Sakitnya Menikah Denganmu

Sakitnya Menikah Denganmu
Bab 106.


__ADS_3

[Ran, maaf aku ganggu kamu malem-malem begini. Karena aku juga baru pulang kerja. Hehe. Aku cuma mau ingetin kamu aja, kalau besok kamu ada jadwal bertemu dengan Pak Agung, pengacara yang akan membantu menyelesaikan masalahmu. Di rumah makan biasanya ya kita ketemunya. Sampai jumpa besok, semoga malam ini kalian berdua bisa istirahat dengan nyaman.] bunyi pesan yang dikirim oleh Richard.


Kirana hanya membacanya saja. Sebenarnya ia ingin menanyakan soal kehadiran Hendrik tadi sore, namun rasa kantuk membuatnya mengurungkan niatnya itu. Kini ia memperhatikan jam yang ada di layar ponsel miliknya. Ternyata sekarang sudah pukul 23.30. Sudah hampir tengah malam. Untung saja tadi ia sudah sempat makan.


Melihat Arshinta yang masih terlelap, membuat Kirana akhirnya juga ikut tidur di sampingnya. Rasanya tenaganya benar-benar terkuras hari ini.


Oweek... Owekk... Owekk...


Beberapa jam kemudian, terdengar kembali suara tangisan Arshinta, dengan melawan rasa kantuknya, Kirana bangun dari tidurnya lalu kembali memberikan ASI untuk Arshinta. Ia melihat jam di ponselnya, sekarang menunjukkan pukul 02.00 dini hari.


"Hoaaam ... kita tidur lagi ya, Nak," tutur Kirana setelah Arshinta puas minum ASI.


Dan bangunnya Arshinta terjadi hampir setiap 2 jam sekali. Untungnya Richard sempat memberitahu Kirana tentang hal ini sebelumnya, jadi Kirana tak begitu terkejut.


Mengurus anak pertama seorang diri, membuat Kirana harus lebih kuat lagi dalam segala hal. Ia juga selalu berdoa agar tak sampai terkena baby blues.


Pukul 08.00 pagi, alarm di ponsel Kirana berbunyi begitu nyaring. Jika tak ingat soal janji temunya dengan Pak Agung, mungkin ia akan lebih memilih untuk tidur lagi. Apalagi Arshinta juga masih tertidur pulas.


Tring!


Ponselnya kembali berdering, ia gegas meraihnya dan membaca pesan masuk dari Richard.


[Pagi, Ran. Kamu sudah bangun kan? Kamu ada di hotel mana? Ini aku mau jemput kamu aja, sekalian aku bawakan satu suster untuk menjaga Arshinta, selama kamu lagi keluar nanti.]


[Aku ada di hotel xxxxx, Kak. Tapi tolong pastikan nggak ada yang mengikutimu sewaktu kamu perjalanan kesini.] balasan Kirana. Pesan itu langsung centang dua biru.


Satu jam kemudian, ada yang mengetuk pintu kamar Kirana. Setelah memastikan jika itu Richard dan suster yang ia bawa, Kirana membukakan pintunya. Lalu memastikan lagi kalau tak ada yang membuntuti Richard.

__ADS_1


"Kamu kelihatan kepayahan sekali, Ran? Apa semalam Arshinta rewel?" cecarnya seraya berjalan masuk dan menuju ke tempat tidur di mana bayi cantik nan lucu itu berada.


"Emangnya kelihatan banged ya, Kak?" sahutnya sambil memperhatikan cermin. "Seperti yang kamu bilang, Arshinta bangun setiap 2 jam sekali untuk minum ASI. Jadi sekarang kepalaku sedikit pusing, hehe. Cuman, okelah. Lama-lama pasti aku akan terbiasa."


Richard menatap iba, ingin rasanya ia memeluk Kirana untuk sekedar memberi semangat. Namun hal itu tak mungkin terjadi, Kirana pasti akan menolak mentah-mentah.


"Kak, bisa nggak kalau kita ngobrol dengan pengacaranya di resto hotel ini saja? Jujur aku takut kalau sampai keberadaanku terlihat oleh Mas Hendrik. Aku takut jika dia tau bahwa Arshinta sebenarnya baik-baik saja." pinta Kirana sesaat setelah Richard duduk di sofa kamar hotelnya.


Richard nampak berpikir sesaat, kemudian ia mengetikkan sesuatu di ponselnya. Beberapa menit setelahnya, ia tersenyum sembari mengetik lagi di ponselnya.


Sedangkan di sebrangnya, Kirana masih menanti jawaban dari Richard. "Gimana, Kak? Beliau mau kan mengubah tempat temunya?"


"Bisa kok. Sudah kamu jangan khawatir apalagi sampai ketakutan begitu. Aku pastikan Hendrik nggak akan bisa menemukan kamu dan Arshinta.


Oh iya, karena kita lagi ngebahas soal Hendrik, sekalian aja aku mau cerita sambil kita menunggu Pak Agung datang," putusnya.


"Jadi, kemarin setelah mobil taksi onlinemu jalan. Hendrik tiba-tiba saja menepuk bahuku. Aku sempat terkejut, tapi untungnya aku bisa segera menguasai keadaan saat itu.


Nah, Hendrik ternyata tau jika aku bekerja di rumah sakit sekarang, dari mantan rekan kerjaku. Entah rekan kerjaku yang mana yang memberitahunya.


Hendrik kemarin sempat memaksa untuk mencari tahu info tentang kamu dan Arshinta ke bagian petugas administrasi. Untungnya aku segera memanggil pihak security agar ia tak sampai mendapatkan info apapun tentang kamu. Aku mengatakan pada security kalau Hendrik akan membuat kekacauan. Akhirnya diusirlah dia secara paksa.


Dan setelahnya aku juga sudah memastikan jika datamu semua sudah aku rubah. Mulai dari nama hingga alamatmu. Jadi kamu bisa tenang.


Tapi sebelum pergi, Hendrik juga sempat memintaku untuk menyampaikan pesannya sama kamu_" Richard nampak berpikir. Dalam benaknya ia ragu, apakah ia harus menyampaikan pesannya pada Kirana atau tidak. Pasalnya Richard sendiri takut jika Kirana akan berubah pikiran setelah tahu pesan dari Hendrik itu.


Kirana mengerutkan keningnya, lantaran Richard tak kunjung meneruskan kalimatnya.

__ADS_1


"Memangnya dia titip pesan apa, Kak? Kenapa kamu terlihat ragu gitu buat ngomong sama aku?" tanya Kirana akhirnya.


"Dia ... dia bilang jika Pak Robert sudah sadar."


"Oh, syukurlah kalau begitu. Semoga saja beliau bisa mengatakan yang sebenarnya terjadi di malam itu." Kirana kembali menyandarkan punggungnya.


"Beliau memang sudah mengatakan kejadian yang sebenarnya pada Hendrik, Ran. Hendrik juga mengatakan jika ia telah menyesal karena sudah tak percaya dengan semua ucapanmu malam itu. Dan katanya lagi, Pak Robert bersedia menjadi saksi untukmu, asal dengan syarat_" ucapan Richard lagi-lagi terputus.


"Syarat?"


Richard menghela nafas sembari membenarkan posisi duduknya. "Ya, dengan syarat kamu harus kembali dengan Hendrik. Jika kamu menolak, maka Pak Robert akan mengatakan jika memang kamulah penyebab beliau jatuh. Begitulah yang Hendrik sampaikan padaku kemarin malam."


Kirana menyunggingkan senyumnya. "Dasar orang-orang licik! Tapi aku nggak yakin jika itu syarat yang diberikan oleh Pak Robert. Aku curiga itu hanya akal-akalannya Mas Hendrik aja. Mungkin dia pikir, aku bakal takut jika Pak Robert mengatakan akulah pelaku yang membuatnya terjatuh. Maka aku akan mau memaafkannya. Tapi sayangnya syarat itu nggak berlaku buat aku. Bagiku sekarang, mau Pak Robert membelaku atau tidak itu bukan masalah besar," Kirana bangkit berdiri lalu berjalan menatap ke luar jalanan dari ketinggian kamarnya.


Richard bernafas lega, akhirnya ketakutannya tak menjadi kenyataan. Kirana yang sekarang ternyata memang sudah benar-benar ingin menghilang dari kehidupan Hendrik.


"Kamu benar, Ran. Apalagi Pak Agung, pengacaramu itu adalah orang yang sudah sangat berpengalaman dalam hal seperti ini. Bahkan sudah bisa di pastikan, meski tanpa bantuan dari Pak Robert pun, kamu lah yang akan menang. Dan merekalah yang harusnya mempersiapkan diri dari sekarang untuk masuk ke dalam sel tahanan," tegas Richard seraya memegang bahu Kirana. Ada senyum bahagia di antara keduanya.


"Ehem!" suster itu berdehem, karena sedari tadi ia hanya menjadi obat nyamuk untuk mereka berdua. Ya meskipun ia juga sedang sibuk memandikan Arshinta. Tapi, ia kan juga ingin di kenalkan dengan calon bos nya.


"Eh iya, aku sampai lupa!" Richard menggaruk tengkuknya yang tak gatal. "Kenalin, Ran. Ini Ayu, suster yang akan bantu kamu jaga Arshinta mulai sekarang." Ayu mengulurkan tanganya untuk bersalaman dengan Kirana. Kirana pun menyambutnya dengan ramah.


"Aku tau jika kamu pasti mengalami kesulitan untuk merawat bayi. Apalagi ini anak pertama. Jadi aku inisiatif untuk mencarikan kamu suster. Kamu nggak keberatan kan?"


"Loh, tadi katamu hanya untuk hari ini saja, Kak?"


"Aku berubah pikiran, lebih baik Ayu jadi suster khusus untuk Arshinta. Dia yang akan bantu kamu, sampai kamu benar-benar sudah siap memghandle semua sendiri."

__ADS_1


Seperti mendapat undian berlian, mata Kirana langsung berbinar. "Wah, kamu hebat sekali, Kak. Kamu bisa tau apa yang memang aku butuhkan. Sekali lagi makasih ya. Jujur, aku memang butuh teman untuk merawat Arshinta."


__ADS_2