
"Tante sangat setuju dengan ide kamu itu." Tante Linda mengubah posisi duduknya jadi menghadap Kirana. "Tapi yakin kamu nggak sedang menyembunyikan sesuatu yang lain lagi?" imbuh Tante Linda yang masih menatap curiga.
Kirana menoleh sekilas, lalu mulai menimbang ulang apakah akan bercerita dengan Tante Linda atau tidak.
Menarik nafas dalam-dalam. "Tadi Kak Richard dokter kandungan, yang sekaligus Kakak kelas Kirana dulu ngasih tau kalau tadi pagi sebelum Kirana datang kontrol, katanya Mas Hendrik sempat datang ke rumah sakit. Dia mencari Kak Richard dan ingin bertanya-tanya soal Kirana."
"Lalu? Apakah Richard mengatakan sesuatu sama Hendrik?"
"Kak Richard menolak diajak berbicara tadi pagi. Lantaran dia kan masih jam kerja. Tapi, ...."
"Tapi apa lagi, Ran?"
"Kak Richard menyarankan agar Kirana dan Tante untuk sementara waktu ini tinggal di apartemen Kak Richard aja. Sampai Kirana lahiran nanti. Menurut Tante bagaimana?"
Tante Linda nampak memikirkan saran dari Richard. Ia sebenarnya setuju sekali, tapi apa nggak bakal jadi masalah nantinya?
"Tante setuju sih, Ran. Tapi bagaimana kalau nanti orang tua atau kekasihnya Richard salah paham sama kamu?" ujar Tante Linda khawatir.
"Orang tua Kak Richard ada di luar negeri, Tan. Lagipula Kirana juga kenal dekat dengan mereka. Jadi Kirana rasa nggak bakal ada masalah.
Kalau soal kekasih, sepertinya Kak Richard masih single deh. Soalnya kapan hari, ...." Kirana kembali teringat perlakuan Richard.
Tante Linda nampak serius mendengarkan, tapi Kirana justru tak melanjutkan kalimatnya kagi. "Kenapa sama kapan hari? Kamu kalau bicara selalu digantung. Bikin Tante jadi penasaran akut aja." protesnya kemudian.
Tapi Kirana justru tertawa menanggapi perkataan Tante Linda. "Nggak kenapa-napa kok, Tan." ia menepuk paha Tante Linda pelan.
"Sudah yok, kita lanjut makan malam dulu. Setelah itu bantu anak-anak closing toko," Kirana bangkit berjalan keluar ruangannya.
Keesokan harinya, setelah bunga pesanan Sintya datang. Kirana segera memanggil Sisil ke ruangannya untuk kembali memberi arahan jangan sampai dia lupa sama tugasnya.
"Sil, jangan lupa nanti kamu rekam ya. Mulai dari kamu masuk rumahnya, ngedekor kamarnya, sampai keluar dari rumahnya lagi. Pokoknya jangan sampai ada yang terlewatkan sedikitpun. Karena aku nggak mau dia main curang sama toko kita," tutur Kirana lembut.
"Baik, Bu. Saya akan merekam semuanya secara diam-diam."
"Makasih, ya. Oh iya, kamu inget satu hal lagi, siapapun yang tanya soal saya, jangan kamu kasih tau yang sebenarnya ya. Karena saya nggak mau suami saya tau keberadaan saya di sini," Kirana menatap Sisil penuh harap.
__ADS_1
"Baik, Bu. Kalau begitu saya berangkat sekarang saja ya. Biar cepat selesai dan bisa balik lagi ke sini. Kasihan teman-teman yang lain kalau sampai kelabakan karena kurang tenaga," pamitnya lalu berjalan keluar.
Selama Sisil tidak ada di toko, Kirana terpaksa turun ke lantai satu guna membantu karyawan yang lain. Sedangkan Tante Linda tetap menjaga di lantai dua.
Antusias dari para pengunjung tak pernah surut, meskipun promo telah berakhir. Itu membuat Kirana semakin semangat, walau kadang ia merasa lelah.
Hingga pukul 14.00 siang, Kirana mulai merasa cemas. Karena harusnya Sisil dan yang lain sudah kembali. Tapi ini kenapa belum ada tanda-tanda mereka akan kembali.
Ia mengeluarkan ponsel lalu menekan nomor Sisil.
"Sil, kamu di mana sekarang? Kenapa belum balik? Ini toko ramai sekali. Kamu dan yang lain, tolong cepat kembali ya," pinta Kirana dengan nafas yang memburu.
"Maaf, Bu Carol. Ini Kak Sintya nya masih belum merasa puas sama hasil kerja kita. Jadi kita masih harus mendekornya ulang," suara Sisil nampak lelah.
Kirana meremas ujung bajunya. "Tuh orang apa sih, maunya. Ya sudah kalau begitu, kalian lanjutkan di sana. Tapi tolong usahakan cepat ya. Karena saya sudah benar-benar kelelahan." lalu kirana menutup panggilannya.
Terlihat Tante Linda turun ke bawah, "Sayang, apa nggak sebaiknya kamu istirahat dulu. Biar Tante yang handel semua. Tante nggak mau kalau kamu sampai kelelahan. Bahaya nanti buat kandungan kamu," ucap Tante Linda sembari mengelus punggung Kirana.
"Iya, Tan. Tapi apa Tante nggak capek kalau harus pegang semua?"
"Besok Kirana akan nambah karyawan lagi kalau begitu, Tan. Apalagi toko semakin hari juga semakin ramai."
Tante Linda mengangguk setuju. "Sudah kamu naik dulu sana."
Sore harinya terlihat Sisil dan tiga orang lainnya turun dari mobil dan berjalan masuk ke dalam toko. Tiga orang lainnya langsung berbaur membantu temannya yang terlihat kepayahan.
Sedangkan Sisil langsung naik ke atas menuju ruangan Kirana untuk menyerahkan hasil rekamannya.
tok... tok... tok....
"Permisi, Bu Carol, Tante Inda."
"Masuk!" ucap Tante Linda yang mengubah namanya jadi Tante Inda.
"Saya mau menyerahkan hasil rekaman ini saja, Bu," Sisil meletakkan ponselnya di atas meja lalu pamit keluar lagi.
__ADS_1
Kirana yang sudah penasaran segera memutar video rekaman itu. Namun saat di tengah-tengah rekaman, Kirana mendengar Sintya menyebut nama Hendrik sebagai suaminya.
"Haduh, kenapa hasilnya cuma begini sih? Apa cuma segini aja kemampuan dekor kalian? Heran saya, kok bisa bikin toko kalian itu ramai kalau hasilnya cuma seperti ini!" bentak Sintya sambil menunjuk-nunjuk Sisil.
"Saya mau kalian dekor ulang. Pokoknya saya mau Mas Hendrik suami saya puas dengan malam pertama kita nanti!" tegas Sintya di rekaman itu.
Degh!
Mas Hendrik? Apakah Mas Hendrik dan Sintya sudah menikah? Andaikan benar, tega sekali kamu, Mas! Mentang-mentang kemarin kita belum mengurus surat nikah di catatan sipil, makanya kamu bisa seenaknya menikah lagi.
Tapi baiklah jika itu mau kamu. Aku juga nggak akan mengemis padamu. Sekalipun anak ini sudah lahir nanti, aku nggak akan pernah mencarimu lagi.
"Ran, itu Hendrik suamimu kah yang di maksud Sintya?" tanya Tante Linda tiba-tiba dengan raut wajah tak kalah terkejutnya dengan Kirana.
"Mungkin, Tan. Tapi biarlah, Kirana nggak mau ambil pusing lagi soal mereka. Dosa juga mereka yang tanggung sendiri," sahut Kirana cukup santai. Namun tak sama dengan hatinya.
"Ya sudah, kamu sabar aja ya. Pasti mereka nanti akan dapat karmanya kalau sampai tega menyakiti hati dan perasaan Ibu hamil sepertimu," Tante Linda memeluk Kirana dari belakang, lalu melingkarkan tangannya di bahu Kirana.
Kirana mengusap punggung tangan Tante Linda yang ada di bahunya. "Kirana selalu sabar kok, Tan."
"Besok pagi, kita jadi kan pindah ke apartemen Richard? Firasat Tante kok nggak enak kalau kita nggak secepatnya pindah."
"Kirana tanya Kak Richard dulu ya, Tan. Semoga aja Kak Richard nggak sibuk."
Kirana mengambil ponselnya, lalu menekan nomor ponsel Richard.
tuut... tuut... Tuuut...
Cukup lama Kirana menunggu panggilan itu diangkat. Hingga panggilan ke tiga pun masih belum diangkat.
"Mungkin Richard masih kerja, Ran. Atau sebaiknya kamu kirimin dia pesan aja. Jadi nanti kalau dia sudah nggak sibuk, biar bisa baca pesanmu," saran Tante Linda setelah Kirana meletakkan kembali ponselnya.
Kirana mengambil kembali ponselnya, lalu mulai mengetik pesan sesuai arahan Tante Linda.
[Malam, Kak. Maaf ya kalau menganggu. Aku cuma mau tanya, apa penawaran kakak untuk sewa apartemennya itu masih berlaku untuk kami?] pesan terkirim
__ADS_1