
Hendrik kembali masuk ke dalam kamar guna memastikan Kirana sudah selesai mandi dan ingin segera mengajaknya makan malam.
Hendrik memang sedang marah pada Kirana, tapi dia masih punya sedikit rasa kasihan jika Kirana belum makan.
"Ayok makan dulu," ajak Hendrik seraya memegang tangan Kirana.
Kirana menatap Hendrik dengan mata sembabnya. "Aku nggak laper."
"Okeh, tapi setidaknya sekarang kamu makan demi anak yang ada di perutmu. Jangan bertingkah seperti anak kecil. Inget, kamu sudah akan menjadi seorang ibu sebentar lagi."
Hendrik beranjak meninggalkan Kirana yang masih belum mau ikut dengannya. Namun ternyata diam-diam Kirana mengikuti langkah Hendrik menuju meja makan.
Ada berbagai macam olahan seafood yang terhidang. Kirana yakin itu semua pasti kiriman dari rumah makan Hendrik.
Yang awalnya nggak mau makan sama sekali, karena melihat ada udang dan kepiting saus padang kesukaannya membuat Kirana gegas mengambil nasi.
"Habiskan kalau mau, aku sengaja minta di kirimin makanan ini buat kamu," ucap Hendrik yang terus memperhatikan Kirana makan dengan lahap.
Kirana mengabaikan ucapan Hendrik. Karena ia masih sakit hati dengannya. Berbeda dengan Hendrik yang menganggap tak pernah terjadi apa-apa sebelumnya.
"Besok pagi, aku mau antar Judika. Siangnya baru kita ke dokter."
Kirana hanya menganggukkan kepala lalu beranjak membereskan sisa makanannya.
*****
pukul 14.00 siang, Hendrik dan Kirana menuju ke rumah sakit Ibu dan Anak. Siang itu antrian cukup panjang. Namun tak membuat Kirana merasa lelah. Karena ini pertama kalinya dia akan melakukan USG.
"Nyonya Kirana Adara Croline, silahkan masuk," panggil salah satu perawat.
Saat Kirana berdiri, Hendrik masih duduk diam seraya memainkan ponselnya.
"Kamu mau ikut masuk apa nggak?" tanya Kirana sedikit ketus.
__ADS_1
"Emangnya harus?" Hendrik memasang wajah menjengkelkan. Ingin rasanya Kirana mencabik-cabik mukanya dengan kuku panjangnya.
"Terserah kamu aja lah. Tau gitu aku berangkat sendiri aja tadi!" Kirana menghentakkan kakinya sebelum berjalan menjauh dari Hendrik.
"Ya, aku kan nggak tau kalau harus ikut masuk juga," elak Hendrik.
Kirana berhenti melangkah, dan menoleh ke Hendrik. "Emangnya kamu nggak lihat kalau orang-orang sebelum aku tadi, mereka masuknya berdua?"
"Aku pikir, ...."
"Sudahlah, malu aku berdebat sama kamu di depan umum gini."
Kirana memilih memotong kalimat Hendrik dan gegas masuk ke dalam. Karena memang kini mereka sudah jadi pusat perhatian beberapa pasang mata di sana.
"Silahkan langsung naik ke sini, Bu," tutur Bu Dokter Nafisah.
Setelah mengoles gel ke atas perut Kirana, Dokter Nafisah pun mulai mengoyang-goyangkan alatnya untuk melihat kondisi janinnya.
"Wah, usianya sudah 13 minggu ya, Bu. Dan ini suara detak jantungnya."
"Sekarang silahkan duduk dulu di sini, Bu. Saya mau menjelaskan sedikit," pinta Dokter Nafisah.
"Kondisi janinnya sehat, air ketubannya juga bagus. Untuk saat ini saya kasih vitamin saja ya. Jangan lupa di minum agar semuanya sehat.
Yang paling penting jangan terlalu capek dan stress. Karena itu nanti akan berpengaruh ke perkembangan janinnya.
Untuk Bapak, tolong terus dampingin istrinya, ya. Jangan di bikin sedih ya, Pak." terang Dokter Nafisah dengan sangat ramah.
"Hm, semoga aja setelah ini Mas Hendrik nggak bikin aku stress lagi," gumam Kirana dalam hati.
"Kalau begitu kami pamit permisi dulu, Dok," ujar Kirana dan Hendrik bersamaan.
"Aku tebus obatnya dulu, kamu tunggu aja di situ," Hendrik menunjuk bangku kosong yang terletak tak jauh dari tempat penebusan obat.
__ADS_1
Kirana duduk sambil terus memperhatikan gambar hasil USG barusan. Tak henti-hentinya ia mengucapkan syukur karena telah di percayakan untuk mengandung seorang anak. Banyak di luar sana yang menanti hingga bertahun-tahun, tapi Kirana justru bisa mendapatkannya secepat ini. Meskipun harus dengan cara yang salah.
"Kita telpon Mama ya. Kita kasih tau hasil pemeriksaanmu hari ini," ujar Hendrik seraya duduk di samping Kirana.
Kirana mengangguk, tapi hatinya masih ragu. Apakah kali ini Mama mertuanya akan ikut bahagia setelah di beri tahu hasil USG nya? Atau justru tetap cuek?
"Halo, Ma. Mama lagi apa?" sapa Hendrik lalu ia meloudspeaker panggilannya.
"Mama lagi santai, Nak. Ada apa kamu telpon Mama? Judika sudah kamu antar ke apartemennya kan? Mama minta tolong banged sama kamu ya, Nak. Tolong buat Judika betah dulu di sana. Mama benar-benar sudah nggak kuat menghadapi Judika yang terus-terusan minta uang," Bu Mery berbicara seoalah-olah Hendrik menghubunginya hanya untuk membahas soal Judika.
"Mama tenang aja, aku bakal usahakan bikin Judika mau kerja di Surabaya juga. Kalau memang dia mau kerja di rumah makan tempatku juga nggak masalah."
"Jangan dong, dia kan mau kuliah S2? Nanti kalau sambil kerja yang ada dia nggak bisa fokus sama kuliahnya," tolak Bu Mery.
"Aku maunya Judika kuliah dengan biaya dari hasil dia kerja, Ma. Jangan lah terlalu memanjakan Judika seperti itu. Dia anak laki-laki loh, Ma. Mau jadi apa nanti dia kalau terus-terusan manja seperti sekarang?" protes Hendrik namun masih dengan nada sopan.
"Apa kamu sekarang sudah nggak mau membantu Mama lagi? Pasti ini semua hasutan dari istrimu itu kan?"
"Ma, sudahlah. Jangan dikit-dikit menyalahkan Kirana." Hendrik membuang nafas kasar. "Tujuanku telpon Mama saat ini bukan untuk membahas soal Judika. Tapi aku mau kasih kabar kalau calon cucu Mama sekarang usianya sudah 13 minggu. Aku baru aja antar Kirana USG," terang Hendrik.
"Buat apa sih pakai USG segala? Buang-buang uang aja. Mama dulu aja selama hamil nggak pakai tuh USG seperti itu. Dan terbukti kalian berlima semuanya lahir sehat," tentang Bu Mery.
Kirana mengelus dadanya yang tiba-tiba terasa nyeri. "Ternyata begini rasanya jika menikah bukan atas dasar cinta dan restu dari mertua." Kirana mengapus air matanya yang mulai menetes.
"Ya sudah kalau gitu, aku tutup dulu ya, Ma. Besok aku hubungin lagi," Hendrik mematikan telponnya.
Lalu ia menatap Kirana sedangkan tanganya menyentuh dagu Kirana.
"Kamu jangan sedih ya, Mamaku orangnya baik kok sebenarnya. Cuma memang pedas gitu kalau ngomong," hibur Hendrik.
"Ya, sudah. Biar kamu nggak sedih lagi, gimana kalau kita makan sekarang? Kamu mau makan apa?"
"Aku mau pulang aja, Mas. Kita makan di rumah aja."
__ADS_1
Beberapa menit kemudian, mereka telah sampai dan segera mandi lalu makan bersama. Kini hanya tinggal mereka berdua yang tinggal di apartemen itu. Hal itu cukup membuat Kirana merasa tenang dan nyaman.
Pukul 21.00, saat Hendrik sedang fokus meneliti hasil laporan penjualannya, tiba-tiba Kirana datang menghampirinya dengan tergesa-gesa.