
Kirana menghela nafas. "Tapi maaf, Mas. Aku masih belum bisa percaya seratus persen sama kamu. Jujur aku masih trauma sama sikapmu yang terlalu mudah terpengaruh sama hasutan teman-temanmu. Sikapmu yang mudah bicara kasar sama aku, serta sikapmu yang nggak bisa menghargai keberadaanku. Jadi sepertinya kita akhiri aja pernikahan ini secepatnya." Kirana berucap dengan setengah hati.
Jika boleh berkata jujur, dihatinya sebenarnya masih menyimpan rasa cinta untuk Hendrik. Tapi di sisi lain dia juga sudah mulai nyaman dengan kesendiriannya.
"Tolong kasih aku kesempatan, Ran," pintanya.
"Andai kamu bertemu aku satu setengah bulan yang lalu, mungkin aku bisa langsung menerimamu kembali, Mas. Tapi sayangnya kita justru bertemu di saat aku sudah mulai nyaman dengan hidup sendiri.
Aku akui, aku senang bisa bertemu kamu lagi hari ini. Tapi kamu jangan salah paham. Di pertemuan kita kali ini aku hanya ingin memperjelas status pernikahan kita.
Kapan kita mengurus akta pernikahan di catatan sipil? Agar kita bisa segera mengajukan gugatan perceraian." tegasnya tanpa melihat wajah Hendrik sama sekali.
"Apakah kamu sudah yakin dengan keputusanmu untuk bercerai denganku, Ran? Kenapa kamu nggak mau kasih aku satu kesempatan lagi?"
Kirana enggan menjawab pertanyaan Hendrik. Kemudian ia bangkit berdiri dan menatap Richard. "Aku mau pulang dulu aja, Kak."
"Tunggu, Ran." Hendrik dengan cepat memegang pergelangan tangan Kirana. "Aku harus berbuat apa biar kamu bisa percaya sama aku kalau aku sudah berubah dan menyesali semuanya?" lagi-lagi Hendrik memasang wajah mengiba.
"Terserah kamu, Mas. Yang jelas saat ini aku nggak bisa percaya gitu aja sama kata-katamu."
"Baiklah, aku akan buktikan sama kamu. Tapi apakah sekarang aku boleh tinggal di tempatmu? Karena kalau kita tetap tinggal terpisah seperti sekarang, bagaimana aku bisa membuktikan kalau aku benar-benar sudah berubah?" ucapnya masih dengan memegang tangan Kirana.
Richard yang mendengar permintaan Hendrik segera menyelanya. "Nggak bisa!" protesnya.
"Apa hakmu melarang aku untuk tinggal berdua dengan Kirana? Jadi lebih baik kamu diam saja! Kamu di sini kan hanya sebagai saksi pembicaraan kita. Bukan untuk ikut berpendapat." ketus Hendrik dengan tatapan penuh kebencian.
__ADS_1
"Sudah Mas, cukup!" Kirana mengangkat telapak tangannya di depan wajah Hendrik. "Kalau kamu mau buktikan silahkan. Nggak harus kita tinggal bareng dulu baru kamu mau membuktikan. Itu sama aja kamu nggak ikhlas buat berubahnya."
"Bukan begitu, Ran. Aku hanya takut jika dia mendekatimu dan mempengaruhi kamu agar berpisah denganku."
"Kamu meragukan aku, Mas? Kalau untuk hal seperti ini aja kamu nggak bisa menghargai keputusanku dan percaya sama aku, lalu mana yang katanya kamu mau berubah?" sinis Kirana merasa kesal.
Mendengar kalimat Kirana barusan, membuat Hendrik tak bisa berkata-kata lagi.
"Baiklah, Ran. Aku percaya kamu nggak akan terpengaruh olehnya." ujar Hendrik sambil melirik ke arah Richard. "Kalau begitu aku sekarang minta nomor telpon serta alamat kamu aja. Aku harap kamu nggak bakal melarang aku jika aku ingin main ke tempat tinggalmu."
Kirana mengeluarkan kartu namanya, lalu menyerahkan pada Hendrik. Tak lupa ia juga meminta Richard untuk memberi uang pada Hendrik atas kecelakaan yang sudah ia perbuat.
"Aku pamit, Mas. Dan aku harap kamu mau menggunakan kesempatan yang aku beri dengan sebaik mungkin." lalu ia beranjak keluar di ikutin Richard yang berjalan di belakangnya.
Di dalam mobil, Richard langsung mencecarnya dengan beberapa pertanyaan. "Kamu yakin mau kasih dia kesempatan, Ran? Kenapa nggak kamu ceraikan aja sih laki-laki seperti itu? Masih banyak, Ran yang mau sama kamu meskipun kamu berstatus janda nantinya."
"Terus kalau misal dia benar-benar berubah, kamu bakal balik lagi sama dia? Begitu?"
Kirana membuang muka ke arah jalanan. "Mungkin Kak. Apalagi dia kan juga ayah kandung dari anak ini," lirih Kirana sambil mengelus perutnya lembut.
Tiba-tiba Richard menepikan mobilnya, lalu menatap Kirana dan tanganya meraih tangan kanan Kirana. "Aku sayang sama kamu, Ran. Nggak bisakah kamu menutup pintu hatimu untuk Hendrik dan hanya membukanya untukku? Aku siap menerima kamu dan anakmu nanti."
Kirana terkejut setelah mendengar Richard menyatakan perasaannya. Awalnya Kirana mengira kalau perhatian Richard selama ini lantaran sudah menganggapnya sebagai adik. Tapi ternyata ada maksud lain.
"Tapi selama ini aku hanya anggap kamu sebagai Kakakku. Aku nggak punya perasaan lebih dari itu sama kamu, Kak."
__ADS_1
"Nggak masalah, Ran. Aku yakin dengan seringnya kita bersama seperti ini, maka perasaan itu pasti akan ada di hatimu nanti," sahut Richard dengan seuntai senyum.
Kirana segera menarik tangannya kembali. "Sebelumnya maafkan aku, Kak. Tolong kamu jangan berharap lebih sama aku. Andaikan nanti aku dan Mas Hendrik memang harus bercerai, aku juga nggak mau menikah lagi. Aku akan lebih memilih untuk fokus membesarkan anakku dan bisnisku aja."
Richard merasa kecewa dengan jawaban Kirana. Karena dia seperti benar-benar akan menutup hatinya untuk siapapun juga.
"Sebaiknya kamu mencoba dekat dengan Sisil, Kak. Dia anak yang baik kok. Aku yakin Tante Rima pasti setuju jika kamu berjodoh dengan Sisil."
"Yang menjalani kehidupan rumah tangga itu nanti aku, Ran. Mamaku hanya bisa memberi doa restu aja.
Jadi aku nggak mau menikah dengan orang yang nggak aku suka dari awal. Aku juga takut jika aku melukai perasaan perempuan yang berstatus istriku tapi aku tak mencintainya.
Sama seperti yang kamu rasakan saat menjadi istri Hendrik awal-awal. Apakah kamu mau jika Sisil merasakan seperti yang pernah kamu rasakan?" liriknya sekilas, lalu kembali fokus menatap lurus.
"Iya sih, Kak. Tapi aku juga berharap kamu nggak senekat Sintya yang melakukan berbagai macam cara agar bisa mendapatkan orang yang ia cintai. Nggak peduli orang itu sudah jadi milik orang lain," celetuk Kirana.
Richard tersenyum miring. "Tenang aja, aku nggak bakal seperti itu. Ya meskipun aku cinta mati sama kamu. Tapi sebelum kamu sendiri yang mempersilahkan aku masuk, maka aku tak akan membuka paksa.
Cuma aku harap kamu nggak melarang aku untuk selalu menantimu sampai kapanpun." tuturnya dengan sangat yakin.
Kirana berpaling menghadap Richard. "Kamu masih muda, Kak. Kamu kaya, pintar, ganteng. Pasti banyak yang mau sama kamu di luar sana. Setidaknya kalau kamu nggak mau sama Sisil, nggak masalah. Tapi jangan buang waktumu hanya untuk menungguku."
"Lebih baik aku membuang waktuku kalau soal menikah."
Rupanya Richard masih bersikukuh untuk menunggu Kirana. Karena ia sangat yakin jika akan bisa mendapatkan Kirana suatu hari nanti.
__ADS_1
Kirana sendiri akhirnya memilih diam tak meneruskan perdebatannya lagi dengan Richard. Yang penting baginya mulai sekarang ia harus mempersiapkan diri karena setelah ini ia akan lebih sering bertemu lagi dengan Hendrik.
Ternyata sejauh apapun ia pergi menghindar, dan serapi apapun ia menyembunyikan dirinya. Tetap saja ia kembali bertemu dengan Hendrik. "Tuhan, apakah memang kita di takdirkan untuk bersama lagi? Atau pertemuan ini hanya untuk menyelesaikan pernikahan ini?" gumam Kirana dalam hati.