Sakitnya Menikah Denganmu

Sakitnya Menikah Denganmu
Bab 16. Adik Ipar Benalu


__ADS_3

"Nggak bisa, Ran. Mama minta agar aku membelikannya yang baru. Agar Judika betah tinggal di Surabaya. Mama sudah tua, Ran. Kasihan kalau Mama terus-terusan di mintain uang sama Judika," terang Hendrik sembari meremas rambutnya.


"Kita bicarain ini semua besok pagi aja, Mas. Malam ini kita istirahat aja dulu. Aku nggak mau membicarakan masalah serius, tapi dalam keadaan kita sedang capek dan emosi seperti sekarang," Kirana segera beranjak masuk ke dalam kamar mandi.


Baginya percuma malam ini mengajak Hendrik berbicara. Karena pasti nggak akan bisa masuk ke pikirannya.


Kirana sudah selesai mandi dan mengganti pakaiannya dengan piyama. Namun saat keluar dari dalam kamar mandi, ia tak melihat Hendrik ada di kamarnya.


"Dari mana kamu, Mas? Pantes aja tadi aku panggil-panggil dari dalam kamar mandi kamu nggak dengar," omel Kirana sembari merebahkan tubuhnya ke atas tempat tidur.


"Dari ngobrol sama Judika."


"Lagian kamu ngapain pakai manggil-manggil aku? Mau ngajak mandi bareng? Kaya' anak kecil aja!" sinis Hendrik.


Kirana bangkit duduk, lalu membuang nafas kasar. "Aku mau minta tolong lepasin tali-tali yang ada di gaunnya! Bukan mau ngajak mandi bareng! Percaya diri banget sih kamu jadi orang!" ucap Kirana tak kalah sinis.


"Tapi, akhirnya kamu bisa lepas tali-tali itu sendiri kan? Makanya sebelum di coba sendiri, jangan langsung gampangin buat minta tolong sama orang lain!"


"Kamu sudah jadi suamiku! Apa salahnya aku minta tolong sama kamu?"


"Nggak selamanya aku bakal ada di sampingmu! Belajarlah mengatasi semuanya sendiri! Jangan manja! Padahal ku kira dulu kamu benar-benar perempuan yang mandiri. Ternyata aku salah!"


"STOP!" teriak Kirana dengan emosi.


"Jangan bertingkah seperti di hutan! Buang tingkah bar-bar mu itu!"


Lagi dan lagi, Hendrik menghujani Kirana dengan kata-kata yang menyakitkan malam ini.


Kirana yang sudah sangat lelah dan muak dengan Hendrik, akhirnya memilih untuk tidur saja. Sudah habis tenanganya hari ini.


Padahal yang Kirana bayangkan, malam ini bisa tidur dengan perasaan bahagia. Tapi nyatanya malah sebaliknya yang terjadi.

__ADS_1


Hendrik yang melihat Kirana sudah menutupi dirinya dengan selimut pun memilih untuk mendiamkannya. Kemudian ia masuk ke dalam kamar mandi, agar bisa segera menyusul beristirahat juga.


Keesokan harinya pukul 06.00 saat Kirana baru bangun, ia memperhatikan sekitar. Ternyata Hendrik sudah tak ada di sampingnya.


Kirana pun bergegas ke kamar mandi, lalu setelahnya pergi ke dapur untuk memasak sarapan pagi.


Tetapi baru saja membuka pintu kamar, terlihat Hendrik sudah duduk di depan meja makan sambil memainkan ponselnya. Di depannya pun sudah terletak dua piring nasi goreng dan dua gelas susu.


Kirana sebenarnya sudah tergiur dengan aroma nasi goreng itu. Tapi karena gengsi dan teringat kata-kata pedas Hendrik semalam. Membuat Kirana enggan langsung duduk. Dia pura-pura tetap berjalan ke arah dapur.


"Mau ngapain lagi di dapur? Nih dah aku buatin nasi goreng udang sama susu buat kamu," ucap Hendrik, tanpa melihat ke arah Kirana yang sudah berdiri di belakangnya.


"Mau bikin roti bakar aja aku," sahut Kirana sedikit cuek.


"Oh, ya sudah silahkan. Biar nasi ini nanti di makan sama Judika aja."


Lalu terlihat Hendrik hendak berdiri, tapi Kirana bergegas menghampirinya.


Hendrik menggelengkan kepalanya karena melihat Kirana yang amat lahap memakan nasi goreng itu.


"Pagi, Mas!" sapa Judika yang baru bangun dan keluar dari kamarnya.


Judika memperhatikan ke arah meja makan, "Sarapan buat aku mana, Mas?" tanyanya sembari menguap.


"Nggak ada! Kamu apa nggak bisa masak sendiri?" ketus Kirana tanpa menoleh.


Dia sebenarnya bukan tipe perempuan yang galak. Tapi karena ingat kejadian semalam membuat Kirana kesal jika melihat Judika.


"Nggak bisa. Aku kan cowok, masa harus masuk ke dapur!" sahut Judika dengan tatapan sinis.


Kirana segera bangkit berdiri, dan mengebrak meja. "Disini nggak ada pembantu. Kalau mau apa-apa silahkan kerjakan sendiri! Jangan mentang-mentang anak cowok, terus nggak mau masuk dapur! Kamu lihat di luar sana, banyak kok koki cowok yang kerja di hotel berbintang! Bahkan Masmu sendiri aja mau masuk dapur!" amuk Kirana.

__ADS_1


Dengan sekuat tenaga Kirana meluapkan emosinya. Untung saja susu dan nasi goreng di piringnya sudah habis. Jadi tak masalah jika saat ini selera makan Kirana tiba-tiba hilang. Karena perutnya sudah kenyang.


Sementara Hendrik masih duduk melongo di kursinya. Ia benar-benar terkejut saat melihat Kirana mengamuk untuk pertama kalinya.


"Ya wajar lah kalau Mas Hendrik masuk ke dapur dan masak. Dia kan punya bisnis rumah makan! Sedangkan aku kan nggak ada urusan sama perdapuran!" lalu Judika bangkit berdiri.


"Pesenin aku ayam goreng aja, Mas!" teriak Judika dari dalam kamarnya.


"Gila ya adikmu, pagi-pagi sudah ngajak ribut! Nggak betah aku tinggal lama-lama sama dia! Buruan suruh pergi mereka semua dari sini!" geram Kirana lalu berjalan ke arah dapur untuk mencuci piring bekas mereka sarapan tadi.


Hendrik pun segera menyusul istrinya yang masih terus mengomel itu.


"Makanya aku beliin dia apartemen baru aja ya? Biar dia nggak ikut tinggal di sini lagi." sahut Hendrik enteng, seakan-akan itu hal yang sepele.


Kirana membalikkan badan dengan mata melotot. "Apa katamu, Mas? Beliin apartemen baru buat adik manjamu itu? Kamu kira harga apartemen itu nggak mahal? Ya, aku akui kalau kamu punya sebanyak itu. Tapi coba kamu pikir ulang deh, Mas. Sebentar lagi kita juga mau punya anak. Apa nggak sebaiknya uangmu itu kita tabung buat anak kita nanti? Judika kan bukan tanggung jawabmu, Mas? Apalagi dia sudah dewasa sekarang. Bukan saatnya lagi kita harus menuruti semua yang dia minta!" cecar Kirana dengan nada kecewa.


"Kamu nggak ngerti, Ran."


"Ya aku emang nggak ngerti sama jalan pikir kalian semua!" potong Kirana segera sembari menunjuk ke arah keningnya sendiri.


Saat Hendrik akan mengatakan sesuatu lagi, Kirana segera memotongnya kembali.


"Sudahlah, anterin aku ke rumah Mas Johan aja sekarang. Aku mau ambil baju-bajuku yang masih ada di sana. Sekalian mau ngobrol sama dia."


"Tapi aku nggak bisa nemenin kamu di sana ya. Karena aku harus ke rumah makan."


"Semoga aja kamu beneran ke rumah makan," sinis Kirana sambil berjalan masuk ke dalam kamar.


"Maksud kamu apa? Kamu curiga aku selingkuh?" Hendrik menahan tangan Kirana.


"Bukan! Tapi aku curiga kamu mau keluar sama Judika buat nyariin dia unit apartemen dan mobil!" Kirana berucap dengan tatapan tajam hingga membuat Hendrik gelagapan di tatap seperti itu.

__ADS_1


"Kenapa diam, Mas? Bener kan yang aku bilang?" serang Kirana lagi.


__ADS_2