Sakitnya Menikah Denganmu

Sakitnya Menikah Denganmu
Bab 77.


__ADS_3

Hendrik menyentuh pipi Kirana. "Kamu kenapa jadi tegang begitu, Sayang?" ucapnya lembut.


"Ah, nggak kok, Mas," Kirana mengalihkan pandangannya pada layar ponsel. "Terus bagaimana kelanjutan ceritamu tadi?"


"Oh, terus Pak Gembala meminta kita untuk datang kesana besok, kira-kira kamu mau nggak ikut aku kesana?"


"Untuk apa, Mas? Tapi aku sepertinya sibuk besok." tolaknya sebelum Hendrik menjelaskan tujuan mengajaknya datang ke gereja.


Terlihat wajah Hendrik menjadi sedih. "Tolong kali ini aja, Ran. Luangin waktumu untuk kita pergi ke gereja bersama. Bukankah waktu itu kamu sendiri yang bilang jika aku menyesali perbuatanku, maka aku harus menemuimu di gereja untuk mencari solusi bersama.


Nah tadi pagi itu aku sudah mendaftar untuk konseling sama Pak Gembala. Jadi besok kedatangan kita sudah di tunggu oleh beliau." jelas Hendrik panjang lebar.


"Nanti malam aku kabarin kamu deh, Mas. Aku harus minta ijin dulu soalnya sama bos ku." ucap Kirana akhirnya.


Setelahnya mereka berdua makan sore bersama. Karena Hendrik terus memaksa agar Kirana lebih banyak makan dari sebelumnya.


Kirana mulai merasa nyaman dengan perlakuan lembut yang Hendrik berikan. Tapi Kirana belum berani memutuskan sekarang jika untuk kembali bersama.


"Sayang, aku pamit ya. Kamu jaga diri baik-baik. Nanti malam aku usahakan mampir ke sini lagi. Kamu mau di belikan apa?"


"Nggak usah, Mas. Kamu katanya mau nabung buat kita pulang ke Jakarta urus surat? Kok sekarang malah jajan terus?" lagi-lagi Kirana mencoba menolak pemberian Hendrik.


"Aku yakin pasti bakal ada rejeki untuk itu. Dan aku nggak mau perhitungan atau pelit lagi buat kamu. Buktinya hari ini aja ada customerku yang ngasih uang tip banyak banged. Makanya aku bisa belikan kamu sup iga sama jus buah di restoran yang paling enak," ungkapnya dengan antusias.


"Ya sudah, kalau gitu besok temenin aku kontrol ya, Mas. Karena besok katanya sudah bisa lihat jenis kelaminnya."


"Siap, Sayang. Ya sudah aku pulang dulu ya."


Tiba-tiba Hendrik mencium kening Kirana. Sampai-sampai Kirana melongo dibuatnya.

__ADS_1


"Maaf, aku kelepasan," ujar Hendrik merasa bersalah karena Kirana tiba-tiba jadi diam seribu bahasa.


"Nggak apa kok, Mas. Bye!" Kirana buru-buru menutup pintunya.


Setelah pintu tertutup rapat, ia langsung bersandar pada pintu itu seraya memegang dadanya yang tiba-tiba berdegup kencang. Apakah ini pertanda kalau aku memang masih sangat mencintai Mas Hendrik?


Kemudian, ia kembali merebahkan dirinya di atas tempat tidur sambil meraba tempat tidur itu. Bahkan meskipun kita berada di satu kamar dan hanya berdua saja, kamu begitu menghargaiku, Mas. Tak sedikitpun kamu memintaku untuk melakukan kewajibanku. Padahal jika kamu mintapun, itu bukan hal yang salah. Ahh, sepertinya aku sudah terlalu berlebihan memujimu.


Lalu ia kembali teringat akan perihal rumah yang telah ia beli tadi pagi. Apakah sebaiknya aku sewakan aja ya rumah itu? Terus aku pilih tinggal lagi sama Mas Hendrik. Nanti soal Sisil aku akan kasih tau dia baik-baik. Semoga aja dia nggak kecewa karena batal aku ajak tinggal di rumah baru.


Malam harinya Hendrik menepati janjinya untuk datang lagi sembari membawakan Kirana makan malam. Namun setelah Hendrik masuk ke dalam kamar, pintu kembali di ketuk.


"Ahh, ini pasti temanku yang datang, Mas. Kamu tunggu di sini sebentar ya."


Hendrik menuruti ucapan Kirana. Tak ada sedikitpun ia menaruh curiga pada istrinya itu.


"Kak,...." belum selesai Sisil berbicara, namun Kirana sudah mendorongnya agar menjauh dari pintu.


"Siap Kakakku sayang. Aku bakal diem aja deh ntar. Tapi apa sebaiknya aku pulang aja ya? Kan Kakak sudah ada yang nemenin?"


"Nggak apa, kamu ikut makan di sini dulu aja sama kami. Toh suamiku juga nggak nginep di sini kok. Dan nanti kalau setelah selesai makan kamu mau tetep pulang juga nggak masalah," lalu Kirana menggandeng tangan Sisil agar ikut masuk ke dalam.


"Mas, ada temanku yang mau ikut makan boleh kan?" celetuk Kirana sambil berjalan masuk.


"Boleh, Sayang. Ini lagi aku siapin dulu. Kalian tunggu di sofa aja," sahut Hendrik dengan posisi membelakangi Kirana dan Sisil.


Sisil merasa tak asing dengan suara yang baru saja ia dengar. Tapi dia lupa di mana dia mendengar suara seperti itu.


"Kak, itu suara suami Kakak? Sepertinya orangnya baik dan sabar banged ya? Tapi kenapa Kakak sampai sempat pisah?" bisiknya takut terdengar oleh Hendrik.

__ADS_1


Kirana menatap Sisil sekilas, "Ceritanya panjang, Sil. Dan aku nggak mau menginggat soal itu lagi. Bagiku yang penting sekarang ini suamiku sudah menyadari kesalahannya dan dia sudah berusaha untuk berubah."


Sisil manggut-manggut. "Lalu bagaimana hubungan Kakak dengan Kak Richard? Karena tadi pagi ia sempat datang ke toko nanyain Kakak. Tapi sesuai dengan arahan Kakak. Aku bilang nggak tau Kakak ada di mana." jelasnya.


"Jangan bahas dia lagi. Aku sudah menyelesaikan urusanku dengannya tadi siang." sahut Kirana sedikit ketus.


Mata Sisil membulat. "Hah? Dia kok tau Kakak ada di sini? Beneran bukan aku Kak yang kasih tau dia," Sisil mengankat dua jarinya tinggi-tinggi.


"Mungkin dia ngikutin kamu dari belakang. Dan kamu nggak sadar."


"Sayang, ini makanannya sudah siap. Kamu kalau mau makan duluan silahkan. Aku mau ke kamar mandi sebentar," ujar Hendrik dari arah mini pantry.


"Kita makan bareng aja, Mas. Aku sama Sisil juga belum terlalu lapar kok," sahut Kirana.


"Berarti Kakak bakal balik lagi sama suami Kakak?" Sisil memasang wajah serius.


"Nah, ini juga yang mau aku bahas sama kamu. Kamu nggak masalah kan kalau kita nggak jadi tinggal di rumah baru yang tadi pagi kita lihat? Soalnya, ...." Kirana ragu melanjutkan kalimatnya.


"Ya sudah, nggak apa, Kak. Apapun alasannya aku yakin pasti itu demi kebaikkan Kakak sama suami Kakak."


Kirana memeluk Sisil saking terharunya. "Makasih ya, Sil. Ehm, ngomong-ngomong gimana tadi siang? Sudah dapat nomor ponsel Mas ojolnya?" tanya Kirana sambil melepas pelukannya.


"Huh! Susah sekali Kak dia ngasih nomor ponselnya. Katanya sih dia sudah nikah, tapi aku nggak percaya. Buktinya dia nggak pakai cincin nikahnya," gerutunya sambil melipat tangan di depan dada.


"Sayang, ayok makan," tiba-tiba Hendrik sudah berdiri di depan mereka berdua.


"Yuk, Sil kita makan dulu. Oh iya, kenalin ini Mas Hendrik suamiku," Kirana berdiri di samping Hendrik sambil memegang lengannya.


Namun Hendrik dan Sisil justru saling pandang dengan tatapan terkejut satu sama lain.

__ADS_1


Kirana mengangkat satu tangannya melambai di antara Sisil dan Hendrik. "Hei, kalian berdua kenapa? Apa kalian sudah saling kenal?" tanya Kirana heran.


__ADS_2