Sakitnya Menikah Denganmu

Sakitnya Menikah Denganmu
Bab 102.


__ADS_3

"Astaga!" pekik Richard seraya berjalan mendekat. "Apa Hendrik tau saat kamu disiksa oleh mereka? Lantas kemana dia sekarang? Apa masih kerja? Kenapa sampai jam segini dia belum juga datang untuk menemani kalian?" cecarnya sangat penasaran.


Kirana menatap sekilas Richard, setelahnya kembali mengalihkan tatapannya ke ranjang bayi yang ada di sampingnya.


"Mas Hendrik nggak tau. Dan aku juga nggak perlu kasih tau dia, karena percuma. Dia pasti akan lebih percaya sama ucapan Mama dan Abangnya." Kirana berucap dengan mata yang kembali terasa memanas.


Richard menatap iba, bagaimanapun di dalam hati Richard sebenarnya masih menyimpan rasa cinta dan sayang untuk Kirana. Hal itulah yang membuatnya tak tega jika, Kirana sampai mengalami hal yang menyakitkan.


"Kenapa sampai seperti itu mereka sama kamu? Aku kira kamu sangat bahagia dengan rumah tanggamu. Bahkan aku sempat berpikir, jika kamu bersedia menerima Hendrik kembali saat itu, lantaran di keluarga mereka kamu diperlakukan dengan sangat baik," ungkap Richard tak menyangka.


"Aku ... aku saat itu karena berharap mereka akan bisa berubah, Kak. Dan aku kemarin juga memikirkan anak yang ada di dalam kandunganku. Apalagi saat itu Mas Hendrik juga telihat seperti benar-benar menyesali perbuatannya. Makanya aku mau kasih dia kesempatan kedua. Tapi ternyata, ...." Kirana menatap langit-langit seraya menarik nafas dalam, berusaha menahan air mata yang ingin melesak keluar.


Richard mengelus lengan Kirana lembut, "Aku bisa bantu apa sekarang buat kamu?"


Kirana terdiam sejenak, ia berusaha memikirkan ulang rencana yang sempat terlintas di benaknya.


"Apakah aku bisa minta tolong untuk buatkan surat keterangan kematian palsu?" lirihnya dengan suara parau.


"Surat kematian?" Mata Richard nyaris keluar dari saramgnya. "Kamu mau pura-pura sudah meninggal, Ran?"


"Bukan buat aku, Kak," Kirana menatap box bayi di sampingnya. "Tapi untuk Arshinta. Aku nggak mau Mas Hendrik mengambilnya, setelah ia menyakitiku lagi. Biarlah Mas Hendrik mengira kalau anaknya sudah meninggal. Begitupun dengan Arshinta nanti."


Richard menganggukkan kepala tanda mengerti. Berat sebenarnya ia melakukan permintaan Kirana. Apalagi itu bisa merusak reputasinya sebagai dokter. Namun demi kebaikan Kirana dan Arshinta, ia akhirnya menyetujui permintaan berat dari Kirana tersebut.


...****************...


Di dalam mobil, Kirana sibuk dengan ponselnya. Sesekali ia nampak seperti orang yang kesal. Richard hanya mampu menahan keinginnanya untuk bertanya.

__ADS_1


Kirana benar-benar stress dan lelah. Pasca melahirkan seharusnya ia beristirahat dengan nyaman seperti kebanyankan orang. Tapi yang terjadi saat ini, justru ia harus mendatangi kantor polisi untuk melaporkan tindak kekerasan yang dilakukan oleh mertua dan saudara iparnya.


Untung ada Richard yang mau membantunya saat ini. Padahal sebelumnya Kirana tak ingin melibatkan Richard sedikitpun dalam masalah di kehidupannya. Tapi ternyata dengan adanya Richard, masalah Kirana bisa sedikit teratasi.


Mobil Richard memasuki halaman kantor kepolisian. Namun saat Kirana hendak turun dari mobil, netranya menangkap beberapa orang yang ia kenal juga akan masuk ke dalam kantor kepolisian.


Mereka berempat seperti orang yang sudah sangat emosi. Terlihat jelas dari raut wajah mereka masing-masing.


"Tunggu, Kak," Kirana menahan Richard agar tak keluar dulu.


Richard mengerutkan dahinya. "Tadi kamu yang ingin cepat-cepat sampai. Tapi setelah sampai, justru kamu yang nggak mau turun. Apa kamu berubah pikiran?"


Kirana menunjuk ke arah empat orang yang sedang berjalan melewati mobil Richard yang sudah terparkir pada tempatnya. Tatapannya menyimpan sebuah amarah yang sangat besar.


"Ya sudah nggak masalah. Ayo kita sama-sama bikin laporan. Terlepas nanti kamu juga salah atau nggak, itu bisa kita selesaikan. Yang penting sekarang kamu lapor, lalu visum." tegas Richrad, kemudian ia turun dan membukakan pintu untuk Kirana.


Tapi ternyata, Handoko yang menyadari kehadiran Kirana dan seorang laki-laki asing, gegas menyeggol lengan Hendrik.


"Hen, coba kamu lihat ke arah sana," tunjuknya diikuti tatapan Hendrik.


"Itu Kirana, istrimu kan? Tapi sama siapa dia datang? Kenapa dia juga datang kesini? Apakah Kirana akan menyerahkan dirinya?" cecar Handoko.


Hendrik mengabaikan semua pertanyaan Handoko, ia justru berjalan cepat menghampiri Kirana dan Richard yang sebentar lagi sudah akan masuk ke dalam.


"Tunggu!" Hendrik menarik tangan Kirana. Tidak kasar, namun cukup membuat Kirana berjalan menjauh dari pintu masuk.


Richard pun terpaksa mengikuti Kirana. Yang ada dipikirannya, selama Kirana tak meminta tolong padanya, berarti Kirana masih bisa memgatasinya.

__ADS_1


Dan kali ini Kirana telah berdiri berdampingan dengan Bu Mery dan Richard.


"Aku mau bicara sama kamu! Dan aku yakin, kamu pasti akan sangat setuju dengan penawaran dari kami." tegasnya. Netranya menatap Kirana dan Richard secara bergantian. Seolah-olah ia yakin jika Kirana akan tertarik dengan tawarannya.


"Kita bicara di dalam saja. Karena jika kita berdua bicara di tempat lain, maka kamu nggak akan percaya denganku, Mas! Aku juga nggak butuh penawaran apapun dari kalian," ia melipat tangannya di depan dada.


"Jangan sombong kamu! Nanti kalau kami sudah berubah pikiran, kami nggak akan bisa merubah keputusan kami lagi!" seru Rita geram.


"Lagian kamu ngapain datang kemari? Apalagi datang dengan laki-laki lain! Kasihan banged kamu, Hen! Punya istri tapi doyan selingkuh! Jangan-jangan yang di kandungnya juga bukan anakmu, Hen. Sudah bikin mertua masuk rumah sakit, tapi malah kabur sama laki-laki lain sekarang." cibir Handoko. Mulutnya tak seperti jenis kelaminnya. Kelamin cowok, tapi mulut cewek.


Saat Kirana ingin menampar mulut Handoko, dengan cepat Richard menahan tangan Kirana. "Tahan, emosimu. Nanti yang ada kamu ikut salah karena main kekerasan."


"Sudah Bang! Untuk urusan anak, setelah Kirana melahirkan nanti, aku akan minta tes DNA. Biar semua nggak ragu-ragu lagi." putusnya seraya menatap Handoko, Rita, dan Bu Mery bergantian.


Sepertinya mereka yang ada di sana belum menyadari sepenuhnya jika perut Kirana sudah kembali rata. Mungkin karena efek Kirana memakai jaket yang kedodoran.


Hendrik kembali menatap Kirana. "Kamu setuju kan Ran jika nanti tes DNA? Aku harap kamu mau menuruti permintaan serta penawaranku, jika kamu mau maka aku tak akan melaporkan kamu."


Kirana membuang nafas kasar. Sebenarnya ia ingin segera menyudahi obrolan tidak penting ini. Namun tiba-tiba ia menjadi penasaran dengan penawaran yang akan mereka ajukan.


"Memangnya kalian punya penawaran apa?" tanyanya mengejek.


"Kasih kami uang 5M. Maka kami akan lupakan kasus ini." celetuk Bu Mery dengan lantang.


"Apa? 5M?" mata Kirana membeliak tak percaya.


Seketika tawa Kirana dan Richard pecah bersamaan. Membuat ke empat orang yang ada di hadapan mereka saling menatap bingung.

__ADS_1


__ADS_2