Sakitnya Menikah Denganmu

Sakitnya Menikah Denganmu
Bab 100.


__ADS_3

Sementara itu, di rumah sakit tempat Pak Robert dirawat.


Terlihat laki-laki muda berjas putih itu keluar dari ruang UGD. Semua orang gegas menghampirinya.


"Bagaiamana keadaan suami saya, Dok?" tanya Bu Mery cemas. Rita yang berdiri disampingnya, segera merangkul dan mengelus lengan Bu Mery.


"Pasien sudah melewati masa-masa kritisnya. Namun, sampai saat ini pasien masih belum juga siuman. Ada kemungkinan pasien akan terkena stroke. Dan sebentar lagi, pasien akan kami pindahkan ke ruang rawat inap. Jadi keluarga bisa melihatnya." terangnya ramah, lalu berpamitan.


"Syukurlah, semoga papa bisa secepatnya siuman. Agar bisa kita tanya siapa pelakunya," celetuk Hendrik.


Mendengar celetukan Hendrik, membuat Bu Mery menarik tangan Hendrik agar ikut dengannya duduk di bangku tunggu. Air matanya sudah berhenti mengalir, namun kini menyisakan mata yang sembab.


Bu Mery meraih tangan kanan Hendrik. Ia meletakkan di atas pangkuannya. "Pokoknya mama harap kamu bisa menjebloskan Kirana ke dalam tahanan secepatnya. Mama nggak rela jika pelaku yang sudah membuat papa terjatuh dibiarkan bebas. Biarpun saat ini dia sedang mengandung anakmu, mama harap kamu nggak mudah kasihan dengannya. Penjahat, harus tetap dihukum!


Kalau sampai kamu membiarkan Kirana bebas, itu artinya kamu tega sama mama dan papa. Kamu dengar sendiri kan tadi dokter bilang apa? Ada kemungkinan jika papa akan terkena stroke!" tegas Bu Mery dengan suara bergetar.


Hendrik bergeming mendengar ucapan yang keluar dari mulut mamanya. Hati dan pikirannya sama-sama berkecamuk. Di satu sisi ia tak percaya jika Kirana tega berbuat seperti itu pada papanya. Karena selama ini yang Hendrik tau, Kirana tak pernah berbuat jahat pada siapapun. Kecuali jika orang itu yang memulai terlebih dahulu, maka Kirana tak akan tinggal diam. Seperti kasus Sisil yang akhirnya tetap dilaporkan ke pihak berwajib oleh Kirana. Walaupun sebelumnya hubungan antara Sisil dan Kirana terbilang sangat dekat.


Tapi di sisi lain, semua orang yang ada di rumah malam ini, mengatakan jika Kirana lah yang telah mencelakai Pak Robert. Hingga keadaan Pak Robert seperti sekarang ini.


"Ya Tuhan, aku harus bagaimana sekarang? Bisa-bisanya aku percaya begitu saja pada ucapan Bang Handoko tadi. Kenapa sih aku nggak bisa berfikir jernih? Bagaimana jika ini hanya fitnah saja? Karena Bang Handoko kan nggak suka pada Kirana. Tapi, bagaimana jika ini bukan fitnah? Argh!" Hendrik menyugar kasar rambutnya. Kalimat-kalimat itu terus saja berputar dipikirannya.


"Kamu dengar ucapan mama kan, Hen?" sentak Bu Mery kesal, lantaran Hendrik hanya diam saja dan justru terlihat seperti orang kalut.

__ADS_1


"Aku mau cari bukti dulu, Ma. Siapa tau bukan Kirana pelakunya," lirih Hendrik, netranya menatap curiga ke arah Rita, yang duduk tepat di depannya.


"Kamu ngapain natap aku seperti itu? Kamu pikir aku pelakunya?" sewot Rita kala ia sadar dengan tatapan Hendrik.


"Mungkin," sahut Hendrik datar.


"Kamu nggak percaya sama kami bertiga? Apa perlu kami bersumpah jika bukan kami beriga pelakunya?" bentak Handoko dengan mata melotot. Ia tak terima jika Hendrik menuduh istri tercintanya.


Ya, Handoko akan selalu melindungi istrinya dari siapapun. Mau istrinya salah atau benar, ia akan tetap membelanya. Berkebalikan dengan Hendrik yanh justru tak bisa melindungi istrinya sendiri.


"Sudah cukup! Ini rumah sakit, kalian jangan teriak-teriak di sini!" sela Bu Mery yang mulai pusing dengan pertengkaran kedua anaknya. Netranya menatap Handoko dan Hendrik secr bergantian.


"Handoko, lebih baik kamu diam dulu. Jaga emosimu, mama nggak mau kalau sampai kalian jadi bertengkar."


Kini Bu Mery beralih menatap Hendrik kembali. "Kamu juga, Hen. Mama nggak mungkin berbohong sama kamu untuk masalah besar ini. Bukan mama tega sama Kirana. Tapi dia sendiri yang sudah membuat mama tega padanya," Ketusnya.


"Kalau kamu nggak tega melaporkan Kirana, biar mama yang buat laporan ke kantor polisi besok pagi. Dan jika Kirana sudah ditahan nanti, lalu dia melahirkan, kamu bisa ambil anak itu. Mama akan bantu kamu untuk merawatnya. Jadi kamu tenang saja. Atau, ..." Bu Mery sengaja menggantung ucapannya.


"Atau apa, Ma?" tanya Hendrik malas. Kini ia sambil memejamkan matanya dan menyandarkan kepalanya didinding rumah sakit yang terasa dingin. Dadanya terasa bergemuruh dengan adanya masalah ini.


"Atau, dia harus membayar uang damai pada kita semua. Tentu nominalnya mama yang akan tentukan nantinya. Jika Kirana setuju, mama nggak akan meneruskan kasus ini ke jalur hukum. " ucapnya yakin.


Hendrik masih bergeming. Dalam pikirannya kini terbesit untuk meminta Kirana agar memberi uang damai pada mamanya. Toh, uang juga bukan masalah yang besar bagi Kirana, jika nantinya uang itu bisa ditukar dengan kebebasannya.

__ADS_1


"Bagaimana, Hen? Tawaran mama cukup bijaksana kan?" desaknya ingin tau tanggapan dari Hendrik.


Terlihat kini Bu Mery, Rita dan Handoko tersenyum licik. Mereka merasa menang saat ini. Sepertinya musibah yang terjadi pada Pak Robert membawa keuntungan bagi ketiganya.


"Aku akan bicarakan ini pada Kirana, Ma." Terdengar helaan nafas berat. "Kalau gitu, sekarang aku mau pulang dulu. Tadi aku kunciin Kirana di dalam rumah sendirian. Takutnya dia nekat kabur. Nanti aku akan hubungin mama kalau sudah bicara padanya," jawab Hendrik, kemudian bangkit berdiri dan berjalan pulang.


Namun baru saja ia akan menyalakan mesin kendaraannya, ponselnya tiba-tiba berdering. Ia menatap layar ponselnya, ternyata itu panggilan dari Axel.


"Halo, kamu dimana Bang? Kenapa rumah sepi? Dan ini kenapa pintunya rusak seperti habis didobrak? Kalian baik-baik saja kan?" cecarnya terdengar cemas kala panggilan baru terhubung.


Deg!


"Apa kamu bilang? rumah kosong dan pintu dalam keadaan rusak?" kini Hendrik juga ikutan panik. Hal yang ia takutkan akhirnya terjadi juga. Ia sudah bisa menebak, jika Kirana pasti akan kabur saat ia sedang berada di rumah sakit mengantar Pak Robert.


"Iya, Bang! Tapi di kamar Kak Kirana ada satu koper yang sudah terisi penuh baju-bajunya. Cuma Kak Kirananya juga nggak ada di rumah.


Terus Papa kalian bawa kemana? Bukannya Papa masih sakit? Tapi kenapa malam-malam begini malah nggak ada dirumah? Atau jangan-jangan sakit Papa kambuh lagi?"


"Papa sekarang dirawat di rumah sakit. Tadi Papa habis jatuh, dan sekarang masih koma. Nanti aku akan kirim alamat rumah sakitnya." panggilan pun segera ia akhiri.


Emosinya kembali membuncah. Ia terus saja mencoba menghubungi nomor ponsel Kirana. Namun sudah beberapa kali, panggilan itu tak kunjung terhubung.


"Kemana kamu, Ran! Beraninya kamu kabur dari rumah malam-malam begini. Ini semakin membuatku merasa yakin jika kamu lah pelakunya. Jika bukan kamu, buat apa kamu kabur? Kamu bertindak seperti penjahat yang lari dari tanggung jawab!" geram Hendrik seraya membanting helmnya ke jalanan.

__ADS_1


__ADS_2