
Kirana bangkit berdiri, "Nggak mungkin kalau sudah selama ini tapi belum ada hasil sama sekali, Tan. Tante pasti bohong kan sama Kirana?" desak Kirana.
"Buat apa Tante bohong sama kamu? Apa untungnya buat Tante? Gaji Om kamu aja jauh lebih banyak dari hasil penjualan sawit!" balas Tante Linda tak terima karena sudah dituduh berbohong.
"Kamu tuh harusnya berterima kasih sama Tante yang sudah mau menjaga sertifikat serta mengawasi perkebunan milik orang tuamu! Ini bukannya berterimakasih, malah menuduh yang bukan-bukan. Sakit hati Tante dengarnya!" bentak Tante Linda.
Kali ini Tante Linda mulai meninggikan nada bicaranya sambil berkacak pinggang dan menunjuk-nunjuk ke arah wajah Kirana. Membuat Kirana takut kalau-kalau sampai Hendrik mendengar keributan ini. Bagaimanapun juga, Kirana nggak mau kalau sampai Hendrik tau, bahwa sebenarnya Kirana juga berasal dari keluarga kaya.
Lalu ia segera berjalan mendekati Tante Linda sembari mengelus lengannya. "Maaf, kalau Tante merasa seperti Kirana menuduh Tante. Tapi coba Tante jujur, pasti ada kan hasil dari penjualan sawit itu?" Kirana mencoba merendahkan nada bicaranya. Siapa tahu Tante Linda mau bicara jujur.
Andaikata uang dari hasil panen sawit, kemarin sudah habis terpakai oleh Tante Linda, Kirana juga nggak akan marah. Tapi jangan berbohong dengan mengatakan kalau nggak ada hasil sama sekali.
"Kirana nggak bakal minta semua uang itu kok, Tan. Kirana hanya mau minya sebagian aja. Karena saat ini Kirana butuh uang untuk kabur dari Mas Hendrik. Atau setidaknya untuk mengurus sertifikat yang kata tante hilang itu,"
Akhirnya Tante Linda mau menoleh, tiba-tiba ia tampak sedih. Seakan-akan dia telah menyembunyikan sesuatu yang besar dari Kirana.
"Ran, sebelumnya maafkan Tante ya," Tante Linda memeluk erat Kirana, membuat Kirana menjadi makin heran dengan perubahan sikap Tante Linda.
"Kirana sudah maafin Tante kok. Tante jangan sedih lagi, ya. Karena bagaimanapun sekarang Tante lah orang tua Kirana dan Mas Johan. Meskipun saat ini Kirana nggak tau dimana keberadaan Mas Johan," sahut Kirana seraya melepas pelukannya.
"Bukan, itu yang Tante maksud Ran. Tapi, ...." Tante Linda terlihat mengatur nafasnya.
Kemudian Kirana mengajak Tante Linda untuk kembali duduk, agar lebih santai bicaranya. "Tapi apa, Tan? Jangan buat Kirana penasaran."
"Sebenarnya sertifikat tanah dan perkebunan orang tuamu sudah lama di ambil paksa oleh Johan, Kakak angkatmu itu. Waktu itu ternyata dia mendengar semua pembicaraan kita.
Jadi setelah empat puluh hari meninggalnya orang tuamu, Johan datang kemari. Lalu meminta seritikat itu, awalnya Tante dan Om sudah menolak untuk memberikannya. Tapi ternyata Johan justru mengancam akan membunuh kami berdua saat itu."
"Tapi kenapa Tante nggak cerita sama aku saat itu? Kenapa baru sekarang Tante cerita?" sesal Kirana lalu menunduk.
"Bukan Tante nggak mau kasih tau kamu, Ran. Tapi Tante juga dilarang Johan untuk ngasih tau kamu. Karena Johan berencana akan mengadaikan atau menjual semuanya. Tanpa sepengetahuan kamu. Dan sekarang, karena kamu menuduh Tante yang bukan-bukan, jadi Tante beranikan diri untuk menceritakan yang sebenarnya."
__ADS_1
Kirana menggelengkan kepala tanda tak percaya dengan ucapan Tante Linda. Bagi Kirana itu terlalu jahat jika Johan sampai benar-benar melakukan hal seperti itu.
"Tapi kan sertifikat itu sudah atas namaku, Tan? Jadi nggak mungkin kalau Mas Johan bisa menjual atau mengadaikannya tanpa persetujuanku," elak Kirana mencoba berfikir positif.
"Mungkin secara nggak sadar, kamu dulu pernah diminta untuk tanda tangan suatu berkas sama Johan? Coba kamu ingat-ingat dulu. Tante nggak bohong kali ini sama kamu, Ran.
Kamu anak baik, jadi nggak tega rasanya kalau Tante berbuat jahat sama kamu. Apalagi kamu sering bantu Tante dulu," Tante Linda membelai lembut pipi Kirana yang kini mulai basah oleh air mata.
"Dulu Mas Johan memang pernah meminta Kirana untuk menandatangani suatu berkas. Tapi itu katanya sebagai penjamin karena Mas Johan akan mengambil kredit rumah yang saat ini dia tempati."
"Dia bohong sama kamu. Rumah itu dia beli secara tunai. Bahkan mobil, serta yang lainnya juga di beli secara tunai, Ran."
Degh.
Kirana merasa ucapan Tante Linda ini ada benarnya juga. Waktu itu Johan belum bekerja di manapun. Jadi mana mungkin dia bisa mengambil cicilan rumah serta mobil? Pasti bakal ditolak oleh pihak finance dan bank.
Bahkan waktu itu Johan juga memberikan uang pada Kirana sebanyak seratus juta rupiah. Dengan alasan itu uang dari hasil dia membantu temanya menjual properti.
"Masa kamu nggak curiga sama sekali saat tiba-tiba Johan bisa bergelimamg harta? Padahal dia hanya seorang pengangguran.
"Kirana hanya berusaha berpikir positif aja kala itu, Tan. Kirana nggak mau berpikiran buruk sama Kakak angkat Kirana."
"Sudah jadikan ini pelajaran buat kamu. Dengan siapapun, kamu jangan mudah percaya. Kamu harus selidiki terlebih dahulu. Tante yakin, kamu pasti akan dapatkan jauh lebih baik. Ikhlaskan semua yang sudah dirampas oleh Johan.
Toh dengar-dengar sekarang dia sudah ditangkap karena menggunakan obat-obatan terlarang kan? Anggap itu karma buat dia yang sudah berbuat jahat sama kamu."
"Kirana benar-benar masih nggak nyangka ternyata Mas Johan bisa seperti itu."
"Itu juga salah satu alasan Tante sama Om nggak hadir di acara nikahan kamu kemarin. Karena Tante sama Om sudah nggak mau bertemu dan terlibat hubungan apapun lagi dengan Johan."
Kirana menganggukan kepalanya lalu mulai menghapus air matanya.
__ADS_1
"Ran! Kamu di mana? Kenapa lama sekali sih ke kamar mandinya?" terdengar suara Hendrik yang seperti sedang mencari-cari keberdaan Kirana.
"Sudah, sekarang kita keluar dulu yuk. Daripada suamimu jadi curiga sama kamu," ajak Tante Linda.
Lagi-lagi Kirana menganggukakan kepalanya. Namun saat akan berdiri, Tante Linda justru mengajak Kirana bicara kembali.
"Yang penting kamu harus ingat pesan Tante tadi. Jangan pernah punya niatan untuk kabur dari suamimu, apapun alasannya itu.
Ujian setiap rumah tangga itu pasti ada aja. Apalagi lima tahun pertama, mulai dari ujian ekonomi, kesetiaan, dan lain sebagainya.
Bahkan rumah tangga Tante sama Om aja yang sudah puluhan tahun, hingga kini masih ada aja masalah yang datang silih berganti. Tapi apa Tante menyerah? Tentu tidak, karena Tante percaya segala sesuatu yang dari Tuhan, pasti itu terbaik buat kita.
Mau sesakit apapun ujian itu, percayalah semua pasti akan indah pada waktunya. Jadi lebih baik, mulai sekarang kamu banyak-banyak berdoa dan bersyukur. Doakan suamimu agar terketuk pintu hatinya, dan bisa menjadi lebih bijaksana lagi, lebih sayang sama kamu dan anak-anak kalian kelak.
Fokus dengan kehamilanmu, abaikan semua hal yang bisa membuatmu stress. Bahagiakan dirimu sendiri terlebih dahulu. Itu semua juga demi anakmu. Jangan menyerah ya, Ran. Tuhan nggak suka sama orang yang mudah menyerahbdan putus asa.
Nggak ada yang namanya pasangan itu cocok seratus persen, ada kalanya kita pasti beda pendapat. Tapi bukan berarti dengan kita beda pendapat, lalu menjadi alasan untuk kita berpisah.
Mau sampai kapanpun dan dengan siapapun, kita pasti akan punya perbedaan pola pikir. Mungkin juga saat ini pola pikir kita berbeda?"
Kirana segera memeluk erat Tante Linda dengan isakan pelan. Kini ia merasa kalau Mamanya lah yang sedang menasehatinya.
"Makasih, ya Tan. Kirana bersyukur punya Tante yang sangat bijaksana dan sayang sama Kirana. Jangan pernah tinggalin Kirana."
"Oh iya satu lagi, mau semarah apapun kamu sama suamimu, jangan pernah abai sama tugas dan kewajibanmu. Tetap layani dia, sesuai dengan janji nikahmu di hadapan Tuhan.
Jadilah penolong yang sepadan untuknya. Berbuat baiklah, seperti kamu juga ingin di perlakukan baik.
Kalaupun suamimu yang ingkar, biarlah nanti Tuhan sendiri yang akan menegur bahkan menghukumnya. Kita sebagai manusia tak pantas memberikan hukuman apapun," tutur Tante Linda dengan sangat tulus di sertai senyuman.
tok... tok... tok...
__ADS_1
"Ran, apa kamu dan Tante Linda ada di dalam?" terdengar Hendrik mulai mengetuk pintu kamar.
"Tuh, suamimu dah nyari lagi. Takut kamu hilang sepertinya dia," ledek Tante Linda sambil mencolek dagu Kirana.