
"Ayo kita buat laporan! Karena setelahnya aku akan datangin toko bunga Kirana untuk mencari tau di mana ia melahirkan semalam. Aku nggak percaya jika anakku meninggal." ajak Hendrik saat Kirana sudah tak terlihat lagi.
"Pokoknya kamu harus bisa bikin Kirana ditahan. Kecuali jika dia mau mencabut laporannya tadi serta kasih mama uang 5M!" pinta Bu Mery di sela-sela tangisnya.
1 jam kemudian, mereka berempat keluar dari kantor polisi. Raut wajah mereka masih terlihat kusut. Lantaran laporan yang mereka buat masih harus dilakukan visum terhadap Pak Robert, guna mencari bukti yang akurat.
"Aku pamit ya, Ma. Nanti jika urusanku selesai, aku akan menyusul ke rumah sakit lagi." tandasnya lalu beranjak pergi.
Bu Mery hanya menganggukan kepala. Di pikirannya masih berkecamuk tentang bagaimana caranya agar ia bisa dapat uang dari Kirana.
Rita yang sedari tadi merasa cemas, akhirnya berbisik pada Handoko. "Mas, gimana kalau hasil visum Kirana nanti membuktikan jika dia memang mengalami kekerasan? Terus bagaimana jika hasil visum papa nggak menunjukkan jika Kirana lah pelakunya? Aku takut, Mas. Aku nggak mau di penjara. Apa kata orang tua dan keluarga besarku nanti. Apalagi aku dalam keadaan hamil begini." cecar Rita frustasi.
Handoko menghela nafas seraya mengenggam tangan Rita guna menenangkannya. "Kamu tenang aja. meskipun hasil visum Kirana membuktikan jika dia mengalami kekerasan, tapi kita kan bisa mengelak nantinya. Toh dia kan nggak punya saksi mata jika memang kita lah pelakunya.
Dan kalau soal hasil visum papa, aku sih berharap di tubuh papa masih ada bekas sidik jari Kirana yang menempel. Apalagi, setelah selesai acara, Kirana kan sempat ngobrol dengan papa? Pasti adalah sesekali Kirana memegang tangan papa? Jadi kamu nggak perlu mengkhawatirkan apa pun, Sayang." tutupnya diiringi senyum puas.
...****************...
"Sial! Kenapa semua toko bunga Kirana hari ini tutup? Kalau begini ceritanya, aku harus cari tau kemana? Ke rumah sakit tempat Richard bekerja yang dulu sempat aku datangi, ternyata dia sudah keluar dari sana. Argh!" geram Hendrik seraya menyugar kasar rambutnya.
Ia duduk di parkiran motor sambil sesekali memperhatikan ke lantai 2 ruko Kirana. Siapa tau tiba-tiba ada karyawan yang tinggal di dalam ruko melihat keluar.
Tapi ternyata harapannya sia-sia. Ruko itu benar-benar sudah kosong. Bahkan satpam yang biasa jaga di ruko itu pun, tak nampak batang hidungnya hari ini.
Ya, toko bunga Kirana memang sengaja Kirana tutup hari ini. Dan semua karyawan sengaja ia minta untuk tidak tinggal di ruko lagi. Semua itu sudah ia lakukan sebelum ia berangkat ke kantor polisi.
Ternyata perkiraan Kirana benar-benar tepat. Hendrik pasti akan cari tau keberadaannya melalui karyawannya.
Akhirnya Hendrik memutuskan untuk kembali ke rumah sakit tempat Pak Robert dirawat dengan perasaan yang sulit untuk di ungkapkan.
__ADS_1
Empat puluh lima menit kemudian, Hendrik telah sampai di kamar rawat inap Pak Robert. Kondisi Pak Robert ternyata sudah mulai membaik. Terbukti dengan Pak Robert yang sudah mulai membuka matanya.
Di sisi kanan tempat tidur, terlihat Bu Mery sedang duduk mengupas buah untuk di makan. Sedangkan Handoko dan Rita asik bermain ponselnya masing-masing. Tapi di antara mereka bertiga tak ada satupun yang terlihat bahagia dengan sadarnya Pak Robert.
"Papa sudah sadar? Bagaimana keadaan papa sekarang?" seru Hendrik terharu. Padahal sebelumnya ia sangat kesal di buat Kirana.
Pak Robert tersenyum. "Papa sudah lebih baik. Mana Kirana? Apakah dia baik-baik saja?" tanya Pak Robert dengan suaranya yang masih lemah.
"Syukurlah ternyata papa nggak sampai terkena stroke seperti yang dokter katakan kemarin malam.
Tapi buat apa papa tanya keadaan Kirana?
Harusnya papa nggak perlu mengkhawatirkan keadaan penjahat seperti dia. Dia sudah kami laporkan karena telah mencelakai papa. Papa sudah selesai di visum kan? Biar bisa secepatnya Kirana mempertanggungjawabkan pembuatannya." tanyanya lagi lalu duduk di kursi yang ada di samping Pak Robert.
"Buat apa papa harus di visum?" justru Pak Robert balik bertanya pada Hendrik. "Kamu pasti sudah terhasut oleh omongan mama dan Abangmu?" sambungnya dengan suara terbata.
"Maksud papa?" kali ini netra Hendrik justru beralih menatap mama dan Abangnya secara bergantian.
Jadi bukan Kirana yang mencelakai Papa. Tolong kamu percaya pada papa. Kasihan istri dan calon anakmu. Jauhkan dia dari mama dan Abangmu," ungkap Pak Robert akhirnya.
Bagai di sambar petir di siang bolong. Lagi-lagi Hendrik telah membuat kesalahan fatal. Pantas saja jika Kirana sangat marah padanya.
"Jadi semua ini fitnah kalian? Tega sekali kalian memfitnah Kirana? Apa salah dia sama kalian? Sekarang aku bukan hanya kehilangan istri, tapi aku juga kehilangan anakku!" murkanya menatap tajam Bu Mery dan Handoko.
"Sudahlah! Nggak usah kamu marah sama kita bertiga. Siapa suruh Kirana nggak mau kasih modal buat aku! Jadi ya, inilah hukuman buat orang sombong sepertinya.
Toh, kalau kamu cerai dengan Kirana, pasti kamu bakal kebagian harta gono gini kan? Harusnya kamu berterima kasih sama aku, bukan marah-marah nggak jelas.
Dan kalau soal istri, kamu bisa cari istri lagi nantinya. Punya anak juga gampang kan? Apalagi jika kamu sudah punya bisnis lagi dari hasil pembagian harta gono gini. Banyak perempuan yang antri pastinya." ucap Handoko dengan sikap angkuhnya.
__ADS_1
Bugh!
Bugh!
Dua pukulan keras mendarat di perut dan pipi Handoko. Hingga membuatnya meringis menahan sakit.
"Hendrik hentikan!" Bu Mery berdiri seraya merentangkan tangannya di depan Handoko. "Jangan kamu pukuli Abangmu. Ia tak bersalah!" lagi-lagi Bu Mery selalu membela anaknya meskipun bersalah.
"Jangan halangi aku, Ma. Aku nggak mungkin memukul mama. Jadi biarkan aku memukul Abang yang sudah tega menghancurkan rumah tangga adiknya sendiri!" Hendrik mengepalkan tangannya dan bersiap memukul Handoko kembali.
"Lebih baik sekarang kamu cari Kirana dan minta maaflah padanya, Hen. Karena percuma kamu melawan orang-orang seperti mereka. Biar Tuhan yang menghukum mereka." saran Pak Robert.
Hendrik terduduk lemas di lantai. "Aku harus cari kemana, Pa? Sedangkan tadi pagi aku sudah sesumbar akan menceraikannya. Apakah Kirana masih mau memaafkan aku yang gampang terhasut ini?" lirihnya tak berdaya.
"Berusahalah, Nak. Cari dia sampai dapat. Katakan padanya, jika Papa mau menjadi saksi untuknya saat ia di siksa oleh mama dan Abangmu."
Bu Mery seketika terkejut dengan ucapan Pqk Robert. "Apa maksud papa? Papa tega jika mama sampai harus di penjara?" protes Bu Mery.
"Ya! Dan papa harap, nantinya itu akan mama jadikan sebuah pembelajaran. Jangan pernah melakukan hal yang salah demi sebuah ambisi."
"Lebih baik papa mati saja kalau begini caranya!" Handoko berjalan cepat ke arah Pak Robert. Namun untungnya Hendrik berhasil menghalangi dan menarik keluar Handoko dari ruang rawat.
Lalu sesampainya di luar, ia berteriak minta tolong. Hingga beberapa petugas keamanan datang menghampirinya.
"Ada apa ini?"
"Pak tolong amankan dia, karena dia berniat mencelakai papa saya," pinta Hendrik dengan nafas memburu.
"Bohong, Pak! Saya juga anaknya, mana mungkin saya berniat mencelakai papa saya sendiri?"
__ADS_1
"Sudah kita bicarakan di kantor saja. Di sini banyak pasien yang butuh ketenangan." Dua petugas itu menyeret paksa Handoko yang berusaha melepaskan diri.
Sementara itu di dalam ruang rawat, Pak Robert kini bersama dengan Bu Mery dan Rita. Sepertinya Hendrik lupa untuk meminta perawat menemani Pak Robert selama ia ikut ke kantor keamanan rumah sakit.