Sakitnya Menikah Denganmu

Sakitnya Menikah Denganmu
Bab 84.


__ADS_3

Kirana menghapus air matanya yang di pipi menggunakan jarinya. Kemudian ia menarik nafas dalam-dalam.


"Kamu nggak kerja, Mas?" Kirana melihat Hendrik sekilas.


"Memangnya kamu nggak apa kalau aku tinggal sendiri?"


"Aku sudah biasa sendiri, Mas. Nanti kalau misal ada apa-apa, aku telpon kamu. Lagipula katanya kamu mau cepat-cepat punya tabungan buat mengurus surat nikah kita?" tukas Kirana seraya berdiri dan berjalan ke ruang tamu.


Hendrik pun ikut berdiri dan mengikuti langkah kaki Kirana. "Kamu nggak jadi beli perabotan, Sayang?"


"Aku sudah beli melalui online, Mas. Mungkin sebentar lagi datang. Toh aku juga cuma beli tempat tidur, lemari baju, sama AC aja. Untuk perabotan yang lainnya nyusul aja belinya," sahut Kirana sambil terus berjalan.


"Ya sudah kalau gitu aku tungguin sampai barang-barangnya dateng aja. Biar sekalian kita tata nanti," Hendrik masih terus berusaha agar tetap ada di rumah.


Kirana balik badan, lalu menyilangkan tangan di depan dada. "Nggak usah, Mas. Sudah sana kamu berangkat kerja aja."


Akhirnya Hendrik mengambil jaket serta helm ojolnya. Kemudian ia pamit pada Kirana. "Jaga diri baik-baik ya. Jangan jauh-jauh dari HP mu, biar kalau ada apa-apa bisa cepet telpon aku. Tapi semoga aja nggak ada apa-apa sampai aku pulang nanti," pesan Hendrik sebelum ia melangkah keluar.


Kirana menganggukan kepalanya.


Beberapa menit kemudian, barang yang ia pesan juga sudah tiba. Kirana memang sengaja hanya memesan beberapa perabot ini saja. Karena ia merasa kurang nyaman tinggal di rumah ini.


Bukan karena ukurannya yang kecil, tapi karena rumah ini terlalu menyeramkan jika malam hari. Dan semua tetangga sebelah rumah juga tipikal orang yang hidup individu.


"Mungkin nanti aku bakal minta pindah rumah aja deh ke Mas Hendrik. Atau mungkin lebih baik kita tinggal di rumah yang aku beli itu aja. Untungnya rumah itu belum sempat aku jual lagi kemarin." gumam Kirana sambil menata baju-bajunya ke dalam lemari.


Malam hari pukul 20.00, Hendrik sudah pulang. Tak lupa ia juga membawakan martabak telur kesukaan Kirana.

__ADS_1


Bahkan hampir setiap malam, kini mereka berdua selalu meluangkan waktu untuk mengobrol soal pekerjaan masing-masing. Meskipun hanya satu atau dua jam sebelum istirahat.


Karena mulai dari pagi, Kirana juga sibuk mengecek dua toko bunganya. Sedangkan Hendrik dari setelah mengantar Kirana, ia lanjut mencari orderan ojolnya.


Hingga satu bulan kemudian, Hendrik tiba-tiba mengajak Kirana makan malam di rumah kontrakannya.


"Sayang, aku boleh ngomong sesuatu nggak sama kamu?" tanya Hendrik kala mereka sudah hampir menyelesaikan makan malamnya.


Kirana menghentikan makannya, lalu menatap Hendrik sekilas. "Mau ngomong Apa, Mas? Sepertinya serius?" ujarnya lalu mengambil segelas air minum.


"Begini, Ran." Hendrik meraih sebelah tangan Kirana. "Aku pengen buka usaha rumah makan lagi. Menurut kamu bagaimana?"


"Uhuuk!" Kirana tersedak minumannya sendiri.


"Hati-hati dong, Sayang kalau minum." tegur Hendrik seraya membantu Kirana membersihkan bajunya yang basah.


"Maaf, Mas. Aku terkejut aja saat dengar kamu ada rencana mau buka rumah makan lagi," sahut Kirana.


"Nggak ada yang salah, Mas. Cuma aneh aja gitu. Kenapa juga kamu tiba-tiba pengen buka rumah makan lagi? Memangnya kamu sudah punya modalnya?"


"Belum ada sama sekali sih, Ran. Lagian ini kan baru rencana aja." Hendrik menjawab tanpa melihat Kirana.


"Iya, tapi kenapa kamu tiba-tiba punya rencana begitu? Apa ini tuntutan dari Mamamu lagi?" decak Kirana kecewa.


"Bukan, ini nggak ada hubungannya sama Mamaku. Tapi ini karena aku ingin secepatnya mengembalikan uang Tony. Aku nggak enak Ran kalau pinjam uangnya lama-lama. Apalagi tadi aku ketemu sama dia, dan dia sudah menanyakan kapan aku bisa balikin uangnya." Elaknya lalu bangkit berdiri membelakangi Kirana.


Kirana tersenyum sinis. "Dari awal kan aku sudah bilang jangan pinjam uang ke Tony! Tapi kamu aja yang ngotot."

__ADS_1


Hendrik berpaling menatap Kirana, tapi kali ini tatapannya berbeda dari biasanya. Kini ia terlihat sekali jika sedang marah dan kecewa. Entah apa penyebabnya.


"Sudah jangan ajak aku berdebat! Kalau memang saat ini kamu nggak bisa kasih solusi, setidaknya jangan menyalahkan aku begini! Toh saat itu aku pinjam uang juga buat sewa rumah yang kita tinggali saat ini! Bukan hanya untuk foya-foya kan?" hardiknya tak terima dengan mata melotot nyaris keluar dari tempatnya.


Kirana terkesiap saat Hendrik kembali berbicara dengannya menggunakan nada tinggi. Padahal selama mereka memutuskan untuk kembali bersama lagi, tidak pernah sekalipun Hendrik berbicara kasar padanya. Namun malam ini sifat Hendrik kembali terlihat.


"Kamu,....?" Matanya mulai berkaca sambil menunjuk Hendrik, kemudian Kirana hendak berjalan masuk ke kamar.


Hendrik yang sadar telah berbicara dengan nada tinggi pada Kirana, segera berlari mengejarnya. "Maafkan aku, Sayang. Aku nggak ada maksud buat ngebentak kamu. Aku hanya sedang pusing aja malam ini," ungkapnya lalu memeluk Kirana dari belakang dengan sangat erat.


Kemudian Hendrik memutar badan Kirana agar menghadap ke arahnya. "Sayang, aku benar-benar minta maaf. Tolong maafin aku ya," kini justru Hendrik berlutut di kaki Kirana.


"Sepusing apa kamu, Mas? Sampai tega membentakku seperti itu tadi? Apakah aku sudah membebanimu? Bukankan selama ini juga aku yang sudah memenuhi semua kebutuhan kita meskipun orderanmu lagi rame?


Bahkan janjimu yang bilang kalau bakal kasih semua uangmu buat aku aja, aku nggak pernah menuntut hal itu. Aku tetap diam karena setidaknya setiap pulang kerja, kamu selalu membawakan aku makanan kesukaanku," beber Kirana dengan suara gemetar.


"Iya aku salah, Sayang. Aku memang sudah ingkar janji soal itu. Tapi, ...." Hendrik kembali tertunduk. Ia tak bisa melanjutkan kalimatnya.


"Tapi kemana perginya uangmu itu, Mas? Apakah sudah kamu tabung? Kalau memang sudah kamu tabung, boleh aku lihat sudah berapa saldomu sekarang?" sinis Kirana.


Namun bukannya menjawab pertanyaan Kirana, Hendrik justru semakin menundukkan kepalanya.


"Kenapa diam saja, Mas? Sepertinya kamu memang belum menabung sama sekali. Buktinya sekarang di saat Tony menagih uangnya, kamu kebingungan."


"Aku... aku,"


"Apa yang sedang kamu sembunyikan dari aku, Mas? Aku harap kamu mau jujur sama aku, atau sekarang juga aku pergi!" hardik Kirana yang mulai hilang kesabarannya.

__ADS_1


Hendri bangkit berdiri kemudian memegang bahu Kirana. Matanya juga sudah mulai terlihat berkaca seperti ingin menangis. "Jangan Sayang, kamu jangan pergi lagi. Aku akan ceritakan kemana uangku perginya. Tapi jangan kamu punya niatan untuk pergi dari sini," mohonya dengan air mata yang sudah menetes.


"Tergantung, Mas! Tapi satu hal yang harus kamu ingat, kalau aku nggak bisa kasih kamu kesempatan lagi jika kamu melakukan kesalahan!" tegas Kirana.


__ADS_2