Sakitnya Menikah Denganmu

Sakitnya Menikah Denganmu
Bab 92.


__ADS_3

Saat semua mata masih fokus menatap mobil, tiba-tiba Bu Mery juga keluar sambil dituntun dengan seorang perempuan yang sedang hamil. Kirana menduga itu adalah Rita.


"Duh, anakku sudah datang," celetuknya dengan wajah bahagia seraya berjalan ke arah pintu mobil. Dan ternyata benar, yang keluar dari mobil itu adalah Judika. Dengan wajah angkuhnya, ia memeluk sekilas Bu Mery.


"Mana calonmu, Nak? Katanya dia akan ikut datang ke acara syukuran Papa besok?" tanya Bu Mery, sorot matanya melihat ke dalam mobil.


"Dia tidak ikut, Ma. Katanya masih sibuk dengan kerjanya. Maklum, dia pengusaha muda yang sukses," sahut Judika meninggi. Namun matanya melirik sinis ke arah Kirana.


"Wah, Mama bersyukur kalau kamu bisa punya calon istri yang sudah sukses. Di antara anak-anak Mama, hanya Abangmu Hendrik yang tidak bisa mencari istri dengan benar," ketusnya.


Kirana yang mendengar sindiran dari mama mertuanya hanya tersenyum tipis. Kemudian, ia berlalu masuk ke dalam kamarnya. Lebih baik ia menggunakan waktunya untuk istirahat saja, apalagi ini sudah tengah malam.


Kalaupun mereka masih mau ngobrol, silahkan. Namun, Kirana tidak ingin ikut dalam obrolan malam ini. Sudah bisa ditebak bahwa jika ia ikut duduk di antara mereka, pasti topik utamanya adalah menghina Kirana.


Baru saja Kirana ingin membuka pintu kamarnya, tetapi ia merasa ada sesuatu yang janggal.


"Kenapa tidak dikunci? Padahal, aku selalu membiasakan mengunci pintu kamar sebelum keluar. Apa Mas Hendrik lupa menguncinya tadi?" batin Kirana merasa geram.


Pikirannya mulai gelisah. Dan benar saja, begitu pintu terbuka, ia dikejutkan dengan satu buah koper besar yang tergeletak di atas tempat tidurnya.


"Mas!" teriak Kirana lantang.


Hendrik yang mendengar teriakan Kirana pun segera berlari menghampirinya. "Ada apa, Sayang? Kenapa teriak-teriak gitu?" tanya Hendrik yang terlihat panik, firasatnya mengatakan akan terjadi hal buruk.

__ADS_1


Kirana menunjuk ke dalam kamarnya. "Coba lihat apa itu yang ada di atas tempat tidur. Kenapa bisa seenaknya masuk ke dalam kamarku? Kamu juga tadi kenapa nggak kunci pintu dulu sih?" omel Kirana seraya menarik paksa koper yang ada di atas tempat tidurnya.


Bruak! Mata Hendrik membulat sempurna bersamaan dengan koper yang Kirana banting. Begitupun dengan Bu Mery, Rita, dan Handoko. Mereka sama-sama datang ke arah sumber suara. Hanya Axel, Sinta, Cindy, dan Bagas yang tetap duduk santai di depan. Sepertinya mereka tidak ingin ikut campur urusan rumah tangga kedua kakaknya. Sedangkan Judika entah kemana bocah benalu itu.


"Astaga, koperku!" pekik Rita seraya berlari kecil ke dalam kamar.


"Mamah, Sayang! Coba lihat ini," Rita merengek ke Bu Mery dan suaminya. "Jahat banget sih menantu Mama yang satu ini. Pantas Mama tidak pernah bisa menerima dia. Orang kelakuannya saja seperti ini," cemoohnya.


"Keterlaluan kamu, Ran!" Hardik Handoko dengan mata melotot dn berkacak pinggang.


"Terserah kalian saja! Tapi tolong sekarang juga kalian semua keluar. Aku ingin istirahat, soalnya," usir Kirana seraya mengibas-ngibaskan tangannya ke udara.


Namun, ternyata tak ada satupun dari mereka yang mau keluar dari dalam kamar itu. Hingga membuat Kirana menatap Hendrik.


Saat Hendrik akan berkata, Bu Mery terlebih dahulu memotongnya. "Kamu kenapa tidak bisa mengalah sama kakak iparmu sendiri? Apa salahnya kalau dia tidur di kamar ini? Kamu tidur di kamar sebelah. Toh mereka di sini juga cuma beberapa hari saja. Dan lagi pula, rumah kontrakan ini Hendrik yang membayarnya kan? Jadi, keputusan ada di Hendrik," ketus Bu Mery, melirik sinis pada Kirana.


"Loh, tidak bisa gitu dong! Mau yang membayar kontrakan ini aku atau Mas Hendrik, itu tidak ada hubungannya. Karena tetap saja ini kamarku! Kamar tamu ada di sebelah. Kalian di sini bertamu, kan?" ucap Kirana penuh penekanan.


"Tapi di sebelah tidak ada AC-nya, Ma. Aku tidak bisa tidur kalau tidak pakai AC," lagi-lagi Rita merengek seperti anak kecil yang minta dibelikan mainan pada Bu Mery.


"Bukan urusanku!" sinis Kirana, lalu, ia menatap Hendrik. "Masih mau menunggu apa lagi, Mas? Kamu tahu kan kalau aku sudah sangat lelah hari ini?" tegas Kirana.


Kali ini Hendrik mulai terlihat bimbang. Di satu sisi, ada orang tua dan saudara-saudaranya. Di sisi lain, ada istri dan calon anaknya.

__ADS_1


Kalau dia membela mamanya, Kirana pasti akan marah atau bahkan meminta cerai. Tetapi kalau dia membela Kirana, yang ada, mamanya yang akan memberikan sumpah serapah pada Hendrik. Andai saat ini Hendrik bisa menghilang, pasti Hendrik akan lebih memilih menghilang daripada disuruh memilih pilihan yang tidak bisa dia pilih salah satunya.


"Oke, kalau kamu tidak bisa mengambil keputusan, maka aku yang akan bertindak."


Tiba-tiba Kirana mengambil sapu lidi yang biasa ia gunakan untuk merapikan tempat tidurnya. Kemudian, ia mulai mengibas-kibaskan sapu itu ke arah Bu Mery, Rita, dan Handoko. Hingga, membuat mereka bertiga kalang kabut dan terpaksa berjalan mundur dan lama-lama keluar dari dalam kamar.


Bruak! Kirana sengaja membanting pintu kamarnya agar mereka tahu jika Kirana benar-benar sedang marah. Terserah sekalipun mereka mau bilang jika Kirana tidak tahu sopan santun. Toh, mereka sendiri juga tidak punya sopan santun. Buktinya, mereka masuk ke dalam kamar Kirana tanpa ijin terlebih dahulu.


Hendrik yang melihat Kirana membanting pintu segera berjalan mendekatinya. Terlihat Kirana masih mengatur nafasnya kembali. Dadanya masih naik turun disertai hidungnya yang kembang kempis.


"Maafkan aku ya, Sayang. Maaf kalau aku tidak bisa tegas sama Mama," ucap Hendrik sambil memegang bahu Kirana.


Kirana segera menepis tangan itu. "Aku bukan minta kamu untuk kurang ajar sama Mamamu, Mas. Aku hanya ingin kamu tegas sama mereka di saat mereka menindasku!" ungkap Kirana dengan gusar.


Hendrik hanya diam tertunduk.


"Sudahlah, percuma bicara denganmu! Ingatlah, Mas. Ini kesempatan kedua yang kuberikan padamu. Jika kamu tetap seperti ini, jangan salahkan aku jika suatu saat nanti aku menyerah pada hubungan pernikahan ini. Dan aku pastikan kamu tidak akan mendapat kesempatan ketiga lagi," ucap Kirana dengan tegas.


Hendrik mengangguk mengerti. Dia tidak ingin memperdebatkan ucapan Kirana karena ia merasa bersalah.


Keesokan paginya, Kirana enggan keluar dari dalam kamarnya. Bahkan saat Sinta dan Cindy berusaha memanggil Kirana sejak beberapa menit yang lalu untuk ngobrol, tapi dia tetap ingin berdiam diri di kamarnya.


Tapi setelah Hendrik memberitahu jika Papa Robert sudah hampir sampai, barulah Kirana mau keluar. Namun, ketika Kirana berdiri di teras rumahnya, dia kaget melihat ke halaman rumah.

__ADS_1


"Astaga!" pekiknya terkejut.


__ADS_2