Sakitnya Menikah Denganmu

Sakitnya Menikah Denganmu
Bab 28.


__ADS_3

Kirana yang menyadari hal itu gegas mendorong wajah Richard agar menjauh darinya. Namun badannya masih tetap terkurung di pelukan Richard.


"Ihhh! Kamu mau nagapain, Kak?" protesnya lalu berusaha melepas pelukan erat Richard.


Setelah berhasil lepas dari pelukan Richard pun Kirana tak henti-hentinya terus mengomel.


"Kamu kenapa jadi gini sih, Kak? Aku kan sudah punya suami! Rasanya nggak sepantasnya kamu berbuat seperti itu tadi sama aku! Aku kecewa sama kamu Kak." Kirana menghentakkan kakinya.


"Ma-maafkan aku, Ran. Aku ... aku nggak ada maksud buruk sama kamu kok. Tolong maafin aku ya," pintanya mengiba sambil terus merutuki dirinya sendiri dalam hati.


Richard mendadak jadi lupa diri, dia lupa jika saat ini Kirana telah memiliki suami. Jadi wajar jika Kirana sangat marah. Apalagi selama ini Kirana hanya menganggapnya sebagai seorang Kakak seperti halnya Johan.


"Baiklah, kali ini aku maafkan. Tapi tolong lain kali jangan seperti ini lagi, Kak. Jangan rusak pertemanan kita hanya dengan hal-hal seperti ini. Kamu sudah aku anggap sebagai kakakku selama ini," lalu Kirana kembali berjalan keluar secepatnya tanpa menunggu jawaban Richard selanjutnya.


Richard hanya terdiam seraya memperhatikan Kirana yang berjalan semakin menjauh lalu hilang dari pandangannya.


"Andai aku bisa bertemu kamu lebih cepat dari sekarang, pasti akulah yang sudah jadi suamimu, Ran. Tapi semoga kamu bahagia dengan suamimu yang sekarang, meskipun aku masih sangat mengharapkanmu untuk bisa aku miliki." gumam Richard seorang diri, yang tanpa ia sadari ada sepasang mata yang memperhatikannya dari jauh sedari tadi.


...****************...


Setelah berada di loby rumah sakit Ibu dan Anak, Kirana segera memesan taksi online, untung saja tadi pagi Hendrik membawakan ponsel dan dompetnya. Jadi ia tak perlu pusing jika pulang sendiri siang ini.


Tujuan pertamanya saat ini adalah pergi ke rumah makan milik Hendrik. Ia ingin memastikan kalau Hendrik berada di sana sesuai dengan ucapannya tadi pagi padanya.


Beberapa menit kemudian, taksi online yang dia pesan akhirnya datang juga. Kirana melirik ke arah jam tangannya, ternyata sudah pukul 11.40 siang. Berarti sekitar dua puluh menit lagi adalah jam istirahat makan siang.


"Pak, tolong nanti agak cepet ya nyetirnya. Saya mau ada perlu soalnya," pinta Kirana dengan sopan yang diiringi anggukan dari sang supir.


Benar saja, dalam waktu lima belas menit Kirana telah sampai di depan rumah makan milik Hendrik. Padahal kalau dia lihat waktu tempuh di google map, membutuhkan waktu sekitar dua puluh lima menit.

__ADS_1


"Makasih banyak ya, Pak. Ini sebagai ucapan terimakasih dari saya, maaf kalau nggak bisa banyak." Kirana memberikan satu lembar pecahan berwarna biru dengan senyum ramah.


"Makasih banyak ya, Bu. Semoga rejekinya lancar dan lahirannya nanti lancar," doa supir itu dengan menangkupkan kedua telapak tangannya di depan wajahnya.


Ketika Kirana akan membuka pintu mobil, tiba-tiba ia melihat Hendrik sedang berdiri di depan pintu masuk, Namun pandagannya tertuju ke arah parkiran mobil.


Kirana mengurungkan niatnya untuk turun. Ia ingin melihat Hendrik sedang menunggu kedatangan siapa? Kalau menunggu kedatangan Kirana itu hal yang mustahil. Karena yang ia tahu Kirana baru keluar dari rumah sakit besok.


Tak berselang lama terlihat seorang wanita berumur sekitar empat puluh tahun, yang menggunakan dres mini super ketat berwarna merah senada dengan tas, sepatu, topi dan lipstiknya keluar dari dalam mobilnya yang kebetulan berwarna merah juga, lalu ia berjalan dengan centilnya sambil melambaikan tangan ke arah Hendrik. Begitupun dengan Hendrik, ia membalas lambaian tangan wanita itu dan tersenyum dengan ramah.


"Siapa wanita itu? Kenapa terlihat seperti sangat dekat sekali hubungan mereka berdua? Hingga Mas Hendrik mau menyempatkan diri untuk menyambut kedatangannya." gumam Kirana.


"Bu, nggak jadi turun?" tegur sang supir menyadarkan Kirana.


"Oh iya, jadi kok. Maaf ya kalau menunggu lama."


Untung saja sekarang lagi jam makan siang, jadi rumah makan nampak rame. Semua pelayan juga sedang sibuk dengan tugas masing-masing. Hingga tak ada yang memperhatikan Kirana yang berjalan masuk mengikuti Hendrik secara diam-diam.


Terlihat wanita itu berjalan sambil mengandeng lengan Hendrik dengan sikap manjanya, membuat Kirana menahan rasa sakit hati.


Sebenarnya ingin Kirana segera menangkap basah mereka berdua saat itu juga, namun hal itu ia urungkan. Ia masih berusaha berfikir positif, siapa tahu kalau wanita itu masih ada hubungan saudara dengan Hendrik. Ia tak mau bertindak gegabah yang bisa membuatnya malu sendiri nantinya.


"Silakan masuk," Hendrik membuka pintu ruangan pribadinya, lalu wanita itu mengikuti di belakangnya.


Pintu langsung ditutup kembali. Jadi Kirana bisa menguping apa saja yang mereka lakukan dan bicarakan di dalam sana.


"Istri kamu masih dirawat? Bagaimana dengan kandungannya?" tanya wanita itu dengan nada angkuh.


"Masih, tapi besok sudah boleh pulang. Dia hanya kelelahan dan telat makan saja. Kandungannya juga tak ada masalah," jawab Hendrik ramah.

__ADS_1


"Jadi kamu nggak bisa meninggalkannya?"


Degh.


Jantung Kirana serasa mau copot saat mendengar pertanyaan kedua dari wanita genit itu. Wanita mana yang tak terkejut saat mendengar ada wanita lain yang bertanya seperti itu pada suaminya.


Kirana menunggu jawaban dari Hendrik, namun sepertinya Hendrik enggan untuk menjawabnya. Terbukti dari suasana yang terdengar hening.


"Kedatangan saya siang ini sebenarnya ingin memberikan suatu penawaran yang sangat menarik untukmu. Dan pastinya sangat menguntungkan kamu juga, jika kamu bersedia menerimanya."


tap... tap... tap...


Tiba-tiba terdengar langkah kaki berjalan menaiki tangga menuju ke lantai dua. Kirana dengan cepat segera sembunyi di balik dinding yang menuju ke arah toilet.


"Huh, untung saja nggak sampai ketahuan sama karyawannya Mas Hendrik kalau aku sedang menguping di sini." ucap Kirana seraya mengelus dadanya merasa lega.


Setelah karyawan itu kembali turun, Kirana dengan cepat kembali ke posisi semula. Agar bisa mendengar tawaran apa yang akan di berikan oleh wanita itu pada Hendrik.


"Jadi bagaimana? Apa kamu mau mendengar tawaranku ini? Aku tau, bisnismu ini sedang butuh aliran dana kan sekarang?" ucap wanita itu lagi.


Sepertinya Hendrik sangat berpikir keras sebelum mengatakan ingin mendengar tawaran apa yang akan wanita itu berikan.


Meskipun benar yang dikatakan oleh wanita itu, jika rumah makan milik Hendrik saat ini sangat butuh aliran dana. Karena yang Hendrik tau, jika ia mengatakan ingin mendengar tawarannya, secara tidak langsung wanita itu akan menganggap kalau Hendrik menerimanya.


"Boleh saya minta waktu?"


"Nggak bisa! Karena saya nggak punya banyak waktu. Tenang aja, saya nggak akan memaksa kamu untuk menerimanya kok. Cuma ya resikonya kamu bakal gulung tikar." ucap wanita itu sedikit mengancam.


"Apa itu tawarannya?" tanya Hendrik akhirnya.

__ADS_1


__ADS_2