
Hendrik merasa sakit hati tatkala diusir oleh Tante Linda di tempat umum seperti tadi. Baru pertama kalinya ia di perlakukan seperti itu.
Alih-alih ingin segera pulang dan meluapkan emosinya. Tapi baru saja masuk ke dalam mobilnya, lagi-lagi ponselnya berdering menandakan ada yang menghubunginya. Ia segera mengeluarkan ponsel dari sakunya dan melihat siapa yang menelpon di saat tak tepat seperti sekarang ini.
Matanya seketika membeliak ketika melihat nama yang muncul di layar ponselnya.
"Mama?" ucap Hendrik sambil mengacak rambutnya kasar.
Walaupun belum menerima telpon itu tapi Hendrik seakan-akan sudah tau tujuan Mamanya menelpon. Dengan berat hati akhirnya dia menerima panggilan itu.
"Ya, Ma. Ada apa lagi?" tanyanya pura-pura tak tahu.
"Kamu kenapa nggak kasih uang jajan buat Judika? Mama kan sudah bilang sama kamu kalau saat ini Mama belum bisa kasih uang jajan buat Judika. Omset dari usaha rumah makan kita yang di sini, tiba-tiba saja merosot. Jadi tolonglah kamu yang kasih uang jajan buat dia. Toh modal dari rumah makan yang kamu punya itu kan semua dari Mama.
Atau jangan-jangan istrimu itu melarangmu untuk memberi uang sama Judika? Dasar istrimu itu nggak tau diri! Bisa-bisanya dia menguasai semua uangmu, tanpa mau berbagi sedikitpun sama Judika yang jelas-jelas adik kandungmu!
Ini nih yang Mama takutkan kalau kamu menikah sama perempuan yang hanya dari kalangan keluarga miskin! Lagian kamu ngapain sih pakai acara melarang dia buat kerja di luar?
Kan jadi susah begini sekarang kalau kamu mau kasih uang untuk Mama atau Judika adikmu!" cecar Bu Mery panjang lebar tanpa jeda sedikitpun dengan kecepatan layaknya kereta api executive.
"Astaga, Ma. Uang jajan apalagi yang belum Hendrik kasih untuk Judika? Bahkan baru aja Hendrik sudah habis jutaan untuk belanja kebutuhannya.
Bukan Hendrik nggak mau kasih uang untuk Judika, Ma. Tapi Judika kan sudah dewasa, harusnya dia sudah bisa cari uang untuk dirinya sendiri. Bukan selalu mengandalkan Mama atau Hendrik kan?" tukas Hendrik sedikit kesal.
__ADS_1
Apa iya aku dan Mama harus sampai bangkrut dulu, baru Judika mau cari uang sendiri? Ck, kapan sih dewasanya tuh anak!
"Sudahlah, Hen. Selagi Mama dan kamu masih bisa memberi uang jajan untuk dia, buat apa dia bekerja. Apa kata orang nanti jika tahu Judika bekerja sedangkan Mama dan Kakaknya bisa memberinya uang.
Lagian Judika itu masih belum bisa di bilang dewasa, dia aja belum menikah. Jadi ya wajar kalau masih mengandalkan kita semua," balas Bu Mery sesuai pemikiran anehnya.
"Ma, saat itu aku juga belum menikah, tapi aku sudah berani merantau ke Surabaya dan mendirikan rumah makan di sini. Lantas apa bedanya sekarang sama Judika? Kita sama-sama anak Mama kan?"
"Bedalah! Itu kan atas kemauanmu sendiri untuk merantau dan buka usaha di sana! Sedangkan sekarang Judika nggak ada kemauan untuk itu! Jadi kita nggak boleh memaksakan kehendak kita sama dia! Paham kamu?
Baru aja nikah dan belum ada satu bulan, kamu sudah berani membantah ucapan Mama! Buang aja itu istri sialmu! Jangan-jangan bisnis rumah makan Mama di sini jadi turun itu juga gara-gara Mama punya menantu seperti dia!" tuduh Bu Mery yang terlihat sangat dipaksakan.
"Stop, Ma! Stop!" bentak Hendrik dengan nafas tak beraturan dan tangan yang meremas kuat setir mobilnya.
Sedari tadi Hendrik sudah berusaha untuk menahan agar emosinya tak meledak. Namun Bu Mery terus saja memancingnya.
Hari ini ada dua orang yang sama-sama mendapat perlakuan tak enak untuk pertama kalinya.
"Ka-kamu membentak Mama, Hen? Salah apa Mama sama kamu? Tega sekali kamu membentak orang tua yang sudah melahirkan dan membesarkan kamu?" ucap Bu Mery terbata karena sambil menangis.
"Maaf, Ma. Bukan maksud Hendrik untuk membentak Mama. Tapi kenapa Mama dari tadi selalu membenarkan semua tingkah Judika meskipun itu salah?
Lalu Mama juga meminta Hendrik untuk selalu memaklumi itu semua? Apalagi ditambah Mama selalu menyalahkan Kirana juga. Kenapa Ma?" sesal Hendrik.
__ADS_1
"Karena istrimu itu memang pantas disalahkan atas kejadian ini semua! Coba kalau dia nggak hamil anak kamu, pasti kamu akan Mama jodohkan sama anak teman Mama! Yang sama-sama berasal dari keluarga kaya tentunya," sahut Bu Mery yang kini suaranya mulai meninggi lagi.
"Kirana hamil juga karena ulahku. Bukan atas kemauan dia juga untuk hamil anakku, Ma. Dan asal Mama tau aja, sekarang Kirana sudah pergi dari sini. Jadi aku harap Mama stop menyalahkan dia lagi," ucap Hendrik tegas.
"Oh, kamu mulai jatuh cinta sama dia? Makanya kamu belain dia? Begitu? Hahaha!" Bu Mery tertawa mencemooh seakan-akan dia sedang berbicara dengan musuhnya.
Hendrik hanya diam sambil mengatur nafasnya. Ia tak mau emosi dan membentak Mamanya lagi.
"Dan apa kamu bilang tadi? Dia sudah pergi ninggalin kamu? Wah, baguslah kalau begitu. Berarti Mama harus mengadakan pesta untuk ini. Dan Mama yakin, setelah ini bisnis rumah makan Mama akan ramai lagi seperti dulu." soraknya gembira layaknya orang yang baru dapat undian ratusan milyar.
"Ck! Hendrik hanya kasihan sama anak yang sedang dia kandung, Ma. Kalau dia nggak hamil anak Hendrik juga, nggak bakal Hendrik nikah sama dia."
"Baguslah, berarti otakmu masih berjalan dengan normal. Ya sudah kalau gitu, sekarang kamu cukup awasin saja dia dari jauh. Nanti setelah dia lahiran, kita ambil anaknya lalu kamu ceraikan dia! Karena Mama hanya mau punya cucu, bukan punya menantu seperti dia yang nggak bisa di banggakan ke teman-teman sosialita Mama," tukas Bu Mery berapi-api.
"Bagaimana mau mengawasi, sekarang dia ada di mana aja, Hendrik nggak tau!" desis Hendrik lirik.
"Ya kamu cari taulah! Masa cari keberadaan perempuan gitu aja kamu nggak bisa! Coba kamu tanya ke teman-temanya! Pasti mereka tau di mana perempuan sialan itu sekarang tinggal."
Seketika Hendrik menemukan jawaban untuk bertanya pada siapa. Ya, satu-satunya harapan Hendrik adalah Richard. Dokter kandungan yang saat ini sedang menangani kehamilan Kirana hingga lahiran nanti. "Semoga aja besok dia mau memberitahu alamat Kirana," gumam Hendrik.
"Okeh, Ma. Hendrik sudah tau harus bertanya sama siapa. Kalau gitu Hendrik tutup dulu telponnya ya, Ma. Hendrik mau pulang dan istirahat dulu."
Panggilan telponpun berakhir. Lalu Hendrik segera pulang dengan perasaan yang masih kacau. Andai hari ini tadi ia tak bertemu dengan Kirana, pasti ia bisa santai menikmati makan-makan bersama teman-temannya.
__ADS_1
Sedangkan ini tadi dia hanya ikut makan dan minum sedikit, tapi harus bayar full semua pesanan makanan.
Memang sih, semua ini juga ide dari Hendrik untuk mentraktir mereka lantaran mereka telah meramal Hendrik, dan ramalan itu terbukti benar menurut Hendrik.