Sakitnya Menikah Denganmu

Sakitnya Menikah Denganmu
Bab 68.


__ADS_3

Tak berselang lama kemudian, Sisil datang untuk mengirim hasil laporan penjualan. Padahal bisa saja laporan itu di kirim melalui email. Tapi atas permintaan Kirana akhirnya Sisil mau datang ke apartemen.


"Ayo masuk, Sil," ajak Kirana kala pintu baru dibuka.


"Ada Kak Richard nggak, Kak?" bisik Sisil, tapi pandangannya sudah mencari sang pujaan hati.


"Ada tuh, di dalem. Dia juga lagi nungguin kamu," ledek Kirana sambil mendorong badan Sisil dari belakang.


"Kak, dicariin sama Sisil nih," celetuk Kirana tiba-tiba, membuat Sisil jadi salah tingkah.


Richard berpaling ke arah sumber suara. "Oh hai, Sil. Gimana kabarmu?"


"Baik, Kak." sahut Sisil tersipu malu. Kemudian ia duduk di sofa yang bersebelahan dengan Richard.


"Kak, kita keluarnya bertiga aja yuk. Sekalian biar Sisil ikut kita jalan-jalan. Kasihan dia beberapa minggu ini belum dapat jadwal libur," usul Kirana sambil merapikan rambutnya.


Sisil terlihat senang dengan usul Kirana. Karena memang sudah sejak lama ia ingin jalan bersama Richard. Meskipun saat ini Kirana harus ikut bersamanya juga.


Berbeda dengan Richard yang nampak murung lantaran rencananya ingin jalan berdua saja dengan Kirana terancam gagal.


"Gimana Kak? Kamu nggak masalah kan? Karena kalau kita jalan berdua aja takutnya timbul fitnah," Kirana beralasan.


Akhirnya Richard mengangguk setuju. Yang ada dipikirannya adalah melihat Kirana bahagia. Meskipun itu bertentangan dengan hatinya.


"Sekalian nanti aku antar kamu lihat rumah sakit untuk kamu melahirkan nanti," ucap Richard pada Kirana.


Mereka bertiga segera turun ke bawah, namun saat akan masuk ke dalam mobil, Kirana memilih duduk di bangku belakang. Sedangkan Sisil ia suruh duduk di depan dengan Richard.


Tapi kali ini Richard tak mau mengikuti permintaan Kirana. Lantaran ia tak nyaman jika duduk bersebelahan dengan Sisil yang terkesan centil di depannya.

__ADS_1


"Kamu lagi hamil, Ran. Aku nggak mau kalau kamu mabuk jika kamu duduk di belakang," ucapnya sambil menarik tangan Kirana agar mau ikut pindah duduk di depan.


Kirana menatap raut wajah Sisil yang berubah murung. "Aku nggak apa Kak duduk di belakang. Justru malah lebih nyaman jika aku duduk di belakang," Kirana memegang lengan Richard sebelum masuk ke bangku depan.


"Kalau kamu maksa tetep duduk di belakang, lebih baik kita nggak usah keluar!" tegas Richard sedikit kesal.


Hal itu membuat Sisil merasa tersinggung, tapi ia tak berani mengatakannya secara langsung. "Kak, jangan marahin Kak Kirana. Aku nggak jadi ikut kalian kok. Soalnya aku baru inget kalau aku harus datang ke acara nikahannya temanku sebentar lagi," sela Sisil menatap sedih ke arah Kirana.


"Ya sudah kalau kamu mau pergi sendiri. Hati-hati di jalan." sahut Richard tanpa menoleh ke Sisil.


Kemudian Richard meminta Kirana segera masuk, dan menutup pintu mobilnya. Ia benar-benar mengabaikan keberadaan Sisil di sana.


Kirana menurunkan kaca mobilnya. "Sil, kamu beneran nggak mau ikut sama kita?"


Sisil menggelengkan kepalanya yakin. Meskipun dalam hatinya ia ingin ikut. Tapi melihat perlakuan Richard barusan membuatnya malas untuk ikut.


"Sudah jangan dipaksa kalau memang dia nggak mau ikut." gumam Richard sambil menyalakan mesin mobilnya.


"Dia kan yang suka sama aku? Bukan aku kan yang suka sama dia? Lagian kamu juga ngapain sih pakai acara jodoh-jodohin aku sama dia?


Kamu sendiri mau nggak kalau aku jodoh-jodohin sama orang yang nggak kamu suka?" Nggak mau kan? Jadi tolong jangan lakukan itu lagi sama aku. Karena aku juga saat ini sedang mengejar hati perempuan lain," Richard berucap cukup lantang, hingga membuat Kirana terkejut.


Tiba-tiba air matanya mulai menetes begitu aja. Kirana tidak terbiasa mendengar suara keras. Jadi sedikit saja ada yang membentaknya, ia pasti akan menangis.


Tapi Kirana juga mulai menyadari jika yang ia lakukan adalah salah. Tidak sepantasnya ia memaksakan agar Richard mau menerima Sisil yang baru saja ia kenal. Ya, Richard memang berhak menentukan pilihan pendamping hidupnya sendiri.


Apalagi barusan Richard mengatakan jika saat ini dia sedang memperjuangkan hati perempuan lain. Seharusnya Kirana yang sudah menganggap Richard sebagai Kakaknya, lebih mendukung perasaan Richard pada perempuan itu kan?


"Kak, aku minta maaf ya. Aku nggak ada maksud buat ngatur jodoh kamu kok. Cuma aku mencoba membantu Sisil yang suka sama kamu," lirih Kirana sambil menghapus air matanya.

__ADS_1


Richard yang baru menyadari jika Kirana menangis segera menepikan laju mobilnya. Namun sialnya karena panik, ia justru menyerempet pengendara ojek motor.


Brugh.


Terdengar suara kendaraan motor terjatuh.


"Kak, kamu nabrak orang!" pekik Kirana panik sambil melihat ke arah belakang.


"Woi! turun kalian!" tiba-tiba terdengar suara pengendara motor lain yang mengebrak kaca mobil Richard.


"Jangan kabur kalian! Kalian harus tanggung jawab, kasihan itu pengendara ojol yang kalian serempet barusan!" teriak pengendara lain lagi.


Richard menurunkan kaca mobilnya. "Iya, Pak. Kami akan tanggung jawab kok. Tapi tolong jangan main hakim sendiri ya. Kasihan teman saya sedang hamil soalnya," pinta Richard mengiba.


"Ya! Tapi kalian turun dulu sekarang. Bawa ojol itu ke rumah sakit. Karena sepertinya dia terluka parah!" serunya dengan wajah kesal.


Richard memegang tangan Kirana. "Kamu tunggu di sini dulu ya, Ran. Biar aku aja yang turun. Takutnya kalau kamu ikut turun kamu kedorong-dorong sama orang yang lihat kecelakaan ini,"


Kirana mengangguk setuju, karena ia pun tak bisa jika harus melihat banyak darah. Bisa-bisa ia malah pingsan di tempat.


Begitu Richard turun, ada beberapa orang yang terlihat kesal dan melampiaskan dengan memukul Richard secara tiba-tiba. Namun untungnya ada orang yang mau melerai, hingga tak sampai membuat Richard babak belur.


"Maafkan saya, Pak. Saya benar-benar nggak sengaja tadi. Saya juga akan bertanggung jawab sama Mas ojol ini dan penumpangnya juga," lirih Richard sambil memegang pipinya.


"Cepat bawa mereka ke rumah sakit!" teriak orang-orang yang sudah berkerumun.


Saat Richard berjalan mendekat, terlihat ojol dan penumpangnya itu sudah di bantu duduk di trotoar. Dan motor ojol itu juga sudah di berdirikan lagi.


Untungnya juga penumpang ojol itu hanya mengalami luka lecet di bagian lengan serta kakinya sebelah kiri saja. Sedangkan untuk pengemudi ojolnya luka di bagian telapak tangan saja. Jaket ojolnya juga terlihat robek.

__ADS_1


"Mas, saya minta maaf ya. Saya benar-benar nggak sengaja tadi. Karena terlalu fokus berbicara sama teman saya." tutur Richard sambil duduk jongkok di depan ojol itu.


Namun saat ojol itu membuka helm serta maskernya, Richard tiba-tiba terkejut. Matanya membeliak nyaris copot dari tempatnya.


__ADS_2