Sakitnya Menikah Denganmu

Sakitnya Menikah Denganmu
Bab 87.


__ADS_3

"Makanya bangun pagi! Biar kalau suami pergi kemana-mana itu kamu tau. Apalagi sekarang saya datang kesini. Apa nggak malu kamu? Coba kalau Hendrik nggak ngajak kamu tinggal di rumah ini, pasti kamu sekarang sudah jadi gembel di luar sana." omelnya panjang lebar sambil terus berkutat dengan kegiatannya entah membuat apa.


Kirana menghela nafas panjang. Ia harus sabar menghadapi hinaan dari Mama mertuanya ini. Memang semua sudah resikonya, karena ia sendiri yang tak ingin Mama mertuanya itu tau tentang bisnisnya.


"Di tanya apa, jawabannya apa. Nggak nyambung banged. Lagian Mas Hendrik kenapa sih ngajak Mamanya pagi-pagi ke sini, sedangkan dia sendiri malah pergi keluar," gumam Kirana.


"Ngomel apa kamu barusan? Jangan kamu kira saya sudah tua terus nggak denger apa yang kamu ucapkan barusan ya!" tegurnya dengan melirik sinis.


"Kalau sudah denger, ngapain tanya lagi?" bqtin Kirana sambil mengelus dadanya. "Ya sudah kalau gitu, saya mau masuk ke kamar lagi aja, Ma. Masih banyak kerjaan saya soalnya."


Namun baru saja melangkah, tiba-tiba ada sendok melayang mengenai punggungnya.


Kirana balik badan lagi. "Mama kenapa main lempar-lempar gitu sih? Memangnya Mama kira ini arena olah raga lempar jauh?" decak Kirana kesal seraya menghentakkan kakinya.


Memang nggak sakit sih, cuma Kirana kurang suka aja jika ada yang main lempar-lempar barang ke arahnya.


"Siapa yang suruh kamu balik lagi ke kamar? Bantuin saya masak! Enak aja saya di sini sibuk masak, sedangkan kamu mau tidur lagi! Selagi hamil itu harusnya lebih banyak mengerjakan pekerjaan rumah. Bukan malah malas-malasan," ketusnya.


"Saya mau lanjutin kerjaan saya yang tertunda semalam, Ma. Nanti kalau sudah selesai, saya keluar kamar lagi. Lagipula Mama nggak perlu masak, nanti biar saya pesenin makanan buat Mama bawa ke rumah sakit," sahutnya malas.


Sebenarnya kerjaannya sudah selesai dari subuh tadi, tapi jika ia berlama-lama satu ruangan dengan Mama mertuanya, bisa-bisa ia lahiran saat ini juga saking seringnya mengedan nahan emosi.


"Apa kamu bilang? Beli makanan?" Mata Bu Mery membeliak sambil berkacak pinggang. "Kamu pikir cari uang itu gampang? Hah? Duh, kasian sekali nasib anakku, sudah banting tulang hanya untuk menafkahi istri yang nggak tau diri. Sukanya hambur-hamburin uang saja!" cemoohnya sangat lantang.


Mulut Bu Mery memang sangat pedas. Sepedas ayam geprek cabe sekilo. Bahkan semua kata-kata yang keluar dari mulutnya lolos gitu aja tanpa seleksi terlebih dulu.


Kirana mengabaikan ucapan Bu Mery yang masih terus saja marah-marah. Ia memilih masuk lagi ke dalam kamar dan mengambil ponselnya untuk menghubungi Hendrik.


Setelah beberapa kali nada sambung berbunyi, akhirnya telpon diangkat juga oleh Hendrik.

__ADS_1


"Halo, Sayang. Kamu sudah baru bangun ya? Maaf ya, kalau aku nggak kasih tau kamu jika ada Mama di rumah. Soalnya pagi-pagi sekali Mama minta di ajak ke rumah. Katanya mau masak biar nggak sering-sering beli di luar.


Awalnya aku mau bangunin kamu buat ngasih tau, tapi aku lihat kamu pules sekali tidurnya, makanya aku batalkan buat ngasih tau kamu.


Kamu nggak marah kan, Sayang? Mama nggak ngajak kamu berdebat kan? Kalau Mama ngajak kamu berdebat, kamu abaikan saja ya," jelasnya panjang lebar.


Padahal Kirana belum mengucapkan apapun, tapi seakan-akan dia sudah tau jika Kirana menghubunginya itu untuk bertanya soal kehadiran Mamanya yang secara tiba-tiba.


"Kamu sekarang ada di mana, Mas? Bisa nggak sih kalau ada Mama di rumah, kamu jangan main keluar gitu aja? Aku pusing tau nggak denger Mama marah-marah terus.


Kamu tau kan semalam aku harus begadang, jadi aku pagi ini nggak bisa bangun pagi," terang Kirana sambil menyanderkan punggungnya di ranjang.


Terdengar suara hiruk pikuk di seberang sana. "Kamu lagi sambil jalan kah ini, Mas? Minggir dulu lah kalau lagi nerima telpon itu. Kan bahaya, apalagi kalau sampai ponselmu terjatuh," sambung Kirana lagi.


"Nanggung, Sayang. Dikit lagi aku sampai rumah soalnya. Biar kamu nggak lama-lama berduaan aja sama Mama." jawabnya dengan suara bergetar efek goncangan motornya.


Lima menit kemudian, Kirana mendengar suara motor Hendrik masuk ke parkiran depan rumah. Ia segera mengintip dari balik jendela.


Ternyata Hendrik datang sambil membawa beberapa kantong besar belanjaan plastik berwarna merah.


"Kok tumben Mas Hendrik belanja banyak banged? Kayak mau ada acara aja, tapi acara apa? Kenapa aku nggak di kasih tau sama sekali?" gerutu Kirana sambil terus memperhatikan dari dalam kamarnya.


Kemudian ia kembali menyandarkan punggungnya, karena mau keluar kamar pun rasanya sudah malas.


"Sayang, makan dulu yuk. Ini tadi aku belikan nasi padang kesukaanmu," seru Hendrik yang sudah berdiri di ambang pintu.


"Aku mau makan di kamar aja, Mas."


Hendrik berjalan masuk, lalu duduk di samping Kirana. "Makan di meja makan aja yuk. Nggak enak ada Mama tapi kamu makah diam di kamar begini," bujuknya seraya mengusap ujung kepala Kirana.

__ADS_1


"Aku tadi sudah keluar dan bertemu sama Mama. Tapi yang ada Mama malag ngajak tengkar mulu. Jadi kan lebih baik aku makan di dalam kamar aja, Mas. Dari pada selera makanku hilang kan?" sanggah Kirana sambil melipat tangannya di depan dada.


"Aku jamin Mama nggak bakal banyak bicara lagi sama kamu," rayunya lagi lalu bangkit berdiri mengandeng tangan Kirana.


Saat Kirana berjalan keluar kamr, ia melihat ada banyak macam sayuran, ikan, buah, dan kue-kue yang sudah di keluarkan dari kantong palastik.


Di sana Bu Mery juga sudah terlihat sibuk mengupas sayuran. Ia mengabaikan Kirana yang lewat di depannya.


"Mas, kok banyak sekali belanjanya. Memangnya mau ada acara apaan? Kok kamu nggak kasih tau aku?" bisik Kirana saat mereka sudah duduk di kursi meja makan.


"Oh, itu acara untuk Papa, karena besok Papa sudah boleh pulang," ungkap Hendrik santai.


"Hah? Tapi kenapa harus masak sendiru sih, Mas? Kenapa nggak beli aja? Kan lebih praktis?" protes Kirana.


Bu Mery yang mendengar ucapan Kirana segera menyela.


"Emangnya kalau beli kamu mau bayarin semuanya? Kerja aja nggak, sok-sok'an mau bergaya. Lagipula saya nggak biasa beli di luar kalau untuk acara besar seperti ini. Karena nggak ada masakan di luar sana yang cocok sama selera saya."


Hendrik menggelengkan kepalanya saat Kirana menoleh ke arahnya.


"Ya sudah, aku bakal panggil 3 orang pegawaiku untuk bantuin Mama di sini," ujar Kirana sambil mulai menekan nomor telpon toko.


Setelah selesai menghubungi toko, Kirana kembali melanjutkan makan siangnya.


"Sayang, aku boleh tanya sesuatu?" bisik Hendrik nyaris tak terdengar.


Kirana berpaling, "Apa, Mas?"


"Kalau misal Mama dan Papa tinggal di sini sama kita bagaimana?" tanyanya dengan sangat hati-hati.

__ADS_1


__ADS_2