
Akhirnya diam-diam Kirana juga mengikuti ke arah perginya Hendrik. Dari kejauhan terlihat mereka sedang berkumpul di belakang gereja. Namun obrolan mereka masih terdengar jelas. Karena suasana di belakang sini sangat hening.
"Selamat ya, Nak. Akhirnya kamu sudah resmi menjadi seorang suami sekarang. Ya, meskipun sebenarnya Mama nggak setuju sama pilihanmu itu," jelas sekali jika suara Bu Mery benar-benar kecewa.
"Makasih ya, Ma. Oh iya, Mama mau bicara sama Kirana juga?" tanya Hendrik tiba-tiba.
Kirana yang mendengar itu, langsung cepat-cepat kembali masuk ke dalam gereja.
"Ran, Mama mau bicara sama kamu. ayo kita keluar dulu. Kan acaranya juga sudah selesai," Hendrik mengandeng tangan Kirana.
Sesampainya di luar, ponsel itu diberikan ke Kirana. "Nih, Mama mau ngomong," Hendrik memberikan ponselnya.
"Halo, Ma."
"Halo, Ma," Kirana mengulangi lagi kalimatnya sembari menatap layar ponselnya.
"Ternyata masih terhubung, tapi kenapa Mama mertua diam aja ya?" batin Kirana bingung.
"Kenapa, Ran?" tanya Hendrik yang penasaran karena Kirana berulang kali menatap ponselnya. Sedangkan mereka hanya melakukan panggilan telpon biasa.
"Ini kok nggak ada suaranya ya, Mas? Apa sinyalnya lagi jelek ya di sana?" terang Kirana dengan raut wajah bingung.
"Masa sih? Tadi waktu telpon sama aku lancar-lancar aja kok," Hendrik kemudian mengambil ponselnya.
"Halo, Ma."
"Halo, itu istrimu kenapa sih? Dari tadi halo-halo terus. Padahal Mama sudah ngajak bicara dan tanya-tanya soal nikah kalian barusan. Tapi kok sepertinya dia pura-pura tuli ya?" geram Bu Mery.
"Tadi Kirana juga bilang katanya Mama nggak ada suara sama sekali. Jadi yang bener yang mana sih ini?"
"Ya Mama lah yang bener. Masa kamu nggak percaya sama Mamamu sendiri? Duh, sepertinya istrimu itu ada dendam deh sama Mama soal baju bekas waktu itu," tuduh Bu Mery yang sengaja ingin membuat Hendrik marah pada Kirana.
Kirana tak terima di tuduh seperti itu, lalu ia berbisik pada Hendrik. "Aku mau bicara sama, Mama lagi boleh?"
"Ma, ini Kirana mau bicara lagi katanya ada yang ...."
Kirana langsung merebut ponsel itu dari tangan Hendrik. Kemudian Hendrik berlalu meninggalkannya untuk mengambil minum.
__ADS_1
"Halo, Ma. Maaf sebelumnya, tadi itu Kirana memang nggak dengar sama sekali suara Mama. Makanya Kirana berulang kali bilang halo. Dan ...."
"Jangan panggil aku dengan sebutan Mama! Aku bukan Mamamu! Panggil aja Tante!" sela Bu Mery.
Degh.
"Tapi sekarang aku sudah nikah dengan Mas Hendrik, Ma. Berarti, ...." tiba-tiba saja panggilan terputus.
"Ada apalagi sih, Ran? Kok malah sedih gitu?" tanya Hendrik yang baru saja datang setelah mengambil minum.
Belum sempat Kirana menjawab pertanyaan Hendrik, terlihat Bu Mery menelpon lagi ke ponsel Hendrik.
"Kenapa lagi, Ma?"
"Bilang sama istrimu itu ya, belum apa-apa sudah kurang ajar sama mertua. Di ajarin panggil Mama dengan sebutan Mama juga malah nggak mau. Katanya lebih cocok kalau Mama itu di panggil nenek lampir aja. Sedih rasanya hati Mama ini," Bu Mery pura-pura menangis.
Di sini Hendrik mulai bingung lagi. "Ini siapa yang benar, siapa yang bohong kalau begini?" gerutu Hendrik.
"Ya sudah kalau gitu nanti aku bakal nasehatin Kirana, Ma. Mama jangan terlalu banyak pikir ya. Jaga kesehatan, kan sebentar lagi mau punya cucu," hibur Hendrik.
"Ya sudah Mama tutup dulu telponnya. Kamu juga jangan lupa, cepet belikan Judika Mobil sama apartemen ya,"
"Kamu sudah sewa hotel di mana Ran buat malam pertama nanti?" ledek Kristine.
"Pengennya sih hotel yang ada private pool nya gitu. hehehe," sahut Kirana sambil tertawa menggoda.
"Wah, enak ya kalau bisa nikah sama cowok yang udah mapan. Mau apa juga pasti bakal di turutin," celetuk yang lainnya.
Di situ Hendrik hanya mendengar dan memperhatikan Kirana dari jarak jauh saja. Ia ingin melihat bagaimana cara Kirana menyikapi pertanyaan teman-temannya.
Tepat pukul 21.00, acara telah selesai. Bahkan semua tamu juga sudah pulang. Kini saatnya Hendrik dan Kirana juga pamit pulang pada Bapak dan Ibu Gembala.
"Ini ada kado buat kalian, semoga kalian suka ya," Ibu Gembala sekali lagi memeluk Kirana.
Mereka semua pulang dengan menggunakan mobil Hendrik. Ketika baru sampai di parkiran apartemen Hendrik, Johan pun segera pamit pulang ke rumahnya. Dia takut menganggu agenda sang adik tercinta.
"Besok aku kesana ya, Mas. Aku mau ambil sisa bajuku yang masih ada disana," ujar Kirana sembari melambaikan tangannya.
__ADS_1
"Yuk, Mas kita naik ke atas," Kirana mengandeng tangan Hendrik. Namun dengan cepat Hendrik menepis tangan Kirana.
"Kok gitu, Mas? Aku ada salah apa sama kamu?" teriak Kirana, karena Hendrik sudah berjalan jauh di depan.
Begitupun dengan Judika, dan kedua ponakannya.
Sesampainya di dalam kamar, Hendrik sudah memasang wajah marahnya.
"Aku nggak mau ada tuntutan apapun lagi dari kamu, Ran!" ucapnya tiba-tiba hingga Kirana merasa heran.
"Tuntutan apa maksud kamu, Mas?"
"Apa nggak cukup aku nikahin kamu sekarang ini?" bentak Hendrik dengan mata melotot bahkan urat lehernya pun sampai terlihat.
"Ada apa lagi sih ini, Mas? Kita baru aja pulang, tapi kamu sudah ngajak aku tengkar begini. Apa nggak bisa kamu ajak bicara aku secara baik-baik? inget janjimu di gereja tadi, Mas!" Kirana berucap dengan perasaan campur aduk.
"Aku nggak bisa kalau harus menuruti kamu yang minta bulan madu keluar pulau, malam pertama di hotel yang ada privat pool, dan lain sebagainya. Aku nggak bisa!"
"Hah? Siapa yang minta seperti itu sih, Mas? Aku aja baru tau dari kamu loh masalah ini."
"Ya, aku dengar dari percakapanmu sama teman-temanmu tadi sewaktu di gereja!" Hendrik masih berbicara dengan nada tinggi.
"Astaga, itu hanya gurauan semata, Mas. Lagipula kalau misal itu beneran, kenapa kamu harus merasa aku banyak menuntut sama kamu, Mas? Bukankah kamu juga sudah janji bakal bikin aku bahagia dengan memenuhi semua permintaanku?" Kirana mencoba mengingatkan Hendrik kembali.
"Tapi nggak untuk saat ini, Ran!"
"Iya, kenapa alasannya?"
"Karena aku harus membelikan Judika mobil dan apartemen sendiri. Nggak mungkin kan kalau dia tinggal sama kita? Memang sih di apartemen ini ada dua kamar. Tapi kan aneh," jelas Hendrik.
"Bentar ... bentar, Mas. Kamu mau belikan Judika mobil dan apartemen?" tanya Kirana dengan raut wajah syok.
Hendrik mengangguk yakin.
"Memangnya dia bakal menetap di Surabaya? Dia bukannya mau kuliah S2 ya? Apa mau kuliah di Surabaya?"
"Ya, dia bakal menetap di Surabaya atas permintaan Mama. Kasian Mama sudah tua di sana. Aku nggak tega kalau dengar tiap hari Mama harus bertengkar dengan Judika."
__ADS_1
"Tapi kenapa harus ada mobil baru dan apartemen baru sih? Memangnya kalau tinggal di kos biasa gitu nggak mau?" Kirana heran dengan cara pikir mereka.