
Kirana mengangkat wajah Hendrik dari atas pangkuannya, lalu menatapnya lekat. "Maaf, aku nggak bisa, Mas. Sementara ini kita akan tetap tinggal terpisah seperti sekarang setidaknya sampai surat nikah kita selesai. Setelahnya aku akan kasih jawaban sama kamu soal keputusanku."
"Rumah tangga macam apa ini, Ran? Kenapa kita harus tinggal terpisah? Bagaimana jika kamu nanti tiba-tiba akan melahirkan?"
Kirana melipat tanganya di dada sambil tersenyum miring. "Tanyakan pada dirimu sendiri. Kita tinggal terpisah ini kan juga mau kamu? Apa kamu sudah lupa, Mas? Lantas kenapa sekarang kamu menghawatirkan jika tiba-tiba aku akan melahirkan? Kemarin apa sih yang ada di pikiranmu hingga membiarkan aku pergi dalam keadaan hamil?
Untung aku masih punya Tante Linda saat itu. Dan untungnya juga saat ini ada Kak Richard yang mau memberiku tempat tinggal gratis."
"Saat itu aku terpengaruh sama teman-temanku, Ran. Harus berapa kali aku jelaskan soal ini? Dan apa salahnya jika sekarang aku lebih khawatir sama kamu? Harusnya kamu senang kan? Karena aku lebih perhatian dan fokus sama kamu."
"Iya, aku memang senang saat ini kamu bisa perhatian sama aku dan calon anak kita. Tapi sayangnya aku sudah terbiasa tanpamu. Jadi bagaimana dong?" Kirana berucap dengan nada meledek.
Hendrik hanya terdiam, entah apa yang sedang ia pikirkan dan rencanakan.
"Anggap aja ini sebagai hukuman buat kamu, Mas. Biar kamu kedepannya bisa berpikir lebih panjang sebelum ambil keputusan.
Lagipula aku juga belum yakin kamu sekarang ini minta maafnya tulus atau hanya modus saja." sindir Kirana.
"Baiklah, aku akan anggap ini sebagai hukuman buat aku karena telah menyia-nyiakan kalian kemarin.Tapi kalau kamu masih meragukan permintaan maafku, itu terserah kamu aja." Hendrik menundukkan kepalanya.
Kirana membuang nafas kasar. "Huh! Lalu kapan kita akan mulai mengurus surat-surat kita?" tanya Kirana.
Hendrik meremas tangannya, "Aku maunya secepatnya. Tapi saat ini aku nggak punya uang sama sekali untuk kita pulang ke Jakarta. Kalau kamu nggak keberatan, boleh nggak kalau pakai uang kamu dulu? Nanti kalau aku sudah punya uang, bakal aku ganti."
Mata Kirana membulat sempurna, lalu kembali terkekeh. "Aku juga uang darimana, Mas? Aku hanya kerja bantu-bantu temennya Tante Linda. Kamu pikir berapa gajiku? Cukup untuk makan sehari-hari sama biaya kontrol aja aku sudah bersyukur."
"Loh, bukannya kamu punya toko bunga yang sudah ramai, bahkan sudah buka cabang juga?" celetuknya heran.
__ADS_1
"Kata siapa? Kamu dapat informasi dari mana sih? Kalau memang aku sudah sukses, ngapaian aku numpang tinggal di apartemen Kak Richard? Yang ada aku sudah beli rumah sendiri lah," elak Kirana.
"Jadi, itu toko bunga bukan punya kamu?" tuturnya nampak kecewa.
"Bukan, Mas. Itu punya temen Tante Linda, sedangkan saat itu aku hanya di minta jadi bagian pengawasnya aja."
Terpaksa Kirana berbohong. Awalnya ia ingin mengurus secepatnya surat nikahnya agar bisa cepat berpisah juga dari Hendrik.
Tapi setelah dipikir-pikir meskipun saat ini Kirana belum bercerai dengan Hendrik, tapi kan mereka sudah tidak satu atap lagi. Jadi untuk apa tergesa-gesa?
Dan di lain sisi ia juga ingin melihat seberapa lama Hendrik bisa berpura-pura bersikap manis padanya. Kirana akan mengatakan toko bunga itu miliknya hanya di saat yang tepat saja. Yaitu di saat Kirana sudah yakin jika Hendrik telah berubah dan lebih menghargainya sebagai istri.
"Kalau gitu aku pamit, ya. Besok aku akan bawakan lagi makan buat kamu," sambungnya sambil melangkah keluar.
"Nggak perlu, Mas. Aku bisa beli makan sendiri kok. Uangmu, kamu simpan aja buat keperluanmu sendiri. Aku yakin kamu jauh lebih butuh uang itu saat ini," tolak Kirana.
Jadi aku nggak bisa kasih uang tunai lagi sekarang. Tapi kamu jangan khawatir, aku usahakan besok bisa kasih kamu uang tunai, agar bisa kamu tabung untuk biaya kita pulang ke Jakarta." titahnya dengan sangat yakin. Kemudian ia melanjutkan berjalan keluar.
Kirana hanya membalasnya dengan anggukan kepala dan tersenyum tipis, lalu segera menutup pintunya. Apalagi sekarang juga sudah pukul 21.00 malam.
"Semoga aja kamu benar-benar berubah, Mas," gumamnya sambil berjalan masuk ke dalam kamar.
Tapi baru saja beberapa langkah ia berjalan, tiba-tiba bel kembali berbunyi.
Kirana mengedarkan pandangannya ke sofa ruang tamu dan meja makan, ia mengira jika yang memencet bel itu pasti Hendrik yang akan mengambil barangnya yang tertinggal.
Namun ia sudah mencarinya ke beberapa sudut ruangan, tapi tetap ia tak menemukan apapun. Sedangkan bel terus saja berbunyi.
__ADS_1
"Iya, sebentar!" ketusnya sambil berjalan pelan. Ia sudah tak bisa berjalan cepat lantaran perutnya yang semakin membesar.
"Nggak ada barangmu yang tertinggal kan?" celetuknya kala baru membuka pintu.
Tapi ternyata yang datang adalah Richard sambil membawa satu kotak pizza.
"K-kak Richard? Kok tumben malam-malam ke sini?" ujar Kirana terbata saking kagetnya.
Richard mengerutkan keningnya. "Maksud kamu? Memangnya siapa yang baru datang kesini? Dan kamu kenapa jadi gugup gitu?" tanya Richard curiga.
"Tadi temanku ke sini, Kak. Baru aja dia pulang, makanya aku kira kamu temanku," jawabnya sambil menggaruk tengkuk lehernya.
"Oh!" lalu ia berjalan masuk. "Nih aku bawain kamu pizza, aku tau kamu pasti belum makan kan? Maaf aku baru bisa bawain jam segini, soalnya tadi mendadak ada panggilan dari rumah sakit. Terus pas beli tadi juga antriannya panjang banged." ungkapnya sambil membuka kardus pizzanya.
Kirana masih diam berdiri mematung di belakang pintu. Ia bingung harus berkata jujur atau bohong lagi saat ini.
"Kamu kenapa masih diam di sana? Kamu sudah makan memangnya?"
"Sudah Kak. Tadi temanku yang bawain makanan. Jadi sekarang aku masih kenyang. Tapi nanti bakal aku makan kok pizzanya."
Richard menghela nafas. "Bilang aja kalau Hendrik kan yang barusan datang kemari? Jangan bilang 'teman'!" ketusnya lalu ia bangkit berdiri dan berjalan keluar dengan wajah kesal.
"Kak, kalau kamu merasa keberatan jika aku mengijinkan Mas Hendrik untuk datang kemari, maka sebaiknya aku pindah saja dari sini ya. Bagaimanapun ini kan apartemen milikmu," lirih Kirana hingga membuat langkah kaki Richard terhenti tepat di depannya.
"Kenapa kamu lebih memilih pergi dari sini ketimbang kamu melarangnya untuk datang? Bisa kan kalian hanya komunikasi melalui chat aja? Nggak perlu kan bertatap muka?" Richard menatap lekat kedua mata Kirana.
"Tapi, ...."
__ADS_1
"Aku nggak suka jika kamu dekat lagi sama dia, Ran. Apalagi jika sampai kalian kembali bersama. Aku cemburu, aku sakit hati," potongnya sambil terus memojokkan Kirana ke salah satu dinding.