Sakitnya Menikah Denganmu

Sakitnya Menikah Denganmu
Bab 9. Aku Atau Dia


__ADS_3

"Harus berapa kali aku katakan sama kamu kalau aku masih cinta sama kamu, Mas!" bentak wanita itu.


"Kok suaranya seperti nggak asing ya? Apakah dia Sintya?" gumam Kirana dari balik pintu ruangan Hendrik.


"Aku juga masih cinta sama kamu! Tapi semua sudah terlambat!" ucap Hendrik dengan sangat lantang.


"Belum ada yang terlambat! Kalian belum menikah, kalian hanya baru daftar pranikah saja!" sanggah wanita itu tak kalah lantang.


"Tapi dia sedang hamil anakku sekarang."


"Suruh dia gugurin dan beri dia uang yang banyak, agar dia mau pergi jauh dari kita setelah ini!"


"Nggak bisa! Aku nggak mau minta dia buat gugurin darah dagingku sendiri. Apalagi mamaku memang sudah lama ingin punya seorang cucu."


"Berarti selama ini kamu hanya mempermainkan aku!"


"Andai kamu waktu itu mau ikut keyakinanku, nggak akan mungkin terjadi masalah seperti ini. Tapi lihatlah sekarang, di saat aku sudah akan menikah dengan Kirana, kamu malah datang dan bilang siap ikut ke keyakinanku.


Kamu pikir kamu nggak egois? Kamu nggak kasihan dengan sahabatmu itu jika dia harus kehilangan bayinya? Dia yang saat itu menolongku dan mengantarkan aku pulang. Padahal dia tak tau sama sekali apartemenku dimana. Tapi dia beranikan diri untuk mengambil kartu namaku di dalam dompet."


"Lebih baik sekarang kamu pulang saja. Kita sama-sama lupakan semua yang sudah pernah terjadi di antara kita." imbuh Hendrik.


"Tapi kita juga sudah pernah tidur bersama, Mas! Bahkan kesucianku juga kamu yang dapat!"


Degh!


"Astaga, kabar buruk apalagi ini. Kenapa baru sekarang aku tau semua ini?" Kirana terduduk lemas di depan pintu.


"Saat itu kamu yang memaksa. Kamu yang kasih aku obat perangsang! Agar aku mau berhubungan badan denganmu.


Kamu yang menjebak aku agar aku buat kamu hamil, lali aku mau ikut ke keyakinanmu!


Tapi ternyata Tuhan baik, Tuhan nggak kasih kamu hamil seperti Kirana saat ini. Jadi aku nggak perlu tanggung jawab apapun padamu. Kalau masalah kesucianmu yang hilang itu karena ulahmu sendiri. Sangat berbeda dengan kasusku dan Kirana!" beber Hendrik dengan penuh amarah.


"Apa kamu yakin kalau yang ada di perut Kirana itu anakmu? Aku tau Kirana itu perempuan murahan yang suka gonta ganti pasangan. Jadi aku curiga kalau itu bukan anakmu."


BRAK!

__ADS_1


Pintu dibuka secara kasar oleh Kirana. Hingga semua mata yang ada di dalam ruangan itu kini beralih menatap Kirana dengan mata membulat.


"Kirana?" ucap Hendrik gugup. "Kamu sejak kapan ada di situ?" sambungnya.


Berbeda dengan Sintya yang justru menatap sinis ke arah Kirana. Lalu tiba-tiba ia berlari mendorong tubuh Kirana.


"Ugh!"


"Ran!" dengan sigap Hendrik menangkap tubuh Kirana yang hampir menyentuh lantai.


"Gila kamu ya? Kamu hampir saja membuat Kirana celaka!" amuk Hendrik sembari membantu Kirana berdiri.


"Iya, aku gila karena cintaku sama kamu, Mas!" ucap Sintya berapi-api.


"Mas, kalau kamu memang mau kembali lagi dengan Sintya, aku bakal mundur." ucap Kirana seraya melihat ke Sintya.


"Bagus! Untungnya kamu sadar diri sekarang. Kamu itu bukan saingan yang tepat buat aku! Jangan kamu merasa sudah menang, hanya gara-gara kamu satu keyakinan dengan Mas Hendrik.


Karena aku yakin kalau kamu saat ini sedang hamil anak laki-laki lain! Ngaku kamu!" bentaknya pada Kirana.


PLAK!


PLAK!


"Kamu! Beraninya kamu menampar aku perempuan jelek!" Sintya hendak membalas menampar Kirana. Sayangnya Kirana lebih sigap, jadi dia bisa menangkis tangan Sintya.


"Jaga mulutmu, Sin. Ternyata ucapan dan hatimu tak secantik penampilanmu," Kirana mundur satu langkah, lalu menunjuk Sintya dari atas hingga bawah.


"Aku kira setelah kita bersahabat beberapa tahun belakangan ini, aku sudah cukup mengenal kepribadianmu seperti apa. Ternyata aku belum tau aslinya kamu. Tega kamu memfitnah aku! Apa maksudmu tadi mengatakan kalau aku suka gonta-ganti pasangan dan selalu tidur dengan mereka?


Apa begini caramu merebut simpatik dari Mas Hendrik? Nggak bisakah kamu terbang tanpa menjatuhkan mantan sahabatmu ini?" Kirana menepuk dadanya.


Hendrik hanya duduk diam menyaksikan Kirana yang sedang mengeluarkan uneg-uneg di dalam hatinya.


"Kamu nggak pantes mendapatkan Mas Hendrik! Kamu pasti hanya menginginkan hartanya saja kan?" tuduh Sintya.


"Lebih baik kamu ngaca! Bukannya dari dulu kamu selalu bilang sama aku kalau kamu harus punya suami yang sudah mapan? Punya bisnis, punya rumah, punya mobil, dan punya segalanya?" Kirana membalikkan ucapan Sintya dengan santai.

__ADS_1


Kali ini Kirana memang sudah tak mau memperlihatkan rasa sedih dan kecewanya lagi. Dia sadar, kalau dia hanya diam saja pasti akan semakin diinjak oleh Sintya.


"Sudah semakin berani kamu sekarang!" Sintya mendorong bahu Kirana.


Namun Kirana segera mengibaskan tangan Sintya dari bahunya.


"Mas, sekarang lebih baik kamu putuskan. Kamu mau pilih tetap melanjutkan pernikahan kita ini. Atau kamu pilih balik lagi dengan dia?" Kirana menatap Hendrik dengan perasaan lelah.


"Jika kamu pilih melanjutkan pernikahan kita ini, aku harap hubungan dan pertemuan kalian berdua terakhir hari ini saja. Aku nggak mau kalian bertemu lagi setelah ini.


Tapi jika kamu pilih mau balik lagi sama dia. Aku akan mundur, aku akan pergi sejauh mungkin yang kalian nggak akan pernah bisa bertemu dengan aku lagi.


Jadi aku harap kamu bisa kasih keputusan iti sekarang juga di hadapan kami berdua, Mas." pinta Kirana dengan tegas.


"Aku kasih kamu waktu berpikir beberapa menit dari sekarang. Karena aku juga sudah lelah dengan drama ini," imbuh Kirana lagi.


Lalu Kirana kembali duduk dengan anggun di sofa sambil memainkan ponselnya. Berbeda dengan Sintya yang justru semakin memepet terus Hendrik.


"Aku janji, Mas. Aku bakal ikut keyakinanmu. Kalau perlu hari ini juga kita datang ke gereja," rayu Sintya sembari duduk berlutut di kaki Hendrik.


"Aku nggak mau ajak kamu ke geraja. Kalau memang kamu mau ikut ke keyakinanku, silahkan kamu datang sendiri ke gereja. Silahkan kamu pelajari dulu tentang keyakinanku saat ini.


Buktikan kalau kamu memang ikut keyakinanku itu karena hatimu. Bukan hanya karena cintamu sama aku."


"Tapi aku kan nggak pernah datang ke gereja, jadi gimana aku bisa tau?" sanggah Sintya cepat.


"Kamu punya mulutkan? Kamu bisa bertanya pada orang-orang di luar sana. Jangan hanya gunakan mulutmu itu untuk memfitnah orang," sinis Hendrik.


"Kok kamu jadi berubah gini sih, Sayang? Pasti ini karena ilmu pelet dari Kirana!"


Kirana yang mendengar fitnahan itu hanya mengelengkan kepala sambil membuang nafas dari mulutnya.


"Aku bukan pacarmu. Jadi stop panggil aku dengan sebutan 'Sayang'."


"Okeh, aku akan datang ke gereja dan cari tau setelah pulang dari sini," jawab Sintya penuh dengan keyakinan.


"Baiklah, Mas. Aku rasa sudah cukup waktu yang aku beri untukmu memikirkannya. Tolong beri jawaban sekarang juga. Kamu pilih aku atau dia sekarang?" Kirana menyela obrolan mereka.

__ADS_1


__ADS_2