Sakitnya Menikah Denganmu

Sakitnya Menikah Denganmu
Bab 103.


__ADS_3

"Hey! Beraninya kamu tertawa seperti itu di depan saya? Kamu pikir saya sedang bercanda?" Bu Mery berkacak pinggang seraya menunjuk wajah Kirana dengan sangat geram.


Padahal yang ada di dalam pikirannya, Kirana akan dengan mudah memberikan apa yang ia mau. Dengan alasan Kirana tak punya saksi jika bukan dirinya pelaku yang membuat Pak Robert terjatuh.


Kirana menghentikan tawanya. "Kalau saya nggak mau bagaimana, Bu Mery?"


Ya, Kirana sudah mengubah panggilannya terhadap Bu Mery. Ia tak mau memanggilnya dengan sebutan Mama lagi. Lantaran sikapnya yang tak mencerminkan sedikitpun perilaku seorang ibu yang bijaksana.


"Ayolah, Ran. Semua juga demi kebaikan kita dan anak kita. Uang 5M itu kan nggak ada apa-apanya buat kamu? Coba sekarang kamu bayangkan kalau kamu sampai di penjara, lalu anak kita bagaimana?" Hendrik mulai menyentuh perut Kirana.


Namun tiba-tiba ia bergeming. Mulutnya terbuka lebar dengan mata membeliak.


"Kamu sudah melahirkan, Ran? Mana anak kita? Kamu kenapa nggak kasih tau aku?" cecarnya kemudian.


Dengan cepat Kirana menepis tangan Hendrik yang masih menempel di perutnya. Dan ia juga mundur dua langkah dari tempatnya semula.


"Tolong jauhkan tanganmu dari perutku, Mas! Karena sebentar lagi aku bukan istrimu!


Dan, ya aku memang sudah melahirkan semalam. Tapi buat apa aku kasih tau kamu? Bukankah semalam kamu sudah mengurungku layaknya seorang penjahat? Kamu nggak peduli sama sekali kan dengan keadaanku?"


"Oke, aku minta maaf! Kamu lupakan aja sikapku semalam. Sekarang di mana anak kita? Kenapa kamu tinggalin dia sendirian?" tanya Hendrik frustasi.


Richard mengeluarkan secarik kertas dari dalam sakunya, yang sudah ia siapkan. Awalnya kertas itu mau ia jadikan sebagai bukti untuk kepolisian, tapi sepertinya Hendrik lah yang harus membaca surat keterangan itu.


Bahkan Kirana tak menyangka jika Richard membawa surat keterangan itu. Karena Kirana sendiri lupa membawanya.


"Apa ini?" ketus Hendrik. Ia tak suka jika Richard ikut campur dalam urusan rumah tangganya lagi.

__ADS_1


Bu Mery, Handoko, dan Rita mendekat karena ingin tau isi dari kertas yang dibaca Hendrik.


"Nggak mungkin! Nggak mungkin anakku meninggal! Kalian pasti berbohong, kalian sengaja kan menyembunyikan anak itu dari aku? Aku bakal tuntut kalian atas kasus ini! Karena aku juga punya hak atas anak itu."


Nafas Hendrik memburu, tangannya mengepal kuat. Sedangkan Bu Mery yang ada di sampingnya seperti sedang membisikkan sesuatu di telinga Hendrik.


Degh!


Kirana terkesiap untuk beberapa saat. Sebelum akhirnya ia tersadar kembali.


"Silahkan jika kamu mau melaporkan aku. Ayo kita sama-sama masuk ke dalam untuk membuat laporan." sahut Kirana santai seraya balik badan dan melangkah masuk ke dalam kantor kepolisian.


Mau tak mau akhirnya ke empat orang itu juga ikut masuk ke dalam. Mereka yakin jika saat ini mereka semakin punya peluang untuk menjebloskan Kirana ke dalam penjara.


Selain kasus dengan Pak Robert, Kirana juga akan mereka tuntut untuk perusakan pintu rumah kontrakan, serta menyembunyikan anak yang menurut Hendrik masih hidup.


Mereka berempat yang mendengar laporan Kirana menjadi geram. Terutama Handoko, tapi ia masih yakin jika Kirana tak akan bisa membuatnya masuk ke dalam bui. Apalagi tak ada saksi yang menguatkan tuduhannya itu.


"Baik, kalau begitu mari kita lakukan visum terlebih dahulu." ujar seorang petugas kepolisian seraya bangkit berdiri.


Kirana dan Richard pun, gegas berdiri juga. Karena tak ingin terlalu lama membuang waktu.


"Tunggu, Ran!" Hendrik berusaha menghalangi langkah Kirana. "Kamu nggak bisa membuat laporan seperti tadi! Nggak mungkin Mama dan Abangku tega berbuat kasar sama kamu. Iya, aku akuin kalau mereka nggak suka sama kamu. Tapi kalau sampai mereka melakukan kekerasan itu sepertinya kamu yang sudah memfitnah mereka."


Bu Mery yang awalnya sudah lemas, kini kembali bersemangat lantaran mendengar pembelaan dari anaknya.


"Iya, mama nggak mungkin lah setega itu sama istrimu, Hen. Kalau mama mau laporin dia, itu kan karena dia sudah mencelakai papamu. Tapi meskipun begitu, mama juga masih memikirkan nasib anak yang akan di lahirkannya. Makanya mama bilang sama kamu, kalau Kirana melahirkan anaknya biar mama yang rawat.

__ADS_1


Itu sudah jelas kan, kalau mama masih punya perasaan sama anak yang ada di dalam kandungannya?" terang Bu Mery sambil terisak. Raut wajahnya di buat sesedih mungkin di depan semua orang.


"Tega kamu, Ran? Coba kamu lihat mamaku! Dia sudah tua, apa kamu nggak kasihan jika beliau sampai harus ditahan?" desaknya lagi.


"Maaf, Mas. Aku nggak punya banyak waktu untuk meladeni kalian lagi. Sekarang tolong kamu minggir, karena aku akan melakukan visum! Agar semua bukti semakin kuat jika aku memang mengalami tindak kekerasan!" Kirana mendorong kasar bahu Hendrik, hingga mampu membuatnya bergeser sedikit.


"Kalau kamu masih nekat melaporkan orang mamaku, aku akan ceraikan kamu!" ancam Hendrik.


Kirana menghentikan langkahnya, lalu berpaling. "Aku tunggu apapun ancaman dari kamu itu, Mas! Jangan hanya banyak omong. Sekarang lebih baik silahkan kalian lanjutkan tujuan kalian untuk datang kemari!"


...****************...


Setelah hampir 2 jam Kirana menjalani pemeriksaan. Akhirnya semua berjalan dengan lancar sesuai dengan harapannya.


"Baik, Bu. Untuk hasilnya akan kami beritahukan nanti."


Kirana menatap kepergian petugas yang sempat mengantarkannya untuk visum tadi. Kini ia bisa mulai sedikit bernafas lega. Semoga setelah ini sudah tak ada lagi drama di kehidupannya bersama Arshinta, putri semata wayangnya itu.


"Ran, aku akan carikan satu pengacara terbaik untukmu. Jadi kamu nanti tak perlu selalu datang di setiap persidangan. Kamu bisa lebih fokus untuk merawat Arshinta setelah ini." tawar Richard terlihat sangat begitu tulus.


"Iya, Kak. Aku memang ingin cari pengacara untuk membantuku menyelesaikan masalah ini. Karena aku juga ingin secepatnya keluar dari kota Surabaya.


Aku ingin memulai kehidupan baru bersama Arshinta, di tempat yang baru juga. Dan untuk toko bunga semua akan aku jual."


"Ya sudah, kalau gitu sekarang kita balik dulu ke rumah sakit. Aku akan jamin keamaanmu mulai saat ini. Dan aku juga akan bantu kamu sebisa mungkin," lagi-lagi Richard menawarkan sebuah bantuan yang memang sangat Kirana butuhkan.


Ya, Kirana mencoba berpikir positif pada setiap tawaran yang Richard berikan. Berharap memang Richard melakukan semua ini bukan karena ada udang di balik batu.

__ADS_1


__ADS_2