Sakitnya Menikah Denganmu

Sakitnya Menikah Denganmu
Bab 32.


__ADS_3

Kirana yang mendengar pintu di buka semakin merapatkan lagi selimut yang melilit di badannya.


Hendrik gegas duduk di samping Kirana, lalu menarik bantal yang menutupi wajahnya. "Buruan bangun lalu cuci mukamu itu agar tak terlihat kalau kamu habis menangis. Di luar ada Bapak sama Ibu Gembala lagi kunjungan. Aku harap kamu nggak memasang wajah sedihmu itu di depan mereka!


Oh iya, satu lagi jangan sampai kamu cerita yang macam-macam sama mereka. Kalau sampai kamu cerita yang macam-macam, berarti kamu sudah membuka aibmu sendiri," Hendrik sedikit mengancam pada Kirana. Ia tak mau di pandang buruk oleh orang lain.


Kirana gegas turun lalu berjalan ke kamar mandi. Tak lupa ia juga mengganti pakaiannya lalu memakai make up minimalis agar tak terlihat pucat.


"Maaf Pak, Bu kalau sudah menunggu lama. Soalnya Kirana susah sekali di banguninnya tadi," ucap Hendrik kala mereka sudah duduk di ruang tamu.


"Oh, iya tidak masalah. Saya bisa mengerti kok, namanya orang hamil muda pasti bawaannya pengen tiduran terus.


Saya dulu juga begitu soalnya. Malah saya dulu dikit-dikit mual. Bau ini tidak bisa, bau itu tidak bisa. Sampai Bapak kepayahan, kasihan saya lihatnya. Cuma ya, karena Bapak cinta dan sayang sama saya, jadi ya itu bukan beban yang berat baginya," tutur Bu Gembala panjang lebar. Membuat Kirana bersyukur, karena ia tak sampai merasakan seperti itu.


Sedangkan Hendrik sendiri merasa tersindiri dengan ucapan Ibu gembala. Secara tidak langsung Ibu Gembala mengatakan kalau Hendrik merasa terbebani oleh kehamilan Kirana.


"Ah, saya juga Begitu, Bu. Saya sangat senang sekali membantu Kirana mulai dari menyiapkan makanannya serta selalu membuatnya bahagia," ucap Hendrik diiringi lirikan maut dari Kirana.


Begitupun dengan Ibu dan Bapak Gembala yang saling pandang. Entah mereka ada komunikasi secara batin apa. Namun akhirnya mereka ikut tersenyum demi menjaga perasaan Hendrik.


"Kirana makin gemuk ya, semenjak hamil. Pasti sangat bahagia sekali ya?" lagi-lagi Ibu Gembala memberi pertanyaan pada Kirana.


Beliau berharap Kirana mau bersuara, karena Ibu Gembala melihat Kirana seperti ingin menyampaikan sesuatu, namun tertahan.


"Sa ...." tiba-tiba pinggangnya terasa ada yang mencubit.


"Iya dong, Bu. Kan Kirana bahagia setelah menikah dengan saya." Hendrik segera momotong ucapan Kirana.


"Kami harap, rumah tangga kalian bisa langgeng. Kalau memang ada masalah, sebaiknya dibicarakan secara baik-baik dengan kepala dingin.


Jangan mudah mengumbar kesalahan pasangan pada orang lain. Kecuali jika kalian sedang melakukan konseling. Wajar kalau saling membuka kesalahan pasangannya untuk bisa mendapatkan solusi." tutur Pak Gembala dengan hati-hati.

__ADS_1


Hendrik langsung merangkul bahu Kirana, "Tentu, Pak. Rumah tangga kami baik-baik saja kok. Dan saya selalu membimbing Kirana untuk melakukan hal-hal yang positif. Ya meskipun kadang Kirana selalu membantah saya."


"Baiklah, kalau gitu kami mau pamit, karena sudah hampir malam juga. Tapi sebelumnya mari kita doa bersama terlebih dulu."


Setelah mereka berempat selesai berdoa, Kirana sengaja meminta Bapak dan Ibu Gembala untuk makan malam bersama di tempat mereka. Kirana berniat ingin berkonsultasi dengan mereka.


"Pak, Bu, bagaimana kalau kita makan malam bersama terlebih dahulu? Apalagi sekarang juga sudah hampir mendekati jam makan malam."


"Wah, terimakasih sekali sebelumnya. Baiklah, kami terima ajakannya," sahut Pak Gembala diiringi anggukan kepala oleh Ibu.


"Kalau begitu kami siapkan dulu makanannya ya, Pak, Bu," pamit Kirana lalu berjalan ke dapur.


Hendrik pun ikut menyusulnya.


"Apa maksudmu mengajak mereka makan di sini, Ran? Kamu mau pamer ke mereka kalau kami pintar masak?" ucap Hendrik sambil meremas lengan Kirana.


Kirana menatap tak suka ke arah lengannya yang di remas Hendrik. "Lepaskan, atau aku teriak?"


"Ck! Bisamu hanya mengancam saja, Mas! Kita lihat aja nanti, apakah aku akan tetap diam atau menceritakan pada mereka tentang tingkah lakumu itu." batin Kirana geram.


Kirana sudah tak mau ambil pusing lagi jika ada yang menganggap Hendrik jahat. Lagipula Kirana bercerita hanya pada Bapak dan Ibu Gembala saja. Bukan ke setiap orang yang dia jumpai.


Satu jam kemudian, semua masakan Kirana sudah matang dan siap di hidangkan. Kirana memang jago dalam hal memasak, jadi untuk memasak beberapa menu dalam tempo waktu satu jam itu bukan hal yang sulit baginya.


Semua makanan dan minuman sudah tertata rapi, kini ia mulai memanggil Hendrik, Bapak, dan Ibu Gembala.


"Mari silahkan duduk, Pak, Bu. Maaf hanya bisa masak begini, Pak, Bu." ujar Kirana merendah.


"Wah, ini sudah lebih dari cukup. Maaf ya, kalau kami jadi merepotkan kalian berdua," Pak Gembala kembali merasa sungkan.


Seusai mereka makan malam, mereka kembali duduk di ruang tamu. Kali ini Kirana yang mulai membuka obrolan.

__ADS_1


"Pak, Bu, boleh saya bertanya?"


"Oh, silahkan. Dengan senang hati kami akan menjawab semampu kami nanti."


"Pak, bolehkan seorang suami mengambil keputusan tanpa melibatkan istrinya?"


"Tentu tidak boleh, bagaimanapun seorang istri harus selalu di libatkan dalam segala hal. Begitupun sebaliknya, seorang istri juga harus melibatkan suaminya.


Tapi saya yakin, kalau Pak Hendrik pasti selalu melibatkan Bu Kirana kan dalam mengambil setiap keputusan?"


"Oh, i-iya Pak. Pasti itu! Iya kan, Sayang?" Hendrik mencubit pinggang Kirana. Hingga membuat Kirana meringis kesakitan.


"Tapi, Pak bagaimana jika seorang istri yang selalu membantah ucapan suami? Bukankah seorang istri itu harus tunduk pada setiap ucapan suami ya?" kali ini Hendrik yang mengajukan pertanyaan.


"Tentu dosa. Tapi perlu kita lihat juga, ucapan suami itu benar atau salah? Kalau salah ya, istri berhak untuk menegur sang suami. Kan tugas istri sebagai penolong suami?


Penolong dalam hal agar suami tidak melakukan kesalahan, itu juga termasuk. Jadi maknanya luas."


Hendrik merasa tak puas dengan jawaban Pak Gembala. Yang Hendrik mau, harusnya Pak Gembala cukup mengatakan kalau itu dosa. Dan istri wajib mengikuti semua ucapan suami.


"Sepertinya ini juga sudah malam, mungkin kami pamit pulang dulu. Kalau misal ada yang ingin di konsultasikan lagi, silahkan besok datang ke gereja. Kita ngobrol-ngobrol santai lagi."


Lalu Hendrik dan Kirana mengantarkan mereka hingga di parkiran basement. Di sepanjang jalan menuju parkiran, Bu Gembala selalu menasehati Kirana agar lebih sabar lagi dan banyak-banyak berdoa agar Hendrik bisa berubah. Kirana menganggukan kepalanya.


Tapi ia tak yakin, jika Hendrik akan berubah dalam waktu yang cepat, "Haruskan aku menunggu hingga berbulan-bulan lamanya? Apakah aku sanggup? Andai aku bisa kabur saat ini juga." batin Kirana sambil melambaikan tangannya ke arah mobil Pak Gembala yang sudah berjalan menjauh.


Setelah mobil Pak Gembala sudah tak terlihat, Hendrik segera memegang erat tangan Kirana agar Kirana tak bisa kabur darinya.


Ia sebenarnya ingin marah pada Kirana karena telah berani berbicara pada Pak Gembala. Namun, ia masih ingin melanjutkan aksinya tadi sore yang sempat tertunda.


Kirana yang tau kalau Hendrik akan kembali memintanya untuk melayaninya, kini ia berpura-pura kalau perutnya tiba-tiba sakit.

__ADS_1


Dan ternyata rencananya berhasil, Hendrik membiarkan Kirana tidur malam ini. Sebelum tidur Kirana terus mengatakan pada dirinya sendiri, jika Hendrik belum berubah, maka ia tak akan mau di sentuh olehnya.


__ADS_2