Sakitnya Menikah Denganmu

Sakitnya Menikah Denganmu
bab 19.


__ADS_3

Kirana segera meloudspeaker panggilan telponnya.


"Apa benar ini Kirana?" tanya laki-laki di sambungan telpon itu.


"Iya, benar. Ini siapa? Ada perlu apa? Tau nomor saya dari mana?" cecar Kirana.


"Nggak perlu tau! Yang penting sekarang siapkan uang dua ratus juta kalau kamu ingin nyawa kakakmu tercinta ini selamat!" ancamnya dengan di iringi tawa besar.


"Ran, jangan dengarkan permintaan mereka."


Terdengar suara teriakan Johan dari jauh. Lalu setelahnya suaranya tak terdengar lagi.


"Mas Johan!" Kirana menutup mulutnya syok lalu menoleh ke Hendrik. Berharap Hendrik bisa memberi solusi. Tapi ternyata Hendrik hanya diam saja.


"Kamu dengar suara dia kan barusan? Jadi kami harap kamu segera siapkan uang yang kami minta tadi. Karena sudah lama sekali Johan berhutang pada bos kami."


"Aku ... aku nggak ada uang sebanyak itu saat ini. Tolong beri aku waktu untuk mencari uang sebanyak itu," pinta Kirana mengiba.


"kami beri waktu sampai besok pagi. Kalau sampai besok pagi uang itu belum juga kamu antar ke tempat yang kami minta, jangan salahkan kalau kami habisi nyawa Johan. Satu lagi, jangan sampai kamu berani lapor ke polisi!" lalu panggilan di putus secara sepihak.


"Halo ... halo!"


"Bugh!" Kirana memukul dasboard hingga tangannya memerah.


Hendrik hanya membuang nafas dan melirik sekilas ke arah Kirana.


"Mas, kamu bisa bantuin aku nggak?" tanya Kirana akhirnya.


"Kamu pikir uang dua ratus juta itu sedikit?"


"Nanti bakal aku ganti, Mas. Tapi kali ini tolong bantuin aku." Kirana menyatukan kedua telapak tangannya.


"Kamu mau ganti dengan cara apa? Kamu kerja aja nggak, gimana mau gantinya?"

__ADS_1


"Tapi, Mas ...."


"Kamu jadi USG apa nggak sekarang? Kalau nggak jadi, mending kita pulang aja. Aku sudah capek banged." potong Hendrik masih dengan wajah datarnya.


Bukannya menjawab, Kirana justru membuka pintu mobil dan turun begitu saja. Tapi setelahnya ia tak segera masuk ke dalam rumah sakit Ibu dan Anak. Membuat Hendrik berjalan menghampirinya.


"Kamu ngapain nggak masuk? Emangnya daftarnya dari luar gini?"


"Aku mau ke tempat Mas Johan!"


"Jangan keras kepala deh, Ran. Kalau kamu kesana, itu sama aja kamu ngebahayain nyawa kamu dan anak yang ada di perutmu. Egois berarti kamu!" Hendrik berucap lantang.


Lalu Hendrik segera menarik tangan Kirana agar mau ikut masuk ke dalam mobil lagi bersamanya. Meskipun Kirana terus memberontak, tapi tenaganya tetap kalah dengan Hendrik.


Ketika di dalam mobilpun Kirana masih aja terus meluapkan kekesalannya pada Hendrik.


"Kamu kenapa sih Mas tega banget sama Mas Johan? Bagaimanapun sekarang dia juga sudah jadi kakakmu. Siapa tau dia pinjam uang waktu itu karena lagi kepepet? Terus sekarang dia mau balikin, tapi belum ada uangnya?" omel Kirana kala mobil Hendrik sudah melaju dengan kecepatan cukup tinggi.


Hendrik segera menepikan mobilnya. Lalu menatapa tajam ke arah Kirana yang masih terus uring-uringan.


"Apa maksudmu? Aku pura-pura nggak tau apa?" Kirana nampak bingung dengan kalimat Hendrik barusan.


"Aoa kamu benar-benar nggak tau kalau kakakmu selama ini sebagai pemakai? Dia saat itu pinjam uang hanya untuk beli barang haram. Jadi kamu tau kan sekarang kenapa aku nggak mau bayarin hutangnya?


Biar aja kakakmu itu merasakan akibat dari perbuatannya sendiri. Yang penting tadi aku juga sudah menyanggupi permintaan Mas Johan untuk menjaga kamu," terang Hendrik panjang lebar.


Kirana melongo saat mendengar penjelasan Hendrik. Bagaimana mungkin selama ini dia tak tahu kalau kakaknya adalah seorang pemakai? Pantas saja sewaktu Kirana tinggal di rumah Johan, ia selalu melarang Kirana untuk masuk ke dalam kamarnya. Mungkin memang agar Kirana tak pernah tau.


"Kamu tau hal ini dari mana, Mas?" Kirana mulai lemas seperti kehilangan banyak tenaga.


"Ada temanku yang tau. Dia memberitahuku saat kamu tinggal di rumah Mas Johan kemarin. Saat itu aku takut kalau sewaktu-waktu ada polisi yang datang dan memgeledah kalian berdua.


Bagaimanapun kalau sampai Mas Johan ketangkap saat kamu masih di sana, nggak menutup kemungkinan kamu juga pasti ditangkap.

__ADS_1


Dan mungkin kita bakal gagal menikah. Tapi ternyata Mas Johan justru tertangkap oleh rentenir yang memberinya hutang di saat kamu juga sudah menjadi istriku," terang Hendrik sambil terus menatap ke depan.


"Kalau kamu sudah tau begitu, terus kenapa kamu masih mengijinkan aku untuk datang ke rumah Mas Johan?"


"Karena aku ingin tau seberapa besar kita di takdirkan untuk bersama. Dan ternyata kita memang berjodoh. Di saat kamu sudah sama aku, Mas Johan malah baru tertangkap."


"Tapi bagaimana nasib Mas Johan saat ini? Apa kita nggak kasih dia kesempatan? Siapa tau dia mau berubah?"


"Silahkan kalau kamu punya uangnya." Hendrik menoleh ke arah Kirana dengan senyum getir.


"Lebih baik sekarang kamu fokus dengan kehamilanmu. Untuk Mas Johan, doakan saja semoga dia baik-baik saja. Lagipula dia kan bukan kakak kandungmu? Dia hanya anak angkat dari kedua orangtuamu kan?" imbuh Hendrik.


Lagi-lagi Kirana dibuat terkejut oleh Hendrik. Bagaimana Hendrik bisa tau banyak hal tentang Kirana dan Johan, sedangkan Kirana belum pernah cerita apapun padanya.


Namun Kirana sudah tak mau lagi membalas ucapan Hendrik. Saat ini dia benar-benar dilema. Ingin menolong karena selama ini Johan sudah sangat baik padanya, tetapi ia tidak pegang uang sebanyak itu. Padahal dia sangat berharap Hendrik yang saat ini sudah berstatus sebagai suaminya, mau membantunya. Tapi nyatanya tidak terjadi.


"Kita periksanya besok siang aja ya. Setelah aku pulang dari mengontrol rumah makan," Hendrik berusaha memecah keheningan selama di perjalanan menuju ke apartemennya.


Kirana hanya diam saja. Dia masih betah dengan tutup mulutnya. Entah sampai kapan.


"Ayo turun, dah sampai. Apa aku harus gendong kamu biar mau turun dari mobil?" goda Hendrik.


Sebenarnya Hendrik juga kasihan pada Kirana yang mungkin saat ini merasa kehilangan kakaknya. Tapi mau bagaimana lagi?


Hari ini dia sudah banyak mengeluarkan uang. Untuk sewa apartemen saja sudah seratus juta untuk satu tahun ke depan. Kemudian beli ponsel dengan harga puluhan juta, terakhir beli mobil dengan harga tiga ratus juta. Semua tanpa sepengetahuan Kirana. Karena Kirana memang belum mau mencampuri urusan keuangan Hendrik.


Dan kalau malam ini dia harus keluar lagi uang sebanyak dua ratus juta, bisa pusing dia yang ada.


"Aku bisa jalan sendiri. Kamu urusin aja tuh adikmu," ketus Kirana.


"Kamu tenang aja, besok juga Judika, Musa, dan Alfan bakal pindah ke kosnya sendiri kok."


Kirana menghentikan langkah kakinya dan menoleh ke Hendrik. "Pindah ke kos mereka sendiri?" Kirana mengulangi kalimat Hendrik.

__ADS_1


"I-iya, kan kamu minta mereka secepatnya pindah ke kos kan?" Hendrik menjawab dengan gugup. Ia takut kalau Kirana akan bertanya-tanya lebih banyak lagi.


"Boleh aku tau mereka bakal kos di mana, Mas?" Kirana melangkah semakin mendekat ke Hendrik.


__ADS_2