
Hendrik terdiam menatap penuh arti pada temannya, bahkan mulutnya pun kini tertutup rapat. Namun tangannya mengepal sangat erat. Seakan-akan dia sedang menahan emosinya.
"Sudah lah, Mas Hendrik ceraikan saja dia. Daripada terjadi apa-apa loh sama usahanya. Kan sayang, udah merintis bertahun-tahun tapi hancur seketika hanya gara-gara mempertahankan dia," Mita semakin membuat suasana menjadi panas.
Kirana berpaling menatapnya dengan mata melotot. Setelah Kirana merperhatikan dengan seksama wajah Mita, ia berusaha mengingat-ingat lagi, ternyata Mita adalah karyawan Hendrik yang tadi siang terlihat berbicara serius dengan Sintya.
"Kamu yang tadi siang berbicara dengan Sintya kan?" tunjuk Kirana pada Mita. "Jangan-jangan semua ini memang rencana kalian? Kalian ingin membuat aku dan Mas Hendrik berpisah, iya kan?" bentaknya lagi.
"Cukup, Ran! Jangan di perpanjang lagi, aku nggak mau dengar kalimat buruk lagi tentang kamu," hardik Hendrik akhirnya.
Kirana berpaling menghadap Hendrik kembali. "Jadi, secara nggak langsung kamu percaya sama ramalan mereka yang mengatakan aku pembawa sial bagimu, Mas?" tanya Kirana tak percaya seraya menunjuk teman-teman Hendrik.
Hendrik tak menjawab, ia justru membuang muka.
"Lebih baik kamu sadar diri deh, Mbak Kirana! Kalau aku jadi kamu sih bakal pergi sendiri sebelum di usir ya!" cemooh Mita di iringi gelak tawa dari teman-teman yang lain.
Kirana berjalan di depan Hendrik, berharap Hendrik akan mengatakan sesuatu. Namun ternyata ia masih tetap membuang muka dan mengabaikan Kirana yang di tertawakan ramai-ramai.
Karena sudah tak kuat lagi dengan rasa sakit yang ia alami akibat dari hinaan mereka. Kirana memilih berjalan masuk ke dalam kamar.
Ia terduduk di lantai samping ranjang. Menaruh wajahnya di atas lutut lalu menangis terisak.
"Harusnya aku tak perlu menuntut Mas Hendrik untuk bertanggung jawab atas kehamilanku. Harusnya saat itu aku pergi jauh saja darinya. Daripada aku menikah dengannya tapi ternyata justru sakit hati yang selalu aku rasakan setiap harinya," ratapnya seorang diri.
__ADS_1
Sedangkan di ruang tamu, teman-teman Hendrik masih belum ada yang mau beranjak pulang juga. Mereka masih ngotot agar Hendrik mengusir Kirana malam ini juga.
"Percaya deh Hen sama ramalanku tadi. Aku bilang seperti ini karena sudah menganggapmu seperti saudara sendiri. Dari dulu kita berjuang bersama. Jadi aku nggak rela kalau bisnismu hancur."
"Iya, Mas. Coba deh ikutin saran dari kita-kita. Kalau memang Mas Hendrik nggak bisa ceraikan Kirana, ya setidaknya usir lah dia dari sini. Biar aura pembawa sialnya itu hilang dari sini."
Hendrik memejamkan mata sembari memijat keningnya, ia sangat bimbang saat ini. Semua ucapan dari teman-temannya mulai ia pikirkan satu per satu.
"Apakah benar jika Kirana pembawa sial bagiku? Karena belum ada satu bulan pernikahan aja, banyak customer perempuan yang tiba-tiba tak memesan lagi makanan catering di tempatku.
Mama juga tiba-tiba berubah sikap sama aku. Bahkan sampai mengancam akan menarik semua hasil kerjaku yang berasal dari rumah makan."
"Baiklah aku akan pikirkan lagi. Terima kasih kalian sudah mau datang kemari. Apalagi sampai mau meramalkan karirku ke depannya," tutur Hendrik dengan seuntai senyum.
Lalu ia beralih Menatap Mita, "Tolong maafkan Kirana ya, kalau dia tadi sudah menyiram bajumu hingga basah seperti itu."
Terus soal Mbak Kirana yang menuduh aku kerja sama dengan Sintya itu apa ya, Mas? Bahkan dengar namanya aja baru tadi," Mita berpura-pura tak mengenal Sintya. Padahal jelas-jelas tadi siang dia memang sudah merencanakan ini semua dengan Sintya.
"Oh, aku juga nggak tau apa maksudnya. Aku juga pusing kalau Kirana seperti kepanasan jika melihat Sintya. Padahal aku sudah memilih menikah dengannya dan belajar melupakan Sintya."
Lagi-lagi mereka semua pura-pura menganggukan kepala saat mendengar jawaban Hendrik. Semua mereka lakukan agar sandiwaranya berjalan lancar.
Ya, semua ide malam ini berasal dari Sintya yang tak terima jika saat itu Hendrik lebih memilih Kirana dan mencampakkan dia begitu saja.
__ADS_1
Bagi Sintya, jika ia tak bisa memiliki Hendrik, maka tak boleh ada satu orang pun yang bisa memilikinya. Dan dia juga akan memastikan kalau hidup Hendrik akan hancur.
"Kalau begitu kami pamit pulang dulu ya, Hen. Kita sambung lagi besok siang di rumah makanmu," pamitnya lalu Hendrik mengantarkan mereka hingga depan pintu saja.
Saat pintu sudah tertutup kembali, Hendrik bimbang akan tidur di mana malam ini. Akhirnya ia memilih untuk tidur di kamar lain. Ia ingin memberikan Kirana dan dirinya sendiri waktu untuk berpikir malam ini.
Sedangkan di dalam kamar Kirana, sebelum ia memutuskan untuk beristirahat, ia memilih mengunci pintu kamar terlebih dahulu. Ia sama sekali tak mau melihat wajah Hendrik.
Namun saat akan naik ke tempat tidur, terdengar suara getaran ponsel dari dalam laci nakas. Kirana segera membuka laci itu, ternyata di sana ada ponsel, yang ia tak pernah lihat sebelumnya.
"Ponsel siapa ini? Kenapa ada di sini?" Kirana mengamati ponsel itu. "Tapi di sini kan hanya ada aku dan Mas Hendrik. Kalau memang ini ponsel Mas Hendrik, kenapa aku tak pernah tau? Bahkan ponsel ini pun dalam keadaan di silent, dan hanya getar saja jika ada panggilan atau pesan masuk," gumam Kirana lirih.
Di layar terlihat ada notifikasi pesan masuk. Karena penasaran Kirana gegas membuka dan membacanya. Pesan itu dari nomor yang tidak di kenal.
[Malam, Mas. Bagaimana kabarmu hari ini? Aku nganggu kamu nggak?] pesan di kirim pukul 19.00.
Di mana mereka semua saat itu sedang makan malam bersama. Lalu setelahnya Kirana membuka pesan kedua.
[Kalau kamu sudah nggak sibuk, hubungin aku balik ya, Mas. Aku akan menunggumu sampai jam berapapun.] pesan kedua dikirim pukul 21.00
Lalu baru saja nomor ini melakukan panggilan. Padahal saat ini sudah pukul 23.00 malam.
"Siapa sih dia? Kenapa seperti penting sekali, hingga jam seginipun ia masih berharap Mas Hendrik menghubunginya," Kirana berucap dalam hati.
__ADS_1
Tiba-tiba terlintas ide untuk membalas pesan itu. Ya, Kirana akan berpura-pura menjadi Hendrik agar tau siapa pemilik nomor ponsel itu. Karena dari tadi Kirana tak menemukan satu nomor pun di daftar kontaknya. Tapi anehnya nomor ini sering melakukan panggilan dengan Mas Hendrik.
[Malam, maaf ya aku baru bisa balas chat kamu. Tapi maaf, kamu ini siapa ya? Dan ada perlu apa sampai malam-malam begini menghubungiku?] pesan terkirim dan segera centang dua biru. Menandakan kalau ia memang sedang benar-benar menunggu Hendrik menghubunginya.