
"Uang itu... aku pinjamkan ke Mamaku, Sayang. Karena kapan hari Papa masuk rumah sakit, sedangkan keuangan Mama sudah menipis. Semua sudah habis banyak untuk biaya pengobatan Judika.
Jadi tolong maafin aku ya, Sayang. Kalau kamu nggak percaya, kita bisa lihat Papa sekarang. Kebetulan beliau dirawat di rumah sakit di Surabaya," Hendrik berusaha membuat Kirana tak marah lagi padanya.
"Okeh, sekarang juga kita lihat keadaan Papa. Bagaimanapun juga beliau juga sudah jadi Papaku. Sedari awal kita nikah, kamu nggak pernah mengenalkan aku sama Papa kan? Jadi aku rasa sekarang saatnya aku mengenal kedua orang tuamu lebih dekat lagi," putus Kirana lalu ia masuk ke dalam kamar mengambil tas dan ponselnya.
Hendrik bergeming, entah apa yang ada di pikirannya saat ini.
"Kamu yakin mau keluar malam-malam begini, Sayang? Kita kan nggak ada mobil. Nanti kalau tiba-tiba hujan bagaimana?"
Kirana memutar bola mata malas. "Taksi online masih banyak, Mas! Sudah kamu nggak usah banyak alasan lagi. Buruan kalau kamu mau ganti baju dulu. Atau kalau kamu mau pakai baju gitu aja juga nggak masalah. Aku mau order dulu taksi onlinenya."
Setelah selesai berkutat dengan ponselnya, Kirana kembali menatap Hendrik yang masih diam di tempatnya.
__ADS_1
"Kamu kenapa, Mas? Kok seperti orang bingung gitu sih?" tegurnya.
"Ahh, nggak kok, Sayang," sahutnya seraya tersenyum. "Oh iya, sudah dapat mobilnya?"
"Sudah, bentar lagi juga dateng. Yuk kita tunggu di depan aja."
Sesampainya di rumah sakit, Hendrik segera mengajak Kirana menuju ke ruangan di mana papanya sedang dirawat.
"Malam, Ma." sapa Hendrik saat membuka pintu.
Bu Mery langsung menunjukkan wajah tak sukanya kala melihat Kirana berjalan di belakang Hendrik.
"Kamu ngapain ajak dia ke sini, sih? Sudah berapa kali Mama bilang kalau Mama tak suka melihatnya!"
__ADS_1
"Sudahlah, Ma. Ada anak dan menantu baru datang bukannya di sambut, ini malah di ajak berantem. Bagaimanapun juga mereka telah berjasa sama kita. Kalau aja Hendrik tak membiayai biaya perawatan Papa selama di rumah sakit, pasti nyawa Papa tak akan tertolong kan?" tegur Pak Robert dengan suara lemahnya.
Kirana yang mendengar Papa mertuanya berbicara seperti itu, merasa senang. Karena beliau mau menerima kedatangan Kirana dengan senyuman juga.
"Ahh, Papa ini tau apa. Kan memang sudah seharusnya Hendrik membiayai semua biaya perawatan Papa. Dia kan sudah kita besarkan, sudah kita sekolahkan sampai kuliah juga. Jadi anggap saja saat ini saatnya dia balas budi sama kita orang tuanya.
Daripada uangnya lari nggak jelas buat orang lain!" ketusnya sambil melirik sinis Kirana.
Pak Robert menggelengkan kepalanya. "Jangan keras kepala seperti itu, Ma. Suatu saat Mama pasti akan butuh bantuan mereka. Mama nggak takut kalau mereka nggak mau bantuin Mama?" sela Pak Robert lagi.
"Coba aja kalau mereka berani nggak perduli sama Mama. Yang ada bakal kualat mereka nanti!" Bu Mery masih saja tak mau kalah.
"Sudah nggak apa kok Pa. Kirana nggak masalah." terang Kirana dengan seuntai senyum ramah.
__ADS_1
"Halah nggak usah sok akrab kamu sama suami saya! Karena sampai kapanpun saya nggak mau anggap kamu sebagai menantu saya! Nggak ada yang bisa di banggakan sama sekali dari kamu!" hinanya dengan tatapan tajam.