Sakitnya Menikah Denganmu

Sakitnya Menikah Denganmu
Bab 110.


__ADS_3

Setelah melihat keberadaan Bu Mery, Handoko, dan Rita. Richard lebih memilih untuk mempercepat langkah kakinya menuju pintu keluar. Ia sama sekali tak ingin tau tentang apa yang sedang mereka perdebatkan.


Bisa habis waktunya jika harus berdebat lagi dengan trio muka tembok itu. Apalagi saat ini tubuhnya sudah terasa lelah sekali, setelah seharian penuh membantu Kirana.


Dan keesokan harinya, ia sudah datang lagi ke hotel guna menjemput Kirana, Arshinta, dan Ayu. Sebelumnya, mulai dari pagi hingga mendekati jam chek out, ia juga telah mempersiapkan segala kebutuhan Arshinta selama tinggal di apartemennya.


Meskipun hanya tinggal sementara, tapi Richard tetap ingin memberikan yang terbaik untuk bayi menggemaskan itu.


Saat berjalan keluar, Kirana tak lupa memakai topi, masker, dan kacamata hitam. Ia sengaja menutup rapat bagian wajahnya. Lantaran Richard telah memberitahunya jika semalam ia melihat trio muka tembok itu di lobby hotel.


Tak lupa ia berjalan sedikit menjauh dari Ayu, Richard dan Arshinta. Agar semakin sempurna penyamarannya.


"Hei, kamu!" tiba-tiba ada seseorang sedang berteriak dari arah belakang. Namun Richard tetap berjalan lurus. Ia mengabaikan panggilan itu. Begitupun dengan Kirana. Ia sama sekali tak ingin berpaling ke belakang. Apalagi suara itu tak asing baginya.


"Tunggu!" terdengar suara orang sedang berlari ke arah Richard. "Kamu temannya Kirana itu kan?" tegurnya kala sudah berhasil meraih bahu Richard.


"Maaf saya tidak kenal dengan anda!" bantah Richard lalu ia melanjutkan berjalan lagi. Tapi sayangnya, laki-laki yang Kirana yakini sebagai Handoko itu terus saja menghadang langkah kaki Richard.


"Kamu jangan bohong! Beberapa waktu lalu kita kan sempat bertemu. Jadi nggak mungkin saya salah orang!"


"Terus mau anda apa?" tantang Richard dengan nada santai. Ia menggulung lengan kemejanya, namun netranya menatap sinis Handoko.


"Saya mau bertemu dengan Kirana. Ada yang mau saya bicarakan dengannya. Tolong kasih tau saya di mana Kirana sekarang berada."


"Saya nggak tau Kirana ada di mana sekarang. Tapi kalau memang anda ingin bertemu dengan Kirana, datang saja ke kantor polisi beberapa hari lagi. Pasti anda akan bertemu dengannya, sekaligus bermalam di sana untuk beberapa tahun ke depan!" tegas Richard.


Raut wajah Handoko berubah pias, "Ma-maksud anda?"


Richard tak menjawab pertanyaan Handoko, ia memilih untuk menyusul Kirana yang saat ini mungkin sudah berada di dalam mobilnya. Untung saja tadi ia sudah menitipkan kunci mobilnya pada Kirana sebelum turun ke bawah. Jadi Kirana akan benar-benar aman saat ini.


"Semua aman kan, Kak?" tanya Kirana khawatir kala Richard baru saja masuk ke dalam bangku kemudi.


Richard mengangguk diiringi senyum manisnya. "Kamu santai aja, sebisa mungkin aku akan melindungi kamu dari mereka sampai mereka semua mendapatkan hukumannya."


...****************...

__ADS_1


satu minggu kemudian.


"Ran, hasil visum punya kamu sudah keluar kan hari ini? Apa kamu akan ikut datang ke kantor polisi?" tanya Richard yang memang setiap pagi selalu menyempatkan mampir ke apartemen yang Kirana tempati.


Kirana menghela nafas panjang, lalu kembali melanjutkan kegiatannya. "Terpaksa, Kak. Andai pihak kepolisian tak memanggilku juga, pasti aku akan memilih untuk terbang hari ini juga ke luar negri."


"Sabar," Richard menghampiri Kirana. "Aku doakan semoga nanti semuanya berjalan lancar sesuai keinginan kita. Maaf aku nggak bisa dampingin kamu hari ini, karena aku ada jadwal operasi yang nggak bisa aku alihkan tugasnya ke yang lain."


"Nggak apa, Kak. Toh nanti di sana kan ada Pak Agung." sahut Kirana. "Ya sudah kalau gitu, sekarang aku berangkat dulu ya, Kak. Takut kena macet soalnya."


"Semangat ya, Ran!" seru Richard seraya melambaikan tangannya.


Beberapa menit kemudian, Kirana telah sampai di parkiran kantor polisi. Ia sengaja hari ini membawa mobil yang Richard pinjamkan.


Jantungnya berdegup tak menentu. Ia cukup khawatir saat akan bertemu kembali dengan Hendrik yang setelah beberapa hari ia berhasil menghindarinya.


tok.. tok..


suara ketukan di kaca mobil membuatnya terjingkat. "Astaga, Pak Agung!" pekiknya seraya mengelus dadanya.


"Tenang, Bu. Semua akan berjalan lancar, saya janji!" ucap Pak Agung yang sadar jika Kirana sedang merasa khawatir.


4 jam kemudian, pemeriksaan telah berakhir. Kirana dapat bernafas lega sekarang. Lantaran baik Bu Mery, Handoko, Rita, dan Hendrik saat ini sudah harus mulai di tahan.


Bahkan selama pemeriksaan tak ada drama sedikitpun dari mereka berempat. Hal itu sempat membuat Kirana curiga. Tapi apapun itu alasannya, Kirana hanya bisa mengucap syukur.


"Kak!" teriak seseorang saat Kirana akan masuk ke dalam mobilnya.


Kirana berpaling ke sumber suara, "Papa Robert, Axel, Cindy?" gumamnya di sertai mata membeliak.


Kirana ingin cepat-cepat masuk ke dalam mobil, namun ternyata tangannya sudah di pegang oleh Axel.


"Kak, jangan takut. Kami bukan ingin cari masalah dengan Kakak. Kami hanya ingin mengantarkan Papa yang ingin bertemu dengan Kak Kirana.


Kami bertiga juga sudah ikhlas, jika Mama dan kedua Abang kami harus mendapatkan hukuman di dalam sana," lirihnya dengan mata yang mulai berkaca-kaca.

__ADS_1


"Ran bagaimana kabarmu, Nak?" tanya Pak Robert. Suaranya terdengar parau, membuat Kirana tak tega melihatnya.


Kirana duduk berjongkok di depan kursi roda Pak Robert. Tangannya mengenggam kedua telapak tangannya. "Kirana baik, Pa. Papa sendiri bagaimana kabarnya? Maaf Kirana nggak pernah datang buat tengokin Papa di rumah sakit, karena_"


"Nggak apa, Ran. Papa bisa mengerti kok, Papa justru sekarang senang, karena kamu masih mau memanggil dengan sebutan Papa. Itu berarti kamu masih anak Papa," sahutnya dengan seuntai senyum.


Namun, raut wajahnya tiba-tiba berubah sedih. "Tapi, sayangnya Papa nggak bisa melihat cucu Papa lagi." Ia menatap lekat kedua mata Kirana. "Apakah benar jika cucu Papa sudah meninggal? Rasanya Papa nggak bisa mempercayai itu," sambungnya lagi.


Kirana mendadak pucat, ini lah yang ia takutkan. Dosa jika ia berbohong pada Pak Robert. Tapi jika ia jujur, ia takut jika suatu saat nanti Hendrik akan merebut Arshinta dari tangannya.


"Cucu Papa sudah tak ada, tolong jangan tanyakan lagi soal itu, Pa. Karena akan membuat Kirana semakin sakit hati," bohong Kirana.


Terdengar helaan nafas panjang. "Kalau begitu, tolong kasih tau Papa, dimana cucu Papa di makamkan? Papa ingin berziarah kesana," pintanya mengiba.


"Nanti akan Kirana beritahu jika sudah saatnya, Pa. Sekarang Kirana tak bisa memberitahu siapa pun. Tolong jangan paksa Kirana soal ini."


Pak Robert menarik Kirana ke dalam pelukannya, "Maafkan Papa, Ran. Sekali lagi tolong maafkan Papa. Papa telah gagal mendidik Hendrik agar menjadi suami yang baik untukmu."


"Papa jangan bicara begitu, baik buruknya Mas Hendrik itu bukan kesalahan Papa. Karena Mas Hendrik sudah dewasa, harusnya dia sudah bisa berpikir bijak, tapi ternyata belum."


Setelah puas mengobrol, Kirana akhirnya pamit pulang. Ia juga ingin secepatnya mulai merapikan barang-barangnya agar besok bisa terbang ke luar negri.


Namun sepanjang perjalanan, ia terus saja tergiang satu pesan Pak Robert.


...****************...


"Hati-hati ya, Ran! Nanti kalau aku ada jadwal libur, aku akan berkunjung kesana." ujar Richard sebelum Kirana masuk ke bandara.


Kirana tersenyum getir. "Makasih ya, Kak!"


"Terus untuk gugatan ceraimu bagaimana?"


"Semua sudah aku serahkan pada Pak Agung juga. Aku tinggal tunggu hasilnya saja nanti, Kak."


Mereka berdua berpelukan sebelum Kirana benar-benar masuk ke dalam bandara.

__ADS_1


#Tamat....


__ADS_2