Sakitnya Menikah Denganmu

Sakitnya Menikah Denganmu
Bab 45.


__ADS_3

Keeseokan paginya, pukul 05.00 alarm Kirana kembali berdering. Dengan mata yang masih mengantuk berat, Kirana gegas bangun dan mematikan bunyinya.


"Hoam!" ia lalu merelaxkan tubuhnya. Sebenarnya ia masih ingin lanjut tidur lagi, karena kondisi hamil membuatnya kurang tidur, sedikit-dikit harus pergi ke toilet sepanjang malam.


Tapi berhubung ini adalah hari di mana semua bunga-bunga akan datang ke tokonya, jadi Kirana kembali bersemangat. Ini semua juga demi dirinya sendiri.


Pukul 07.00, ia keluar kamar dan berjalan menuju dapur. Ternyata Tante Linda juga sudah selesai membuat sarapan.


"Tante, maafkan Kirana yang baru selesai mandi," ujar Kirana sembari memeluk Tante Linda dari belakang.


"Nggak apa, Sayang. Tante tau kalau orang lagi hamil itu pasti susah tidur kalau malam. Makanya tadi Tante sengaja nggak ngetuk pintu kamarmu," sahut Tante Linda lalu mengelus tangan Kirana yang melingkar di pinggangnya.


"Ahh, Tante. Kalau nggak bangunin aku, terus nggak ada yang nerima bunga-bunga yang akan datang hari ini dong?" Kirana melepas pelukannya lalu berdiri di depan Tante Linda.


Tante Linda membelai pipi Kirana. "Kan ada Tante, Sayang. Kamu bisa datang ke toko siang harinya di saat semua sudah beres."


"Ihh, Tante so swiitt banged sih. Sayang banged aku tuh sama Tante." sorak Kirana kegirangan.


"Ya sudah kita makan dulu, abis itu kita langsung berangkat," titahnya.


"Siap!" Kirana memberi hormat layaknya sedang upacara bendera.


Ketika mereka selesai sarapan, ponsel Kirana tiba-tiba berdering. Kirana segera mengambilnya dari dalam tas. Kemudian ia hanya memperhatikan ponselnya itu tanpa ingin menerima panggilannya. Karena nomor pemanggil itu tak ada di daftar kontaknya.


"Kok hanya di lihatin saja, Ran? Angkat dong, siapa tau itu penting," ujar Tante Linda dengan tatapan penuh tanya.

__ADS_1


Kirana sebenarnya ingin menerima panggilan itu. Tapi demi menjaga kewarasan hati dan pikirannya, ia memilih mengabaikannya. Apalagi ini hari yang sangat sibuk baginya.


"Iya, nanti aja Tan aku angkat telponnya. Sekarang lebih baik kita berangkat ke toko aja," Kirana mematikan ponselnya kembali lalu bangkit berdiri dan mulai membereskan meja makan dengan sangat cekatan.


Dan benar saja, saat mereka baru keluar dari rumah, tiba-tiba ponsel Tante Linda yang kini berdering.


"Sebentar, Ran. Ini temen Tante yang mau ngirim bunga telpon. Kamu keluarin aja dulu mobilnya dari dalam garasi." pinta Tante Linda sambil menempelkan ponselnya ke telinga.


Mobil sudah siap jalan, namun Tante Linda justru masih asik telponan. Akhirnya Kirana berjalan menghapirinya.


"Tan, ayok jalan. Keburu datang mereka nanti," ajak Kirana yang terlihat sudah tidak sabar.


Tante Linda menutup telponnya lalu menatap Kirana sambil tertawa. "Hehehe, mereka sudah datang sebenarnya, Ran. Cuma ya sudah ayok kita jalan. Kamu pelan-pelan aja ya bawa mobilnya."


Kirana geleng-geleng kepala. Untung saja yang kirim bunga itu teman Tante Linda. Coba kalau orang lain, pasti sudah marah-marah, karena mereka sudah sampai tapi toko malah belum buka.


"Ih, Tante genit deh. Itu bedak sudah tebal Tante. Kenapa musti di tebelin lagi, sih?" ledek Kirana tapi matanya masih fokus di jalanan.


"Eh, sebagai kaum sosialita, kita tuh wajib tampil cetar badai di manapun dan kapanpun," selorohnya tak terima.


"Iya, deh. Kirana kan kaum soksibuk, jadi mana tau itu tampil cetar, hehehe."


Saking asiknya bercanda, tak terasa mereka sudah sampi di pelataran ruko. Di sana sudah ada 3 mobil pick-up terparkir yang membawa berbagai macam bunga yang masih segar.


Dengan di bantu beberapa orang, akhirnya hanya butuh waktu 3 jam, semua bunga sudah tertata rapi di semua keranjang dan rak.

__ADS_1


Puas, itulah yang Kirana rasakan saat ini. Tak henti-hentinya ia mengucap syukur atas kebaikan Tuhan. Hingga ia bisa bangkit dan melupakan semua masalahnya.


"Ran, besok kita adakan acara syukuran ya. Jangan lupa kamu undang Pak Gembala untuk acara peresmian toko bunga ini besok," Titah Tante Linda kala melewati Kirana yang sedang duduk santai di balik meja kasir.


"Astaga, iya aku sampai lupa untuk mengundang Pak Gembala. Saking antusiasnya sama toko ini, jadi sampai lupa sama hal yang paling penying. Semoga aja beliau besok ada waktu luang," rutuk Kirana.


"Kamu hal yang paling penting kok malah bisa lupa sih, Sayang? Ya sudah, sekarang coba kamu hubungin ya. Tante mau urus yang lainnya dulu," Tante Linda menggelengkan kepala lalu berlalu pergi.


Terpaksa Kirana kembali mengaktifkan ponselnya untuk menghubungi Pak Gembala. Cukup lama Kirana menunggu panggilan itu diterima, tapi di saat Kirana akan mengakhiri panggilannya. Terdengar suara menyapa dari sebrang sana.


"Shalom, Bu Kirana. Bagaimana kabarnya? Maaf tadi ponselnya saya getarkan saja. Jadi baru tau kalau ternyata ada panggilan masuk," tutur Pak Gembala sambil terkekeh.


"Shalom, Bapak. Puji Tuhan kami semua sehat. Oh iya Bapak, maaf menganggu sebelumnya. Tujuan saya menelpon siang ini karena ingin mengundang Bapak dan Ibu ke acara peresmian pembukaan toko bunga saya. Apakah besok Bapak dan Ibu ada waktu?


Sekali lagi saya minta maaf kalau undangan dari saya ini terkesan mendadak. Karena kemarin saking sibuknya menata barang," ujar Kirana penuh harap.


"Haleluyah! Saya turut berbahagia mendengar kabar baik ini. Kalian sepasang suami istri yang hebat. Pak Hendrik punya bisnis rumah makan, sekarang Bu Kirana membuka toko bunga. Kirannya Tuhan memberkati usaha kalian berdua.


Baik kalau begitu saya dan Ibu akan datang besok di acara peresmiannya. Tolong nanti kirim alamat dan jam acaranya ya, Bu Kirana."


"Baik, Pak. Setelah ini akan langsung saya kirim. Kalau begitu saya tutup dulu ya, Pak. Terimakasih banyak.


"Baik, salam untuk Pak Hendrik ya, Bu. Selamat siang," panggilan pun diakhiri.


Kirana kini mulai galau. "Tadi Pak Gembala menyebut nama Mas Hendrik. Apakah aku harus mengundang Mas Hendrik di acara peresmian besok? Tapi kalau aku undang, apa Mas Hendrik mau datang? Ah, kenapa ada aja sih masalahnya.

__ADS_1


Kalau dia nggak ada di acara besok, alasan apa yang harus aku beri ke setiap orang yang bertanya besok? Apalagi aku dalam keadaan hamil begini, masa aku bilang kalau Mas Hendrik sedang keluar kota sih? Hmm, lebih baik begitu sepertinya. Berbohong demi kebaikan kan nggak salah?" Kirana tersenyum lega setelahnya.


Namun saat Kirana akan menekan tombol off, ponsel kembali berdering. Kirana memperhatikan layar, dengan alis berkerut. "Ini nomor siapa sih? Kenapa terus-terusan telpon aku di saat ponselku sedang aktif?" gumam Kirana penasaran.


__ADS_2