Sakitnya Menikah Denganmu

Sakitnya Menikah Denganmu
Bab 39.


__ADS_3

Hendrik yang sadar telah salah berucap, akhirnya memilih untuk diam. Memang benar yang di katakan Kirana, bahwa semua uang miliknya, kini juga bisa di katakan milik Kirana. Tetapi bagi Hendrik juga serba salah jika tak memberikan uang sesuai yang Judika minta. Karena Bu Mery pasti akan marah padanya. Ia tak ingin membuat Bu Mery marah, lantaran modal dari rumah makan ini dulunya juga dari Bu Mery.


Ia berjalan mendekati Kirana lalu memegang kedua lengannya. "Sudahlah, Ran. Jangan terlalu memperbesar masalah yang sebenarnya sepele. Aku hanya minta saat ini kamu sabar dulu. Akan ada saatnya aku berhenti mengurusi hidupnya," tutur Hendrik dengan sangat lembut.


"Huh!" Kirana membuang nafas kasar. "Sabar sampai kapan? Nggak bisa aku seperti ini terus, Mas! Bahkan kamu nggak bisa tegas sama adikmu di saat dia mengejekku tadi! Kalau begini caranya aku mau kasih kamu pilihan," tawar Kirana.


Hendrik mengangkat satu alisnya. "Apa lagi sih, Ran?"


"Ijinkan aku kerja, Mas. Dan tolong kembalikan ponselku. Kamu nggak bisa memperlakukan aku seperti ini. Kamu aja masih bisa bebas melakukan hal-hal sesuai keinginanmu. Kenapa aku nggak boleh?


Atau, aku akan tetap diam di apartemen, tapi kamu stop kasih uang ke Judika. Minta dia untuk bekerja kalau dia mau uang. Bagaimana? Kamu pilih yang mana?" ujarnya dengan santai lalu kembali duduk di sofa.


"Nggak bisa, Ran. Apa kata orang nanti kalau mereka tau aku membiarkanmu bekerja? Apalagi kamu dalam keadaan hamil begini. Kalau soal ponsel, akan aku berikan nanti."


Sudah Kirana duga, kalau Hendrik tak akan membiarkan Kirana bekerja di luar.


"Lalu apa kata orang kalau mereka tau bagaimana sikap aslimu? Dan bagaimana caramu memperlakukan aku? Apa kamu nggak takut?" ledek Kirana.


"Sikapku yang bagaimana? Aku sudah berusaha memperlakukan kamu dengan baik kan? Semua kebutuhanmu juga sudah aku penuhin. Kurang apalagi?"


"Kurangnya rasa nyaman dan sikapmu untuk menghargaiku! Jadi tolong biarkan aku kembali bekerja, agar orang tua serta semua saudaramu tak memandang rendah aku.


Agar mereka tau kalau aku juga bisa berpenghasilan. Nggak seperti yang mereka bilang selama ini, kalau aku hanya mau memanfaatkan kamu saja," balas Kirana dengan penuh penekanan.


"Baiklah, aku minta maaf kalau kamu kurang nyaman. Aku akan berusaha lebih baik lagi untuk jadi suamimu. Aku sayang sama kamu, Ran.Tapi kalau soal kamu mau kembali bekerja, kita bahas nanti di rumah ya," tuturnya lembut seraya mengelus punggung tangan Kirana.

__ADS_1


Kirana mengangguk setuju dengan ucapan Hendrik. Lagipula saat ini perutnya juga sudah mulai lapar. Mungkin efek marah-marah dengan Judika si benalu tadi.


"Anak Papa mau makan apa? Biar Papa minta di bawakan ke sini," tanya Hendrik mengelus perut Kirana yang mulai membuncit. Ia telah mengubah posisinya jadi berjongkok di depan Kirana.


"Nggak perlu, Mas. Biar aku aja yang turun ke bawah. Aku pengen ngeliat bagian dapurnya. Kan aku dari pertama kesini belum pernah masuk dapur," lalu ia bangkit berdiri.


Padahal itu hanya alasan Kirana saja. Yang sebenarnya ia masih penasaran dengan kedatangan Sintya tadi. Ia bermaksud ingin mencari karyawan yang berbicara dengan Sintya dan mengintrogasinya bila perlu.


Namun langkahnya dihentikan oleh Hendrik, "Kamu jangan aneh-aneh deh, Sayang. Sudahlah kamu duduk diam di sini aja, biar aku yang pesan ke mereka," cegah Hendrik, karena ia merasa curiga dengan gelagat Kirana.


Kenapa baru sekarang Kirana penasaran dengan bagian dapur? Padahal ini bukan yang pertama kalinya ia datang kemari. "Pasti ini ada hubungannya dengan ia yang tadi melihat keberadaan Sintya di bawah," tebak Hendrik dalam hatinya.


"Ya sudah aku nggak mau makan," Kirana menghentakkan kakinya lalu berjalan kembali ke sofa.


"Huh!" Hendrik membuang nafas seraya memutar bola matanya. "Okeh, terserah kamu aja deh kalau gitu. Yang penting kamu bahagia," ucap Hendrik dengan senyum yang dipaksakan.


Setibanya di lantai satu, ia mengedarkan pandagannya ke setiap sudut ruangan guna mencari seseorang yang wajahnya masih samar-samar ia ingat.


"Bu Kirana mau pesan makan apa? Tadi Pak Hendrik sudah menghubungi saya," sapanya sopan.


"Nanti dulu ya, Mbak. Saya masih mau mencari karyawan yang mau saya tanya-tanya," titah Kirana yang masih terus celingukkan kesana kemari.


"Karyawan yang mana ya, Bu? Apa dia berbuat salah sama Ibu? Ehm, ciri-cirinya bagaimana? Mungkin saya bisa bantu," cecar karyawan itu penasaran.


Namun Kirana enggan menjawab, justru ia menepuk bahu si Mbak dua kali, lalu melangkah menjauh. Membuat karyawan itu semakin penasaran. Lalu diam-diam ia mengikuti langkah Kirana.

__ADS_1


Sudah mengelilingi semua sudut rumah makan ini, tetapi orang yang Kirana cari tak juga ia temukan. Akhirnya ia memilih ke arah dapur untuk memesan makanan yang ia mau.


Sedangkan Hendrik yang berada di lantai dua sangat sibuk dengan ponselnya. Ia terlihat sangat serius berbalas pesan singkat dengan seseorang di seberang sana.


Hingga saat kirana sudah duduk di depannya pun, ia tak menyadarinya.


"Kamu lagi ngapain sih, Mas? Serius banged sama ponselmu, sampai aku datengpun kamu nggak nyadar!" tegur Kirana yang sedang berjalan ke arah Hendrik.


Ia yang masih merasa kesal karena tak bisa menemukan orang yang ia cari di bawah, kini bertambah kesal lantaran Hendrik malah sibuk sama ponselnya sendiri.


"Oh, ini lagi ngebahas soal pertemuan nanti malam di apartemen," sahut Hendrik, namun mata dan tangannya masih tertuju pada ponselnya.


"Di apartemen kita? Nanti malam? Kok kamu nggak bilang?"


Hendrik meletakkan ponselnya, lalu memegang kedua tangan Kirana. "Iya, di apartemen kita. Bukan aku yang nggak bilang sama kamu, tapi rencana ini dadakan. Baru aja kita rencanain.


Ini semua karena mereka kan nggak aku undang di acara nikahan kita kemarin. Tapi karena ulah kamu yang posting foto, akhirnya sekarang mereka nuntut untuk aku adain acara kecil-kecilan.


Ya sudah, aku pikir mungkin lebih baik acaranya di apartemen aja. Kan lebih privasi daripada di rumah makan ini," ungkap Hendrik panjang lebar lalu kembali mencium punggung tangan Kirana.


"Oh," Kirana melepaskan tangannya dari Hendrik lalu kembali duduk.


Entah kenapa perlakuan Hendrik yang lembut dan romantis ini tak bisa membuat Kirana merasa bahagia. Mungkin ini yang di namakan mati rasa.


"Kamu kok nggak bahagia sih, Sayang? Apa aku ada salah?" Hendrik merasa binggung dengan respon yang Kirana berikan.

__ADS_1


Padahal yang ada di bayangan Hendrik, Kirana bakal bahagia dan berhambur memeluknya. Tapi kenyataan justru berbanding terbalik.


__ADS_2