Sakitnya Menikah Denganmu

Sakitnya Menikah Denganmu
Bab 105.


__ADS_3

"Ran, kamu yakin akan menjual semua toko bungamu? Apa nggak sayang? Di sana kan banyak kenangan bersama Tante Linda?" tanya Richard kala mereka sudah kembali lagi ke ruang rawat Kirana.


"Berat sebenarnya, Kak. Tapi apa boleh buat. Semua juga demi kebaikanku dan Arshinta." sahut Kirana seraya merapikan baju-bajunya. Karena Kirana memang sudah di ijinkan untuk pulang saat ini.


"Baiklah, kalau memang itu sudah jadi keputusanmu. Aku akan selalu mendoakan yang terbaik bagimu."


"Tapi, Ran ...."


Kirana melihat sekilas Richard, tapi tangannya masih terus berkutat dengan barang-barangnya. "Tapi apa lagi, Kak?"


"Kamu sudah yakin dengan keputusanmu untuk bercerai dengan Hendrik?" tanyanya ragu, semabari duduk di sofa yang ada si ruangan itu.


Kirana juga ikut duduk sambil menghela nafas panjang. Ia menghentikan kegiatannya, karena memang semua sudah selesai di kemas. "Yakin, Kak. Keputusanku soal itu juga sudah bulat." jawabnya mantap menatap lurus ke depan. Bayangan hidup bahagia bersama Arshinta sudah menjadi tujuannya.


"Semoga kamu bisa mendapatkan pengganti yang jauh lebih baik dari Hendrik nantinya. Aku juga turut prihatin karena rumah tanggamu harus berakhir dengan cara seperti ini," tutur Richard. Padahal dalam hatinya ia sangat ingin sekali bersorak gembira.


Bagaimana tidak, dulu saat ia berusaha keras mendapatkan Kirana kembali, ternyata Kirana justru lebih memilih untuk memaafkan Hendrik. Sedangkan sekarang saat ia berusaha untuk mengikhlaskan Kirana, ternyata takdir mempertemukan mereka kembali. Dan justru Kirana sendiri yang akan mengajukan gugatan cerai untuk Hendrik.


"Tapi aku nggak ada keinginan untuk menikah lagi, Kak. Aku hanya ingin fokus membesarkan Arshinta."


Seperti dilempar dari ketinggian yang sangat tinggi. perasaan Richard yang tadinya sempat merasa punya harapan, kini harus dipatahkan kembali.


Namun bukan Richard namanya jika menyerah begitu saja. Di otaknya masih menyimpan berbagai macam cara untuk mendapatkan apa yang dia mau. Tentunya sekarang dengan cara yang halus.


"Tapi Arshinta butuh sosok papa, Ran. Kamu nggak mungkin bisa menjadi dua sosok figur orang tua sekaligus untuk Arshinta." usul Richard, berharap Kirana mau merubah keputusannya untuk satu hal ini.

__ADS_1


Kirana tersenyum tipis. "Aku rasa Arshinta saat ini, dan seterusnya hanya butuh aku, Kak. Aku juga yakin, jika aku bisa menjadi sosok mama dan papa sekaligus untuk Arshinta. Lagian belum tentu juga kan jika aku menikah lagi, suami baruku mau menerima anakku?"


"Jangan begitu, Ran. Itu namanya kamu mendahului takdir. Nggak bagus itu." sewotnya.


"Iya, deh. Intinya mulai sekarang aku pasrahkan semua takdir hidupku sama Tuhan aja, Kak. Apa pun yang terjadi nanti, aku percaya semua pasti yang terbaik untuk kita semua. Termasuk perpisahanku dengan Mas Hendrik sekarang ini."


Dengan sangat terpaksa, kali ini akhirnya Richard ikut tersenyum. Tapi dalam hatinya masih ingin berusaha mendekati dan mengambil hati Arshinta nantinya. Siapa tau, dengan bisa mengambil hati anaknya, hati mamanya juga ikut luluh nantinya.


"Oh iya, untuk pengacara yang aku bilang tadi pagi, sudah aku dapatkan, Ran. Nanti tinggal kamu ceritakan bagaimana kejadiannya pada dia." ujarnya saat mereka berjalan menuju lobby rumah sakit.


Kirana memilih pergi ke hotel dengan menggunakan taksi online. Ia tak enak jika harus terus menerus merepotkan Richard. Tadi pagi sampai siang, Richard sudah mengorbankan waktunya dan membantu Kirana agar bisa keluar dari rumah sakit. Masa sekarang Richard harus ijin lagi? Memangnya ini rumah sakit milik orang tuanya.


"Sekali lagi, makasih banged ya, Kak. Jujur aku nggak tau harus bilang apa lagi sama, Kakak. Tapi aku harap, Kakak jangan pernah berharap balasan lebih ya dari aku. Karena kamu sudah aku anggap sebagai Kakakku mulai saat ini," sahut Kirana ramah. Tentu ia juga harus selalu mengingatkan Richard untuk hal satu ini.


"Kamu sudah booking hotel? Atau kamu sebaiknya tinggal di apartemenku aja? Biar kamu nggak keluar banyak biaya lagi?" tawar Richard kala Kirana sudah siap untuk masuk ke dalam mobil.


"Aku tinggal di hotel saja, Kak. Makasih sebelumnya sudah menawarkan tumpangan. Tapi aku takut jika akan menambah masalah lagi." Kirana menolak dengan ramah. Padahal sebenarnya ia masih trauma dengan kejadian masa lalu. Di lain sisi ia juga tak mau terlalu banyak hutang budi terhadap Richard.


Setelah pintu mobil ditutup, Richard masih bergeming di tempatnya sambil terus memperhatikan mobil yang mulai berjalan. Tetapi tiba-tiba netra Kirana menangkap satu sosok yang sangat ia kenal, sedang berjalan ke arah Richard.


"Itu kan Mas Hendrik? Kenapa dia bisa sampai di rumah sakit ini? Jangan-jangan dia tau kalau aku melahirkan di sini. Tapi siapa yang memberitahu dia? Untung saja aku sudah masuk ke dalam mobil. Coba kalau tadi dia sempat melihat aku mengendong Arshinta. Bisa panjang urusannya." batin Kirana lega.


Sepanjang perjalanan menuju hotel, Arshinta masih tertidur pulas. Padahal Kirana sempat khawatir jika Arshinta akan rewel. Tapi ternyata tidak sama sekali.


"Maaf kan mama ya, Nak. Bukan maksud mama untuk membuatmu terpisah dari papamu." gumam Kirana lirih. Ia takut jika supir taksi online mendengar ucapannya.

__ADS_1


"Mama janji, mama akan selalu ada untuk kamu. Mama akan berikan semua yang mama bisa untuk kamu, Nak."


"Andai Kakek nenekmu masih ada, mereka pasti bahagia sekali, Nak. Kamu sangat cantik dan mengemaskan."


...****************...


Setibanya di hotel, Kirana segera menggantikan popok serta baju Arshinta agar ia merasa nyaman. Ini adalah pengalaman pertamanya. Meskipun sedikit mengalami kesulitan, namun Kirana terus berusaha.


1 jam kemudian, barulah ia selesai dengan segala keriwehan mengurus Arshinta. Bayi mungil itu kini telah kembali terlelap.


Tetapi baru saja Kirana ingin meluruskan punggungnya, Arshinta kembali menangis. Saat di cek, ternyata Arshinta kembali buang hajat.


"Ya Tuhan, ternyata begini ya rasanya jadi single parent. Apakah aku sanggup?" ratapnya. Lalu ia berjalan ke arah toilet. Arshinta dibiarkannya menangis di atas tempat tidur.


Kirana menarik nafas panjang lalu menghembuskannya secara perlahan. Ia melakukan itu berulang kali, seraya menatap pantulan wajahnya di cermin toilet.


"Tenang Kirana, kamu pasti bisa. Kamu mama muda yang hebat. Semua ini juga demi Arshinta," ia berusaha mensugesti dirinya sendiri agar tetap tenang dan waras.


Beberapa saat kemudian, ia kembali menghampiri Arshinta yang masih saja menangis. "Duh, anak mama sayang. Jangan nangis ya, ini mama mau gantiin popoknya. Habis ini kamu bisa tidur dengan nyaman lagi. Maaf ya kalau mama lama gantiin popoknya," tuturnya lembut.


Sebisa mungkin Kirana tetap mencoba tersenyum kala berbicara pada Arshinta. Ia tak ingin memperlihatkan kesedihannya. Ya, meskipun ia tau jika Arshinta akan tetap bisa merasakan kesedihan yang ia rasakan.


Tring!


Satu notifikasi pesan masuk ke ponselnya. Segera ia menyelesaikan ritualnya untuk Arshinta. Setelah Arshinta tertidur lagi, ia gegas meraih ponselnya. Ternyata ada pesan masuk dari Richard.

__ADS_1


__ADS_2