Sakitnya Menikah Denganmu

Sakitnya Menikah Denganmu
Bab 44.


__ADS_3

Tante Linda yang melihat ke antusiasan Kirana juga ikut merasa bahagia. Bagaiamana tidak, selama ini dia selalu merasa kesepian. Tapi semenjak Kirana tinggal di rumahnya beberapa hari ini, rumahnya jadi kembali ramai serta jiwa mudanya menjadi bangkit lagi.


Kirana dan Tante Linda sama-sama penyuka berbagai macam bunga. Mereka juga ahli dalam hal merangkai bunga. Jadi membuka toko bunga adalah pilihan yang pas bagi mereka berdua saat ini.


"Ran, kamu mau kasih nama apa toko bunga ini nanti?" tanya Tante Linda disela-sela kesibukannya menata keranjang bunga yang masih kosong.


Meskipun sudah berumur 60 tahun, namun Tante Linda masih terlihat seperti umur 40 tahun. Bahkan tenaganya pun tak kalah dari Kirana yang masih muda. Mungkin karena dia rajin perawatan, olah raga, serta makan makanan yang sehat.


"Bagusnya apa ya, Tan?" Kirana berpaling menghadap Tante Linda dan mulai berpikir. "Ehm, bagaimana kalau LiNa florist? LiNa itu singkatan dari Linda dan Kirana." seru Kirana dengan antusias.


Mata Tante Linda nampak berbinar, "Wah, nama Tante juga ikutan dipakai ya? Duh, bahagia sekali Tante, Sayang. Itu nama toko yang indah, semoga lancar ya Sayang bisnismu ini. Doa Tante akan selalu ada buat kamu."


Mereka berpelukan sesaat kemudian kembali fokus dengan kerjaan masing-masing.


Mulai dari pagi hingga sore, mereka berdua benar-benar sibuk. Apalagi rencananya dua hari lagi toko itu akan resmi dibuka.


Pukul 16.00 sore semua barang sudah tertata rapi dan tinggal menunggu datangnya bunga. Kemudian Kirana mengajak Tante Linda untuk kembali pulang. Di lain sisi dia juga mulai terasa lelah sekali.


...****************...


Sesampainya di rumah, Kirana segera mandi dan membantu Tante Linda di dapur. Ya, setiap hari mereka selalu saling bekerja sama dalam hal apapun. Status Tante dan keponakan seakan berubah menjadi Ibu dan Anak.


"Ran, suamimu ada telpon kamu nggak? Ini sudah hari ke tiga kan kamu keluar dari apartemannya?" tanya Tante Linda memecah keheningan.


Kirana menoleh sekilas lalu lanjut memotong sayuran. "Kirana belum mengaktifkan ponsel Kirana, Tan. Tapi nanti malam akan Kirana aktifkan. Siapa tau ada pesan penting dari Mas Hendrik," sahut Kirana sedikit datar.


"Kamu nggak boleh seperti itu, pasti suamimu juga merasa khawatir kalau kamu nggak bisa dihubungin."

__ADS_1


"Kalau dia khawatir, harusnya dia nggak bersikap seperti itu sama Kirana kan, Tan?" kali ini mata Kirana terlihat mulai berkaca.


"Suamimu hanya terhasut sama temannya, Ran. Tante yakin kalau sebenarnya suamimu juga sayang sama kamu. Cuma, ya karena dia lemah iman, makanya percaya aja sama ramalan-ramalan begitu." Tante Linda masih berusaha agar Kirana tak menjauh dan membenci suaminya.


Kirana menatap ke atas lalu menarik nafas panjang, agar air matanya tak jatuh.


"Lalu bagaimana dengan mertua dan saudara iparmu? Apakah mereka memperlakukan ksmu drngan baik? Maaf ya, kalau Tante banyak tanya. Soalnya Tante benar-benar penasaran sama kehidupanmu kemarin.


Tante pikir kalau cuma karena dituduh pembawa sial sama temannya suamimu, kan kamu bisa ngadu sama mertuamu? Agar mertuamu yang menasehati anaknya.


Tapi yang kamu lakuin kok malah pergi begitu saja darinya. Bahkan Tante nggak pernah dengar kamu menceritakan mertuamu selama kamu tinggal di sini," tanya Tante Linda hati-hati, takutnya pertanyaannya itu justru bisa membuat Kirana semakin sedih.


Kirana menghela nafas panjang lagi, kemudian menatap Tante Linda.


"Kirana hanya berusaha nggak menceritakan keburukan orang, Tan. Andai ada kebaikan mertua Kirana satu aja, pasti akan Kirana ingat selamanya. Namun ini belum ada sama sekali, Tan," ratap Kirana.


Karena menurut Tante Linda, di mana-mana mertua pasti sayang sama menantunya yang sedang hamil. Jadi mustahil kalau mertua Kirana tak suka pada Kirana.


Kirana menganggukan kepala. "Mama mertua Kirana hanya ingin punya menantu yang dari kalangan pebisnis atau seorang PNS. Sedangkan saudara ipar Kirana juga sering meremehkan Kirana lantaran Kirana nggak bekerja setelah menikah dengan Abangnya.


Mereka nggak ada yang suka jika Kirana memakai uang Mas Hendrik, walaupun saat ini status Kirana adalah menantu di keluarga mereka," ungkap Kirana sambil menunduk.


Tante Linda langsung memeluk Kirana guna memberinya perasaan nyaman. "Ada Tante, kamu jangan sedih ya, Sayang. Tante akan bantu kamu hingga bisnismu ini akan sukses. Buktikan pada mereka jika kamu bukan perempuan yang gila harta. Kamu bisa hidup dari hasil usahamu sendiri.


Tapi Tante juga nggak ingin kamu jadi besar kepala saat kamu sukses nanti. Tetaplah rendah hati dan jangan memaki siapapun yang sudah menyakitimu."


"Iya, Tan. Kirana akan selalu ingat pesan dari Tante ini," lalu Kirana melepas pelukannya.

__ADS_1


Seusai makan malam, Tante Linda memilih istirahat lebih awal. Katanya agar besok bisa bangun pagi dan punya banyak tenaga untuk menata bunga-bunga yang akan datang ke toko.


Kirana sendiri juga sudah masuk ke dalam kamar, lalu memilih untuk mengaktifkan kembali ponselnya sesuai saran dari Tante Linda tadi.


Perasaannya tiba-tiba berubah jadi deg-degan, kala layar ponsel sudah menyala. Benar saja beberapa notifikasi pesan terlihat masuk di ponselnya. Dan semuanya dari Hendrik.


Kirana mulai membuka dan membacanya satu per satu.


[Baiklah kalau kamu ingin keluar dari apartemen. Kasih tau aku ya, kamu tinggal di mana nanti?] pesan pertama.


Buat apa aku memberitahunya dimana aku tinggal? Apakah dia akan menjemputku? Ah, pastinya tidak akan. Jadi lebih baik saat ini aku tak memberitahunya.


[Kenapa cincin nikahnya kamu lepas? Apakah kamu memang ingin lepas dariku?] pesan kedua.


Loh, kenapa dia jadi menyalahkan aku? Bukannya dia yang memintaku pergi? Memang sih, dia nggak bilang secara langsung jika mengusirku. Tapi dari perlakuannya bisa aku ambil kesimpulan kalau dia nggak mau aku ada di dekatnya. Terus kenapa sekarang seakan-akan aku yang sudah salah. Ahh, kamu benar-benar plin-plan sekali jadi orang Mas!


[Kenapa ponselmu nggak aktif dari kemarin? Apa kamu sengaja? Apa kamu sudah dapat penggantiku?] pesan ke tiga.


Ini apalagi coba? Pengganti apaan? Emangnya cari pengganti itu semudah membalikkan telapak tangan?


[Kasih tau aku di mana kamu, Ran? Apa kamu ada di rumah Tante Linda? Kalau iya, coba kamu kirim alamatnya ya. Aku hanya ingin memastikan kalau kamu ada di tempat yang benar.] pesan ke empat.


Hanya untuk memastikan aku ada di tempat yang benar? Emangnya tempat yang salah itu seperti apa? Apa seperti tingkah lakunya selama ini? Ah memang benar kata pepatah, gajah di depan mata tak nampak, tapi semut di sebrang lautan akan nampak jelas.


Kirana memilih menyudahi membaca pesan-pesan yang Hendrik kirim. Paling juga pesan yang lainnya tidak jauh beda dengan tetap menyalahkan Kirana saja.


"Oh Tuhan, apakah aku akan sanggup tetap menjadi istri yang pemaaf bagi semua kekhilafan suamiku? Apalagi aku juga sudah tau jika dia sudah menjalin hubungan dengan perempuan lain. Meskipun perselingkuhan itu hanya melalui sosial media saja," gumam Kirana sambil merebahkan tubuhnya di tempat tidur.

__ADS_1


Sebelum tidur, tak lupa Kirana kembali berdoa untuk mengucap syukur atas penyertaan dan semua berkat yang telah Tuhan berikan padanya hari ini. Kirana juga berdoa pada Tuhan, jika memang Hendrik telah melakukan kesalahan di belakangnya, Kirana meminta agar Tuhan yang menegurnya.


__ADS_2