
"Semua terserah Tuhan aja! Kalau memang Tuhan mau ambil lagi anak itu, silahkan! Aku nggak takut!" ucap Hendrik berapi-api sembari menunjuk ke perut Kirana.
Kirana terduduk lemas, bagaimana bisa seorang ayah kandung rela jika harus kehilangan calon anaknya yang bahkan belum dilahirkan. Tapi ternyata itu memang nyata di hadapan Kirana saat ini. Hendrik dengan sangat lancarnya berucap seperti itu. Entah apa yang merasuki pikiran dan hatinya hingga tega mengatakan hal buruk begitu.
"Ka-kamu nggak punya hati, Mas!" isak Kirana.
Hendrik segera masuk ke dalam kamar untuk melampiaskan kekesalannya yang masih menganjal di hati. Tapi sebelumnya ia mengunci pintu utama dan membawa kuncinya. Dengan tujuan agar Kirana tak bisa keluar saat dia sedang berada di dalam kamar.
Sebenarnya dia tak ada niat untuk mengatakan hal buruk itu pada Kirana. Tapi karena banyaknya masalah yang sedang ia hadapi, hingga bisa membuatnya mengatakan hal yang menyakiti Kirana.
Dua jam sudah Kirana terduduk di sofa seorang diri. Karena mau keluarpun dia tak bisa. Hendrik sengaja mengurungnya.
Saat sedang memikirkan rencana selanjutnya, tiba-tiba rasa lapar menyerangnya, ia baru ingat kalau belum makan siang ini. Dengan langkah gontai, ia berjalan ke dapur untuk membuat omelet.
Namun baru selesai meracik bumbunya, Kirana di kejutkan dengan tangan Hendrik yang memeluknya dari belakang.
"Maafkan aku, Ran. Aku nggak ada maksud berkata seperti itu tadi. Tolong maafkan khilafku," bisik Hendrik dengan menaruh dagunya di bahu Kirana.
Kirana melepaskan tangan Hendrik yang melingkar di perutnya. Lalu berpaling menatap lekat wajah Hendrik.
"Minta maaflah pada Tuhan, Mas! Bukan sama aku, karena tadi kamu yang sudah menantang Tuhan untuk mengambil lagi anak kita ini." sahut Kirana datar.
"Bisakah kita berdoa bersama, Ran? Aku mohon, temani aku berdoa minta ampun sama Tuhan," pintanya mengiba.
"Untuk apa?" lagi-lagi Kirana berucap dengan sinis.
"Bukankah kamu sudah berjanji akan jadi penolongku, Ran? Apa kamu sudah lupa dengan janji pernikahan kita?" Hendrik terus berupaya merayu Kirana agar mau kembali padanya.
__ADS_1
Kirana melipat tangannya di depan dada. "Ck! Kalau sudah begini aja kamu baru inget akan janji nikah kita!"
"Aku mohon," lalu ia berlutut tepat di hadapan Kirana.
Kirana yang merasa risih, akhirnya mau melakukan permintaan Hendrik. "Baiklah, tapi setelah itu ijinkan aku pergi dari hidupmu."
Hendrik tak menjawab permintaan Kirana, karena ia memang tak mau Kirana pergi. Lalu ia mengajak Kirana untuk duduk di sofa ruang tamu.
Ia memimpin doa mohon ampun atas ucapannya tadi, dan ini pertama kalinya ia mengajak Kirana doa bersama setelah mereka menikah.
"Ran, aku tau kamu sakit hati sama semua perkataan dan perbuatanku. Tapi asal kamu tau, aku nggak ada niat untuk seperti itu. Sekarang karena kita sudah sama-sama tenang, aku akan mulai menjelaskan satu per satu sama kamu." Hendrik meraih tangan Kirana.
"Aku mulai dari soal Judika ya. Karena kalau kedua ponakanku, mereka sudah bisa mandiri nggak seperti Judika.
Aku tau kalau aku salah sudah membelikan Judika mobil baru tanpa bicara dulu sama kamu. Tapi semua itu aku lakukan demi kebaikan kita, Ran. Aku berharap Mama mau menerima kamu setelah ia tau kalau kamu setuju jika aku membelikan yang Judika mau."
"Sabarlah, Ran. Mungkin Mama juga perlu waktu untuk menerima kehadiran kamu."
"Apa sebegitu buruknya aku di hadapan mamamu? Sampai untuk menerima aku aja butuh waktu yang cukup lama?"
"Mama sebenarnya ingin jodohku adalah seorang PNS atau setidaknya yang sama-sama punya bisnis sepertiku. Jadi bukan dari kalangan orang biasa yang menurut mama akan merepotkan aku,"
Kirana menarik nafas dalam-dalam mendengar kalimat Hendrik barusan. Perasaan sakit hatinya kini kian bertambah besar.
Kemudian Hendrik melanjutkan kalimatnya, karena Kirana sudah kembali diam.
"Kalau soal tadi pagi aku pulang dari rumah sakit itu karena memang sudah ada temu janji sama seseorang, tapi bukan sama perempuan itu. Namun tiba-tiba orang yang mau ketemu sama aku batalin rencanya. Nah, di saat bersamaan, perempuan itu menelpon dan mengatakan jika ingin mengobrol penting.
__ADS_1
Aku setujulah, karena biasanya yang dia obrolin itu seputar tentang memesan makanan dalam jumlah besar untuk anak-anak yang ada di panti asuhan. Makanya aku nggak ada pikiran buruk.
Dan nggak taunya dia malah menawarkan hal memalukan yang seperti kamu dengar tadi siang. Aku juga kaget dan nggak nyangka sama sekali, Ran. Aku pikir selama ini dia perempuan baik-baik.
Aku menolak penawarannya itu, Ran. Sungguh! Meskipun nanti dia bakal kasih apapun yang aku mau, tapi tetap hati kecilku nggak setuju. Aku nggak bisa menyakiti dua orang sekaligus, yaitu kamu dan suaminya. Kamu percaya kan Ran sama aku?" tanyanya penuh harap.
"Entahlah!" Kirana mengedikkan bahunya. "Lalu ada lagi yang mau kamu sampaikan?" tanyanya masih dengan wajah datar.
"Soal namanya yang aku simpan di ponselku menggunakan inisial P dan ada emotikon love nya itu karena memang dari dia sendiri yang memberi nama seperti itu di pesan singkatnya. Aku tinggal klik simpan aja, tanpa mengganti lagi."
"Ada lagi?"
"Aku bukan nggak mau mengakhiri hubunganku dengan perempuan itu karena ada hal lain, Ran. Tapi hanya karena perempuan itu kalau order makanan selalu dalam jumlah besar. Dan itu sangat menguntungkan buat usahaku. Tolong kamu ngertiin aku."
"Maaf, kali ini aku nggak bisa ngertiin kamu soal ini, Mas!" potong Kirana dengan cepat.
"Bisa-bisanya kamu memintaku untuk mengerti soal kedekatanmu dengan perempuan yang sudah sempat merayumu bahkan memintamu untuk menghamilinya dan menceraikan aku? Sehat kamu? Sedangkan kamu yang baru lihat aku ngobrol dengan Mantan Kakak kelasku aja kamu sudah sakit hati. Padahal itupun ngobrolnya di depan kamu!"
"Lalu mau kamu apa, Ran? Apa kamu mau kalau aku memutuskan hubungan denganya, yang bisa berimbas pada usaha rumah makanku? Dia omset terbesar di rumah makanku saat ini, Ran." Hendrik masih bersikukuh mempertahankan pendapatnya.
"Tcih! Kamu punya Tuhan nggak sih? Kenapa kamu harus takut soal rejeki, jika memutuskan hubungan dengannya demi menjaga perasaan istrimu yang sedang mengandung anakmu? Katanya tadi kamu nggak tega kalau menyakiti aku dan suami dari perempuan itu? Kok sekarang seperti berbanding terbalik ya?"
"Baiklah, aku akan mulai menjaga jarak dengannya. Tapi aku nggak bisa melarang dia untuk tetap memesan makanan di tempatku."
Kirana bangkit berdiri, "Terserah kamu aja lah, Mas! Aku sudah capek dan bosan. Sekarang aku mau makan dulu!"
Hendrik mengikuti Kirana yang berjalan menuju dapur, "Ran, setelah penjelasanku tadi apakah kamu masih berniat untuk keluar dari apartemen ini?"
__ADS_1
Kirana berhenti melangkah, lalu berbalik menatap Hendrik. "Menurutmu?"