
Kirana akhirnya memilih tidak menerima salah satu pun panggilan dari mereka. Ponselnya dibiarkan berdering begitu saja. Dan dia kembali fokus pada kerjaanya. Karena siang nanti dia akan pergi melihat rumah barunya yang ia dapat dari salah satu aplikasi jual beli rumah.
Pukul 11.30, ternyata Sisil sudah datang. Dengan wajah ceria ia masuk ke dalam kamar.
"Seneng banget kamu sepertinya. Pasti lagi naksir seseorang," tebak Kirana asal.
Sisil menutup wajahnya menggunakan kedua telapak tanganya. "Tau aja sih, Kak. Aku kan jadi malu."
"Siapa sih yang bisa bikin adekku ini jatuh hati?" Kirana menuntun Sisil untuk duduk di sampingnya.
"Tadi ada ojol ganteng banged, Kak. Dia lagi ambil orderan gitu di toko. Pengen aku minta nomor ponselnya, tapi malu," ungkapnya dengan mata berbinar.
"Oh ya? Wah, sayangnya aku nggak lihat ya. Andai kalau aku ada di sana, sudah pasti aku suruh dia buat ngelamar kamu saat itu juga," kelakar Kirana bercanda.
"Ih, Kakak mah. Masa baru kenal sudah main lamar-lamar aja sih?"
"Biar kamu cepet move on dari Richard kan?" Kirana mencubit pipi Sisil.
Sisil mencebikkan bibirnya. "Susah tau Kak, move on dari dia itu. Soalnya dia itu ...."
"Sudah ah, kita berangkat sekarang aja yuk. Takutnya keburu macet, kan sebentar lagi jam makan siang." sela Kirana. Ia tak mau Sisil kembali membahas Richard terlalu detail.
Saat mereka berada di dalam mobil, ponsel Kirana berbunyi menandakan ada satu pesan masuk. Ia segera mengeluarkan ponselnya dan melihat itu pesan dari siapa.
[Sayang, kamu di mana? Aku sudah nungguin kamu dari tadi di depan kamar. Tapi kok kamu nggak bukain pintunya. Apa kamu lagi keluar?] bunyi pesan itu.
[Iya, Mas. Aku lagi keluar, nanti aku kabarin lagi ya kalau aku sudah pulang.] pesan terkirim dan segera berubah jadi centang dua biru.
[Hati-hati di jalan ya. Jangan lupa makan siang. Padahal aku sudah bawain kamu soto sekarang. Tapi nggak apa deh, mungkin acaramu saat ini jauh lebih penting.]
__ADS_1
Kirana mengerutkan keningnya. Ia benar-benar heran dengan perubahan sikap Hendrik. Padahal biasanya Hendrik pasti akan mudah marah jika apa yang dia lakukan sia-sia. Tapi sekarang justru ia bisa bersikap bijak.
"Semoga aja kamu selalu seperti ini, Mas." gumam Kirana.
Tanpa sadar, mereka berdua akhirnya telah sampai di rumah yang akan Kirana beli.
"Ini rumah yang akan Kakak beli?" tanya Sisil takjub.
"Iya, bagaimana menurutmu? Bagus nggak?"
Rumah 2 lantai dengan cat tembok berwarna putih gold, total ada 6 kamar di sana. 3 kamar di lantai bawah, 3 kamar di lantai atas.
Untuk kamar di lantai bawah ada satu kamar utama, satu kamar anak-anak, dan satu lagi kamar tamu. Di bagian depan ada taman mininya, lalu di bagian belakang ada tempat santai serta kolam renang. Di bagian atas juga ada rooftop yang bisa dipakai untuk santai juga.
"Keren banged, Kak. Meskipun hanya satu lantai tapi ini mah keren. Andai aku punya uang banyak, aku pasti akan beli rumah seperti ini juga," sahutnya antusias.
"Ngapain berandai-andai?" celetuk Kirana sambil terus berjalan memeriksa setiap ruangan.
Kirana yang merasa Sisil salah paham, segera menghampirinya. "Maksud aku, ngapain kamu berandai-andai, kalau kamu pun bakal tinggal di sini nemenin aku," ungkap Kirana antusias.
Sisil mengangkat wajahnya, terlihat sekali jika dirinya sangat terkejut saat mendengar ucapan Kirana.
"Kakak serius? Nggak bercanda?" sorak Sisil. namun tiba-tiba wajahnya kembali murung. "Tapi, nggak deh, Kak. Aku nggak mau tinggal di sini sama Kakak. Takutnya nanti teman-teman yang lain pada iri sama aku," tuturnya.
"Ngapain harus iri? Mereka kan juga sudah aku kasih tempat tinggal gratis? Lagipula selama kamu tinggal juga di sini kan biar kita gampang kalau mau ngebahas soal laporan penjualan toko.
Sudah, ahh. Pokoknya nggak boleh nolak. Soalnya aku pasti nggak berani kalau tinggal sendirian di sini. Apalagi di sini masih jarang penghuninya. Rata-rata hanya beli rumah, tapi nggak ada yang menempati." ujar Kirana sambil bergidik ngeri.
"Okeh deh Kak kalau gitu. Siapa tau ada gaji tambahan kalau aku nemenin Kakak di sini," celetuk Sisil lalu dia kabur ke lantai atas.
__ADS_1
Setelah puas melihat-lihat rumah, Kirana berencana akan membeli beberapa furniture. Tapi itu akan dia lakukan besok. Sekarang dia akan kembali pulang ke hotel untuk istirahat. Sedangkan Sisil ia ijinkan kembali ke toko menggunakan ojek motor.
"Kamu yakin mau naik ojek motor aja? Panas sekali loh siang ini," tawar Kirana.
"Yakin, Kak. Siapa tau bisa ketemu lagi sama Mas ojol ganteng yang tadi pagi ambil orderan di toko," sahutnya sambil terus memperhatikan layar ponselnya. Dan tiba-tiba....
"Yes, aku dapat Mas ojol ganteng tadi pagi, Kak. Tuh kan aku bilang apa. Kalau jodoh mah nggak bakal kemana," kekehnya.
Kirana hanya menggelengkan kepalanya saat mendengar harapan Sisil barusan. Kemudian ia masuk ke dalam mobil taksi online yang sudah ia pesan.
"Sil, aku duluan ya. Kamu hati-hati nanti."
"Iya, Kakak juga hati-hati ya. Itu ojolku juga sudah datang," Sisil menunjuk ke arah belakang mobil.
Kirana berniat ingin melihat wajah ojol ganteng yang Sisil maksud, tapi sayangnya ojol itu tak membuka masker serta helm doubel facenya.
"Hem, padahal aku juga penasaran sama wajah ojol yang Sisil puji-puji itu. Tapi ya sudahlah, toh itu juga nggak terlalu penting buatku. Dan semoga aja kali ini Sisil berani meminta nomor ponsel dari Mas ojol itu." gumam Kirana.
Tiga puluh menit kemudian, Kirana telah sampai di loby hotel. Sebelum naik ke atas, ia ingin makan siang terlebih dulu di restoran yang ada di hotel bintang 5 ini.
"Ran!" panggil seseorang dari arah belakang.
Kirana berpaling mencari arah sumber suara, namun tak ada satu orang pun yang ia kenal di sana. "Apa aku salah dengar ya? Atau mungkin memang ada orang yang punya nama panggilan yang sama denganku? Ahh, entahlah."
Saat ia kembali menikmati makanannya, tiba-tiba Richard sudah berdiri di samping mejanya.
Mata Kirana membulat sempurna, "Kak Richard? Ka-kamu ngapain ada di sini?" tanya Kirana terbata. Ia kembali meletakkan sendoknya dan bangkit berdiri agar bisa sejajar dengan Richard.
"Harusnya aku yang tanya, kamu ngapain di sini? Kenapa kamu keluar dari apartemen yang sudah aku dan orang tuaku kasih buat kamu?
__ADS_1
Apa sih, Ran yang ada di pikiranmu? Padahal di depan mata jelas-jelas ada yang jauh lebih baik dari Hendrik. Tapi kenapa malah kamu sia-siakan?
Banyak, Ran yang suka dan ngejar-ngejar aku. Rata-rata mereka semua mau agar aku menjadikan mereka sebagai istri, tapi semua aku tolak demi kamu. Dan nggak taunya kamu yang aku fokusin malah jual mahal begini!" desisnya.