
Kirana semakin menempelkan telinganya kuat-kuat di balik pintu agar bisa mendengar dengan jelas apa yang akan dikatakan wanita itu.
"Kamu masih ingat kan kalau sudah lama suami saya terbaring di rumah sakit seperti yang pernah saya ceritakan waktu itu," ucap wanita itu hingga bisa membuat Kirana menebak siapa wanita yang ada di dalam itu sekarang.
Kaget, kecewa, marah, sedih, semua bercampur jadi satu. "Ternyata kamu meninggalkan aku di rumah sakit seorang diri, hanya untuk bertemu dengannya, Mas? Kenapa kamu tega melakukan semua ini sama aku? Apa salahku sama kamu?" ratap Kirana, tapi kali ini tak ada air mata yang menetes. Seolah air mata pun tau, kalau Kirana tak pantas menangisi laki-laki seperti Hendrik.
"Ya, saya tau dan ingat. Lalu apa hubungannya dengan saya?" tanya Hendrik lagi pada wanita itu.
"Sudah lama sekali saya ingin punya anak yang lahir dari rahim saya sendiri. Tapi suami saya cacat, dia nggak bisa membuat saya hamil."
Kirana sepertinya langsung tau kemana arah pembicaraan wanita itu, tapi ia masih berusaha menahan diri agar tak mendobrak pintu itu saat ini juga. Ia ingin mendengar tanggapan Hendrik terlebih dulu.
"Sebenarnya ada beberapa laki-laki yang ingin dekat dengan saya, tapi mereka tak sesuai dengan kriteria saya. Makanya saya tolak mereka semua.
Namun berbeda dengan kamu. Kamu selalu bisa memperlakukan saya dengan baik. Kamu bisa membuat saya selalu merasa nyaman jika kita sedang berduaan. Kamu adalah tipe laki-laki idaman saya selama ini. Jujur saja, sudah sejak lama saya jatuh cinta sama kamu.
Tapi sayangnya kamu malah menghamili perempuan miskin itu, lalu memilih untuk menikahinya. Padahal kamu kan bisa saja minta tolong sama saya buat bikin perempuan itu keguguran. Cuma nggak masalah, kan kamu bisa ceraikan dia nantinya?"
Enteng sekali wanita itu berucap. Seolah-olah dialah yang mengatur soal jodoh seseorang.
"Intinya apa ya, Bu? Kok jadi berbelit-belit begini? Tolong langsung saja, karena saya harus menemui adik saya setelah ini." Hendrik memotong kalimat wanita itu. Sepertinya Hendrik juga sudah tidak sabar.
"Intinya, sekarang saya mau kamu bisa membuat saya hamil darah daging kamu! Terserah kamu mau mencobanya berapa kali nanti. Karena saya akan selalu menikmatinya.
Dan sebagai imbalannya, apapun yang kamu minta akan saya berikan.
__ADS_1
Mulai dari rumah, mobil, deposito, atau apapun itu. Bahkan kalau kamu mau menikah dengan saya, dengan senang hati akan saya terima. Bagaimana?"
"Tapi kita sudah sama-sama punya pasangan. Apalagi istri saya juga sedang hamil. Lalu suami anda sedang terbaring di rumah sakit. Apakah pantas kita melakukan itu?" pungkas Hendrik ragu-ragu.
Hati Kirana mendadak panas. Ia yang awalnya berniat ingin menangkap basah mereka, kini niat itu ia urungkan. Bagi Kirana lebih baik sekarang ia pergi jauh dari Hendrik.
Kirana sudah tak peduli lagi jika nanti Hendrik sampai mau menerima tawaran wanita itu. Ia pun gegas kembali ke apartemen Hendrik untuk mengambil baju-bajunya. Lalu minta tolong ke Richard untuk membantu mencarikannya kontrakan.
Tepat pukul 13.00 Kirana sampai di apartemen, "Huh, untung saja aku sudah mengemasi baju-baju serta dokumen-dokumen penting milikku. Jadi sekarang aku bisa keluar dari sini dengan cepat."
Namun baru saja membuka pintu kamar, Kirana dikejutkan dengan Hendrik yang sudah terlihat berdiri di ambang pintu keluar.
"Mau kemana kamu, Ran? Ayolah jangan seperti anak kecil yang suka main kabur-kaburan begini! Kamu sebentar lagi akan menjadi seorang ibu, tolong bersikap dewasa!" tegur Hendrik dengan tatapan yang tak bisa di artikan.
Hendrik membentangkan tangannya, "Lagipula kenapa kamu pulang hari ini nggak bilang sama aku? Pulang sama siapa kamu tadi? Apa diantar sama Kakak doktermu itu?" cecar Hendrik lagi, sedangkan Kirana sendiri masih terus saja memberontak dengan cara, mendorong dan memukuli dada Hendrik agar bisa keluar.
"Terus kenapa tadi kamu memilih datang ke rumah makan?"
Kirana terdiam, lalu mengangkat wajahnya hingga kini kedua mata mereka saling beradu.
"Oh, jadi kamu sudah tau kalau aku tadi datang ke rumah makan? Baguslah, jadi aku sekarang nggak perlu capek-capek menjelaskan apapun lagi."
Hendrik menarik tangan Kirana agar mau ikut duduk dulu dengannya. "Duduk dulu! Setelah kita selesai bicara nanti, terserah jika kamu mau tetap pergi dari sini! Aku nggak bakal ngehalangin kamu lagi. Tapi sebelumnya mari kita bicara dulu."
Mendengar ucapan itu, membuat Kirana akhirnya tak berontak lagi. Ia mengikuti kemauan Hendri saat ini.
__ADS_1
Hendrik duduk menghadap Kirana dengan tetap mengenggam tangannya. Seolah-olah Hendrik takut jika Kirana benar-benar pergi dari hidupnya.
"Cepat katakan apa yang ingin kamu sampaikan padaku, Mas!" tanya Kirana dengan angkuh. Dia membuang muka dan sama sekali tak mau melihat ke arah Hendrik.
"Apa saja yang kamu dengar dan kamu lihat saat di rumah makan tadi?"
Kirana menarik kasar tangannya yang ada di genggaman Hendrik, lalu melipatnya di depan dada. "Semua!"
"Huh!" Membuang nafas, "Kamu pasti hanya mendengar sebagian saja kan? Kamu nggak mendengar jawabanku padanya?"
"Untuk apa? Sudah pasti kamu akan menerimanya kan? Jadi kalau sekarang kamu menahanku hanya untuk tanya apa responku, jawabanku adalah terserah kamu jika kamu mau melayaninya setiap malam! Silahkan puaskan dia, hingga dia bisa hamil darah dagingmu seperti yang dia bilang tadi!
Itukan perempuan baik-baik yang beberapa hari ini kamu banggakan di depanku? Bahkan kamu rela meninggalkan aku sendirian di rumah sakit, hanya untuk bertemu dan makan siang berdua bersamanya!
Ya, aku memang sengaja untuk minta pulang hari ini, karena firasatku sudah aneh saat kamu pulang tadi pagi dari rumah sakit. Ternyata firasatku benar, dengan telingaku sendiri aku justru mendengarkan penawaran memjijikkan dari perempuan itu!
Sekarang aku akan bebaskan kamu, Mas. Tapi sebelum itu terjadi, tolong lepaskan aku dulu! Dan aku akan membawa anak kita ini pergi jauh, agar saat dia dewasa kelak, aku bisa mengatakan kalau kamu sudah tiada lagi di dunia ini!
Aku capek Mas, jika harus sakit hati setiap hari karena ucapan dan perbuatanmu! Bisa-bisa aku keguguran saking stressnya!" ungkap Kirana panjang lebar.
Hendrik menggelengkan kepalanya, ia tak menyangka jika reaksi Kirana bisa sampai berlebihan seperti ini. Dan itu membuat Hendrik kembali emosi.
"Kalau sampai kamu keguguran ya itu salah kamu sendiri! Siapa suruh kamu terlalu banyak pikir? Bahkan belum dengar penjelasanku aja kamu sudah ambil kesimpulan sendiri!" bentak Hendrik.
"Oh, jadi kamu senang kalau sampai aku keguguran? Atau jangan-jangan kamu memang sengaja mau bikin aku keguguran?" Kirana menatap Hendrik dengan sinis.
__ADS_1