Sakitnya Menikah Denganmu

Sakitnya Menikah Denganmu
Bab 99.


__ADS_3

Terlihat beberapa kali suster berjalan keluar masuk menyiapkan segala keperluan untuk proses persalinan Kirana. Sesekali suster itu juga mengecek kondisi jalan lahirnya. Apakah sudah pembukaan lengkap atau belum.


"Tolong jangan ngeden dulu ya, Bu. Karena nanti bisa robek dan banyak jahitannya. Tunggu aba-aba dari kami saja nanti," setelah menjelaskan suster itu kembali sibuk dengan tugasnya yang lain.


Di dalam ruangan serba putih ini, Kirana hanya seorang diri. Dia kebingungan dengan maksud suster yang mengatakan nanti robek dan bisa banyak jahitan. Ingin bertanya, tapi pada siapa?


Akhirnya Kirana mencoba menuruti perkataan dari suster tersebut untuk tak mengeden. Namun tiba-tiba ia terasa ingin buang air kecil dan buang air besar secara bersamaan.


"Aduh, kok jadi malah kebelet gini sih? Masih sempat nggak ya kalau aku jalan ke toilet sebentar? Kebetulan toiletnya kan juga nggak jauh," batin Kirana, netranya menatap ke arah pintu kamar mandi. Ia berusaha menggeser tubuhnya, namun usahanya sia-sia.


"Suster ... suster! Tolongin saya, saya mau ke kamar mandi dulu sebentar. Saya sudah nggak tahan lagi ini," rintihnya mengiba.


Tapi tak ada satupun suster yang datang menghampirinya. Sampai-sampai tanpa ia sadari, sekarang ia sudah buang air kecil di tempat.


"Ya Tuhan, aku kok jadi ngompol begini sih?" Kirana meraba bajunya bagian bawah yang sudah basah. "Nanti kalau dimarahin gimana dong? Ish, emang ya ini kencing nggak mau sabaran! Tapi, siapa suruh tadi aku panggil-panggil nggak ada satupun yang datang. Jadi jangan salahin aku kalau jadinya ngompol begini," gerutu Kirana kesal tapi juga takut.


Ada satu suster yang masuk ke ruangan bersalin. Tanpa membuang waktu, Kirana gegas memanggilnya.


"Suster! Tadi saya kebelet buang air kecil, tapi karena nggak ada yang bantuin saya untuk ke kamar mandi, jadinya saya ngompol di sini," ungkap Kirana malu-malu.


Tapi raut wajah suster itu berubah jadi panik, dia juga langsung memanggil satu temannya lagi. Hingga membuat Kirana merasa semakin ketakutan.


"Maaf ya sust, saya beneran nggak sengaja untuk buang air kecil di sini," lirih Kirana lagi.


"Aduh, Bu. Kenapa malah nangis sih?" terlihat sekali jika suster itu merasa kesal pada Kirana.


"Saya udah nggak bisa nahan sakitnya sust."

__ADS_1


Suster yang baru saja masuk gegas memeriksa bagian bawah Kirana, "Gawat, kepala bayinya sudah kelihatan. Itu air ketubannya juga sudah pecah!" pekiknya pada suster yang satunya lagi.


"Tapi dokter Richard belum datang. Dia masih dalam perjalanan," balas suster itu tak kalah paniknya. Kemudian ia menatap Kirana iba.


Kirana yang mendengar kepala bayi sudah terlihat, merasa bersyukur. Berarti sebentar lagi dia sudah bisa bertemu dengan calon buah hatinya. Tapi di lain sisi, tadi kedua suster itu mengatakan kalau Richard masih dalam perjalanan. Lalu bagaimana dengan nasibnya yang mungkin akan melahirkan dalam hitungan menit?


"Gimana dong ini? Kalau kita bantuin lahiran sekarang juga, kira-kira dokter Richard bakal marah sama kita nggak ya?"


Kemudian salah satu suster itu memegang tangan Kirana. "Bu, tolong jangan di keluarin dulu ya anaknya. Kita harus nunggu dokter Richard sampai datang."


"Saya nggak bisa nahan lagi, Sust!" desis Kirana sambil mengedan lagi dan lagi. Netranya sudah berkaca.


Ia tak habis pikir jika Richard sempat meminta pada kedua suster ini untuk menunda kelahiran anaknya, hingga ia datang.


"Okelah, kita bantuin saja lahirannya. Nanti kalau dokter Richard marah, biar aku yang tanggung jawab. Soalnya ini udah nggak bisa ditahan lagi kondisinya,"


Beberapa saat kemudian setelah berjuang antara hidup dan mati untuk melahirkan, Kirana benar-benar bernafas lega. Lantaran ia mendengar suara tangisan bayi yang sudah lama ia nantikan kehadirannya.


Kirana membelai lembut tubuh mungil buah hatinya. Air matanya leleh berjatuhan tak tertahan lagi. "Anak baik, anak cantik, anak pintar, sehat-sehat ya nak. Setelah ini kita akan hidup berdua saja. Doakan mama agar mama bisa selalu kuat," bisiknya lirih.


"Loh? Kok sudah selesai?" terdengar suara Richard dari balik tirai yang menjadi pembatas.


Namun tak terdengar ada sahutan dari satupun suster jaga.


"Maaf, Bu. Itu dokter Richard sudah datang, jadi proses selanjutnya akan di lakukan oleh dokter Richard. Sementara itu, sekarang adik bayinya saya bawa untuk dibersihkan dulu," jelas suster itu sangat ramah.


"Apa nggak bisa suster aja yang nanganin saya sampai selesai?" tawar Kirana penuh harap.

__ADS_1


Suster itu hanya menggelengkan kepalanya dengan seuntai senyum. Kemudian terlihat Richard mulai masuk, mendadak suasana di ruangan itu jadi dingin, sedingin kutub utara.


"Maaf permisi," ucapnya seraya mulai melakukan tugasnya, tanpa memperhatikan Kirana sedikitpun. Hal itu justru membuat Kirana merasa lega.


"Sudah selesai, nanti anda akan di antar ke ruang rawat inap. Selama menunggu petugas yang akan mengantar anda, saya sarankan anda jangan banyak bergerak dulu.


Dan untuk bayinya nanti juga akan diantar jika sudah selesai dimandikan. Kebetulan berat badan bayinya sudah normal, meskipun lahir di usia 34 minggu. Jadi tidak perlu penanganan lanjutan.


Apakah ada yang di tanyakan? Jika tidak ada, saya pamit permisi. Nanti kita bertemu lagi kalau anda sudah dipindahkan diruang rawat inap. Permisi," Richard keluar ruangan.


Sudah 30 menit Kirana berbaring menunggu petugas yang akan mengantarnya, namun petugas itu tak kunjung datang. Akhirnya, ia memutuskan untuk merubah posisinya menjadi duduk. Lalu turun dari tempat tidurnya.


Di saat yang bersamaan, ada suster yang masuk ke ruangannya sambil membawa obat untuk Kirana minum.


"Aduh, ibu kenapa sudah berjalan-jalan aja? Itu jahitannya belum kering, Bu. Tolong jangan banyak gerak dulu."


"Saya bosen, sust. Bisa nggak kalau saya malam ini juga pulang? Toh saya juga sudah bisa jalan kan?" tanyanya.


Sebenarnya ia bukan bosan, tapi malas saja jika harus bertemu Richard lagi.


"Nggak bisa, Bu. Sesuai prosedur, ibu harus di rawat inap dulu. Setidaknya satu malam ini. Karena bayinya harus sering-sering kita kontrol.


Lebih baik sekarang ibu, minum obatnya dulu. Setelah itu kami akan antar ke ruang rawat inapnya,"


Mau tak mau, Kirana terpaksa mengikuti saran dari suster itu.


-----

__ADS_1


Di ruang rawat inapnya, Kirana memilih ruangan VVIP. Karena ia ingin memberikan kenyamanan untuk buah hatinya itu. Ia tak ingin buah hatinya terganggu oleh suara berisik.


Sambil menunggu kedatangan buah hatinya yang akan di antar ke kamarnya, Kirana mengecek ponselnya. Ternyata ada banyak panggilan tak terjawab dari Hendrik. tapi tak ada pesan satupun yang ia kirim.


__ADS_2