
Melihat wajah Hendrik membuat Kirana semakin ingin pergi menjauh darinya. Kirana sudah tidak bisa percaya dengan semua kata-kata Hendrik lagi. Apalagi jika Hendrik mengatakan akan menjauhi perempuan itu.
"Menurutku kamu nggak bisa keluar dari sini. Karena kuncinya ada sama aku semua sekarang. Pin di pintunya pun sudah aku ganti," ledek Hendrik seraya mengayun-ayunkan kuncinya di depan Kirana.
Kirana yang melihat hal itu menjadi geram. Matanya melotot dan tanganya meremas sendok yang ada di genggamannya kuat-kuat.
Hendrik menyimpan kembali semua kunci ke dalam saku celananya. Lalu ikut duduk di kursi meja makan bersama Kirana. "Bukannya kemarin kamu sendiri yang bilang kalau kamu akan tetap ada di sampingku sampai aku sendiri yang mengusirmu? Sedangkan sekarang aku nggak merasa ngusir kamu. Jadi kesimpulannya kamu akan tetap di sini," Hendrik berucap dengan menaik turunkan alisnya.
"Kamu nggak bisa menghalangi aku, Mas! Aku nggak mau tinggal di sini lagi, aku takut lama-lama bisa jadi gila karena sikapmu itu." Kirana melengos.
"Yang membuat kamu gila itu bukan aku, tapi pikiranmu sendiri, Ran! Coba ubah cara berpikirmu itu.
Apa susahnya sih kamu belajar ngertiin pekerjaanku saat ini? Aku dan perempuan itu hanya menjalin bisnis. Aku juga nggak bakal berlaku aneh-aneh dengannya.
Kalaupun dia sempat memberikan tawaran seperti itu, yang penting kan aku sudah menolaknya. Lalu apa lagi yang membuatmu takut? Apa kamu kira aku tipe laki-laki yang mudah tergoda? Hingga mudah tidur dengan beberapa wanita?
Aku bisa tidur dengan kamu waktu itu kan juga karena nggak sengaja. Aku sedang dalam keadaan mabok malam itu! Coba kalau sadar, pasti nggak mau lah aku!"
Kirana bangkit berdiri, ia sudah muak dengan kata-kata Hendrik. Lalu berjalan menuju sofa guna mau mengambil ponsel di dalam tasnya. Ia ingin minta tolong agar Richard bisa menjemputnya. Bagaimanapun caranya nanti. Namun sudah semua isi tasnya di keluarkan, ia tak juga mendapatkan ponselnya.
"Cari apa?" tanya Hendrik yang ternyata sudah berdiri tepat di belakang Kirana. "Apa kamu mau cari ini?" Hendrik memamerkan ponsel Kirana yang kini sudah ada di tangannya.
"Balikin ponselku! Apa kurang puas kamu sudah mengurung aku di sini? Sampai-sampai ponselku pun harus kamu ambil?" protes Kirana sambil terus berusaha merebut kembali ponselnya.
Tetapi, Hendrik segera melempar ponsel itu ke sembarang arah, lalu memegang erat kedua tangan Kirana dan memutar badan Kirana hingga kini Kirana berdiri membelakanginya.
__ADS_1
"Kamu mau menghubungi siapa? Apa mau menghubungi Kakak doktermu itu? Tapi sayangnya kartu namanya sudah aku buang," ucap Hendrik tanpa merasa bersalah.
"Keterlaluan kamu, Mas!"
"Apa susahnya sih kamu nurut sama aku sekarang? Aku ini suamimu, harusnya kamu tunduk dan nggak ngelawan sama semua ucapanku! Toh kamu di sini hanya tinggal makan tidur saja kan? Semua kebutuhan dan keperluanmu sudah aku penuhin," kali ini Hendrik berbisik di telinga Kirana.
"Buat apa aku tunduk sama orang yang nggak bisa menghargai aku? Aku tau kamu suamiku, tapi bukan berarti semua tindakan salahmu aku biarkan dan aku turutin!" Kirana berucap dengan sangat lantang saking emosinya.
"Ssst!" Hendrik menaruh jari telunjuknya di bibir Kirana. "Jangan berteriak seperti itu, Sayang. Aku nggak mau kehamilanmu bermasalah. Bicaralah dengan anggun seperti dulu." pintanya dengan suara yang sangat berat seperti orang yang sedang bergairah.
Kirana tiba-tiba bergidik ngeri. Ia jadi teringat kembali kejadian beberapa bulan yang lalu. Meskipun saat ini mereka sudah berstatus sebagai suami istri, namun itu tetap membuat Kirana merasa takut.
Benar saja, Hendrik segera menarik Kirana agar mau ikut masuk ke dalam kamar bersamanya. Kirana berusaha menolak sekuat tenaga. Ia benar-benar sudah tak mau melakukan itu lagi dengan Hendrik. Rasa sakit hatinya sudah terlalu besar.
"Tuhan, tolong maafkan aku. Jika saat ini aku tak mau melayani suamiku. Bantu aku Tuhan agar aku bisa menghindarinya saat ini." gumam Kirana dalam hati.
"Kamu kenapa menangis, Sayang? Bukankah ini yang kamu mau? Hanya kamu yang bisa memilikiku sepenuhnya kan?" ucapnya seraya mengelus pipi mulus Kirana dengan sangat lembut.
Lalu Hendrik kembali bangkit berdiri, dan mulai membuka baju dan celana yang ia gunakan. Kirana menatap nanar ke arah Hendrik sambil terus saja berdoa agar kali ini ia tak harus melayani suaminya itu.
Tiba-tiba terdengar suara bel berbunyi, menandakan kalau ada seseorang yang datang.
"Sial! Siapa sih yang datang di jam segini! Menganggu banged." seru Hendrik lalu kembali menggunakan pakaiannya.
Sebelum membuka pintu kamar, Hendrik balik badan menatap Kirana. "Kamu tunggu di situ aja ya, Sayang. Kalau perlu kamu sekarang mandi dulu, lalu pakai baju dinasmu yang sudah aku belikan sewaktu kita mau menikah kemarin. Setelah selesai menemui tamu ini, kita lanjutkan lagi," Hendrik berucap dengan percaya diri. Padahal Kirana hanya ingin bisa kabur darinya.
__ADS_1
Lalu pintu di tutup dan di kunci dari luar.
"Kalau begini caranya, bagaimana aku bisa keluar? Bahkan ponselkupun sekarang di ambil. Ya Tuhan, beri aku jalan. Aku hanya ingin hidup dengan tenang tanpa merasakan sakit hati." isak Kirana yang kini mulai membenamkan wajahnya ke bantal.
Sementara di luar kamar, Hendrik berjalan membukakan pintu dengan perasaan kesalnya.
"Iya, tunggu sebentar!" teriaknya kala bel terus berbunyi seperti rentenir yang sedang menagih hutang ke nasabahnya. "Lagian siapa sih yang datang di waktu yang nggak tepat begini?"
Saat pintu terbuka, Hendrik di buat terkejut dengan kedatangan seseorang yang tak pernah ia duga sebelumnya.
"Bapak Gembala?" sapanya malu-malu.
"Apa kabar, Pak Hendrik?"
"Puji Tuhan kami sehat semua, Pak. Mari silahkan masuk," ajak Hendrik ramah seraya menggaruk tengkuk lehernya karena grogi.
"Terimakasih, istri ada? Atau sedang keluar? Maaf kalau kedatangan kami dadakan dan menganggu kalian. Karena tadi kebetulan lewat dekat sini, jadi sekalian kunjungan ke pasangan baru," ujar Ibu Gembala kala sudah duduk di sofa.
"Oh, ada di kamar, Bu. Sedang istirahat, maklum lagi hamil muda jadi harus banyak istirahat. Lagipula Kirana itu selama hamil selalu malas-malasan begitu, Bu. Semua saya yang mengerjakan. Dia taunya hanya makan dan tidur saja," ungkap Hendrik tanpa rasa malu lagi.
Bapak dan Ibu Gembala yang mendengarkan, langsung menggelengkan kepala. Entah apa yang mereka pikirkan saat ini.
"Tunggu ya, Pak, Bu, saya buatkan minuman dulu. Karena kalau minta tolong sama Kirana, ia pasti menolak dan berujung marah-marah sama saya," tutur Hendrik lagi, kali ini dengan wajah yang seakan-akan sudah sangat menderita selama menikah dengan Kirana.
"Tidak perlu repot-repot, Pak Hendrik. Kami hanya ingin bertemu dengan kalian berdua saja. Apakah bisa Bu Kirananya di ajak keluar sebentar?"
__ADS_1
"Baik, Pak. Tunggu sebentar, ya. Saya akan bangunkan dia dulu," lalu Hendrik beranjak menuju ke kamar.