
tok... tok... tok...
"Sayang, tolong buka pintu kamarnya dong," panggil Hendrik lembut seraya mengetuk pintu kamar berulang kali. Namun hingga lima menit kemudian, Kirana tak kunjung membuka pintu kamarnya.
"Sayang, kamu lagi apa? Apa sedang tidur? Kalau belum tidur, apa aku boleh masuk? Aku ingin bicara sesuatu sama kamu," Hendrik memohon.
Sedangkan Kirana yang berada di dalam kamar tak sadar jika ada yang mengetuk pintu kamarnya berulang kali. Lantaran ia sedang menggunakan headphone di telinganya. Sesaat setelah selesai mendengar permintaan terakhir Bu Mery tadi. Ia memutuskan menggunakan headphone dan mendengarkan musik agar tak semakin stress.
"Baiklah, kalau kamu belum mau membuka pintunya. Aku akan tunggu di luar sampai kamu bangun."
Hendrik berjalan melewati Bu Mery, Handoko, dan Rita yang sedang menatapnya kesal. Ia sengaja melewati mereka begitu saja menuju teras rumah. Ternyata di sana ada Axel dan Sinta yang sedang bermain game di ponselnya masing-masing. Sementara Cindy dan Bagas sedang keluar.
Melihat Abangnya berjalan mendekatinya dengan wajah tertekuk, Axel gegas menyenggol sikut Sinta.
"Taruh dulu ponselmu. Kasian tuh Abangku, pasti dia kepikiran sama ucapannya mama barusan," bisik Axel sangat lirih.
"Duduk, Bang. Sini kita ngobrol-ngobrol santai," tawar Sinta ramah kemudian ia pindah kursi ke sebelah Axel.
Hendrik mengangguk, namun wajahnya masih saja muram.
"Lu, jangan ikutin permintaan mama kalau bisa Bang. Kasian istri lu kalau sampai dia harus kasih modal buat Bang Handoko dan Kak Rita. Apalagi sampai modalin nikahnya Judika. Nggak ada tuh kewajiban istri lu buat bantuin mereka.
Toh selama ini mereka juga nggak pernah menghargai istri lu. Dan di lain sisi, kalau misal Bang Handoko butuh modal kan bisa minta bantuan ke orang tua Kak Rita. Kan orang tua Kak Rita katanya kaya.
__ADS_1
Masa kasih modal buat anak, menantu, dan calon cucunya nggak mau sih? Kebangetan kalau sampai nggak mau," beber Axel sedikit kesal.
Hendrik lagi-lagi menghela nafas terlebih dahulu sebelum berbicara. "Gua juga mikirnya gitu. Tapi kan lu tau sendiri gimana mama? Kalau sudah maunya begitu ya harus terwujud. Kalau sampai nggak terwujud bakal ngelakuin hal yang nekat. Dan gua nggak mau itu terjadi."
"Udah, lu jangan khawatir soal itu. Senekat-nekatnya mama, paling juga cuma mogok makan sehari. Sudah hafal gua sama sifatnya mama," Axel memang sudah sangat hafal dengan sifat mamanya itu. Lantaran ia yang paling sering di ancam oleh mamanya.
"Tapi tetep aja gua nggak tega kalau sampai itu terjadi. Bagaimana pun mama sudah tua, Xel. Mana tega gua lihat mama mogok makan meskipun hanya sehari," bantah Hendrik cepat.
"Lah? Elu lebih mikirin mama yang doyan akting dari pada istri dan calon anak lu yang jelas-jelas tertekan, Bang?" decak Axel menggelengkan kepalanya.
"Gua mikirin semuanya lah. Makanya sekarang gua bener-bener pusing harus bagaimana." Hendrik menundukkan kepala seraya memainkan jari-jarinya. Entah apa yang saat ini ada di pikirannya.
"Astaga!" Axel menepuk keningnya. "Gua tau lu sayang sama mama. Tapi saat ini kebahagiaan istri lu itu nomor satu. Emang lu mau ada apa-apa sama kehamilan Kak Kirana?" Axel menjeda kalimatnya. Ia nampak sedang menimbang-nimbang sesuatu.
Hendrik menatap Axel sekilas, kemudian kembali menundukkan kepala.
"Gimana kalau lu sama Kak Kirana pindah aja? Cari kontrakan lain gitu maksud gua. Jadi biarin aja mama sama papa tinggal di sini. Kalau lu kepikiran, ya lu cari kontrakannya yang deket-deket sini aja, Bang. Jadi kan bisa tuh lu tengokin mama sama papa sesering yang lu mau.
Kenapa gue kasih saran begini? Karena yang gue tau, satu atap itu nggak bisa ada dua ratu. Ya meskipun yang satu itu orang tua kita. Tapi tetep aja bakal sering adu mulut dan nggak baik buat kesehatan ibu hamil.
Percaya deh, dengan lu lakuin ide dari gue ini, rumah tangga lu bakal selamat. Dan mama sama papa juga bakal baik-baik aja.
Gua juga yakin kalau Kak Kirana pasti setuju dengan ide gua ini. Nggak sulit lah bagi Kak Kirana ngeluarin uang buat bayar kontrakan baru lagi demi kenyamanannya sendiri," ucap Axel mantap.
__ADS_1
Meskipun Axel belum berumah tangga, tapi ia sudah tau bagaimana harus bersikap sebagai seorang suami. Karena kebetulan lingkup pertemanan Axel semua sudah berumah tangga. Jadi di banyak ambil pelajaran yang baik-baik dari teman-temannya itu.
"Iya, gua tau kalau Kirana pasti setuju banged kalau gua ajak dia pindah. Toh, sebenarnya dia juga sudah beli rumah. Tapi yang jadi pikiran gua sekarang, gimana kalau mama sampai mogok makan seperti yang lu bilang bagaimana?" cemas Hendrik.
"Itu dulu, Bang. Kalau sekarang sepertinya mama nggak bakal kuat buat mogok makan. Lihat sendiri kan, baru beberapa menit selesai makan, sudah ambil piring lagi," kelakar Axel di iringi cubitan dari Sinta.
"Gua pikirin dulu deh. Siapa tau nanti gua dapat ide yang lebih bagus." putus Hendrik.
"Ah, elah! Masih di pikirin dulu ternyata. Tapi ya udah deh. Semoga aja lu nggak salah ambil keputusan. Dan semoga rumah tangga lu baik-baik aja sampai maut memisahkan kalian. Inget, lu bakal jadi papa sebentar lagi."
Hendrik tersenyum hangat seraya menepuk bahu Axel. Ia bersyukur karena masih punya adik yang bisa di ajak bertukar pikiran dan memberi solusi untuk rumah tangganya.
Lalu setelahnya ia berencana untuk mengaktifkan aplikasi ojolnya. Siapa tau dengan menyibukkan diri mencari orderan di luar, Hendrik bisa sedikit merilexkan pikirannya. Lagipula Kirana juga sepertinya masih tidur. Dia juga berharap saat pulang nanti, Kirana tak akan marah padanya.
"Ya udah, gua keluar dulu ya. Nanti kalau Kirana myariin gua, bilang aja gua lagi jalanin aplikasi ojol," pamit Hendrik seraya bangkit mengambil jaket dan helm ojolnya.
"Iya, hati-hati Bang!"
Sudah beberapa jam Hendrik berada di luar rumah. Tanpa sadar hari juga sudah mulai malam. Sepertinya karena ramenya orderan hingga membuatnya lupa melihat jam.
Tepat pukul 20.00, ia memutuskan untuk pulang saja. Tapi sebelumnya ia mengecek ponselnya. Ia berharap jika Kirana akan menghubunginya. Tapi ternyata hasilnya nihil.
Cukup menempuh empat puluh menit, ia tiba di depan rumah. Namun baru saja, ia memarkirkan motornya, terdengar suara ribut-ribut dari dalam rumah.
__ADS_1
Firasatnya mengatakan sedang terjadi hal yang buruk. Dengan langkah seribu ia masuk ke dalam rumah dan berjalan ke sumber suara.