
Bu Angel mengelengkan kepalanya sambil berdecak kesal. "Ck! Terserah Jeng Mery sajalah. Mau percaya syukur, nggak percaya juga nggak masalah. Toh nggak ada pengaruhnya juga buat saya.
Lagipula apa masalahnya jika Kirana sukses tapi rumah masih ngontrak? Siapa tau Kirana itu takut jika Jeng Mery tau, Jeng Mery bakal porotin dia?" selorohnya sambil berlalu pergi meninggalkan Bu Mery yang masih tak percaya.
Bu Mery masih bergeming menatap kepergian Bu Angel yang kini sudah masuk ke dalam rumah. Ia masih berusaha mencerna semua kata-kata yang baru saja Bu Angel ucapkan.
Sedangkan Kirana sendiri memilih berjalan menjauh meninggalkan Bu Mery juga. Seakan-akan ia tau apa yang akan terjadi jika ia masih tetap diam di sana. Bukan karena takut, tapi ia lebih menjaga agar acara Papa mertuanya hari ini tak rusak.
Baru beberapa langkah Kirana berjalan, tiba-tiba Bu Mery berteriak ke arahnya. "Hey! Mau kemana kamu? Saya mau bicara sama kamu!" teriaknya sangat lantang seraya berkacak pinggang. Hingga mengundang perhatian orang-orang yang sudah datang.
Tapi Kirana mengabaikan teriakan Bu Mery yang sudah seperti ingin menelannya hidup-hidup. Ia terus saja melangkah masuk ke dalam ruang tamu.
Di dalam ruang tamu semua mata menatapnya heran, lantaran teriakan Bu Mery yang ia abaikan. Namun berbeda dengan Pak Robert. Beliau justru menatap bahagia ke arah Kirana.
"Kirana, sini Sayang. Papa sudah cari-cari kamu dari tadi," sambut Pak Robert yang baru saja melihat Kirana masuk. Ia melambaikan tangannya, agar Kirana gegas bejalan ke kursi rodanya.
Ya, Pak Robert memang sudah di nyatakan sembuh. Tapi beliau masih harus banyak istirahat. Jadi, selama acara Pak Robert di sarankan untuk duduk di kursi roda saja.
"Papa, Bagaimana kesehatan Papa hari ini?" tanya Kirana sembari mencium punggung tangan Pak Robert. Kemudian ia duduk bersimpuh di depan kursi roda.
Pak Robert mengusap kepala Kirana lembut. "Kesehatan Papa jauh lebih baik dari sebelumnya. Dan semua ini berkat bantuan kamu," balasnya tulus di iringi senyuman.
"Kirana hanya membantu yang Kirana bisa, Pa. Kalau kesehatan Papa jauh lebih baik, itu karena Papa sendiri. Papa yang punya keinginan untuk sembuh. Dan itu sangat bagus."
"Iya dong, kan Papa juga ingin menyambut kedatangan cucu pertama Papa," Kekeh Pak Robert.
"Sini kamu!" sentak Bu Mery yang tiba-tiba sambil menarik tangan Kirana. Untung saja Kirana masih bisa menjaga keseimbangan tubuhnya. Jadi meskipun Bu Mery menarik tangannya kasar, ia tak sampai terjatuh.
"Kamu ngapain sih, Ma!" bentak Pak Robert dengan tatapannya yang tajam. "Kamu tau kan kalau Kirana sedang hamil cucu pertama kita? Tapi kenapa kamu kasar sekali sama dia? Bagaimana kalau tindakanmu tadi berpengaruh pada kehamilannya?" sambung Pak Robert lagi kemudian meminta Kirana berdiri di belakang kursi rodanya.
__ADS_1
Bu Mery melengos lalu melipat tangannya di depan dada. "Siapa suruh dia menyembunyikan sesuatu yang penting dari kita semua! Dan tadi saat mama panggil, dia sama sekali tak menghiraukan panggilan mama! Wajarlah kalau Mama jadi kesal sama dia!" sunggut Bu Mery.
Keributan itu membuat Hendrik, dan yang lainnya berjalan mendekat. Hendrik segera berdiri di samping Kirana.
"Kamu nggak apa-apa kan, Sayang?" terlihat raut wajah cemas Hendrik.
Kirana menghela nafas panjang. "Aku ...."
"Kamu sebagai suami kenapa nggak bisa lindungin istrimu? Kemana aja kamu dari tadi? Harusnya kamu selalu ada di samping istrimu. Toh semua juga sudah selesai di kerjakan 'kan?" sinis Pak Robert memotong ucapan Kirana.
Hendrik tak berani menjawab pertanyaan yang di ajukan Papanya itu. Ia sadar jika yang papanya ucapkan itu benar.
Sementara Handoko memilih mendekati mamanya. "Ma, bisa nggak sih ributnya di tunda dulu sampai acara Papa ini selesai? Apa Mama nggak malu kalau semua orang sekarang lihat ke arah kita?" bisik Handoko sangat lirih.
"Huh! Awas aja kamu nanti!" desis Bu Mery menunjuk Kirana dengan tatapan penuh kebencian.
Kirana memanggapi santai ancaman dari Mama mertuanya itu. Bagi Kirana tak ada yang perlu ditakuti dan dicemaskan. Toh dia tak melakukan kesalahan apapun.
Hingga sekarang yang tersisa di rumah itu hanya keluarga inti saja.
"Puji Tuhan acaranya lancar ya, Pa," ucap Kirana seraya duduk di samping Pak Robert.
"Iya, Papa juga sangat bersyukur," balasnya dengan seuntai senyum.
Namun tiba-tiba rombongan huru-hara berjalan ke arah Kirana dan Pak Robert dengan tergesa-gesa. Sesampainya di kursi mereka duduk dengan kasar.
Pak Robert sampai heran menyaksikan tingkah menyebalkan istri dan anak sulungnya itu.
"Ini ada apa lagi? Masih mau ribut lagi? Apa nggak capek kamu, Ma?" Pak Robert mengelengkan kepalanya.
__ADS_1
"Sudah kamu diam dulu saja, Pa! Mama ada urusan sama dia!" sela Bu Mery sambil menatap Kirana. "Jadi, Mama harap kali ini Papa diam dan jangan ikut campur dulu."
"Hendrik, Sini kamu!" teriak Bu Mery yang baru sadar jika Hendrik tak ada di situ.
Hendrik berjalan sedikit berlari. "Ada apa sih, Ma? Aku masih beresin teras depan."
"Beresinnya nanti aja. Sekarang Mama mau bahas masalah penting! Jadi kamu harus ada di sini." lantangnya dengan mata melotot.
Terpaksa Hendrik mengikuti perintah Bu Mery. Ia duduk di samping Kirana yang sedari tadi asik dengan ponselnya.
"Hey! Kamu bisa kan taruh dulu itu ponselmu? Sudah tau saya mau bicara, ini malah asik main ponsel aja dari tadi!"
Kirana yang sadar bentakan itu untuknya, segera menjawab. "Tapi kerjaan saya jauh lebih penting. Maaf saya permisi dulu," pamitnya lalu ia bangkit berdiri meninggalkan semua orang yang sudah penasaran dengan apa yang akan di bahas oleh Mamanya.
"Dasar, menantu nggak punya sopan santun! Balik kamu kesini!" teriaknya.
Namun Kirana tetap berjalan masuk ke dalam kamar. Sesampainya di kamar, ia tetap saja tak bisa fokus dengan kerjaannya. Lantaran suara di ruang tamu yang sangat berisik.
"Coba kamu lihat itu! Apa pantas seorang anak bersikap seperti itu?" Bu Mery semakin murka. Bahkan kini nafasnya pun sampai tersenggal-senggal.
"Mama sabar dong. Jangan sampai darah tinggi Mama kambuh," pinta Rita yang mulai khawatir.
"Iya, Ma. Mama yang sabar ya. Mungkin Kak Kirana memang lagi sibuk. Memangnya Mama ngumpulin kita di sini itu mau bahas masalah apa?" tanya cindy dengan dahi berkerut.
"Tanya aja sama abangmu itu!" sahut Bu Mery menunjuk Hendrik.
"Loh? Kok aku Ma? Kan yang ngumpulin kita di sini itu mama?" Hendrik menggaruk kepalanya binggung.
"Baiklah, kalau kamu masih belum paham. Mama akan kasih paham sama kamu," Bu Mery menghela nafas panjang terlebih dulu.
__ADS_1
"Kamu kenapa sembunyiin dari kita semua kalau Kirana sudah sukses dan sekarang sudah punya dua toko bunga yang sangat ramai? Apa kamu takut jika kami menghabiskan uang istrimu? Toh mama yakin, suksesnya Kirana itu pasti karena kamu kasih modal ke dia kan?" tanya Bu Mery di iringi tatapan terkejut dari semua orang.