
"Bukan siapa-siapa," sahut Hendrik santai sambil kembali duduk di sofa.
"Tapi kenapa dia sering datang kesini?" sangah Kirana.
"Wajar lah dia sering kesini, kan ini rumah makan terbuka untuk umum."
"Aku nggak mau ya Mas kalau masih ada hubungan yang belum kamu selesaikan di belakangku. Karena aku nggak mau terganggu dengan hal-hal seperti itu saat kita sudah resmi menikah nanti," ucap Kirana sedikit tegas.
"Aku bukan anak kecil yang harus kamu ajarin!" Hendrik berucap tak kalah tegas dengan Kirana.
"Baguslah kalau kamu tau."
Setelah selesai makan, Hendrik segera mengajak Kirana menuju ke salon tempat temannya bekerja.
"Kalau masih mau makan ice creamnya bawa aja, biar di dalam mobil kamu nggak cemberut terus," titah Hendrik karena ia tau kalau Kirana masih pengen makan ice creamnya.
Saat mereka sudah sampai di lantai satu, ada beberapa karyawan yang terlihat masih asik bergosip. Padahal suasana rumah makan lumayan ramai siang ini. Hendrik pun segera menghampiri mereka.
"Ekhm!"
Sontak mereka semua menoleh ke arah Hendrik dengan wajah tegang dan saling sikut menyalahkan satu sama lain.
"Kalau kalian sudah bosan kerja, besok nggak usah datang lagi!"
"Kalian coba lihat ke sekitar, tamu lagi rame tapi kalian malah asik bergosip!" bentak Hendrik sembari menunjuk ke setiap sudut ruangan.
"Ma-maaf Pak. Kami masih mau kerja disini kok," lalu mereka saling berhamburan membubarkan diri.
Wajah Hendrik ketika marah mampu membuat semua orang menjadi takut. Tak terkecuali Kirana, tapi bukan Kirana namanya kalau dia tak bisa menutupi rasa takutnya.
Di sepanjang perjalanan, Hendrik masih saja memasang muka masamnya. Entah apa yang dia dengar dari obrolan para karyawannya itu.
Akhirnya Kirana mencoba memberanikan diri untuk mengajaknya bicara.
__ADS_1
"Masih jauh kah, Mas? Kira-kira berapa lama lagi? Nanti disana aku bebas pilih gaun yang aku mau kan?" cecar Kirana berusaha mencairkan suasana yang dingin. Padahal di luar matahari begitu terik.
"Hem,"
"Kok cuma hem aja sih? Aku tanya panjang lebar, jawabannya singkat banget. Nggak seru ah kamu, Mas," Kirana pura-pura cemberut.
"Dah sampai! Buruan turun."
"Loh? Eh, kok udah sampai aja sih?" gerutu Kirana.
"Hai cint, dah lama nggak main kesini," sapa cowok berbadan gemulai.
Lalu ia mengalihkan pandangannya ke arah Kirana. "Dia sapa cint? Kok beda lagi cewek yang kamu ajak kesini," tanyanya pada Hendrik namun arah matanya tetap tertuju ke arah Kirana.
Degh.
"Kok dia bilang beda lagi? Memangnya sebelum ini Mas Hendrik pernah datang kesini buat fitting baju pengantin sama perempuan lain?" batin Kirana penasaran.
"Cariin gaun yang cocok buat dia," Hendrik menunjuk Kirana.
"Ayok ikut aku," ketus cowok gemulai itu oada Kirana.
Kirana pun mengikuti langkah cowok gemulai itu masuk ke dalam ruangan yang penuh dengan berbagai macam model gaun pengantin. Mulai dari yang terbuka dan seksi, sampai yang tertitup juga ada.
"Silahkan kamu pilih mau yang mana?" tanyanya masih dengan wajah jutek.
"Aku mau coba yang itu, itu, itu, itu, dan itu." Kirana menunjuk lima sekaligus gaun pengantin yang dia mau.
"Haduh seleramu bagus juga ya ternyata. Kukira seleramu bakal pas-pasan seperti wajahmu. Uups," ledek cowok gemulai itu.
"Hey, jangan salah! Aku kalau mau dandan artis pun bakal ngantri buat nikah sama aku! Sayangnya aku memang lagi pengen tampil apa adanya. Tapi meskipun penampilanku begini, buktinya Hendrik mau nikah sama aku kan?" balas Kirana tak mau kalah.
Seketika cowok gemulai itu terdiam sambil memikirkan sesuatu. Hal itu membuat Kirana tertawa puas dalam hati.
__ADS_1
"Jadi kamu beneran calon istrinya Hendrik?" tanyanya tak percaya.
"Menurutmu? Masa iya kalau bukan calon istri bakal di ajak fitting baju sih?" tanya Kirana balik.
"Kalau cuma untuk fitting baju mah, siapa aja juga bisa di ajak kali. Dua bulan lalu aja Hendrik juga datang kesini sama perempuan cantik. Aku kira mereka bakal nikah dalam waktu dekat, tapi ternyata bookingan gaunnya tiba-tiba di batalin sama dia," celotehnya sembari mengambil beberapa gaun yang Kirana minta.
"Dua bulan yang lalu? Berarti saat Mas Hendrik mabuk berat itu kah? Apa jangan-jangan saat itu dia memang abis putus cinta, makanya sampai mabuk malam itu," tanya Kirana dalam hati.
"Berarti dia emang jodohnya sama aku," Kirana tertawa meledek.
"Atau jangan-jangan kamu hanya pelariannya aja ya?" cowok gemulai itu ternyata tak mau kalah.
"Enak aja!" bantah Kirana. "Nama kamu siapa sih? Biar enak gitu kita ngobrolnya. karena sepertinya kita seumuran deh. Kalau aku Kirana," lalu Kirana mengulurkan tangannya.
"Aku Rudi," jawabnya sembari menjabat tangan Kirana. "Iya kita sepertinya seumuran, brarti nggak perlu panggil dengan Mbak/Mas kan ya. Hahaha."
"Oh iya, kamu masih inget nggak seperti apa wajah atau ciri-ciri perempuan yang di ajak fitting baju waktu itu?" Kirana mencoba cari tau tentang calon istri Hendrik sebelum dia.
"Aku lupa-lupa inget sih. Tapi yang jelas dia tinggi seperti kamu, kulitnya juga putih sama seperti kamu, rambutnya juga sama seperti kamu. Cuma bedanya perempuan itu dandanannya sedikit menor. Terus jutek gitu mukanya. sombong pula kalau di ajak ngobrol," jelas Rudi.
"Bentar-bentar, apa wajahnya seperti ini," Kirana membuka galeri di ponselnya. Dia mencari foto Sintya yang sedang berfoto bersamanya beberapa bulan yang lalu.
Memang Kirana dan Sintya memiliki bentuk tubuh dan rambut yang sama. Perbedaan di antara mereka hanya di cara berdandan saja.
Mereka benar-benar bersahabat erat beberapa bulan yang lalu. Bahkan Sintya pernah meminta agar pernikahan mereka nantinya di laksanakan secara bersamaan.
Tapi persahabatan dan impian itu kini telah hancur karena kejadian tak terduga dua bulan yang lalu. Andai Kirana tak hamil, pasti dia akan merelakan Hendrik untuk Sintya walaupun Hendrik sudah mengambil kesuciannya.
Sayangnya Sintya juga tak pernah bercerita tentang hubungannya dengan Hendrik selama ini. Jadi Kirana menganggap kalau Sintya selama ini jomblo sama seperti dirinya.
"Mana buruan. Ada nggak fotonya? Lama banget sih nyarinya," gerutu Rudi sambil menghentakkan kakinya berkali-kali.
"Sabar dong ih," sahut Kirana sembari jari lentiknya terus mencari foto Sintya.
__ADS_1
"Nah ini dia ketemu," mata Kirana berbinar senang.
"kira-kira di bukan perempuan yang di ajak Mas Hendrik kesini waktu itu?" imbuh Kirana sembari menyodorkan ponselnya.