Sakitnya Menikah Denganmu

Sakitnya Menikah Denganmu
Bab 38.


__ADS_3

Tok... Tok... Tok...


Terdengar kembali suara pintu diketuk. kali ini ketukan itu lebih kers dari sebelumnya. Namun ketika Kirana kembali bertanya, tetap tak ada suara yang menjawab.


Kirana bangkit berdiri, lalu berjalan sambil menghentak-hentakkan kakinya. Ia sedikit merasa jengkel lantaran tujuannya untuk mengecek CCTV jadi terganggu.


"Siapa sih? Ganggu orang aja, ditanya malah nggak dijawab! Awas aja kalau cuma karyawanmu yang iseng," gerutu Kirana diiringi gelengan kepala Hendrik.


KREK.


"Bang, bagi duit dong!" celetuk Judika yang langsung nyelonong masuk kala Kirana baru membukakan pintu.


Bahkan dengan santainya ia mengabaikan Kirana yang masih berdiri melongo di ambang pintu.


"Dasar, adik ipar nggak tau sopan santun! Kamu pikir aku ini pembantumu apa! Main selonong-selonong aja tanpa permisi dulu. Tau gitu tadi nggak aku bukain pintunya!" Omel Kirana sambil berkacak pinggang dan menunjuk-nunjuk Judika yang kini sudah duduk dengan angkuhnya di sofa.


Judika melengos abai, seolah-olah yang Kirana ucapkan adalah angin lalu. Kemudian dengan santainya ia mengulang kalimatnya kembali. Padahal Kirana sudah berdiri tepat di samping meja Hendrik dengan menunjukkan taringnya.


"Bagi 2 juta dong, Bang. Gua dah kehabisan duit nih. Mama juga belum kirim uang, padahal sudah aku minta kemarin."


"Bu- ...."


Tiba-tiba Kirana mengebrak meja dekat Hendrik duduk. Hingga membuat Hendrik terlonjak dan membatalkan niatnya yang akan bertanya pada Judika.


"Kalau mau duit ya kerja. Emangnya kamu pikir Abangmu ini mesin ATM mu? Yang tiap kali kamu butuh duit. terus dia harus selalu ngasih kamu?


Sudah tua bukannya makin dewasa cara berpikirnya, ini malah makin menjadi-jadi nyebelinnya!

__ADS_1


Kita nggak bisa kasih kamu duit, karena kami juga harus nyiapin biaya lahiranku nanti. Jadi lebih baik kamu sekarang pulang. Atau kalau mau duit, kami bantu dulu kerja di sini satu bulan," amuk Kirana tanpa jeda.


Judika yang tak terima dengan kalimat Kirana, ia segera berdiri lalu berbalik menunjuk-nunjuk Kirana. "Heh, gua bukan minta uang sama lu! Gua minta uang ke Abang gua! Jadi mending lu diam aja! Jangan banyak bacot yang nggak bermutu!


Lagipula apa hak lu nyuruh-nyuruh gua kerja? Sedangkan lu sendiri aja kagak kerja? Lu mau nguasain harta Abang gua?


Oh iya lupa, lu kan dari keluarga miskin. Makanya begitu nikah sama Abang gua lu ketagihan dengan hidup mewah! Dasar benalu!" hina Judika sesuka hatinya.


Ia belum tahu saja jika orang tua Kirana adalah orang kaya juga. Tapi karena Kirana yang ingin hidup sederhana, makanya ia rela meninggalkan semua peninggalan almarhum kedua orang tuanya pada Tante Linda. Namun sayangnya justru itu semua sudah di jual oleh Johan.


Kirana semakin murka dengan hibaan dari Judika. "Oh, ternyata begini cara didikan orang tua kalian, hah! Ngomong tanpa sopan santun sedikitpun sama orang yang lebih tua" ia menatap tajam Hendrik dan Judika secara bergantian.


"Cukup, Ran! Ini nggak ada hubungannya sama orang tua kami. Tolong jangan bawa-bawa mereka jika kamu sedang marah dengan Judika!" bentak Hendrik yang tak terima jika orang tuanya di salahkan akibat ulah Judika.


"Diam dulu kamu, Mas! Aku mau kasih pemahaman sedikit sama adikmu yang manja ini."


Hendrik terkesiap, lalu memutuskan untuk kembali diam. Dia mengijinkan Kirana untuk mengeluarkan amarahnya.


Lagian aku nggak butuh harta Abangmu jika aku nggak sedang mengandung anaknya! Aku bisa cari uang sendiri untuk kehidupanku. Bukan seperti kamu, anak laki, calon pemimpin keluarga tapi kelakuan kaya benalu!


Satu lagi, tau apa kamu soal kehidupanku dulu? Lebih baik kamu diam kalau nggak tahu apa-apa. Daripada berujung kamu malu sendiri!" murka Kirana dengan mata melotot, bahkan urat di lehernya pun jadi terlihat.


"Basi! Kalimat lu itu sering gua dengar di saat orang itu ketahuan belangnya! Bilangnya, gua nggak butuh harta, tapi ternyata malah sebaliknya!" ejek Judika lagi sambil mencebikkan bibirnya.


Saat melihat Kirana akan membalas ucapan Judika, Hendrik segera bagkit berdiri lalu memutuskan untuk menyuruh Judika pulang.


"Lebih baik lu pulang sekarang. Jangan bikin keributan di sini. Soal duit yang lu minta, bakal gua kirim nanti," ucap Hendrik tegas.

__ADS_1


Kirana menatap tak percaya ke arah Hendrik. Bisa-bisanya ia tetap memberikan uang sesuai permintaan Judika tanpa berdiskusi ulang dengannya. Padahal tadi sudah jelas jika Kirana tak mengijinkan Hendrik untuk memberi uang pada Judika sepeserpun.


"Okeh, gua tunggu. Sekalian ajarin istri lu untuk lebih hormat sama gua!" ucapnya sambil berlalu keluar pintu. Lagi-lagi ia pergi tanpa permisi pada Hendrik dan Kirana.


Membuat Kirana geram, lalu berinisiatif melempar kotak tisu yang terbuat dari kayu ke arah Judika.


BRAK!


Kotak kayu itu meleset dan terbentur ke pintu.


"Ran, kamu apa-apaan sih?" tanya Hendrik tak percaya dengan tindakan Kirana barusa.


"Kamu yang apa-apaan, Mas! Bisa-bisanya kamu tetap memberi uang pada Judika! Aku kan sudah bilang kalau nggak setuju untuk kasih dia uang. Kenapa sih kamu nggak bisa menghargai keputusanku? Bisa nggak kalau kita tuh satu suara?


Apa kamu nggak pengen kalau Judika bisa mandiri? Apa bakal selamanya kamu manjain dia? Bagaimana sih cara berpikir kalian?" heram Kirana lalu membuang muka.


"Sabar, Ran. Judika itu terbiasa di manja sama Mama. Jadi dia belum terbiasa hidup susah. Kamu bisa kan bersabar? Nanti pasti akan ada waktunya untuk Judika mandiri." ucap Hendrik sembari memegang kedua lengan Kirana.


"Sabar katamu? Maaf Mas, lama-lama sabarku bisa habis buat menghadapi kalian semua! Apalagi menghadapi sikapmu, yang kadang bisa normal, kadang seperti iblis!"


"Dan tadi kamu bilang apa, Mas? Judika terbiasa di manja? Lalu itu yang membuat dia tak mau kerja saat ini?


Asal kamu tau ya, Mas. Aku dari kecil juga amat teramat sangat di manja oleh kedua orang tuaku. Apapun yang aku minta, saat itu juga bisa aku dapatkan!


Tapi aku nggak selamanya manja, orang tuaku juga sesekali mengajarkan aku cara hidup mandiri dan sederhana!


Dan kenapa kalian nggak bisa mengajarkan itu pada Judika? Dia cowok loh, Mas. Calon pemimpin keluarga, bagaimana jika dia nikah nanti kalau sikapnya aja masih mengandalkan saudara dan orang tuanya?"

__ADS_1


"Sudahlah, Ran. Uang yang aku kasih juga hasil kerjaku. Bukan uangmu juga kan?" sahutnya tanpa beban.


Kirana membeliak. "Apa katamu barusan? Itu uangmu dan bukan uangku? Heh, mending kamu belajar lagi sana! Di mana-mana uang suami itu adalah uang istri! Rejeki yang kamu dapat itu sebagian ada rejekiku dan rejeki anak kita!" tegas Kirana dengan berapi-api.


__ADS_2