Sakitnya Menikah Denganmu

Sakitnya Menikah Denganmu
Bab 67.


__ADS_3

Setelah selesai mengurus administrasi, Kirana mencoba menghubungi Om Alex. Siapa tau beliau mau datang untuk melihat Tante Linda yang terakhir kalinya.


"Halo, ada apa lagi? Kalau kamu telpon aku hanya untuk memintaku meninggalkannya, maka jawabanku tetap sama seperti tadi pagi!


Aku tak akan pernah meninggalkannya yang telah berhasil memberiku seorang anak! Tidak seperti kamu yang sudah aku nikahi bertahun-tahun, tapi ternyata mandul!


Aku akui jika selama ini meskipun kamu mandul, kamu membawa rejeki yang melimpah buat aku. Tapi buat apa banyak harta jika tak punya anak sebagai penerus generasi? Maka jangan salahkan aku jika aku lebih memilih dia dari pada kamu.


Untuk rumah yang ada di Surabaya, aku berikan padamu saja. Karena aku juga sudah malas untuk melihat rumah itu lagi. Terlalu banyak kenangan buruk bersamamu!"


Dada Kirana seketika merasa sakit, meskipun kata-kata itu bukan di tujukan padanya. Tapi sebagai sesama wanita, ia juga bisa merasakan bagaimana sakit hatinya seorang istri jika suaminya berkata demikian.


Apakah mandul itu keinginan dari setiap orang? Tentu tidak, tapi kenapa setiap ada kejadian, jika dari salah satunya tidak bisa memberikan anak, lalu pasangannya dengan mudahnya berselingkuh? Apakah tidak bisa di komunikasikan dengan baik jika tetap ingin punya anak?


Kan sekarang jaman sudah modern, bisa dengan cara bayi tabung. Tapi kenapa tidak dicoba lakukan itu dulu?


Kirana menghela nafas panjang. "Halo, Om Alex. Ini saya Kirana, maaf jika saya menganggu waktu Om. Dan maaf juga jika saya harus menghubungi Om Alex menggunakan ponsel Tante Linda."


"Kirana? Kenapa kamu lancang sekali menggunakan ponsel Tantemu? Mana dia sekarang? Pasti kamu disuruh sama Tantemu itu kan buat telpon saya! Dia pasti nyuruh kamu untuk menasehati saya kan?


Gila apa ya Tantemu itu. Mana mungkin saya mau dengar nasehat dari anak bau kencur seperti kamu? Rumah tanggamu sendiri aja berantakan kok pakai acara mau nasehatin saya segala!" hinanya.


"Cukup, Om!" bentak Kirana yang sudah mulai hilang kesabaran. "Saya menghubungi Om bukan karena mau menasehati Om atau apapun itu. Bagi saya itu bukan urusan saya."


"Bagus kalau kamu tau diri. Lalu untuk apa kamu menghubungi saya?"


Lagi-lagi Kirana harus menarik nafas terlebih dahulu sebelum melanjutkan berbicara.


"Saya hanya mau memberitau jika Tante Linda sudah meninggal. Dan akan di makamkan besok pagi. Jika Om ada waktu, Om bisa hadir untuk memberi penghormatan terakhir pada Tante Linda.


Tapi jika Om tetap nggak mau hadir juga tak masalah. Tugas saya hanya menyampaikan pesan ini saja.


Oh iya, untuk rumah Om yang ada di Surabaya ini lebih baik Om jual saja. Karena Tante Linda sudah punya rumah yang abadi."

__ADS_1


Kirana memutus panggilan telpon itu sepihak. Karena ia sudah tak kuat lagi berdebat dengan Om Alex yang ternyata jauh lebih egois dari Hendrik.


Richard berjalan menghampiri Kirana. "Sudah telponnya sama Om kamu? Bagaiamana, apakah beliau mau datang besok?" ia menatap kedua mata Kirana yang nampak semakin sembab dan mulai meneteskan aor matanya lagi.


"Ya sudah, nggak apa kalau Om kamu nggak mau datang. Itu bukan masalah besar kan? Kamu jangan terlalu banyak berpikir ya sekarang. Kasihan anak dalam kandunganmu pasti ikutan stress juga," Richard kembali memeluk Kirana.


...****************...


Pukul 09.00 pagi, semua prosesi pemakan telah selesai. Semua tamu undangan juga sudah pulang. Tapi tiba-tiba dari jauh terlihat Om Alex datang bersama seorang perempuan yang sedang hamil. Mereka berjalan ke arah Kirana dan Richard.


"Itu Om Alex kah, Ran?" bisik Richard yang dibalas anggukan kepala oleh Kirana.


"Buat apa dia datang kalau Tante sudah di makamkan?" lirih Kirana dengan tatapan kosong.


"Maaf Om terlambat, karena istri baru Om minta ikut," ucap Om Alex menyapa Kirana.


"Silahkan jika Om dan istri baru Om, mau minta maaf sama Tante Linda. Tapi saya rasa itu percuma. Karena Tante Linda juga sudah bahagia di sana! Saya permisi Om, Mbak!" Kirana menarik tangan Richard agar ikut bersamanya meninggalkan dua orang jahat yang sudah membuat Tantenya memilih mengakhiri hidupnya.


Tapi Kirana mengabaikannya, hingga tiba-tiba ia tersandung batu yang ada di depannya. Untungnya Richard sigap menangkap Kirana. Jadi ia tak sampai terjatuh.


"Sudah kita pulang saja ya, kamu tenangin diri dulu. Kamu jangan dulu bertemu dengan orang-orang yang bisa bikin kamu kembali bersedih."


Lima belas menit kemudian, mereka sudah sampai kembali di apartemen.


"Kak, besok temanin aku cari rumah ya," ucap Kirana sambil memejamkan matanya di aofa ruang tamu.


"Besok? Kamu yakin? Apa nggak sebaiknya kamu tinggal dulu di apartemen ini? Bahaya, Ran kalau kamu tinggal di rumah seorang diri. Apalagi kamu dalam keadaan hamil begini."


"Di sini pun aku juga sendiri kan, Kak? Lagipula aku nggak enak kalau harus tinggal di sini terus. Sudah hampir 2 bulan aku di sini. Sedangkan uangku untuk beli rumah juga sudah ada."


"Siapa bilang kamu sendirian di sini?"


Kirana membuka matanya dan menatap heran ke arah Richard. "Maksud kamu, Kak?"

__ADS_1


"Hehehe, aku kan tinggal di sebelah kamarmu ini, Ran. Jadi kamu nggak sendirian kan?" Richard memainkan kedua matanya.


"Hah? Sejak kapan? Kok aku baru tau?"


"Sejak lama lah, memang sengaja aku nggak kasih tau kamu."


Kirana memejamkan matanya lagi. Entah apa yang dia pikirkan sekarang.


"Jadi gimana? Tetep mau pindah? Atau tinggal di sini aja?"


"Kak, gimana kalau apartemenmu ini aku beli aja? Tapi pembayarannya aku cicil ya?" tawar Kirana.


"Nggak perlu kamu beli, aku bakal kasih apartemen ini buat kamu. Sesuai permintaan dari Mamaku juga."


"Serius Kak? Ahh, tapi aku tetap mau beli aja deh. Nggak mau aku kalau cuma-cuma gini."


"Ya sudah terserah kamu aja. Kamu kalau keinginannya belum terpenuhi pasti masih ngotot," decak Richard pasrah.


Satu bulan kemudian.


"Ran, keluar yuk. Kamu nggak bosen di kamar mulu?" ajak Richard yang pagi-pagi sudah bertamu ke apartemen Kirana.


"Kemana, Kak? Sisil bentar lagi mau dateng nih. Dia kangen katanya sama kamu," ledek Kirana.


"Ngapain Sisil sih yang kangen, kenapa bukan kamu aja?" gerutu Richard kesal.


"Lah ngapain aku harus kangen sama kamu? Tiap hari aja kamu nongol mulu ke sini. Ada aja alasan kamu untuk aku bukain pintu. Mulai dari bawain makan lah, bawain obat lah, bawain vitamin lah. Jadi ya wajar kalau aku nggak kangen. Tapi justru bosen sama kamu. Hahaha." timpal Kirana.


Padahal saat ini Richard tak sedang mengajaknya bercanda. Tapi tanggapan Kirana justru sebaliknya.


Sudah satu bulan terakhir ini Richard selalu memberi perhatian lebih pada Kirana sesuai dengan amanah dari Tante Linda. Namun hingga kini Richard masih juga belum bisa mendapatkan hati Kirana. Justru Kirana sering menjodoh-jodohkan Richard dengan Sisil.


"Kapan sih Ran, kamu peka sama apa yang sudah aku lakukan?" batin Richard.

__ADS_1


__ADS_2