau Bu Kirana pesan taksi online, takutnya lama dapatnya."
__ADS_1
"Tolong lebih cepat sedikit bawa mobilnya. Perut saya sakit lagi," rintih Kirana sambil meremas kuat jok mobil.
Sesampainya di rumah sakit, Kirana langsung dibawa ke ruangan bersalin. Karena dokter khawatir jika Kirana akan segera melahirkan malam ini.
"Kami periksa dulu ya, Bu," ucap perawat perempuan itu ramah.
Kirana hanya menganggukan kepalanya. Ia tak kuat bicara lantaran saat ini ia sedang merasakan kontraksi kembali.
"Wah, ini sih sudah pembukaan 5, Bu. Kita bersiap untuk melakukan persalinan ya, Bu. Kemungkinan beberapa jam lagi, ini sudah pembukaan lengkap."
"Tapi kehamilan saya baru 34 minggu, sust," lirih Kirana terbata saat kontraksi mulai mereda.
"Nggak apa, Bu. Karena memang ibu sudah pembukaan 5 saat ini. Jadi sekarang kita tunggu datangnya dokter Richard ya, Bu," jelasnya lalu berjalan menuju pintu.
"Tunggu!" perawat itu menoleh. "Suster tadi bilang dokter siapa yang akan membantu saya lahiran?" tanya Kirana ingin memastikan jika dirinya tadi tak salah dengar. Di lain sisi ia juga berharap jika nama dokter itu memang benar-benar Richard, ia berharap itu bukan Richard yang sama.
"Dokter Richard, Bu. Dokter Richard Christian," jawabnya dengan seuntai senyuman.
Degh!
Kirana ingin bangkit berdiri, lalu pindah ke rumah sakit lain. Tapi tenaganya sudah tak ada. Kontraksi yang muncul sudah semakin intens.
"Bisa-bisanya karyawanku mengantar aku ke rumah sakit ini. Lagian kenapa harus dia sih yang jadi dokter piket malam ini?" rutuk Kirana pada dirinya sendiri.
Hal yang tak di inginkan ternyata harus terjadi juga. Apakah ini yang di namakan takdir?
"Sudah membawa perlengkapan bayinya kan, Bu?" tanya perawat itu lagi.
"Belum sama sekali, Sust. Tadi tertinggal saat akan berangkat kesini. Kalau bisa tolong siapkan semuanya ya. Nanti biar di total di belakang. Karena saya tadi nggak tau jika akan melahirkan malam ini," ungkap Kirana.
Karena memang tas yang sudah ia siapkan tadi, benar-benar tertinggal di dalam kamar. Mungkin karena saking senangnya bisa kabur dan di tambah rasa kontraksi juga. Jadi tas yang berisi pakaiannya tertinggal.
"Ibu bisa menghubungi suaminya jika mau. Atau saya bantu menghubungi suaminya? Siapa tahu suaminya berkenan membawakan bajunya kemari. Apalagi ini kan menyambut anaknya lahir,"
__ADS_1
"Suami saya sudah pergi, Sust. Jadi tolong siapkan saja semua baju-baju, dan keperluan lain-lainnya dari rumah sakit ini." tegas Kirana, namun hatinya tiba-tiba terasa nyeri.
Impiannya benar-benar sudah hancur. Dulu ia berharap jika melahirkan, setidaknya bisa di dampingi oleh suami. Tapi ternyata malam ini ia harus melahirkan anak pertamanya tanpa di dampingi oleh siapapun.