Sakitnya Menikah Denganmu

Sakitnya Menikah Denganmu
Bab 97.


__ADS_3

Sementara keadaan di rumah, satu jam sebelum Hendrik pulang.


Kirana yang mulai merasa lapar lantaran belum makan nasi siang ini, terpaksa harus keluar kamar. Meskipun ia tau jika keluar kamar akan bertemu dengan orang-orang yang tak dia suka. Namun demi anak yang ada di dalam kandungannya agar tak kenapa-napa dia rela menghadapi orang-orang itu. Apalagi hari juga sudah malam.


Klak!


Bu Mery, Hendoko, dan Rita yang sedang ngobrol di ruang tamu, gegas berpaling ke sosok Kirana yang baru saja membuka pintu kamarnya.


"Oh, akhirnya tuan putri mau keluar juga dari kamar? Saya pikir kamu mau mogok makan," cibir Rita dengan tatapan sinis.


Bu Mery menepuk tangan Rita agar berhenti bicara dulu. Karena ia sendiri juga ingin mencecar Kirana dengan berbagai macam permintaan.


"Saya rasa kamu sudah dengar percakapan kami tadi kan?" tanya Bu Mery seraya bangkit berdiri.


Kirana mengabaikan pertanyaan itu. Netranya menyapu setiap sudut ruangan. Ia mencari seseorang yang sedari tadi sudah ia tunggu-tunggu agar masuk ke dalam kamar. Tapi nyatanya hingga ia keluar sekarang sosok itu tak kunjung masuk ke kamar. Bahkan sosok itu saat ini sudah tak terlihat lagi batang hidungnya.


"Hei! Kamu dengar saya bicara kan?" bentak Bu Mery kesal. Ia sadar jika Kirana mengabaikannya.


Kirana melanjutkan langkah kakinya ke arah dapur. Tapi dengan cepat tiga trio rusuh ini mengikuti Kirana juga.


Rita yang memimpin, menarik kasar rambut panjang Kirana. "Auw!" pekik Kirana seraya berusaha melepaskan tangan Rita.


"Lepasin rambutku!" teriak Kirana kesakitan.


Tapi bukannya melepaskan, Rita justru semakin kuat menarik rambut Kirana. Bahkan kini Handoko juga membantu Rita menyiksa Kirana.


Saat ini wajah Kirana sudah mendongak ke atas. Dan kedua tangannya sudah di pegang kuat-kuat oleh Handoko. Mereka yang melihat itu tertawa bahagia karena Kirana yang tak berdaya.


Secara tenaga Kirana pasti akan kalah jika melawan Rita dan Hadoko. Lantaran Rita memiliki tubuh lebih berisi daripada Kirana. Dan dari kehamilan juga Rita masih terhitung hamil muda. Sedangkan Handoko sendiri juga memiliki perawakan yang gemuk.


Beberapa saat kemudian Kirana mencoba memberi peringatan pada mereka.


"Pikirkan perbuatan kalian ini. Jangan sampai kalian menyesal jika aku laporin kalian atas tindakan penganiayaan terhadapku!" desis Kirana.


"Hahaha! Dalam keadaan begini aja, masih belagu dia!" geram Handoko.


"Kamu pikir, kami takut dengan ancamanmu? Yang ada justru kami yang akan menghabisimu jika kamu tak menuruti permintaan kami!" bisik Handoko tepat di telinga Kirana.


Kirana meneteskan air matanya. Hanya penyesalan yang kini menyelimuti hati dan pikirannya. Andai saat itu dia tak memilih kembali pada Hendrik. Pasti hari ini tak akan terjadi. Sekarang ia hanya bisa berdoa dan berharap ada keajaiban nantinya.


Bu Mery menarik kursi yang ada di meja makan, lalu meletakkannya di depan Kirana.


"Suruh dia duduk! Jangan sampai dia cepat mati sebelum kita dapat apa yang kita mau." titah Bu Mery.

__ADS_1


Handoko mendorong kasar agar Kirana mau duduk di kursi itu.


"Jangan harap kalian akan dapatkan apa yang kalian mau! Karena sampai mati pun aku nggak rela untuk membantu orang-orang jahat seperti kalian!" Dengan suara serak Kirana berucap. Netranya pun menyiratkan sebuah kebencian.


PLAK!


PLAK!


Dua tamparan mendarat di pipi mulus Kirana. "Lebih baik sekarang kamu yang berpikir jika akan menolak permintaan kami. Ingat saat ini kamu sedang hamil. Apa kamu nggak ingin anak kamu ini lahir dengan selamat? Atau kamu ingin mati berdua bersama anakmu ini?" bisik Rita di depan wajah Kirana.


"Tcuih!" Kirana meludahi Rita. "Hidup dan matiku bukan kalian yang menentukan! Dan Aku nggak takut sedikitpun dengan ancaman kalian!"


"Kamu... " Handoko hendak melayangkang tamparan lagi ke wajah Kirana, namun Bu Mery menahannya.


"Sudahlah, Ran! Saya kan hanya minta kamu bantuin Handoko dan Rita. Apa susahnya sih? Uangmu kan banyak? Atau kalau kamu nggak mau bantuin modal, ya salah satu toko bungamu itu saja untuk di kelola sama Rita.


Membantu saudara yang sedang kesusahan itu sangat bagus. Apalagi kalian sama-sama sedang hamil," ungkap Bu Mery.


"Membantu saudara yang sedang kesusahan itu sangat bagus? Lalu kemana kalian saat saya di fitnah sama temannya Mas Hendrik? Saya sampai harus terusir dari apartement suami saya sendiri. Dan yang saya dengar, justru Mama senang kan saat itu?" ucap Kirana tidak lantang, tapi juga tidak pelan. Namun tepat pada sasarannya.


"Lagi pula, bukannya Kak Rita anak orang kaya ya? Kenapa nggak minta bantuan ke orang tuanya aja?" Kirana melirik sinis Rita.


"Terserah aku dong mau minta modal ke siapa!" sahut Rita seraya memainkan kuku-kuku di jarinya.


"Dasar pelit!" amuk Handoko.


Brugh!


Tiba-tiba terdengar seperti ada yang terjatuh dari dalam kamar.


Terlihat Pak Robert yang sudah tergeletak tak berdaya di lantai.


"Papa!" teriak Bu Mery dan Rita bersamaan.


"Ya Tuhan, Papa kenapa bisa sampai jatuh begitu?" tanya Handoko yang baru saja menyusul masuk ke dalam kamar.


"Cepat kita bawa Papa ke rumah sakit!" pinta Bu Mery. Tapi tangannya masih berusaha menyadarkan Pak Robert.


Kirana yang mendengar itu, gegas mengambil ponselnya di kamar. Secara bersamaan dia baru sadar jika Hendrik mengiriminya pesan siang tadi. Tapi pesan itu ia abaikan dulu. Sekarang ia ingin cepat memesan taksi online, untuk membawa Pak Robert ke rumah sakit.


"Taksinya sudah saya pesan, mungkin sebentar lagi sampai," ucap Kirana kala ia sudah berdiri di ambang pintu kamar.


"Nggak usah sok baik kamu sekarang! Papa jatuh seperti sekarang ini, itu juga gara-gara kamu!" Bentak Handoko. Nafasnya memburu saking emosinya. "Awas aja kamu, Ran! Kalau sampai terjadi apa-apa sama Papa, aku akan laporin kamu ke polisi!"

__ADS_1


Mata Kirana membeliak, ia tak menyangka jika Handoko justru menjadikannya dalang di balik jatuhnya Papa mertuanya.


"Gila kamu ya, Bang? Jelas-jelas tadi aku kalian siksa di dapur, bisa-bisanya sekarang kalian akan melaporkan aku atas musibah yang terjadi sama Papa?"


"Kami nggak peduli, tapi kalau kamu ingin selamat maka ikuti kemauan kami!"


"Nggak! Nggak akan!" tolak Kirana.


"Ada apa ini? Kenapa kalian bertengkar di depan kamar Papa?" panik Hendrik yang tiba-tiba sudah berdiri di belakang Kirana.


"Coba kamu lihat itu," Handoko menunjuk ke dalam kamar, di mana Pak Robert tergeletak.


Hendrik melewati Kirana begitu saja.


"Astaga! Papa kenapa, Bang? Kenapa Papa sampai bisa jatuh begini?" cecar Hendrik.


"Ini semua ulah istrimu! Dia yang membuat Papa jatuh dari tempat tidur!"


"Bohong! Ini fitnah, Mas." Kirana membantah tuduhan itu.


"Mana ada maling ngaku! Jelas-jelas kami lihat sendiri tadi kamu keluar dari kamar Papa terburu-buru, saat kami habis mendengar suara orang jatuh!" Rita semakin membuat Kirana terpojokkan.


"Tega kamu, Ran! Apa salah Papa sama kamu? Papa sayang banged padahal sama kamu." ratap Hendrik.


"Kamu masih bisa berpikir waras kan, Mas? Kalau memang aku ingin mencelakai Papa, lalu buat apa aku kemarin menanggung semua biaya rumah sakit Papa?"


"Semua itu pasti kamu lakukan agar kejahatanmu tak terlihat. Tapi Tuhan itu baik, buktinya sekarang kami bertiga melihat sendiri saat kamu mencelakai Papa," sela Rita.


Hingga membuat tatapan Hendrik semakin benci menatap Kirana.


"Terserah kamu, Mas. Kamu percaya sama siapa sekarang. Jika memang aku pelakunya, aku siap jika harus mempertanggung jawabkan semua perbuatanku. Tapi jika aku di fitnah, maka aku akan menuntut balik semua orang yang terlibat. Termasuk juga kamu, Mas!"


Kirana berniat masuk ke dalam kamar, tapi Handoko menahan pergelangan tangannya. "Jangan harap kamu bisa kabur sekarang! Inilah akibat dari kamu yang ingin melawan kami. Sekarang bersiaplah mendekam di balik jeruji!" desisnya.


Hendrik bangkit berdiri, dan berjalan mendekati Kirana dan Handoko yang sedang bersitegang.


Awalnya Kirana menganggap jika Hendrik akan membela dan menolongnya lepas dari tuduhan ini. Tapi ternyata pikirannya salah. Hendrik, menatapnya datar.


"Lepasin tangannya, Bang. Jika memang dia pelakunya, maka biarkan aku sendiri yang akan menyeretnya masuk ke dalam bui! Biarpun saat ini dia sedang hamil anakku, aku tak akan memaafkan kesalahannya. Jadi kamu jangan khawatir, Bang!" tegas Hendrik lirih, tapi mampu menusuk hati Kirana.


Kirana menggelengkan kepalanya tak percaya. Bagaimana mungkin seorang suami bisa bicara seperti itu. Tapi kalimat itu, mampu membuat Kirana semakin sadar jika Hendrik bukanlah suami yang tepat untuknya. Dan semakin membuatnya yakin jika berpisah adalah hal yang tepat. Biarpun nanti ia akan menjadi single parent.


Tapi saat ini, bukan itu yang penting baginya. Melainkan, bagaimana caranya agar ia bisa membuktikan jika dirinya tak bersalah.

__ADS_1


__ADS_2