
Kirana berjalan cepat bahkan sedikit berlari ke arah resto yang Judika maksud, agar Tante Linda tak curiga atau mencarinya ke toilet. Sesampainya di sana, Ia mengedarkan pandangannya ke kanan dan kiri. Tapi orang yang dia cari tak nampak batang hidungnya sedikitpun.
"Sial, jangan-jangan Judika hanya ingin bohongin aku aja! Duh, Ran kamu ini kenapa sih mudah banged percaya sama Judika! Huh!" omel Kirana seraya menghentakkan kakinya.
Lalu ia berniat kembali ke Tante Linda, tapi saat ia balik badan, tiba-tiba ia menabrak seseorang.
"Aduh! Maaf saya nggak lihat," ucap Kirana sambil menundukkan kepala.
"Kirana?" serunya terkejut kemudian ia memegang lengan Kirana. "Kamu ngapain di sini? Sama siapa kamu ke sini?" cecar Hendrik penuh selidik seraya melihat kanan kiri.
Mata Kirana membeliak tatkala ia tahu orang yang dia tabrak barusan adalah Hendrik. "Memangnya kenapa kalau aku datang ke sini? Apakah ada yang salah jika aku jalan-jalan kesini?" Ia melepaskan tangan Hendrik dari lengannya.
"Harusnya aku yang terkejut saat lihat kamu ada di sini. Bukannya kamu paling anti sama yang namanya jalan-jalan ke mall kalau nggak penting-penting banged? Dan bukannya di saat jam makan siang begini biasanya kamu akan memilih tetap ada di rumah makan?
Atau jangan-jangan memang sudah ada hal yang penting yang kamu lakukan di mall ini? Seperti membelanjakan kebutuhan Adik tercintamu mungkin? Atau mungkin akan makan siang bersama dengan perempuan lain?" cibir Kirana lalu menyilangkan tangannya di depan dada.
Dan beberapa detik kemudian terdengar suara beberapa orang yang memanggil nama Hendrik dari kejauhan.
"Hen, kok kamu nggak langsung masuk? Kamu ngapain masih di sana?" teriaknya sambil berjalan ke arah Hendrik dan Kirana.
Wajar mereka tak tahu kalau Hendrik saat ini sedang berbicara dengan Kirana. Karena posisi Kirana memang membelakangi arah mereka datang.
"Ini nggak seperti yang kamu pikirkan, Ran. Aku bisa jelaskan sama kamu," Sela Hendrik sebelum teman-temanya itu mendekat.
__ADS_1
"Salah paham katamu, Mas? Terus aja kamu menghindar dari kesalahanmu sendiri. Mau sampai kapan? Apa kamu tunggu teguran dari Tuhan?"
"Loh, Mbak Kirana kok ada di sini juga sih, Mas?" tanya Mita saat sudah berdiri di samping Hendrik sambil menunjuk Kirana.
"Apa kalian sudah berbaikan lagi? Sangat di sayangkan sekali kalau begitu keputusanmu, Hen. Padahal baru saja kamu lepas dari dia beberapa hari, semua pelangganmu sudah balik lagi kan Hen? Bahkan omset harianmu meningkat drastis. Lantas ngapain kamu nekat berbaikan sama dia? Itu justru bikin kamu sial lagi nantinya," ujar teman cowok yang lain dengan raut kecewa.
Kirana meradang saat dengar kalimat itu. Ia tidak menyangka akan bertemu lagi dengan orang-orang bermulut jahat seperti mereka.
"Kalian tenang aja, aku ke sini bukan karena mau ikut acara pesta kalian kok. Karena aku dan Mas Hendrik memang nggak sengaja juga bertemu barusan.
Jadi kalau kalian mau berpesta untuk merayakan kepergianku dari Mas Hendrik juga silahkan. Aku nggak akan merusak acara kalian." sahut Kirana berusaha tenang.
"Baguslah! Karena kami juga nggak suka jika ada pembawa sial di dekat kami," sinis salah satu cowok yang entah siapa namanya.
Namun pergelangan tangan Kirana kembali di pegang erat oleh Hendrik. Kemudian Hendrik berpaling menatap teman-temannya. "Kalian masuk duluan aja, aku mau bicara sebentar dengan Kirana," pinta Hendrik pada mereka.
Mereka semua mengangguk setuju, kecuali Mita yang nampak tak suka. Bahkan ia sempat menghentakkan kakinya kala akan berjalan masuk ke dalam resto.
Dan ada satu orang lagi yang dari kejauhan menatap tak suka ke arah mereka berdua. Dia sangat terlihat kesal.
"Mau bicara apa lagi? Sepertinya semua sudah jelas kan, Mas? Bahkan aku dengar barusan bisnismu semakin lancar semenjak aku nggak ada di sampingmu. Lalu untuk apa lagi kamu menahan aku sekarang? Lepaskan aku jika memang aku pembawa sial bagimu. Seperti kata teman-temanmu barusan," Kirana berucap tanpa menatap Hendrik sedikitpun.
"Kamu tinggal di mana sekarang? Kalau kamu tinggal bersama Tante Linda, aku minta alamatnya. Karena aku lupa di mana alamatnya saat itu."
__ADS_1
"Lupa? Padahal baru beberapa hari yang lalu kita kesana bersama, tapi sudah bikin kamu lupa," Kirana menggelengkan kepala. "Oh iya, apapun yang berkaitan dengan aku kan nggak penting sama sekali ya? Jadi buat apa kamu menginggatnya?" cemooh Kirana yang di sambut tatapan tajam Hendrik.
"Kamu kenapa sih, Ran? Aku sudah tanya baik-baik loh sama kamu! Kenapa kamu malah seperti memperkeruh suasana sih? Tinggal kasih aja apa susahnya? Aku tanya melalui chat, juga kamu nggak balas sama sekali," protesnya.
"Tanya baik-baik katamu? Lalu aku memperkeruh suasana?" Kirana menunjuk wajahnya sendiri. "Hahaha! Nggak salah kamu Mas? Kamu nggak dalam keadaan mabuk kan saat ini?
Kalau kamu memang mau masalah kita di selesaikan baik-baik, harusnya pagi itu kamu nggak pergi dari apartemen. Tapi apa yang kamu lakukan? Kamu pergi kan? Bahkan hanya pamit melalui tulisan di atas kertas sama aku!
Lalu kenapa sekarang kamu bilang aku yang memperkeruh suasana sih? Playing victim banged kamu jadi orang!"
"Sudah lah, Ran. Aku nggak punya banyak waktu untuk berdebat sama kamu saat ini. Aku sekarang hanya minta alamat Tante Linda. Dan aku akan datang ke sana saat aku ada waktu luang nanti."
Kirana menoleh terkejut. "Lebih baik nggak perlu kamu datang ke rumah Tante Linda kalau harus menunggu kamu punya waktu luang! Aku juga akan menganggap masalah kita sudah selesai! Dan aku tinggal menunggu gugatan perceraian darimu." Kirana menunjuk dada bidang Hendrik sambil melotot.
"Cerai, cerai, cerai! Itu aja yang kamu sebut! Apa nggak ada kata-kata lain?" Hendrik menarik nafas dalam-dalam. "Aku saat ini sedang ada acara, Ran. Jadi nggak mungkin kita bicara di rumah Tante Linda sekarang."
"Kalau begitu silahkan lanjutkan acaramu! Maka aku juga akan melanjutkan hidupku tanpa kamu!" Kirana melangkahkan kakinya dengan perasaan yang teramat sakit.
Ya, sekali lagi Hendrik ternyata lebih mementingkan perasaan orang lain daripada dirinya.
"Ayolah, Ran! Jangan bersikap kayak anak kecil begini!" bentak Hendrik.
Kirana menghentikan langkah kakinya lalu berpaling ke belakang. "Ya, aku memang kayak anak kecil. Tapi setidaknya aku tahu bagaimana cara menjaga perasaan pasanganku. Nggak seperti kamu di bilang dewasa tapi nggak tau cara memperlakukan pasangan dengan baik!"
__ADS_1