Sakitnya Menikah Denganmu

Sakitnya Menikah Denganmu
Bab 76.


__ADS_3

Kirana mengepalkan tangannya menahan emosi yang akan meledak. "Lebih baik kamu pulang aja, Kak. Karena kita sudah nggak ada urusan apa-apa lagi. Makasih karena kemarin sudah banyak membantuku dan Tante Linda.


Jadi sekarang mau kemanapun aku, itu terserah aku juga. Nggak ada kewajibanku untuk minta ijin dulu sama kamu.


Dan kalau kamu merasa aku terlalu jual mahal sama kamu, itu wajar Kak. Apalagi statusku sekarang ini masih sebagai istri sah dari Mas Hendrik.


Misal aku sudah bebas pun dari Mas Hendrik, aku nggak mau Kak nikah lagi sama laki-laki seperti kamu. Laki-laki yang suka mengungkit semua jasa-jasanya!" Kirana menunjuk dada Richard dengan kasar saking emosinya.


Setelahnya ia berjalan keluar area restoran. Mood makan siangnya telah hilang karena kehadiran Richard.


"Tunggu, Ran!" Richard menahan pergelangan tangan Kirana. "Ini adalah kesempatan terakhir buat kamu. Jika kamu masih mau aku perjuangkan, maka secepatnya kamu harus urus surat cerai dengan Hendrik!" Richard berucap penuh percaya diri.


Kirana balik badan lalu mengibaskan tanganya agar bisa lepas dari genggaman Richard. Matanya kini mulai memerah, "Kamu nggak perlu memperjuangkan aku lagi, Kak. Silahkan kamu terima saja perempuan-perempuan yang katamu tadi sudah mengantri untuk kamu jadikan istri.


Karena aku sampai kapanpun, nggak mau punya suami yang arogan dan penuh perhitungan. Mas Hendrik yang sudah resmi jadi suamiku aja bisa aku tinggal karena sikapnya. Lalu kamu yang hanya sebatas teman, kenapa berharap aku akan tunduk sama maumu?" sinis Kirana dengan tatapan tajam.


Richard terdiam, entah apa yang dia pikirkan saat ini.


"Kamu sudah mempermainkan perasaanku, Ran! Dan aku nggak akan melepaskanmu begitu saja. Aku akan kasih tau Hendrik kalau kita pernah berada di satu kamar yang sama!" ancamnya.


Kirana tersenyum miring. Ia benar-benar tidak habis pikir dengan ucapan Richard barusan. "Silahkan lakukan sesuka hatimu, Kak. Aku nggak peduli sama sekali. Mau nanti Mas Hendrik percaya atau tidak sama ucapanmu, aku akan tetap berterima kasih padamu.


Karena kamu semakin menunjukkan padaku bagaimana sebenarnya sikapmu yang asli. Aku baru tau kalau kamu jauh lebih buruk dari Mas Hendrik!" ketus Kirana lalu berjalan meninggalkan Richard.


"Kamu pasti akan menyesal, Ran!" teriaknya seperti orang gila.


Kirana terus saja berjalan menjauh, ia mengabaikan beberapa orang yang kini memperhatikannya karena ulah Richard.


"Darimana dia tau kalau aku ada di sini? Bukankah semalam aku keluar tanpa sepengetahuannya?" batin Kirana penasaran. "Ahh, tapi ya sudahlah. Yang penting sekarang aku harus lebih hati-hati lagi sama dia."

__ADS_1


Sesampainya di kamar, ia segera memesan makanan. Karena perutnya sudah sangat terasa lapar. Tapi tiba-tiba Hendrik kembali menghubunginya.


"Halo, kamu di mana, Sayang? Kamu sudah makan belum? Apa mau aku bawain makan siang? Aku ke tempatmu sekarang ya," cecarnya saat panggilannya tersambung.


Kirana menjadi bingung seketika. Apa yang akan dia katakan pada Hendrik? Apakah dia harus berterus terang?


"Aku sudah makan kok, Mas. Lagipula saat ini aku masih ada di luar. Jadi kamu jangan datang ke apartemen itu lagi ya."


"Maksudnya jangan datang ke apartemen itu lagi? Apa kamu sudah pindah dari sana? Atau bagaimana? Kamu kasih tau aku, sekarang kamu ada di mana. Jujur aku khawatir sama kamu kalau seperti ini."


Kirana menghela nafas panjang. "Aku... aku ada di hotel Mas. Nanti aku kirim alamatnya ya."


"Ya sudah aku tunggu, ya. Soalnya ada hal yang ingin aku bicarakan juga sama kamu," lalu panggilanpun di akhiri oleh Kirana.


Satu jam kemudian, Ada yang mengetuk pintu kamar hotelnya. Saat ia intip, ternyata itu Hendrik yang datang.


Hendrik berjalan masuk sambil memperhatikan sekitar ruangan kamar. Tiba-tiba matanya tertuju pada satu travelbag besar milik Kirana.


"Kamu sudah pindah dari apartemen itu, Ran? Syukurlah, aku senang melihatnya," ungkap Hendrik dengan mata berbinar sambil menunjuk ke arah travelbag itu berada.


Padahal Kirana belum mengatakan apapun, tapi hanya karena melihat travelbag itu, Hendrik sudah bisa menyimpulkan sesuatu yang sedang terjadi pada Kirana.


Kirana menganggukkan kepala. "Seperti yang kamu lihat, Mas." lirihnya.


"Terus kamu akan tinggal di mana setelah ini? Maukah kamu tinggal bersamaku lagi, Ran? Kalau kamu mau, aku akan carikan kontrakan yang jauh lebih layak untuk kita tempati bersama."


"Aku.... aku sudah menyewa rumah, Mas. Mungkin lusa aku akan mulai tinggal di sana," sahut Kirana.


Hendrik berjalan ke arah Kirana lalu duduk berlutut di depan Kirana. "Sayang, lebih baik kamu batalkan aja sewa rumah itu. Ikutlah tinggal bersamaku, aku janji akan lebih bertanggung jawab dan mengutamakan kamu nanti."

__ADS_1


Kirana nampak ragu dengan tawaran yang Hendrik berikan. Tapi jika dia tetap nekat untuk tinggal berdua saja dengan Sisil, takutnya Richard bisa saja datang sewaktu-waktu untuk menganggunya.


"Aku pikir-pikir dulu ya, Mas. Soalnya aku sudah terlanjur ngajak teman juga untuk tinggal di sana. Kalau di batalkan kasihan juga dia."


"Oh begitu. Ya sudah terserah kamu aja deh kalau gitu. Apapun keputusanmu, selama itu nggak membahayakan kamu dan kandunganmu, pasti akan aku dukung," ucapnya terlihat sangat tulus.


Kirana mulai bisa menilai jika Hendrik memang sudah sedikit berubah.


"Oh iya, aku bawakan kamu jus alpukat nih. Tapi sepertinya sudah nggak dingin lagi," sesalnya sambil mengeluarkan satu botol sedang berisi minuman jus dari dalam tas ranselnya.


"Masukin aja dulu ke minibar, Mas. Nanti bakal aku minum kalau sudah dingin."


"Terus ini aku bawain sup iga juga, kamu makan ya. Mumpung masih hangat," dengan sangat cekatan ia memindahkan sup iga itu ke dalam mangkuk plastik yang sudah ia bawa juga dari dalam tasnya.


"Tasmu berubah jadi tas doraemon ya, Mas? Segala macam bisa ada di sana," ledek Kirana sambil tertawa lepas.


Hendrik menatap Kirana lalu ikut tertawa besar juga. Ia merasa bersyukur, karena Kirana akhirnya bisa tertawa lagi bersamanya. "Semoga ini awal baik bagi kita, Ran," gumamnya dalam hati.


"Tapi aku sudah makan, Mas. Boleh nggak kalau supnya aku makan nanti aja? Nanti biar aku angetin pakai microwave."


"boleh, Sayang."


Kirana terus saja memperhatikan setiap gerakan yang Hendrik lakukan. Hingga membuat Hendrik jadi salah tingkah.


"Mas, tadi kamu mau ngomong apa? Katanya ada hal yang mau kamu bicarain sama aku," celetuk Kirana saat Hendrik masih sibuk membereskan makanan yang ia bawa.


Hendrik berhenti sesaat, lalu berpaling menatap Kirana. "Oh, itu soal hubungan kita. Tadi pagi kan aku nggak sengaja lewat depan gereja saat kita nikah kemarin."


"Terus?" Kirana mulai merasa khawatir. Terlihat dari raut wajahnya yang menjadi tegang. Ia takut jika sampai Pak Gembala sampai bercerita soal toko bunga miliknya.

__ADS_1


__ADS_2