
Sesampainya di kantor polisi, Sintya kembali mengamuk lantaran masih belum bisa terima jika dirinya harus di tahan. Kedua orangtuanya juga sudah dihubungin. Mereka sama tak terimanya dengan Sintya. Namun hasil rekaman itu cukup jelas, jika dirinyalah dalang dari semua.
Hendrik pun akhirnya bisa bernafas lega karena sudah bisa memenjarakan Sintya yang sudah merusak sumber penghasilannya. Untuk Mita, biarlah polisi yang mencari dan menangkapnya. Semua Hendrik serahkan ke pihak berwajib. Tapi dia bersikukuh tak akan mau jika Sintya atau orangtuanya mengajak berdamai.
Setelahnya ia memilih pulang ke apartemenya. Ia benar-benar lelah sepanjang hari ini.
Rasa penyesalan pun kini menghampirinya. Andai saat itu dia tidak mudah percaya dengan ramalan itu. Pasti saat ini Kirana masih bersamanya, dan tentunya juga hal itu tak akan membuat Sintya semakin nekat untuk memilikinya.
"Sepertinya aku besok harus mencari keberadaan Kirana untuk meminta maaf. Ya, aku harus meminta maaf padanya. Kemudian akan memintanya untuk membantuku mendirikan rumah makan lagi.
Apalagi saat ini kan dia sudah punya usaha yang sangat ramai. Pasti bukan hal yang sulit untuk membantuku. Di tambah statusku yang masih sebagai suaminya," Hendrik merasa sangat yakin dengan pemikirannya.
kemudian ia kembali bangkit dari duduknya menuju kamar, ia ingin segera mandi dan beristirahat. Tapi tiba-tiba ponselnya berdering. Ternyata itu panggilan dari Bu Mery.
"Halo, ada apa, Ma?"
"Hen, kamu cepat ke kantor polisi, itu adikmu Judika habis nabrak orang. Katanya korbannya sampai meninggal!" seru Bu Mery dengan suara terisak.
"Apa!"
Baru saja dia ingin kembali beristirahat, ternyata masalah baru datang lagi. Seakan-akan hari ini adalah hari pembalasan untuknya.
"Kamu cepetan ke sana ya. Mama baru bisa besok terbang ke Surabaya. Saat ini Mama sedang mengurus masalah rumah makan yang terbakar."
"Sama Ma. Aku juga sedang mengurus masalah yang sama! Bahkan ini baru aja aku pulang dari kantor pilisi. Aku capek, Ma. Tolonglah ngertiin aku sedikit.
Biarlah Judika menyelesaikan masalahnya sendiri! Toh sapa suruh dia kebut-kebutan di jalan hingga ada korban jiwa."
"Hendrik! Bagaimanapun dia itu adik kandungmu! Kamu lah yang harus bertanggung jawab jika adikmu melakukan kesalahan di sana! Kan Mama sudah menitipkan dia sama kamu! Pokoknya sekarang juga kamu harus datang ke sana untuk menyelesaikan semua masalah Judika. Mama nggak mau kalau sampai Judika harus di tahan! Ngerti kamu?"
Hendrik enggan menjawab, dan lebih memilih memutus panggilannya. Dia sudah capek tapi malah di bikin capek lagi dengan harus mengurus masalah yang Judika buat.
__ADS_1
Akhirnya dia memilih mematikan ponselnya. Biarlah masalah Judika dia selesaikan besok pagi saja. Saat ini ia hanya butuh waktu untuk istirahat.
Keesokan paginya, ia sengaja belum menyalakan ponselnya. Karena ia ingin mencari keberadaan Kirana terlebih dulu. Baginya itu yang paling terpenting saat ini.
Namun baru saja ia bersiap, tiba-tiba ada yang menekan bel kamar apartemennya.
"Selamat pagi, Pak! Kami dari kepolisian, ingin memberikan surat undangan yang memberitahukan jika adik anda yang bernama Judika saat ini sedang kami tahan atas kasus ugal-ugalan di jalan hingga menyebabkan beberapa orang harus meregang nyawa."
"Tapi saya sedang sibuk, Pak. Bisakah saya datang ke sana nanti siang?"
"Tidak bisa, Pak. Karena pihak keluarga korban sudah meminta pertanggung jawaban. Kalau tidak maka adik anda akan kami proses sesuai dengan hukum yang berlaku."
"Jangan, Pak!" teriak seseorang dari arah belakang.
Semua orang melihat ke arah sumber suara itu.
Mata Hendrik membulat sempurna melihat sosok perempuan yang berjalan tertatih ke arahnya. "Mama?" ucapnya tak percaya.
"Jangan, Pak. Kami akan ikut ke kantor polisi sekarang juga," sela Bu Mery tanpa menghiraukan Hendrik.
Beberapa saat kemudian mereka telah sampai di kantor polisi. Ternyata Judika di tahan di tempat yang sama dengan Sintya.
Bu Mery langsung berjalan masuk ke dalam.
"Mana anak saya, Pak?" tanyanya kala sudah di dalam.
Tiba-tiba ada perempuan yang masih muda sambil mengendong anaknya menghampiri Bu Mery. "Apakah anda ibu dari laki-laki yang semalam menabrak suami saya?"
"Saya nggak ada urusan dengan kamu! Minggir sana!" bentak Bu Mery dengan angkuhnya.
"Jelas ada hubungannya! Karena anak ibu yang ugal-ugalan itu, suami saya jadi meninggal! Sedangkan dia adalah tulang punggung di keluarga kami!" bantah perempuan itu.
__ADS_1
Bu Mery mendorong bahu perempuan itu. "Hei, jangan hanya salahin anak saya dong! Siapa tau suamimu lah yang motong jalan anak saya!" ketusnya masih tak mau kalah.
"Jelas-jelas di rekaman CCTV sudah terbukti kalau anak Ibu lah yang salah. Hei Bu, kalau anak salah itu jangan di bilang benar! Salah ya Salah!
Jangan mentang-mentang kalian orang kaya terus kami harus takut! Kami akan menuntut pertanggung jawaban berupa materi dari keluarga Ibu! Tapi di lain sisi kami juga akan menuntut agar anak Ibu di penjara seumur hidup!" teriak perempuan itu yang di dukung beberapa orang lainnya.
"Eh, nggak bisa gitu dong!" sanggah Bu Mery.
Untungnya kedua belah pihak berhasil di tengahi, jadi keributan tak berlanjut lama.
"Bagaimana, Pak, Bu. Dari pihak korban ingin menuntut santunan? Apakah anda bersedia?" tanya seorang polisi.
"Tapi anak saya bisa bebas kan, Pak?"
"Semua tergantung dari pihak pelapor, mau tetap di lanjutkan atau mau di cabut laporannya."
"Saya bersedia mencabut laporan saya, asal kalian memberikan uang santunan sebesar 2 milyar!" ucap perempuan muda itu.
Mata Bu Mery melotot dengan mulut terbuka lebar. "A-apa? 2 milyar? Kalian kok malah jadi memanfaatkan begini? Ini namanya pemersan, Pak!" Bu Mery berpaling melihat ke arah polisi.
"Bukan pemerasan ini namanya! Toh uang 2 milyar itu akan di bagi untuk 4 keluarga!"
"Baiklah! Asal anak saya bisa bebas, saya akan lakukan apapun!" tegas Bu Mery.
"Ma, uang darimana sebanyak itu?" bisik Hendrik yang duduk di samping Bu Mery.
"Ya, jual apartemen dan mobil mu lah! Toh itu dulu kamu belinya dari hasil untung rumah makan kan? Jadi kalau sekarang Mama minta itu hal yang wajar!"
Hendrik terkejut dengan ucapan Bu Mery. Bisa-bisanya Bu Mery sangat perhitungan padanya. Sedangkan sama Judika tidak sama sekali.
"Baiklah, Ma. Ini kunci mobil dan apartemenku. Silahkan Mama jual sendiri. Mulai sekarang aku nggak mau ikut campur lagi sama urusan Judika. Dan aku harap setelah ini Mama mau merubah cara didik Mama untuk Judika!"
__ADS_1
"Oh, jadi kamu sudah siap hidup jadi gelndangan menyusul istrimu itu? Silahkan kalau begitu! Tapi Mama harap kamu nggak menyesal nantinya!" Bu Mery membuang muka.
Lalu Hendrik berdiri dan berjalan keluar. Kini ia benar-benar sudah tak punya apa-apa lagi. Harapannya saat ini hanya Kirana. "Semoga aku bisa secepatnya bertemu denganmu, Ran," gumam Hendrik sambil memperhatikan kendaraan yang berlalu lalang di depannya.