Sakitnya Menikah Denganmu

Sakitnya Menikah Denganmu
Bab 81.


__ADS_3

Hendrik yang melihat Kirana marah-marah, mulai merasa panik. Ia ingin menceritakan kejadian yang sebenarnya, tapi di lain sisi Sisil tadi juga sudah mohon-mohon agar jangan sampai Hendrik melaporkan kejadian itu sama Kirana.


"Ayo, ikut aku ke atas, Mas!" Kirana mengandeng tangan Hendrik, kemudian ia berpaling menatap Sisil. "Dan kamu Sisil, buruan lanjutin kerjaanmu yang ada di sini!" tegasnya sedikit emosi.


Hendrik mengikuti langkah kaki Kirana menuju ke ruangan kerjanya.


"Mana ponselmu? Aku mau lihat riwayat orderan yang katanya kamu jalanin hari ini," Kirana menengadahkan tanganya.


Dengan tenang Hendrik pun menyerahkan ponselnya. Kali ini ia tak takut, lantaran ia tadi memang benar-benar menjalankan orderan ojolnya demi menghindari aksi nekat Sisil.


"Nih, Sayang. Silahkan kamu cek sendiri kalau nggak percaya. Karena aku memang lebih memilih online hari ini dan Sisil aku biarkan bersih-bersih rumah sendirian."


Kirana mulai mengutak-atik ponsel Hendrik. Dan memang benar di sana banyak riwayat orderan yang ia jalankan hari ini. Jam dia menerima orderan pertama juga mulai pukul 10.30. Itu berarti beberapa menit setelah Sisil tiba di sana.


Ia menatap Hendrik lekat. "Coba jelaskan ada apa sebenarnya? Kenapa kamu tega biarin Sisil bersih-bersih rumah itu sendirian? Kamu kan tau kalau aku hari ini pengen beli perabot? Kalau sudah terlalu sore begini yang ada di kirimnya justru besok!" sunggut Kirana merasa kesal.


"Soalnya tadi aku nggak sengaja kepencet tombol on di aplikasinya. Nah pas mau aku off-in ternyata keburu orderan yang masuk. Aku nggak bohong, Sayang. Kamu percaya kan sama aku?" tanya Hendrik sambil memegang tangan Kirana.


Kirana memutar bola mata malas. "Terus kalau sekarang sudah bersih rumahnya? Sudah bisa kita tempatin apa masih belum juga?"


"Sudah bersih kok. Apa kamu mau pulang sekarang? Kalau mau, ayo kita pulang. Beli perabotannya besok aja ya, setelah selesai acara. Biar kamu hari ini bisa cukup istirahatnya," usul Hendrik yang juga di setujui oleh Kirana.


Hendrik bernafas lega, setidaknya Kirana percaya dengan yang ia katakan. Meskipun ia tau kalau Kirana akan tetap mencari tau sendiri nantinya.


Kalau soal Sisil yang sempat merayunya tadi siang, kali ini dia masih bisa memaafkannya, dengan tidak mengadukan pada Kirana. Di lain sisi Hendrik juga nggak habis pikir dengan Sisil, bisa-bisanya dia nekat mengajak Hendrik untuk melakukan hal yang di luar batas. Padahal dari ceritanya kemarin, Kirana selalu memperlakukannya dengan baik. Lalu apa yang membuatnya nekat?


Sesampainya di lantai satu, Kirana berjalan menghampiri Sisil. Sedangkan Hendrik memilih berdiri agak jauh. Namun masih terdengar suara percakapan antara Kirana dan Sisil.


"Sil, aku pulang dulu. Jangan lupa besok kamu datang ke rumah lebih awal ya. Bantuin aku buat siapin makanannya. Aku sih udah pesen catering, cuma kan ya harus di tata lagi," titah Kirana sambil terus melihat gelagat aneh Sisil.

__ADS_1


"I-iya, Kak. Aku besok bakal datang lebih awal," sahut Sisil sambil terus menunduk. Ia seperti orang yang sedang ketakutan.


"Kamu kenapa sih, Sil? Kok jadi aneh gini kamu?" tanyanya curiga.


"Nggak apa kok, Kak. Aku hanya kecapean aja abis bersih-bersih tadi." lirihnya.


Kemudian Kirana mengajak Hendrik untuk pulang. Namun sebelum pulang mereka mampir dulu untuk makan, lalu segera menuju hotel untuk mengambil barang-barang Kirana.


Selama makan dan di sepanjang jalan menuju hotel, Kirana terlihat lebih pendiam dari biasanya. Padahal biasanya saja dia sudah sangat irit bicara, kali ini jauh lebih irit lagi bicaranya. Membuat Hendrik jadi serba salah.


"Sayang, kamu masih marah sama aku?" tanya Hendrik kala mereka sudah ada di dalam kamar hotel.


"Nggak!" ketus Kirana sambil duduk di depan kaca rias. "Aku hanya capek aja tadi nungguin kalian nggak balik-balik."


Hendrik memegang bahu Kirana dari belakang. "Sayang, kalau misal aku menceritakan sesuatu, kamu bakal percaya nggak sama aku?"


"Nggak jadi deh. Nanti biar kamu tau sendiri aja. Kalau aku yang cerita pasti kamu bakal ngira aku lagi melakukan fitnah," jelas Hendrik.


Menghela nafas berat. "Huh! Malah bikin penasaran aja kamu yang ada. Tapi ya udahlah, kalau memang ada bangkai bakal kecium kok. Dan semoga aja cepat keciumnya. Biar nggak menimbulkan penyakit." ketus Kirana sambil mengemasi barang-barangnya ke dalam travelbag.


Hendrik hanya tersenyum menanggapi respon Kirana. Karena ia yakin, besok atau lusa, Sisil pasti akan ketahuan juga niat buruknya pada Kirana.


"Sudah semua barang-barangnya?" Hendrik memastikan sebelum mereka benar-benar keluar dari kamar hotel.


"Sudah!" Kirana berjalan meninggalkan Hendrik yang masih ribet membawa travelbag miliknya.


...****************...


Pagi harinya, tepat pukul 07.00 Sisil datang menggunakan ojek. Pagi ini dia terlihat berpakain sedikit terbuka. Padahal ini adalah acara pemberkatan rumah. Tapi seoalah-olah dia akan pergi ke tempat hiburan malam.

__ADS_1


"Sil, kamu nggak salah kostum kan?" sambut Kirana yang melongo melihat Sisil.


"Memangnya nggak boleh ya, Kak kalau aku berpakaian begini?" Sisil memperhatikan penampilannya sendiri.


"Boleh sih, tapi aneh aja tau nggak. Tapi ya sudahlah, mungkin kamu memang nyamannya begitu. Oh iya, sekarang kamu tolong bantu Mas Hendrik bawain makanannya ke sini ya. Dia lagi ada di dapur! Soalnya aku mau ke toko depan sebentar," Kirana dengan sengaja menyuruh Sisil ke arah dapur menghampiri Hendrik. Ia ingin melihat reaksi Hendrik tatkala melihat Sisil berpakaian seperti itu.


"Iya, Kak."


Setelah beberapa menit kemudian, dengan langkah mengendap-endap Kirana akhirnya berjalan ke arah dapur. Namun, tiba-tiba ia di kejutkan dengan suara obrolan mereka berdua.


"Mas, kamu nggak cerita ke Kak Kirana kan soal kejadian kemarin?" tanya Sisil sambil meletakkan buah di atas piring saji.


Hendrik hanya diam saja, tangannya juga terlihat masih sibuk menata kue.


"Mas, jawab aku dong!" kali ini Sisil dengan kasar menarik bahu Hendrik agar mau melihatnya.


"Aku nggak cerita apa-apa. Toh nanti juga Kirana bakal tau sendiri bagaimana kamu sebenarnya," sinis Hendrik lalu kembali melanjutkan pekerjaannya.


"Aku melakukan itu karena cinta sama kamu, Mas. Aku kemarin di butakan oleh rasa cinta makanya sampai berbuat nekat ingin melecehkan kamu. Tapi andaikata kamu sekarang mau berubah pikiran, aku akan senang mendengarnya. Aku siap kok merahasiakan hubungan kita dari Kak Kirana."


Deg!


Hati Kirana mulai meradang. Bisa-bisanya Sisil berbicara seperti itu. Kejadian ini mengingatkannya pada tante-tante inisial P saat itu. Kenapa rumah tangganya selalu di hadiri oleh orang-orang seperti itu?


"Tapi aku nggak mau merusak pernikahanku untuk yang kedua kalinya. Cukup saat itu aja aku kehilangan Kirana karena kebodohanku. Tapi nggak untuk saat ini. Jadi lebih baik kamu jangan bersikap seperti ini.


Tolong jaga kepercayaan yang sudah Kirana berikan padamu. Apalagi kamu kan kemarin memohon agar aku tak lapor pada Kirana lantaran kamu takut di pecat kan?" tegas Hendrik tanpa menoleh sedikitpun.


"Tapi sayangnya aku sekarang jadi tau apa yang sebenarnya sudah terjadi kemarin!" lantang Kirana sambil menatap tajam ke arah Sisil.

__ADS_1


__ADS_2