Sakitnya Menikah Denganmu

Sakitnya Menikah Denganmu
Bab 66.


__ADS_3

Keesokkan paginya, Richard sudah datang kembali ke apartemen untuk menjemput Kirana. Padahal Kirana sendiri dari srnalam belum menjawab mau atau tidak untuk ikut ia jalan-jalan.


Kebetulan pagi ini Tante Linda yang menyambut kedatangan Richard. Karena Kirana masih berada di dalam kamarnya.


"Makasih ya, kamu sudah banyak membantu Tante dan Kirana akhir-akhir ini. Nggak tau deh gimana caranya Tante ngebalas semua kebaikkan kamu." tutur Tante Linda sembari mengelus lengan Richard. "Tante juga titip Kirana ya, siapa tau umur Tante nggak panjang," sambungnya lagi.


"Tante jangan bicara gitu dong. Aku kan jadi sedih dengarnya. Aku yakin umur Tante masih panjang. Lagian aku ikhlas ngebantu kalian. Apalagi Kirana dulu kesayangan Mamaku," Richard menghapus air mata di pipi Tante Linda menggunakan jarinya.


"Satu lagi, tolong jangan sampai Kirana kembali lagi sama Hendrik ya. Tante nggak setuju jika mereka kembali bersama. Jika bisa kamu harus buat mereka bercerai. Bagaimanapun caranya."


"Tapi, ...."


"Bukankah kamu juga mencintai Kirana? Inilah saatnya kamu untuk menggantikan posisi Hendrik. Karena Hendrik bukanlah suami yang baik bagi Kirana." sela Tante Linda.


"Baiklah, Tan. Tapi aku nggak bisa janji kalau soal ini. Karena siapa tau Tuhan memang mentakdirkan mereka untuk bersama lagi."


"Oh iya Tan, Kirana sudah bangun belum? Aku mau ajak dia jalan-jalan lihat rumah. Kan katanya Kirana mau beli rumah,"


Tante Linda segera bangkit dari duduknya. "Sebentar ya, Tante coba panggil dia dulu. Biasanya sih dia jam segini sudah sibuk di dapur. Tapi ini kok tumben malah belum keluar kamar sama sekali," ungkap Tante Linda sambil jalan ke arah kamar Kirana.


tok... tok... tok...


"Ran, kamu sudah bangun belum? Ini Richard sudah nungguin kamu. Katanya kamu mau diajak lihat rumah baru," panggil Tante Linda.


"Sebentar, Tan. Kirana masih sakit perut, mungkin gara-gara makan pedas semalam," sahut Kirana dari dalam kamarnya.


Padahal Kirana baik-baik saja. Ia hanya malu jika mengatakan baru bangun tidur. Apalagi sekarang sudah pukul 10.00.


Tiga puluh menit kemudian, Kirana keluar dari kamarnya dalam keadaan sudah berpakaian rapi.


"Ayok, Kak. Kita berangkat sekarang aja. Takutnya kalau kesiangan keburu macet," ajaknya.

__ADS_1


Tante Linda mengerutkan keningnya. "Loh, kamu katanya lagi sakit perut? Apa sekarang sudah baikkan? Sebaiknya kamu ke dokter dulu, deh. Tante nggak mau kandungan kamu kenapa-napa."


"Hehehe. Kirana baik-baik aja kok, Tan. Tadi cuma, ...." kini ia menundukkan kepalanya malu.


"Pasti dia bangun kesiangan tuh, Tan!" celetuk Richard tanpa aba-aba.


Kirana mengangkat wajahnya menatap Richard. "Kok tau sih, Kak?"


"Aku kenal sama kamu tuh sudah lama, Ran. Jadi semua tingkahmu aku tau," Richard terkekeh puas.


Kirana menghentakkan kakinya. "Ihh, nggak asik deh."


"Ya sudah sana kalian buruan berangkat sekarang aja. Tante nggak ikut, ya. Tante mau istirahat aja hari ini. Capek sekali rasanya," ucap Tante Linda sembari memijat bahunya sendiri.


"Tante mau ke SPA? Yuk kita anter Tante treatment dulu. Setelahnya baru kita sama-sama cari makan terus lanjut lihat rumah," usul Richard.


"Nggak deh, Tante hanya butuh istirahat aja kok."


"Tante Linda kenapa ya, Ran? Kok nggak seperti biasanya yang selalu ceria? Apa Tante lagi ada masalah?" tanya Richard heran.


"Aku juga nggak tau, Kak. Semalam sih kita langsung masuk kamar masing-masing. Apa sebaiknya kita tunda aja ya Kak cari rumahnya? Kita temenin Tante Linda dulu?"


Richard mengangguk setuju. Kemudian Kirana mengetuk pintu kamar Tante Linda, namun sudah lima menit, tak juga ada jawaban. Hingga membuat Richard nekat mendobrak pintunya.


Saat pintu berhasil dibuka, ternyata Tante Linda sedang dalam keadaan tertidur, tapi dari mulutnya keluar banyak sekali busa.


"Tante! Tante kenapa?" teriak Kirana sambil menepuk pipi Tante Linda berulang kali.


Richard melihat sekeliling, dan ia menemukan botol cairan serangga. "Tante Linda minum racun serangga ini sepertinya, Ran,"


Mata Kirana membeliak terkejut. "Astaga! Kak ayok cepet kita bawa Tante Linda ke rumah sakit. Aku nggak mau kehilangan Tante Linda," isak Kirana.

__ADS_1


Beberapa menit kemudian mereka sampai di rumah sakit terdekat. Tante Linda juga sudah dibawa masuk ke ruang UGD.


"Ran, coba kamu hubungin suaminya Tante Linda. Siapa tau kehadiran beliau sangat dibutuhkan Tante," saran Richard kala mereka menunggu di depan pintu UGD.


Kirana segera mengeluarkan ponsel Tante Linda. Tapi tiba-tiba gerakan tangannya terhenti tatkala membaca pesan terakhir yang di kirim oleh Om Alex tadi pagi.


Matanya membulat sempurnya, sebelah tanganya menutup mulut. "Astaga, apa ini penyebab Tante Linda sampai nekat mengakhiri hidupnya?" lirih Kirana terduduk lemas.


"Ada apa, Ran? Kenapa kamu tiba-tiba lemas? Ada masalah serius kah?" Richard terlihat panik seketika.


Kirana menyodorkan ponsel Tante Linda agar Richard membacanya sendiri. Ternyata tadi pagi, Om Alex menggugat cerai Tante Linda lantaran di sana ia sudah punya istri baru yang sedang mengandung anaknya.


"Tega sekali Om kamu, Ran. Apa nggak bisa membicarakan hal serius seperti ini dengan tatap muka? Kalau sudah begini kan kasihan Tante Linda," geram Richard sambil mengepalkan tangannya.


"Kalau sudah seperti ini, pasti Om Alex juga tetap nggak mau tau keadaan Tante Linda kan, Kak?" Kirana berucap sambil terus menangis.


"Ya sudah, sekarang kita fokus sama Tante Linda saja. Semoga nyawa Tante Linda masih bisa tertolong. Aku juga nggak mau kehilangan sosok Ibu seperti Tante Linda," kini Richard pun kembali meneteskan air matanya. Ia sudah tak peduli jika ada yang melihatnya menangis.


Tiga puluh menit kemudian, dokter keluar dari ruang UGD dengan tatapan lesu. "Keluarga Ibu Linda?" tanyanya.


"Iya, Dok. Saya keponakannya, bagaimana keadaan Tante saya sekarang? Tante saya masih bisa diselamatkan kan, Dok? Tante saya baik-baik saja kan, Dok?" cecar Kirana.


Dokter itu menggelengkan kepalanya lalu menghela nafas panjang. "Maafkan kami, kami sudah berusaha semaksimal mungkin untuk menyelamatkan nyawa Tante anda. Tapi sayangnya racun di dalam tubuhnya sudah menyebar. Jadi sekali lagi kami mohon maaf tidak bisa menyelamatkan nyawa Tante anda," tuturnya sambil menundukkan kepala.


Kirana bersujud di kaki dokter itu sambil menyatukan kedua telapak tangannya. "Tolong coba sekali lagi, Dok. Siapa tau kali ini berhasil, Dok. Tolong selamatkan nyawa Tante saya, Dok. Tolong,"


Richard memegang lengan Kirana dan membantunya kembali berdiri. "Ran, sudah. Ikhlaskan Tante Linda. Jangan kamu seperti ini, Tante Linda pasti sedih."


"Tapi kenapa Tante Linda pilih tinggalkan aku dengan cara seperti ini, Kak? Bukankah Tante tau kalau bunuh diri itu dosa? Kenapa tetap Tante lakukan, Kak?" Kirana membenamkan wajahnya ke dada Richard.


"Terkadang jika manusia sudah dipengaruhi oleh bisikan setan, mau sebaik apapun dia, dia bakal melakukan hal yang melanggar ajaran agamanya. Sekarang lebih baik kita sama-sama doakan semoga Tante Linda tenang di alam sana. Meskipun beliau meninggalnya dengan cara tragis," ujar Richard membelai rambut Kirana.

__ADS_1


__ADS_2